Banner 120X90

Munas ke II PSMTI di Bali

Laporkan Khusus: Dr.Irawan/Lenny Lio
SANUR, September 29 /Indonesia Media - Munas yang kedua dari Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia ini dirangkup sekaligus dengan hari ulang tahunnya yang ke-V di Bali, yang diselenggarakan dari tanggal 25 – 28 September 2003. Mengapa diadakan di Bali kali ini? Adalah salah satu pertimbangan panitia dalam mengembalikan citra pulau Dewata ini sebagai tempat wisata yang sempat terpuruk akibat bom di Kuta setahun yang lalu.

Terlepas dari rasa was-was akibat teror bom Legian itu, Bali memang masih merupakan tempat nyaman untuk berlibur. Tampak turis mulai berdatangan walaupun belum mencapai seperti sediakala.

Acara selamat datang langsung digelar pada malam hari tanggal 25 September, rupanya animo masyarakat Tionghoa begitu besarnya sehingga pesta kebun di pantai Sanur Beach nyaris mengisi semua lahan Sanur Beach Hotel. Hidangan makan malam ala buffet yang disantap hampir 1000 orang tersebut tidak sampai kekurangan adalah berkat panitia pelaksana yang sangat profesesional. Menurut ketua panitia acara, Ng John Ferdinan Waworuntu acara Munas kali ini adalah lebih besar dari Munas sebelumnya di Pulau Batam, dengan biaya yang di asumsikan sekitar 1 milyard rupiah. . Alunan lagu yang tidak asing lagi dari “Alusia” sampai ke joget “Poco-poco” dipentaskan di tepi kolam.

Dalam kesempatan itu Ketua Umum PSMTI pusat Brig.Jen (purn) Teddy Jusuf mengucapkan selamat datang kepada para peserta Munas PSMTI ke-II yang berdatangan dari 27 propinsi dan 180 kota diseluruh Indonesia, dan tamu undangan dari negara sahabat antara lain; Hongkong, Singapore, Malaysia, Thailand, Macao, Manuel Chua dari Yayasan Jih Jiau Philipine, dan Amerika Serikat, dimana mereka diundang sebagai guest speaker untuk men-share pengalaman mereka di negaranya masing-masing dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keseluruhan peserta Munas diperkirakan 600 orang, kendati mereka sempat juga memboyong anggota keluarga lainnya untuk bersama menikmati keindahan pulau Dewata.

Brigjen TNI Purnawirawan Teddy Jusuf Ketua PSMTI Bali, Budhi Argawa MBA Menaker Jacob Nuwawea - mewakili Presiden Megawati Ng John Ferdinan, Ketua panitia acara MUNAS
 
Drs. Eddie Sadeli SH, pengurus pusat PSMTI (pendiri PSMTI) Manual Chua dari Filipina Dr. Irawan dari Amerika

 

Sedangkan Drs. Eddie Sadeli SH dalam sambutannya selaku penasehat PSMTI lagi
lagi menekankan bahwa perlunya masyarakat Tionghoa meningkatkan kepedulian terhadap semangat bernegara dan berbangsa dengan ikut dalam mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Tokoh yang menulis buku “Dicari 1000 orang WNRI etnis Tionghoa untuk mengisi lowongan wakil rakyat?..” , dan “Tidak ada pribumi di negara kesatuan Republik Indonesia” ini sangat mendambakan kebersatuan masyarakat Tionghoa.

Keesokan paginya setelah sarapan pagi bersama, Musyawarah Nasional ke-II PSMTI yang mengambil thema “Memantapkan Kesadaran Bela Negara dan Abdi Negara Republik Indonesia.” dan sub tema: “Melalui Pemilu 2004 kita salurkan Aspirasi Masyarakat Tionghoa”, di buka dengan iringan tarian tradisionil Bali yang berjudul “Sekar Jagat”, tarian ini adalah hasil modifikasi dari tarian “Pendet” yang berasal dari Karangasem. Tarian kemudian disusul dengan nyanyian lagu kebangsaan “Indonesia Raya”

Sambutan dari Gubernur Bali yang dibacakan oleh staffnya, dalam petikan pidatonya disebutkan bahwa pentingnya ke Bhinekaan di Indonesia , karena ibarat taman akan jauh lebih indah bila bertumbuhan macam-macam bunga dari pada kalau hanya satu macam bunga .

 

Sambutan dari ketua umum PSMTI
Pada Munas kali ini agenda pokoknya adalah terdiri dari penyamaan misi dan visi serta wawasan masyarakat Tionghoa Indonesia didalam memantapkan semangat masyarakat Tionghoa Indonesia terhadap kesadaran berbangsa dan bernegara, bahwa Indonesia adalah satu satunya tanah air, tanah tumpah darah kita semua, dimana kita hidup dan mengabdi kepada negara.

Tiga dekade yang lalu telah kita lampaui dimana kita hidup dengan penuh prasangka sehingga muncul berbagai peraturan tertulis maupun tidak tertulis yang bersifat diskriminatif. Kita mengharapkan adanya suatu perubahan seiring dengan reformasi yang sudah kita tangani bersama. Sebenarnya tentang etnis dan tempat kelahiran, semuanya adalah takdir dari Tuhan yang Maha Kuasa, itu tidak bisa dipilih. Oleh karena itu kita merasa sangat tidak adil apabila karena etnis ,karena negara asal serta keturunan mengganggu didalam penjalinan hubungan sebagai sesama manusia dan sebagai sesama warga negara Indonesia. Seiring dengan Reformasi ini kedepan kami yakin Indonesia akan semakin demokratis, dan lebih menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, dalam membangun negara adil dan makmur.

Pada Munas ini juga sekaligus diadakan pemilihan pengurus baru dan ketua umum, pembahasan perubahan anggaran dasar dan rumah tangga PSMTI, dan penentuan rencana kerja untuk 3 tahun kedepan yang bermanfaat bagi masyarakat, demikian pidato Brig.Jen (purn) Teddy Jusuf yang ternyata pada Munas ini terpilih kembali secara aklamasi menjadi Ketua Umum PSMTI pada masa bakti 2003-2006.

Bapak Menteri tenaga kerja Jacob Nuwawea mewakili Ibu Presiden Megawati Sukarno Puteri yang kebetulan saat itu sedang berkunjung ke Amerika Serikat. Dari pidatonya yang mengatasnamakan Ibu Presiden dinyatakan bahwasanya “Tanpa Tionghoa di Indonesia adalah tidak lengkap disebut Indonesia”, Jacob juga menambahkan bahwa beliau sangat bangga dan menghormati usaha PSMTI menyelenggarakan Munas ke-II ini terutamanya di Bali, karena dengan begitu Tionghoa telah membuktikan kepeduliannya terhadap tanah air yang tercinta ini. Tidak ada lagi sebutan saya pribumi, kamu nonpribumi dan sebagainya, yang ada hanya Warga Negara Indonesia.WNI keturunan Tionghoa juga turut memiliki Indonesia sama seperti keturunan Bali, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Papua, dan Sumatra dan lain sebagainya, semua turut memiliki Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kami harus menghargai banyak keturunan Tionghoa yang telah menyediakan lapangan kerja bagi perputaran roda perekonomian Indonesia, paparnya. Ketua MPR, Amien Rais sempat pula datang mengunjungi dan foto bersama dengan anggota PSMTI.

Yang sangat menarik adalah tidak ada seorang tokoh atau pejabatpun dalam sambutannya yang menggunakan istilah “Cina”, semua menggunakan istilah “Tionghoa”. Setelah munas selesai, beberapa peserta munas dan undangan tokoh masyarakat Tionghoa dari negara sahabat juga menyempatkan diri mengunjungi berbagai objek wisata di Bali yang terkenal dengan keindahannya.
Kepada para pengurus PSMTI baru yang terpilih, kami ucapkan selamat bertugas. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberkati Anda semua dalam menjalankan tugas Anda. M (DI/LL/IM)

     

 


FastCounter by bCentral