|
|
|
Peninggalan Kebudayaan pada Zaman
Purba
Dan zaman yang lampau telah diketahui berbagai hasil kebudayaan
yang berupa benda-benda buatan manusia. sedangkan alam pikirannya
masih tersembunyi atau tersimpul dalam benda-benda tersebut.
Hanya apabila benda-benda itu bisa berbicara atau mempunyai
keterangan tertulis. barulah dapat diketahui alam pikiran
pendukung kebudayaan termaksud serta latar belakangnya.
Adalah suatu kenyataan bahwa semakin dekat kc masa kini.
semakin banyak jenis ragam dan jumlah benda-benda yang tinggal
dan sampai kepada kita. Oleh sebab itu urajan di bawah ini
akan ditekankan kepada benda peninggalan yang bercorak khusus
untuk suatu masa. serta yang dianggap memiliki kekhususan
apabila dibandingkan dengan benda-benda budaya di masa yang
lain. Dengan demikian uraian tenlang kebudayaan yang dihasilkan
pada zaman purba ini lebih ditekankan sebagai sejarah kesenian.
Menurut ERR. Soekmono. zaman purba di Indonesia ditandai
dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baik di Pulau Jawa maupun
di luar Pulau Jawa khususnya di Sumatera dan Kalimantan
Timur. Diawali dengan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur
yang diperkirakan berdiri tahun 400 Masehi. selanjutnya
kerajaan- kerajaan lain di Pulau Jawa misalnya Purnawarman
di Jawa Barat yang diperkirakan berdiri antara tahun 400-500
Masehi, berturut-turut tumbuh dan berkembang kerajaan lainnya
dengan bebagai peradaban yang ditinggalkannnya kemudian.
 |
Batu
Tulis, Bogor, Jawa Barat, peninggalan Raja Punawarman |
Berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan di berbagai
tempat. diperoleh keterangan bahwa hasil kebudayaan yang
ditinggalkan oleh kerajaan-kerajaan tersebut mempunyai warna
dan corak yang berbeda. oleh karena masing-masing kerajaan
menganut sistem kepercayaan yang berlainan. Meskipun demikian,
menurut pakar arkeologi tersebut, religi yang umum dianut
oleh sebagian besar masyarakat masa itu adalah Hindu dan
Budha.
Dan sekian banyaknya peninggalan zaman purba, dan yang hingga
kini dapat disaksikan keberadaannya antara lain candi. Bangunan
yang merupakan peninggalan paling monumental tersebut terbuat
dan batu dan sangat erat hubungannya dengan unsur keagamaan,
sehingga bangunan ini bersifat suci. Perkataan candi itu
sendiri, sebenarnya berawal dan salah satu nama untuk Durga
sebagai Dewi Maut, yaitu Candika. Memang candi dimaksudkan
untuk memuliakan orang yang telah wafat khususnya para raja
dan orang-orang terkemuka. Adapun yang dikuburkan di situ
bukan hanya jasad si mati, melainkan juga benda-benda seperti
potongan berbagai jenis logam, batu-batu berharga, disertai
saji-sajian. Benda-benda tersebut dinamakan pripih dan dipandang
sebagai lambang zat-zat jasmaniah dan sang raja yang telah
bersatu kembali dengan penitisnya.
Setelah seorang raja meninggal dunia jenasah raja tersebut
dibakar dan abunya dibuang ke laut. Kegiatan ini dilakukan
dengan serangkaian upacara. Maksudnya adalah untuk menyempurnakan
roh agar dapat bersatu kembali dengan dewa yang dahulu menitis
dan menjelma di dalam diri sang raja tersebut. Selain mendirikan
candi, biasanya dibuat pula patung raja sebagai bentuk perwujudan
sang raja sebagai dewa.
Candi yang dipergunakan sebagai pemakaman hanya terdapat
dalam agama Hindu, sedangkan candi-candi agama Budha di-maksudkan
sebagai tempat pemujaan kepada dewa belaka. Bagi masyarakat
penganut agama Budha, candi bukanlah tempat penyimpangan
pripih. Raja yang telah wafatpun tidak dibuatkan patung
dirinya. Abu jenasah para raja atau biksu yang wafat akan
ditanam di sekitar candi dalam bangunan stupa.
Menurut kepercayaan dan alam pikiran masyarakat pada masa
itu, candi merupakan tempat scmentara dan merupakan tiruan
dan tempat dewa yang sebenarnya, yaitu Gunung Mahamcru.
Qich karena itulah candi dihias dengan berbagai macam ukiran
dan pahatan yang terdiri atas pola-pola yang disesuaikan
dengan alam gunung tersebut; seperti bunga-bunga teratai,
binatang--binatang ajaib, bidadari-bidadari, dewa-dewi dan
sebagainya. Selain itu ditemukan juga ukiran daun-daunan
dan sulur-sulur yang melingkar memenuhi bidang di antara
hiasan-hiasan lainnya.
 |
| Gapura
berbentuk candi yang dibelah dua. Gapura "Bentar"
semacam ini ternyata tidak hanya dibangun sebagai pintu
gerbang untuk memasuki candi tapi juga untuk bangunan-bangunan
penting lainnya, seperti gapura pada Keraton Kasepuhan
Cirebon. |
Berdasarkan tata letaknya, candi ada yang berdiri sendiri
namun ada pula yang mengelompok dan terdiri atas sebuah
candi induk. Susunan letak candi yang demikian rupanya sangat
berkaitan dengan alam pikiran serta susunan masyarakatnya.
Seperti halnya kelompok candi di bagian Selatan Jawa Tengah
selalu disusun dengan candi induk berdiri di tengah dan
candi-candi kecil lain di sekelilingnya. Di bagian Utara
jawa Tengah, candi -candi itu berkelompok tak beraturan
dan lebih merupakan gugusan candi yang masing-masing berdiri
sendiri. Hal seperti ini mencerminkan adanya pemerintahan
pusat yang kuat di Jawa Tengah Selatan dan pemerintah federalnya
yang terdiri atas daerah-daerah swatara yang sederajat di
Jawa Tengah Utara. Dengan demikian dapat dibayangkan bahwa
pemerintahan keluarga Qailendra sifatnya feodal dengan raja
sebagai pusatnya, sedangkan keluarga Sanjaya bersifat lebih
demokratis.
Di Jawa Timur, sejak zaman Singhasari, susunan candinya
berlainan pula. Candi induk terletak di bagian belakang
halaman candi, sedangkan candi-candi perwaranya serta bangunan-
bangunan yang lain ada di bagian depan. Candi induk adalah
tersuci dan di dalam kelompok menduduki tempat yang tertinggi.
Susunan yang demikian menggambarkan pemerintahan feodal
yang terdiri atas negara-negara bagian yang memiliki otonomi
penuh, sedangkan pemerintah pusat sebagai penguasa tertinggi
berdiri di bagian belakang mempersatukan pemerintahan-pemerintahan
daerah dalam rangka kesatuan.
Melihat aspek pengelompokkan candi di Indonesia, kiranya
dapat dikategorikan menjadi tiga jenis yaitu jenis Jawa
Tengah Utara, jenis Jawa Tengah Selatan, dan jenis Jawa
Timur termasuk di dalamnya candi-candi yang terdapat di
Bali, dan di Sumatera Tengah (Muara Takus) serta lJtara
(Padanglawas). Pembagian ini sangat sesuai dengan pembagian
sistem keagamaan yang mereka anut, yaitu agama Hindu (terutama
Siwa), agama Budha (Mahayana) dan aliran Tantrayana (baik
yang bersifat Siwa maupun Budha).
Dan berbagai candi yang ada, candi Loro Jonggrang merupakan
pengecualian. Susunan candi ini sesuai dengan apa yang ada
di Jawa Tcngah Sciatan akan tetapi sistcm keagamaan yang
diwakilinya adalah agama Hindu. Penyebabnya adalah candi-candi
tersebut bcrasal dan zaman setelah bersatunya keluarga Sanjaya
dengan keluarga Cailendra.
 |
| Candi Prambanan,
Jawa Tengah. Salah satu hasil kebudayaan yang ditinggalkan
kerajaan masa lalu. |
Pada dasarnya yang membedakan antara jenis candi di Jawa
Tcngah Utara dan Jawa Tengah Selatan adalah candi-candi
Jawa Tengah litara bentuk dan hiasannya sangat sederhana,
sedangkan candi-candi di Jawa Tengah Selatan lcbih mewah
dan megah. Perbedaan kedua tipe candi tersebut juga sesuai
dengan batas waktu dalam sejarah. Termasuk langgam Jawa
Tengah ialah candi-candi yang berasal dan pra tahun 1000
masehi. Beberapa candi dan Jawa Timur yang digolongkan langgam/tipe
Jawa Timur ialah candi-candi yang dibangun sejak abad ke-li
(termasuk di dalamnya candi di Muara Takus dan Gunung Tua).
Bangunan lain yang dihasilkan pada zaman pra sejarah ialah
gapura Meskipun letaknya tidak terpisah dan candi, akan
tetapi gapura hanya berfungsi sebagai pintu untuk keluar
masuk. Qich sebab itu. pada bagian tubuh gapura terdapat
lubang pintu. Gapura demikian dapat dilihat pada Candi Jedong.
Candi Plumbangan dan Candi Bajang Ratu.
Jcnis gapura kcdua ialah, yang bentuknya seperti bangunan
candi yang dibclah dua. Maksudnya untuk memp~rmudah jalan
keluar dan masuk. Contoh gapura semacam ini muncul dalam
scni banguan Indonesia pada zaman Majapait. sebagaimana
yang ditemukan pada relief-relief. Di bekas kota majapahit
sendiri masih tegak berdiri Candi Wringin Lawang, yaitu
sebuah candi bentar yang sangat besar. Demikian pula di
kelompok candi Panataran terdapat candi bentar. Sayangnya
kini telah roboh.
Seperti telah dijelaskan bahwa untuk raja yang wafat dan
dipandang telah bersatu kembali dengan dewa panitisnya.
akan dibuatkan sebuah patung. Patung tersebutlah yang akan
menjadi arca induk di dalam candi. Biasanya pula, candi
itu memuat/ menyimpan banyak patung dewa-dewa lainnya.
Oleh karena patung itu menggambarkan dewa-dewi, maka dapatlah
dikatakan bahwa seni pahat patung pada zarnan itu sangat
erat berkaitan dengan aspek keagamaan. Untuk membedakan
kedudukan masing-masing dewa, dibuatlah tanda-tanda khusus
yang disebut laksana atau ciri.
|