Memasuki usia 64 tahun, Santo mulai menyadari apa artinya
pensiun. Sedikitnya satu tahun dua tiga kali ia harus kontrol
dokter. Kulitnya mulai mengeriput. Masyarakat tidak lagi
membutuhkannya. Tidaklah mudah hidup pada masa tua. Namun
demikian bila menoleh kebelakang Santo merasa puas dengan
hidupnya. Ia belajar bagaimana menerima kasih tanpa pamrih pada
waktu ia bayi. Kenangan manis pada waktu masuk sekolah masih
membekas di batinnya. Pergumulan masa remaja dimana ia ditolak
cinta, menemukan Santi, dan memperoleh pekerjaan yang baik
merupakan pengalaman manis dan pahit yang menguatkan
identitasnya. Dengan anak dua, keuangan yang cukup serta
kegiatan-kegiatan sosial lainnya ia dikenal oleh sesamanya
sebagai anggauta masyarakat yang baik, produktip dan menjadi
rekan kerja dan mentor yang baik bagi bawahannya.
Kini ia berusia 80 tahun. Sementara ia menimang cucu yang
kedua, Santo nampak tersenyum mereflek semua kenangan pada masa
mudanya. Ia merasa puas, bangga, dan bersyukur atas karya yang
dicapainya. Ia pun menyadari bahwa hidupnya tidak lama lagi. Ia
bisa menerima hal itu sebagai bagian dari siklus hidup. Ia mulai
akrab dengan penyakit dan kematian. Menuruk Erikson, Santo telah
mencapai tahap integritas ego (ego integrity). Orang yang
demikian bila menoleh kebelakang dapat melihat bahwa ia telah
hidup secara konstruktif, produktif, kaya dan bahagia. Ia tidak
menyesal dan pahit. Ia puas dengan karya dan kehidupannya. Ia
akrab dengan kehidupan dan kematian. Ia telah menghasilkan buah.
Bukan layu sebelum berkembang.
Berbeda dengan Sono yang hidupnya ambur adul. Pada masa
pensiun, ia merasa sepi dan sendiri. Bahkan merasa panik dan
depress. Tidak banyak karya baik yang dihasilkannya. Ia merasa
menyesal akan tindakan dan kelakuan pada masa mudanya. Bila ia
ingat bapaknya yang keras, rasa geram dan dendam masih hangat di
benaknya. Apalagi mengingat perkawinannya. Rasanya pingin
mengubur semua kenangan pahit yang pernah dialaminya. Berbeda
dengan Santo, Sono mencapai masa manula dengan perasaan
despair. Rasa kecewa dan penyesalan yang dalam. Sono merasa
ia ingin hidup 1000 tahun lagi untuk memperbaiki semua tindakan
dan tingkah lakunya. Ia belum siap mati. Tepatnya, ia takut,
bahkan sangat takut mati. Mati tak hendak hidupun tak mau.
Itulah keadaan Sono. Ia hampir layu sebelum sempat berkembang.
Selama delapan bulan ini kita telah melewati delapan wisata
jiwa. Kedelapan wisata jiwa ini saling kait mengkait dan
berhubungan secara sirkular. Misalnya, ketakutan Sono akan
kematian sangatlah berhubungan dengan masa kecilnya yang tidak
stabil. Ia tidak menemukan trust pada masa balitanya.
Sebaliknya rasa puas Santo tentulah ditunjang dengan masa kecil
yang baik dan bahagia, dimana rasa trust terhadap lingkungan
lebih banyak daripada rasa distrustnya. Tidak heran Santo oleh
sesamanya dikenal sebagai orang yang berhikmat (Wisdom).
Didalam buku Insight and Responsibility, Erikson
mendefinisikan wisdom sebagai “detached concern with life
itself, in face of death it self” (1964:133). Orang tua yang
memiliki Wisdom merupakan model buat generasi muda. Pemuda/i
yang sehat akan tidak takut hidup bila melihat oma dan opa
mereka memiliki integritas dalam menghadapi kematiannya.
Berbeda dengan Santo, Sono dikenal sebagai orang tua yang
“tidak berhikmat tetapi bertingkahlaku sebagai orang yang
berhikmat.” Suka sok tahu, sok benar, dan sok menang sendiri.
Orang tua yang demikian biasanya selalu ketinggalan jaman. Ia
tidak bisa menempatkan dirinya ditengah gelombang dan badai
kehidupan. Hidupnya kurang berarti baik bagi keluarga,
masyarakat atau bahkan bagi dirnya sendiri.
Seperti membangun sebuah menara, demikianlah perjalanan
wisata jiwa kita. Dimulai dengan konflik antara trust dan
mistrust, bayi yang sehat akan melewati tahap ini dengan
perasaan “hope.” Batu pertama ini menjadi fondasi utama bangunan
jiwa manusia. Sebelum mencapai krisis identitas pada usia remaja,
kita harus melewati wisata jiwa autonomy vs shame, initiative vs
guilt, dan industry vs inferiority. Barulah remaja siap
membangun rumah tangga untuk menjadi anggauta masyarakat yang
berguna dan produktip.
Pada usia lanjut kita dihadapkan pada batas kehidupan.
Seperti sebuah menara yang dibangun selama bertahun-tahun.
Puncak menara merupakan tempat yang terlemah dan termegah karena
sangat tergantung dari bangunan dan fondasi di bawahnya. Lantai
yang lemah sangatlah berkaitan dengan fondasi di bawahnya. Bagi
Erikson, cara utama untuk menolong orang yang lemah jiwanya
adalah menguatkan dan menopang bangunan tersebut sehingga ia
masih bisa berfungsi dengan baik bagi lingkungan dan
masyarakatnya. Bukan membongkarnya. Orang yang sehat adalah
orang yang memiliki kekuatan jiwa (ego strength) yang dibangun
di atas delapan bangunan bertingkat dari: hope, will, purpose,
competence, fidelity, love, care and wisdom. Tiap tingkat
dibangun lewat konflik-konflik jiwa tahap sebelumnya. Papa,
Adakah integritas ego pada masa tuamu? (VH/IM)