|
 |
|
'Ganasnya' Segitiga Puskansa
reporter: Yassir & Ary - Lhokseumawe
Senin siang, 6 Oktober. Sebuah kapal nelayan merasakan pukatnya
memberat, seperti menyangkut sesuatu. Terasa tidak normal,
sehingga mereka merasa perlu segera melaporkan temuan mereka
yang pastinya bukan ikan besar itu.
Tim penyelam marinir segera diterjunkan ke lokasi, 1,5 mil
laut dari lepas pantai Lhokseumawe. Inilah yang telah tiga
hari dicari. Delapan anggota Kopassus yang tewas dalam sebuah
kecelakaan peragaan tempur menjelang HUT TNI ke-58.
Seluruh jenazah segera dinaikkan ke KRI Todak-803 dan dibawa
ke Pelabuhan Kreung Geukuh yang berjarak sekitar 17 kilometer
arah barat Kota Lhokseumawe. Dari sana, jenazah diangkut
ke Rumah Sakit TNI AD dengan beberapa unit mobil ambulan.
Sabtu pagi, 4 Oktober. Sebelum take off kedelapan prajurit
TNI dari korps Komando Pasukan Khusus (Kopassus) itu masih
sempat berfoto ria hampir penuh satu rol film. Gambar bergerak
di bawah kamera digital juga sempat diabadikan oleh teman-temannya
di Media Centre Komando Operasi (Koops) TNI, Komplek KP-3,
bekas pelabuhan umum Lhokseumawe.
Selang beberapa detik kemudian, deru mesin dan baling-baling
helikopter jenis Heli-Bell dengan nomor register HA-5066
TNI-AD pun bergerak kencang. Badan heli terangkat, pelan-pelan,
seiring dengan terangkatnya satu per satu tubuh prajurit
TNI yang bergantungan di bawahnya.
Sekira ketinggian 10 meter, ke delapan prajurit TNI yang
bergantung bersusun pada dua utas tali itu lepas sudah dari
landasan aspal helipad komplek KP-3, persis di depan Media
Centre Koops. Masing-masing tali bergantungan empat orang
pada kiri kanan badan heli, membentuk formasi stabo.
Beberapa di antara mereka masih sempat melambaikan tangan
berulang-ulang ke arah teman-temannya yang mengambil gambar
dari landasan heli. Yang lainnya mulai ambil ancang-ancang
pada posisi siap tembak, seperti adegan latihan anti-teroris
yang sering diperagakan di banyak latihan militer.
Mereka tengah gladi atraksi untuk HUT TNI ke-58 yang jatuh
pada hari Minggu, 5 Oktober esok harinya. Selain membawa
senjata, dalam gladi itu mereka mengenakan seragam lengkap
dengan topi baja, tas ransel berisi penuh, dan perlengkapan
kombatan lainnya. Menurut rencana, prajurit Kopassus itu
akan unjuk kebolehan di hadapan massa yang hari itu berkumpul
di Lapangan Hiraq Lhokseumawe, termasuk para petinggi TNI
di jajaran Koops.
Ada sekitar 12.000 warga masyarakat telah datang dari pelosok-pelosok
kecamatan di Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.
Diantara mereka adalah para pelajar SLTA dan SLTP yang telah
berada di Lapangan Hiraq pada Sabtu pagi, 4 Oktober itu.
Mereka tumplek ke sana dengan berbagai alasan yang agak
membingungkan sejumlah jurnalis.
Semula banyak yang menduga mereka akan melihat atraksi prajurit
TNI. Tapi ada juga yang mengaku datang setelah mendapat
informasi untuk berdemo ke DPRD Aceh Utara, meminta perpanjangan
Darurat Militer.
Apapun motifasinya, toh, sebelum melihat helikopter yang
mengangkut delapan prajurit TNI itu melayang-layang di atas
laut Lhokseumawe, mereka sudah disuguhi parade terjun payung.
Atraksi lainnya adalah konvoi helikopter dengan tiga prajurit
berdiri di pintu heli, sambil mengarahkan tabik (salam)
ke bawah, ke arah panggung kehormatan di Lapangan Hiraq
tempat para petinggi Koops menonton atraksi gladi.
Usai dua parade tersebut, suguhan berikutnya adalah atraksi
gerak cepat pengamanan melalui udara. Di kejauhan tampak
sebuah helikopter melayang-layang dengan dua benda memanjang
vertikal tergantung di bawahnya. Semua mata kini tertuju
ke sana.
Tampak heli tersebut tidak bergerak, seperti berhenti di
ketinggian. Kemudian mulai oleng dengan kepala menukik.
Sementara benda yang tergantung di bawahnya terayun-ayun
arah horizontal, ke depan dan ke belakang. Ayunan itu terlihat
berulang-ulang, sampai kemudian terlihat benda yang digantung
itu jatuh....
Diterjang angin
Delapan prajurit TNI jatuh kecebur ke laut, begitu kabar
yang segera berkembang. Apakah mati atau tidak, tidak banyak
warga yang menunggu atau mencari tahu. Yang lainnya lebih
banyak ambil ancang-ancang naik mobil dan buru-buru kembali
ke kecamatan masing-masing.
Para siswa juga demikian. Tadinya mereka disuruh berkumpul
ke Lapangan Hiraq oleh kepala sekolah masing-masing. Katanya
ada upacara yang harus diikuti. Tapi setiba di lapangan,
beberapa di antara teman mereka melihat ada yang pegang-pegang
kertas karton bertuliskan "DM Teruskan" atau ada
juga "DM Lanjut, Rakyat Senang". "Dari situ
saya tahu, mungkin kami disuruh kemari untuk upacara minta
perpanjang DM itu," kata Rani (nama samaran), seorang
siswi MAN Lhokseumawe.
Disebut-sebut, mereka berkumpul untuk ikut upacara Membaca
Penyataan Sikap Siswa untuk meminta dilanjutkannya Darurat
Militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Tapi, gara-gara
kecelakaan yang menimpa delapan prajurit tersebut, upacara
mendukung darurat militer itu pun tidak jadi dilaksanakan.
Panglima Koops TNI Mayjen Bambang Dharmono yang berada di
panggung kehormatan Lapangan Hiraq, terlihat mengelap-ngelap
matanya, dan buru-buru naik mobil menuju KP-3, berjarak
sekira 1 km ke arah pusat kota.
Hanya dalam hitungan menit, lapangan itu kontan sepi. Tak
ada lagi terdengar suara perintah-perintah agar para siswa
berbaris rapi, atau perintah warga masyarakat agar masuk
ke pelataran gedung DPRD.
Ada ratusan warga yang bertahan dan ingin tahu atas musibah
tersebut. Mereka berhamburan ke Komplek KP-3 yang dijaga
ketat aparat Detasemen Polisi Militer. Tak bisa masuk lewat
situ, mereka mencari jalan lewat tepi pantai Desa Pusong
dan Gampong Jawa Lama.
Tim penyelamat diterjunkan. Dari pukul 10.43 WIB, saat insiden
itu terjadi, sampai pukul 11.00 WIB, tak ada hasil apa-apa.
Tim SAR (search and rescue) kemudian dibantu anggota Arun
Diving Club (para penyelam dari perusahaan kilang gas PT
Arun NGL Co). Sampai adzan maghrib, ke delapan prajurit
itu belum ditemukan.
Pangkoops Mayjen Bambang Dharmono segera memberi keterangan
kepada wartawan. Isinya; heli yang mengangkut delapan TNI
itu dihantam pusaran angin pada ketinggian 800 kaki. Saat
itu, heli baru beranjak dari landasan heli sekira setengah
mil ke arah lepas pantai. Tiba-tiba datang pusaran angin
berkecepatan 8-10 knot.
Akibatnya, delapan prajurit yang bergantungan menjadi terayun-ayun
membuat heli menjadi oleng. Pada suatu ketika, kepala heli
sempat menukik, dan tak sanggup lagi terbang. Sehingga kru
pesawat yang berjumlah lima orang, masing-masing pilot,
co-pilot, dan tiga awak mekanik, memutuskan untuk memotong
tali gantungan.
Belakangan, pihak TNI AD menurunkan tim investigasi, apakah
keputusan untuk memutus tali tersebut adalah keputusan yang
tepat. Sebab, para wartawan di luar Aceh, melontarkan pertanyaan
pedas; "Jadi, lebih sayang helikopter daripada pasukan
sendiri ya, Pak?" Begitu pertanyaan wartawan kepada
Kapuspen TNI, Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin di Surabaya.
"Jika gantungannya tidak dipotong, mungkin heli dan
awak kru juga masuk laut. Korban manusianya tentu lebih
banyak lagi," sebut Bambang Dharmono.
Sejumlah prajurit lainnya yang saat itu berada di komplek
KP-3 sempat menyaksikan langsung kronologi kejadian itu
sampai ke delapan temannya hilang ditelan laut.
Hanya berselang menit, mereka langsung menghidupkan mesin
sekoci melarikan kencang ke arah posisi para prajurit jatuh.
Namun ke delapan prajurit Kopassus itu keburu hilang ditelan
gelombang.
Ganasnya segitiga itu...
Di kalangan nelayan Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe,
kawasan lepas pantai tempat jatuhnya delapan prajurit Kopassus
itu dikenal sebagai Laut Pusong. Letaknya masih dalam wilayah
Desa Pusong, agak sedikit ke utara dari mulut kuala (muara).
Di sebelah selatannya ada dua muara sungai, yakni Kuala
Kandang dan Kuala Meuraksa. Dilihat dari posisi ketiga kuala
ini, jika dihubungkan akan membentuk segitiga. "Karenanya,
ada yang menjuluki kawasan ini sebagai segitiga Puskansa
(Pusong-Kandang -Meuraksa)," ungkap seorang nelayan
Pusong yang ikut terjun ke laut mencari korban bersama tim
SAR.
Berbeda dengan Segitiga Bermuda di Laut Atlantik yang dikenal
angker, Segitiga Puskansa di teluk Lhokseumawe ini tidak
dikenal angker bagi nelayan setempat. "Meskipun tempat
pertemuan tiga muara sungai, dan letaknya persis di teluk,
kawasan ini sangat jarang ambil korban nyawa manusia,"
tambah nelayan itu.
"Seingat saya, korban terakhir sekitar dua tahun lalu.
Seorang anggota Brimob yang tengah mandi di pantai dengan
pacarnya sekitar KP-3 ini. Dia meninggal diseret arus saat
hendak menolong pacarnya yang hanyut. Tapi sial, malah dia
sendiri yang jadi korban," sebut Teungku Zulkarnain,
wakil Panglima Laot (lembaga adat) Banda Sakti.
Beberapa tahun lalu, bahkan ada seorang warga yang mati
dibunuh dengan cara dibenamkan ke laut setelah diberi pemberat
dari batu. "Masing-masing korban itu ditemukan setelah
dua hari, setelah mayat menggelembung dan muncul ke permukaan
air," ungkap Teungku Zul.
Selain itu, seingat dia, tidak ada manusia yang ditelan
Segitiga Puskansa selama satu dekade terakhir. Kendati menjadi
tempat pertemuan tiga muara, namun arus air di Puskansa
dikenal tidak ganas oleh warga setempat. Setidaknya, perahu
nelayan berbagai ukuran bebas keluar masuk ke dermaga TPI
(tempat pelelelangan ikan) Pusong. Tak pernah ada kejadian
tenggelam tiba-tiba, dihantam pusaran angin atau arus air,
misalnya.
Hal yang sama juga dialami nelayan kawasan Kuala Meuraksa
dan Kuala Kandang. Malah mereka merasa lebih aman, karena
arus gelombang lebih adem di sebelah selatan dibanding sebelah
utara yang melintasi Kuala Pusong yang membentuk Teluk Lhokseumawe.
Di teluk inilah sekitar tahun 60-an, dibangun Pelabuhan
Lhokseumawe, tempat berlabuh kapal-kapal pengangkut hasil
bumi Kabupaten "Negeri Malikussaleh" itu. Pertengahan
tahun 70-an, pelabuhan tersebut diangap tidak lagi memadai
seiring dengan datangnya proyek-proyek besar sejak ditemukannya
ladang gas Arun. Sebagai gantinya, dibangun pelabuhan yang
lebih besar di Krueng Geukueh, dekat pabrik pupuk PT Pupuk
Iskandar Muda.
Menurut Teungku Zul dan para nelayan setempat, alur pelabuhan
Lhokseumawe meliputi Pantai Gampong Jawa, Pantai Pusong,
sampai ujung Kuala Kandang dan Meuraksa. Sampai kini masih
membekas pada kedalaman 10-15 meter. "Tempat delapan
prajurit itu jatuh, saya kira persis sekitar alur pelabuhan
tersebut," ungkapnya.
Nah, menurut mereka, di sekitar bekas alur kapal itu, dasar
lautnya terdiri dari pasir berlumpur. Ketebalannya mencapai
1,5 sampai 2 meter. "Mungkin prajurit-prajurit itu
ditelan lumpur tersebut, sehingga susah ditemukan meskipun
telah diterjunkan para penyelam," kata Ibrahim (nama
samaran) seorang nelayan Pusong. (*)
|