Banner 120X90

'Ganasnya' Segitiga Puskansa

reporter: Yassir & Ary - Lhokseumawe
Senin siang, 6 Oktober. Sebuah kapal nelayan merasakan pukatnya memberat, seperti menyangkut sesuatu. Terasa tidak normal, sehingga mereka merasa perlu segera melaporkan temuan mereka yang pastinya bukan ikan besar itu.

Tim penyelam marinir segera diterjunkan ke lokasi, 1,5 mil laut dari lepas pantai Lhokseumawe. Inilah yang telah tiga hari dicari. Delapan anggota Kopassus yang tewas dalam sebuah kecelakaan peragaan tempur menjelang HUT TNI ke-58.
Seluruh jenazah segera dinaikkan ke KRI Todak-803 dan dibawa ke Pelabuhan Kreung Geukuh yang berjarak sekitar 17 kilometer arah barat Kota Lhokseumawe. Dari sana, jenazah diangkut ke Rumah Sakit TNI AD dengan beberapa unit mobil ambulan.

Sabtu pagi, 4 Oktober. Sebelum take off kedelapan prajurit TNI dari korps Komando Pasukan Khusus (Kopassus) itu masih sempat berfoto ria hampir penuh satu rol film. Gambar bergerak di bawah kamera digital juga sempat diabadikan oleh teman-temannya di Media Centre Komando Operasi (Koops) TNI, Komplek KP-3, bekas pelabuhan umum Lhokseumawe.

Selang beberapa detik kemudian, deru mesin dan baling-baling helikopter jenis Heli-Bell dengan nomor register HA-5066 TNI-AD pun bergerak kencang. Badan heli terangkat, pelan-pelan, seiring dengan terangkatnya satu per satu tubuh prajurit TNI yang bergantungan di bawahnya.

Sekira ketinggian 10 meter, ke delapan prajurit TNI yang bergantung bersusun pada dua utas tali itu lepas sudah dari landasan aspal helipad komplek KP-3, persis di depan Media Centre Koops. Masing-masing tali bergantungan empat orang pada kiri kanan badan heli, membentuk formasi stabo.

Beberapa di antara mereka masih sempat melambaikan tangan berulang-ulang ke arah teman-temannya yang mengambil gambar dari landasan heli. Yang lainnya mulai ambil ancang-ancang pada posisi siap tembak, seperti adegan latihan anti-teroris yang sering diperagakan di banyak latihan militer.
Mereka tengah gladi atraksi untuk HUT TNI ke-58 yang jatuh pada hari Minggu, 5 Oktober esok harinya. Selain membawa senjata, dalam gladi itu mereka mengenakan seragam lengkap dengan topi baja, tas ransel berisi penuh, dan perlengkapan kombatan lainnya. Menurut rencana, prajurit Kopassus itu akan unjuk kebolehan di hadapan massa yang hari itu berkumpul di Lapangan Hiraq Lhokseumawe, termasuk para petinggi TNI di jajaran Koops.

Ada sekitar 12.000 warga masyarakat telah datang dari pelosok-pelosok kecamatan di Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe. Diantara mereka adalah para pelajar SLTA dan SLTP yang telah berada di Lapangan Hiraq pada Sabtu pagi, 4 Oktober itu. Mereka tumplek ke sana dengan berbagai alasan yang agak membingungkan sejumlah jurnalis.

Semula banyak yang menduga mereka akan melihat atraksi prajurit TNI. Tapi ada juga yang mengaku datang setelah mendapat informasi untuk berdemo ke DPRD Aceh Utara, meminta perpanjangan Darurat Militer.

Apapun motifasinya, toh, sebelum melihat helikopter yang mengangkut delapan prajurit TNI itu melayang-layang di atas laut Lhokseumawe, mereka sudah disuguhi parade terjun payung. Atraksi lainnya adalah konvoi helikopter dengan tiga prajurit berdiri di pintu heli, sambil mengarahkan tabik (salam) ke bawah, ke arah panggung kehormatan di Lapangan Hiraq tempat para petinggi Koops menonton atraksi gladi.

Usai dua parade tersebut, suguhan berikutnya adalah atraksi gerak cepat pengamanan melalui udara. Di kejauhan tampak sebuah helikopter melayang-layang dengan dua benda memanjang vertikal tergantung di bawahnya. Semua mata kini tertuju ke sana.

Tampak heli tersebut tidak bergerak, seperti berhenti di ketinggian. Kemudian mulai oleng dengan kepala menukik. Sementara benda yang tergantung di bawahnya terayun-ayun arah horizontal, ke depan dan ke belakang. Ayunan itu terlihat berulang-ulang, sampai kemudian terlihat benda yang digantung itu jatuh....

Diterjang angin
Delapan prajurit TNI jatuh kecebur ke laut, begitu kabar yang segera berkembang. Apakah mati atau tidak, tidak banyak warga yang menunggu atau mencari tahu. Yang lainnya lebih banyak ambil ancang-ancang naik mobil dan buru-buru kembali ke kecamatan masing-masing.

Para siswa juga demikian. Tadinya mereka disuruh berkumpul ke Lapangan Hiraq oleh kepala sekolah masing-masing. Katanya ada upacara yang harus diikuti. Tapi setiba di lapangan, beberapa di antara teman mereka melihat ada yang pegang-pegang kertas karton bertuliskan "DM Teruskan" atau ada juga "DM Lanjut, Rakyat Senang". "Dari situ saya tahu, mungkin kami disuruh kemari untuk upacara minta perpanjang DM itu," kata Rani (nama samaran), seorang siswi MAN Lhokseumawe.
Disebut-sebut, mereka berkumpul untuk ikut upacara Membaca Penyataan Sikap Siswa untuk meminta dilanjutkannya Darurat Militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Tapi, gara-gara kecelakaan yang menimpa delapan prajurit tersebut, upacara mendukung darurat militer itu pun tidak jadi dilaksanakan.

Panglima Koops TNI Mayjen Bambang Dharmono yang berada di panggung kehormatan Lapangan Hiraq, terlihat mengelap-ngelap matanya, dan buru-buru naik mobil menuju KP-3, berjarak sekira 1 km ke arah pusat kota.

Hanya dalam hitungan menit, lapangan itu kontan sepi. Tak ada lagi terdengar suara perintah-perintah agar para siswa berbaris rapi, atau perintah warga masyarakat agar masuk ke pelataran gedung DPRD.

Ada ratusan warga yang bertahan dan ingin tahu atas musibah tersebut. Mereka berhamburan ke Komplek KP-3 yang dijaga ketat aparat Detasemen Polisi Militer. Tak bisa masuk lewat situ, mereka mencari jalan lewat tepi pantai Desa Pusong dan Gampong Jawa Lama.

Tim penyelamat diterjunkan. Dari pukul 10.43 WIB, saat insiden itu terjadi, sampai pukul 11.00 WIB, tak ada hasil apa-apa. Tim SAR (search and rescue) kemudian dibantu anggota Arun Diving Club (para penyelam dari perusahaan kilang gas PT Arun NGL Co). Sampai adzan maghrib, ke delapan prajurit itu belum ditemukan.

Pangkoops Mayjen Bambang Dharmono segera memberi keterangan kepada wartawan. Isinya; heli yang mengangkut delapan TNI itu dihantam pusaran angin pada ketinggian 800 kaki. Saat itu, heli baru beranjak dari landasan heli sekira setengah mil ke arah lepas pantai. Tiba-tiba datang pusaran angin berkecepatan 8-10 knot.

Akibatnya, delapan prajurit yang bergantungan menjadi terayun-ayun membuat heli menjadi oleng. Pada suatu ketika, kepala heli sempat menukik, dan tak sanggup lagi terbang. Sehingga kru pesawat yang berjumlah lima orang, masing-masing pilot, co-pilot, dan tiga awak mekanik, memutuskan untuk memotong tali gantungan.

Belakangan, pihak TNI AD menurunkan tim investigasi, apakah keputusan untuk memutus tali tersebut adalah keputusan yang tepat. Sebab, para wartawan di luar Aceh, melontarkan pertanyaan pedas; "Jadi, lebih sayang helikopter daripada pasukan sendiri ya, Pak?" Begitu pertanyaan wartawan kepada Kapuspen TNI, Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin di Surabaya.

"Jika gantungannya tidak dipotong, mungkin heli dan awak kru juga masuk laut. Korban manusianya tentu lebih banyak lagi," sebut Bambang Dharmono.
Sejumlah prajurit lainnya yang saat itu berada di komplek KP-3 sempat menyaksikan langsung kronologi kejadian itu sampai ke delapan temannya hilang ditelan laut.

Hanya berselang menit, mereka langsung menghidupkan mesin sekoci melarikan kencang ke arah posisi para prajurit jatuh. Namun ke delapan prajurit Kopassus itu keburu hilang ditelan gelombang.

Ganasnya segitiga itu...

Di kalangan nelayan Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, kawasan lepas pantai tempat jatuhnya delapan prajurit Kopassus itu dikenal sebagai Laut Pusong. Letaknya masih dalam wilayah Desa Pusong, agak sedikit ke utara dari mulut kuala (muara).

Di sebelah selatannya ada dua muara sungai, yakni Kuala Kandang dan Kuala Meuraksa. Dilihat dari posisi ketiga kuala ini, jika dihubungkan akan membentuk segitiga. "Karenanya, ada yang menjuluki kawasan ini sebagai segitiga Puskansa (Pusong-Kandang -Meuraksa)," ungkap seorang nelayan Pusong yang ikut terjun ke laut mencari korban bersama tim SAR.

Berbeda dengan Segitiga Bermuda di Laut Atlantik yang dikenal angker, Segitiga Puskansa di teluk Lhokseumawe ini tidak dikenal angker bagi nelayan setempat. "Meskipun tempat pertemuan tiga muara sungai, dan letaknya persis di teluk, kawasan ini sangat jarang ambil korban nyawa manusia," tambah nelayan itu.
"Seingat saya, korban terakhir sekitar dua tahun lalu. Seorang anggota Brimob yang tengah mandi di pantai dengan pacarnya sekitar KP-3 ini. Dia meninggal diseret arus saat hendak menolong pacarnya yang hanyut. Tapi sial, malah dia sendiri yang jadi korban," sebut Teungku Zulkarnain, wakil Panglima Laot (lembaga adat) Banda Sakti.

Beberapa tahun lalu, bahkan ada seorang warga yang mati dibunuh dengan cara dibenamkan ke laut setelah diberi pemberat dari batu. "Masing-masing korban itu ditemukan setelah dua hari, setelah mayat menggelembung dan muncul ke permukaan air," ungkap Teungku Zul.

Selain itu, seingat dia, tidak ada manusia yang ditelan Segitiga Puskansa selama satu dekade terakhir. Kendati menjadi tempat pertemuan tiga muara, namun arus air di Puskansa dikenal tidak ganas oleh warga setempat. Setidaknya, perahu nelayan berbagai ukuran bebas keluar masuk ke dermaga TPI (tempat pelelelangan ikan) Pusong. Tak pernah ada kejadian tenggelam tiba-tiba, dihantam pusaran angin atau arus air, misalnya.

Hal yang sama juga dialami nelayan kawasan Kuala Meuraksa dan Kuala Kandang. Malah mereka merasa lebih aman, karena arus gelombang lebih adem di sebelah selatan dibanding sebelah utara yang melintasi Kuala Pusong yang membentuk Teluk Lhokseumawe.

Di teluk inilah sekitar tahun 60-an, dibangun Pelabuhan Lhokseumawe, tempat berlabuh kapal-kapal pengangkut hasil bumi Kabupaten "Negeri Malikussaleh" itu. Pertengahan tahun 70-an, pelabuhan tersebut diangap tidak lagi memadai seiring dengan datangnya proyek-proyek besar sejak ditemukannya ladang gas Arun. Sebagai gantinya, dibangun pelabuhan yang lebih besar di Krueng Geukueh, dekat pabrik pupuk PT Pupuk Iskandar Muda.

Menurut Teungku Zul dan para nelayan setempat, alur pelabuhan Lhokseumawe meliputi Pantai Gampong Jawa, Pantai Pusong, sampai ujung Kuala Kandang dan Meuraksa. Sampai kini masih membekas pada kedalaman 10-15 meter. "Tempat delapan prajurit itu jatuh, saya kira persis sekitar alur pelabuhan tersebut," ungkapnya.

Nah, menurut mereka, di sekitar bekas alur kapal itu, dasar lautnya terdiri dari pasir berlumpur. Ketebalannya mencapai 1,5 sampai 2 meter. "Mungkin prajurit-prajurit itu ditelan lumpur tersebut, sehingga susah ditemukan meskipun telah diterjunkan para penyelam," kata Ibrahim (nama samaran) seorang nelayan Pusong. (*)

     

 


FastCounter by bCentral