Ini Bang Jeha


Serba-Serbi Kisah Kunjungan Ke Tanah Air XVIII

Salah satu kebahagiaan teman-temanku yang (masih) jujur dan tinggal di Indonesia adalah bila mereka "digoblok-goblokin" oleh para temannya yang uangnya sudah M-M-an. Itulah juga nasib yang menimpa saya ketika seorang warga Ciputat "menggobloki" saya, sudah jauh-jauh dan susah-susah pindah ke Kanada, en toh melihat atau memegang uang sebesar 1 miliar Rupiah saja tak pernah. Kampungan banget katanya :-). Mungkin ia benar sebab uang berjumlah terbesar yang pernah saya pegang hanyalah belasan juta Rupiah ketika IBM menggantikan ongkos tiket kapal terbang saya (business class) dan tanganku gemeteran menghitung uang sebesar itu, takut ada yang palsu. :-) Seriusan, adikku belum lama ini mendapat uang pecahan Rp 20 ribu palsu dari bank dan tentu saja mereka tidak mengaku bahwa uang itu dari mereka. Masih untung cuma 20 ribu, kata adikku. Tak pernah ada warga Melayu yang merugi memang. Nah, Mas W prenku mengoreksi bahwa jumlah upeti yang kutulis di tayangan lalu terlalu kecil. "Itu mah presdir BUMN kere yang upetinya 5M," katanya. Ia benar ataupun memang saya sudah dibantah beberapa "pakar pencaloan". Kata Mas W lagi, ia kenal seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil) eselon paling rendah yang sudah punya se-M. Itu yang paling keroco menurutnya. Jangan ditanya yang eselon atas. Pokoknya, Anda semakin maklum betapa kayanya para pejabat di negeri antah-berantakan ini. Resep Mas W untuk tidak jadi THP adalah dengan menganggap semuanya sebagai dagelan saja dan jangan lupa untuk berdoa, maksudnya tawakal dan percaya bahwa 100 tahun lagi semua kegilaan ini akan
berakhir karena Indonesia akan menjadi padang gurun. Bacalah Kompas hari ini tentang hancurnya Taman Laut Karimunjawa dan Hutan Lindung Mahato (Riau). Apa yang disyer prenku Jos dari Radio Sonora betul sekali.

Ketika suatu hari saya ngerumpi, istilah kini untuk berkumpul, dengan beberapa eks kolega saya dari IBM Indo, kukemukakan cita-citaku untuk mau melihat Sumatera Barat yang konon indah rupawati, juga Lombok dan Flores yang hanya sering kudengar ceritanya. Itu prioritas pertama dan tentu masih banyak tempat lainnya. Namun mereka menasihatiku untuk berhati-hati sebab dimana-mana banyak perompak maupun "bajak darat" di Melayu saat ini. Yang paling mengerikan untuk mereka adalah daerah Ogan Komering. Sampai salah satu dari prenku itu, yang merupakan sesepuh perkumpulan silat Perisai Diri tak mau lagi mengemudikan mobilnya di trayek Jakarta-Palembang lewat Komering. Itulah kendala utama Indonesia, bukan saja sumber penghasilan pariwisata
menjadi ciut karena nyali turis sekaliber Bang Jeha, para investor yang membaca tayanganku ini akan berpikir 2-3 kali sebelum mencairkan rekeningnya di Zurich Bank. Tak heran setiap akhir pekan ratusan ribuan bis pariwisata pergi ke Puncak karena masih cukup aman bagi warga Jawa Barat. Belum terdengar ada rampok di Taman Safari, Kota Bunga dan Cibodas, tiga tujuan top-hit para wisatawan lokal dalam bis tersebut.

Saya tak tahu hobby Anda apa saja selain menonton TV dan bermain golf :-). Waktu masih tinggal di Indo, selain saya berlangganan (sejak nomor 1) majalah sastra Horison, saya pun menjadi anggota Kine Klub di Taman Ismail Marzuki. Kalau Anda senang menonton film, yang akhirnya belum tentu hepi alias 'happy-end', Anda hanya dapat melihat film seperti itu di Kine Klub. Life is like a play, bukan kata saya. Tapi saya setuju dengannya sehingga hampir tak pernah ada sandiwara bermutu yang Cecilia dan saya lewatkan waktu kami masih di Betawi. Dari mulai karya Teguh Karya lewat Teater Populer HI, sampai Willibrordus, eh Wahyu Suleiman Rendra dengan Bengkel Teaternya hingga ke kreasi Arifien C. Noor pembina Teater Kecil. Hidup saya diperkaya oleh semuanya itu. Berbahagialah generasiku yang masih mengenyam bermain gundu, bisa main petak dan layangan karena lahan di kampung kita belum dijadikan real-estate. Lebih berbahagia kita semua, bila bukan saja dapat menjadi manusia berbudaya tetapi bisa pergi kemana-mana tanpa perlu was-was apakah akan ada sasaran bom lagi hari ini.

Kemarin saya lewat Taman Ismail Marzuki, hendak melihat dan juga membeli karcis kalau-kalau ada pertunjukan sandiwara disitu. Nihil banget. Dari 4 papan sebesar alaihim pengumuman pertunjukan, hanya ada satu pameran patung. Hanya anak Betawi yang snobbish yang suka patung :-), kami lebih suka yang asli-li-li :-). Sebelum ke Ustrali, saya juga melewati Gedung Kesenian beberapa kali sebab kata satu dua prenku, kalau mau melihat sandiwara disitulah tempatnya. Sami mawon sarua keneh, tidak ada pertunjukan sandiwara. Kalau tidak salah ada pertunjukan boneka untuk anak-anak a la Disney atau eks Amrik. Payah banget mencari hiburan berbudaya sekarang ini di Jakarta. Bandingkan dengan kota-kota metropolitan lainnya di dunia. Ambil satu, Milan. Tidak heran kota itu bisa menarik pemain seperti Ronaldo hingga mau masuk InterMilan :-). Selain ia bisa menikmati opera di La Scala, ia pun bias melihat lukisan termashur di sebelah Chiesa di Santa Maria della Grazie :-). Seriusan, banyak sekali acara kebudayaan di kota itu di cem-macem teaternya. Demikian pula Vienna dan Salzburg serta tentu kota-kota besar di segala benua lainnya. "Kapan Indonesia bisa masuk piala dunia?," kata iklan Extra Joss di RCTI setiap pertandingan piala dunia berakhir. Sampai mati hidup lagi juga
tidak bakalan, jawabku. Apa yang menjadi prioritas utama hidup di Jakarta ini, tentu yang kupantau dalam batas kemampuanku adalah urusan duniawi semata. Dari mulai skala terendah Oom Maslow alias urusan perut, sampai agar PD bias di angkasa bila mobil kita berderetan dan rumah dijaga satpam. Itulah sepertinya yang menjadi sumber senteresnya manusia Indo sehingga hilanglah keramahannya. Sahabat saya Uda Datuk yang dari warna kumisnya saja sudah ketahuan banyak kata bijaknya bersabda, "Orang yang berkata bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah, kemungkinan belum pernah melihat keramahan bangsa lainnya." :-) Uda betul sekhalei, dari mulai warga Zurich, Milan sampai ke Auckland, selalu kujumpai orang-orang yang ramah dan mau membantu. Semoga Anda tapinya masih menjadi orang Indo yang ramah.

Apakah di rumah Anda anak-anakmu yang belum dewasa membaca tayangan Bang Jeha? Kubertanya karena apa yang akan kutulis ini 21 tahun ke atas alias 'only for mature audience' :-). Juga karena kutahu bahwa di Toronto ada satu dua keluarga prenku dimana seluruh anggotanya membaca dongengan saya karena sering-sering mutunya oke punya. GR sedikit boleh dong :-). Seperti sudah kusyer atau kusinggung kemarin, membaca buku Gonjang-Ganjing Perkawinan karya Leila Budiman, menyebabkan sahaya geleng-geleng kepala. Banyak sekali pasutri Indo yang "sakit" di dalam urusan ranjang atau kehidupan seks mereka. Dari mulai arti kiasan sampai arti sebenarnya, perempuannya kesakitan alias disiksa di dalam hubungan seks mereka :-(. Anda baca teori sexual disorder yang mana saja dalam textbook psikologi, Anda dapat menemui kasusnya lewat buku Uni Leila. Betapa manusia Indo tidak gila seks? Tahan napasmu. Konon ada bapak atau laki-laki yang disunat dan lalu ditaruhi mutiara di bagian ujung burungnya. "Buat apa?," kata Anda. Agar supaya si perempuannya keasyikan. Gila banget. Berulang kali dikemukakan oleh Leila bahwa organ seks yang paling penting ada di otak kita. Bukan ukuran penis yang dapat membuat seorang perempuan menjadi cinta setengah mati kepada suaminya, tetapi ulah si suami di ranjang, sejak 'foreplay' sampai ke akhir eksyen atau dalam istilah yang terkini 'total performance'. Masih banyak yang lainnya yang aneh-aneh lagi terjadi di tanah air kita seperti anak yang sunatannya diberi kembang-kembangan (diukir kulit sisa sunatan sehingga penisnya kelihatan kece, 'cute').

Anda bisa bernapas kembali dan apa yang kukemukakan, seperti halnya semua tayanganku, adalah kisah nyata dan syering dari pengalamanku sehari-hari. Suka atau tidak, itulah tanah air kita bersama sekarang ini. Seperti anjuran Mas W di atas, kita manusia non-ateis masih dapat berdoa agar Ia yang maha-pemurah mau mengampuni bangsa yang patut dikasihani ini agar segera datang sang Ratu Adil, bukan isteri si Taufik, yang dapat menghentikan langkah kehancuran bangsa. Amin. Tayangan ini juga merupakan akhir serial di atas dalam rangka kunjungan Bang Jeha Anda ke tanah airnya, mulai akhir Mei s/d awal Juli tahun 2002. Sampai berjumpa dalam kesempatan lainnya, salam dari Toronto.

Pascakata: Mulai bulan depan, saya akan mengirimkan seri baru berisi kisah pengalaman cruise saya ke Alaska. Semoga berkenan dan bermanfaat. (JeHa/IM)

 

 

     

 


FastCounter by bCentral