|
 Ikuti artikel
Sejarah Keturunan Tionghoa di Asia Tenggara yang tak dikenal
khalayak Ramai sebelumnya:
BAGIAN I
BAGIAN II |
|

Sejarah Keturunan Tionghoa di Asia Tenggara yang Tak
Dikenal Khalayak Ramai
(bagian ke III)
Dikutib dari "The 6th overseas Chinese state" Nanyang
Huaren, 1990.
Demak
Pada dasawarsa2 terachir abad ke 15 di Jawa Tengah telah
didirikan kerajaan Islam Demak yang berlangsung dari 1475/1478
hingga 1546/1568. Pendirinya adalah puteranya Cek Ko-Po dan
berasal Palembang dimana ketika itu terdapat masyarakat Islam
Tionghoa yang besar. Beliau terkenal dengan nama Raden Patah (AL
Fatah), alias Jin Bun / Panembahan Jimbun / Arya (Cu-Cu)
Sumangsang / Prabu Anom. Orang2 Portugis menyebutnya Pate Rodin
Sr. Menurut orang Portugis Tome Pires, beliau seorang "persona
de grande syso", a man of great power of judgement, seorang
satria (cavaleiro, a knight, a nobleman). Terkaan bahwa Jimbun
nama suatu tempat dekat Demak tidak masuk akal. Penjelasan prof.
Muljana nama Jin Bun berarti "orang kuat" dalam dialek
Tionghoa-Yunnan. Semasa dynasti Yuan (Monggol) di propinsi
Yunnan terdapat banyak penganut agama Islam.
Kalangan berkuasa Demak sebagian besar terdiri dari orang2
keturunan Tionghoa. Sebelum jaman kolonial pernikahan antara
orang Tionghoa dengan orang Pribumi merupakan hal yang normal.
Dr. Pigeaud dan Dr. de Graaf telah menggambarkan keadaan pada
abad ke 16 sbb.: di kota2 pelabuhan pulau Jawa kalangan berkuasa
terdiri dari keluarga2 campuran, kebanyakan Tionghoa peranakan
Jawa dan Indo-Jawa. Sumber2 sejarah pihak Pribumi Indonesia
menyebut, dalam abad ke 16 sejumlah besar orang Tionghoa hidup
di kota2 pantai Utara Jawa. Disamping Demak, juga di Cirebon,
Lasem, Tuban, Gresik (Tse Tsun) dan Surabaya. Banyak orang
Tionghoa Islam mempunyai nama Jawa dan dengan sendirinya juga
nama Arab. Pada jaman itu sebagai Muslimin mempunyai nama Arab
meninggihkan gengsi.
Salah satu cucunya Raden Patah tercatat mempunyai cita2 untuk
menyamai Sultan Turki. Menurut De Graaf dan Pigeaud, Sunan
Prawata (Muk Ming) raja Demak terachir yang mengatakan pada
Manuel Pinto, beliau berjuang sekeras2nya untuk meng-Islamkan
seluruh Jawa. Bila berhasil beliau akan menjadi "segundo Turco"
(seorang Sultan Turki ke II) setanding sultan Turki Suleiman I
dengan kemegahannya. Nampaknya selain naik haji beliau telah
mengunjungi Turki.
Sumber2 Pribumi menegaskan raja-raja Kerajaan Demak orang
Tionghoa atau Tionghoa peranakan Jawa. Terlalu banyak untuk
memuat semua nama2 tokoh sejarah yang di-identifikasi sebagai
orang Tionghoa. Diantaranya Raden Kusen (Kin San, adik tiri
Raden Patah), Sunan Bonang (Bong Ang, putera Sunan Ngampel alias
Bong Swee Ho), Sunan Derajat juga putera Sunan Ngampel, Sunan
Kalijaga (Gan Si Chang), Ja Tik Su (tidak jelas beliau Sunan
Undung atau Sunan Kudus. Ada sumber mengatakan Sunan Undung ayah
Sunan Kudus dan menantunya Sunan Ngampel), Endroseno, panglima
terachir tentara Sunan Giri, Pangeran Hadiri alias Sunan
Mantingan suami Ratu Kalinyamat, Ki Rakim, Nyai Gede Pinatih (ibu
angkatnya Sunan Giri dan keturunannya Shih Chin Ching tuan besar
(overlord) orang Tionghoa di Palembang), Puteri Ong Tien Nio
yang menurut tradisi adalah isterinya Sunan Gunung Jati, Cekong
Mas (dari keluarga Han, makamnya terletak didalam suatu langgar
di Prajekan dekat Situbondo Jawa Timur dan dipandang suci),
Adipati Astrawijaya, bupati yang diangkat oleh VOC Belanda
tetapi memihak pemberontak ketika orang2 Tionghoa di Semarang
berontak melawan Belanda pada thn. 1741 dan Raden Tumenggung
Secodiningrat Yokyakarta (Baba Jim Sing alias Tan Jin Sing).
Menurut prof. Muljana, Sunan Giri dari pihak ayahnya adalah cucu
dari Bong Tak Keng, seorang Muslim asal Yunnan Tiongkok yang
terkenal sebagai Raja Champa, suatu daerah yang kini menjadi
bagian Vietnam. Bong Tak Keng koordinator Tionghoa Perantauan di
Asia Tenggara. Ayah ibunya Sunan Giri adalah Raja Blambangan,
Jawa Timur. Giri nama bukit di Gresik.
Pengaruh arsitektur Tionghoa terlihat pada bentuk mesjid2 di
Jawa terutama di daerah2 pesisir bagian Utara. Agama Islam yang
pertama masuk di Sumatera Selatan dan di Jawa mazhab (sekte)
Hanafi. Datangnya melalui Yunnan Tiongkok pada waktu dynasti
Yuan dan permulaan dynasti Ming. Prof. Muljana berpendapat bila
agama Islam di pantai Utara Jawa masuknya dari Malaka atau
Sumatera Timur, mazhabnya Syafi段 dan/atau Syi段te dan ini bukan
demikian halnya. Beliau menekankan mazhab Hanafi hingga abad ke
13 hanya dikenal di Central Asia, India Utara dan Turki.
Meskipun agama Islam pada abad ke 8 sudah tercatat di Tiongkok,
Mazhab Hanafi baru masuk Tiongkok jaman dynasti Yuan abad ke 13,
setelah Central Asia dikuasai Jengiz Khan.
Kepergian banyak Muslim Tionghoa (exodus) dari Tiongkok
terjadi pada thn.1385 ketika diusir dari kota Canton. Jauh
sebelum itu, Champa sudah diduduki Nasaruddin jendral Muslim
dari Kublai Khan. Jendral Nasaruddin diduga telah mendatangkan
agama Islam ke Cochin China. Sejumlah pusat Muslim Tionghoa
didirikan di Champa, Palembang dan Jawa Timur.
Ketika pada thn.1413 Ma Huan mengunjungi Pulau Jawa dengan
Laksamana Cheng Ho, beliau mencatat agama Islam terutama
agamanya orang Tionghoa dan orang Ta-shi (menurut prof. Muljana
orang2 Arab). Belum ada Muslimin Pribumi. Pada thn.1513-1514
Tome Pires mengambarkan kota Gresik sebagai kota makmur dikuasai
oleh orang2 Muslim asal luar Jawa. Pada thn. 1451 Ngampel Denta
didirikan oleh Bong Swee Ho alias Sunan Ngampel untuk
menyebarkan agama Islam mazhab Hanafi diantara orang2 Pribumi.
Sebelum itu beliau mempunyai pusat Muslim Tionghoa di Bangil.
Pusat ini ditutup setelah bantuan dari Tiongkok berhenti karena
tahun 1430 hingga 1567 berlaku maklumat kaisar melarang orang2
Tionghoa untuk meninggalkan Tiongkok.
Sangat menarik perhatian karena saya alami sendiri,
setidak2nya hingga jaman pendudukan Jepang, rakyat kota Malang
Jawa Timur masih mempergunakan sebutan "Kyai" untuk seorang
lelaki Tionghoa Totok. Kyai berarti guru agama Islam. Padahal
yang dijuluki itu bukan orang Islam. Kebiasaan tsb peninggalan
jaman dulu. Gelar Sunan berasal dari perkataan dialek Tionghoa
Hokkian "Suhu, Saihu". 8 Orang Wali Songo mazhab Hanafi bergelar
Sunan. Satu dari Wali Songo mazhab Syi段te bergelar Syeh dari
bahasa Arab Sheik.
Kesimpulan wajar, para aktivis Islam mazhab Hanafi di Asia
Tenggara semasa itu semuanya orang Tionghoa. Sedikit banyak
dapat dipersamakan dengan penyebaran agama Kristen dari Eropa
ke lain-lain benua. Hingga abad ke 19 kaum penyebar diatas
tingkat lokal dapat dikatakan semuanya orang Eropa. Tanah
Tiongkok hampir seluas Eropa. Membuat perbandingan dengan
Tiongkok tidak dapat dilakukan dengan salah satu negara Eropa
tetapi harus dengan seluruh Eropa. Seperti juga suku2 Eropa
dengan bahasa2nya berbeda satu sama lain, demikian pula terdapat
perbedaan antara suku2 dengan bahasa2nya di Tiongkok. Keunggulan
Tiongkok memiliki tulisan ideogram yang dapat dimengerti
meskipun bahasanya berlainan.
(Bersambung)
Lit.:
- De Graaf and Pigeaud "De eerste Moslimse
Vorstendommen op Java", "Islamic states in Java 1500-1700".
- Amen Budiman "Masyarakat Islam Tionghoa di
Indonesia".
- Slametmuljana (dalam buku bahasa Inggris ini,
nama penulisnya disambung menjadi satu) "A story of Majapahit".
- Slamet Muljana "Runtuhnya keradjaan Hindu
Djawa dan timbulnja negara2 Islam di Nusantara".
- Jan Edel "Hikajat Hasanoeddin". |
|
|