Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

Adakah Integritas Ego Pada Masa Tuamu?

Virgo Handojo, Ph.D.

Memasuki usia 64 tahun, Santo mulai menyadari apa artinya pensiun. Sedikitnya satu tahun dua tiga kali ia harus kontrol dokter. Kulitnya mulai mengeriput. Masyarakat tidak lagi membutuhkannya. Tidaklah mudah hidup pada masa tua. Namun demikian bila menoleh kebelakang Santo merasa puas dengan hidupnya. Ia belajar bagaimana menerima kasih tanpa pamrih pada waktu ia bayi. Kenangan manis pada waktu masuk sekolah masih membekas di batinnya. Pergumulan masa remaja dimana ia ditolak cinta, menemukan Santi, dan memperoleh pekerjaan yang baik merupakan pengalaman manis dan pahit yang menguatkan identitasnya. Dengan anak dua, keuangan yang cukup serta kegiatan-kegiatan sosial lainnya ia dikenal oleh sesamanya sebagai anggauta masyarakat yang baik, produktip dan menjadi rekan kerja dan mentor yang baik bagi bawahannya.

Kini ia berusia 80 tahun. Sementara ia menimang cucu yang kedua, Santo nampak tersenyum mereflek semua kenangan  pada masa mudanya. Ia merasa puas, bangga, dan bersyukur atas karya yang dicapainya. Ia pun menyadari bahwa hidupnya tidak lama lagi. Ia bisa menerima hal itu sebagai bagian dari siklus hidup. Ia mulai akrab dengan penyakit dan kematian. Menuruk Erikson, Santo telah mencapai tahap integritas ego (ego integrity). Orang yang demikian bila menoleh kebelakang dapat melihat bahwa ia telah hidup secara konstruktif, produktif, kaya dan bahagia. Ia tidak menyesal dan pahit. Ia puas dengan karya dan kehidupannya. Ia akrab dengan kehidupan dan kematian. Ia telah menghasilkan buah. Bukan layu sebelum berkembang.

Berbeda dengan Sono yang hidupnya ambur adul. Pada masa pensiun, ia merasa sepi dan sendiri. Bahkan merasa panik dan depress. Tidak banyak karya baik yang dihasilkannya. Ia merasa menyesal akan tindakan dan kelakuan pada masa mudanya. Bila ia ingat bapaknya yang keras, rasa geram dan dendam masih hangat di benaknya. Apalagi mengingat perkawinannya. Rasanya pingin mengubur semua kenangan pahit yang pernah dialaminya. Berbeda dengan Santo, Sono mencapai masa manula dengan perasaan despair. Rasa kecewa dan penyesalan yang dalam. Sono merasa ia ingin hidup 1000 tahun lagi untuk memperbaiki semua tindakan dan tingkah lakunya. Ia belum siap mati. Tepatnya, ia takut, bahkan sangat takut mati. Mati tak hendak hidupun tak mau. Itulah keadaan Sono. Ia hampir layu sebelum sempat berkembang.

Selama delapan bulan ini kita telah melewati delapan wisata jiwa. Kedelapan wisata jiwa ini saling kait mengkait dan berhubungan secara sirkular. Misalnya, ketakutan Sono akan kematian sangatlah berhubungan dengan masa kecilnya yang tidak stabil. Ia tidak menemukan trust pada masa balitanya. Sebaliknya rasa puas Santo tentulah ditunjang dengan masa kecil yang baik dan bahagia, dimana rasa trust terhadap lingkungan lebih banyak daripada rasa distrustnya. Tidak heran Santo oleh sesamanya dikenal sebagai orang yang berhikmat (Wisdom). Didalam buku Insight and Responsibility, Erikson mendefinisikan wisdom sebagai “detached concern with life itself, in face of death it self” (1964:133). Orang tua yang memiliki Wisdom merupakan model buat generasi muda. Pemuda/i yang sehat akan tidak takut hidup bila melihat oma dan opa mereka memiliki integritas dalam menghadapi kematiannya.

Berbeda dengan Santo, Sono dikenal sebagai orang tua yang “tidak berhikmat tetapi bertingkahlaku sebagai orang yang berhikmat.” Suka sok tahu, sok benar, dan sok menang sendiri. Orang tua yang demikian biasanya selalu ketinggalan jaman. Ia tidak bisa menempatkan dirinya ditengah gelombang dan badai kehidupan. Hidupnya kurang berarti baik bagi keluarga, masyarakat atau bahkan bagi dirnya sendiri.

Seperti membangun sebuah menara, demikianlah perjalanan wisata jiwa kita. Dimulai dengan konflik antara trust dan mistrust, bayi yang sehat akan melewati tahap ini dengan perasaan “hope.” Batu pertama ini menjadi fondasi utama bangunan jiwa manusia. Sebelum mencapai krisis identitas pada usia remaja, kita harus melewati wisata jiwa autonomy vs shame, initiative vs guilt, dan industry vs inferiority. Barulah remaja siap membangun rumah tangga untuk menjadi anggauta masyarakat yang berguna dan produktip.

Pada usia lanjut kita dihadapkan pada batas kehidupan. Seperti sebuah menara yang dibangun selama bertahun-tahun. Puncak menara merupakan tempat yang terlemah dan termegah karena sangat tergantung dari bangunan dan fondasi di bawahnya. Lantai yang lemah sangatlah berkaitan dengan fondasi di bawahnya. Bagi Erikson, cara utama untuk menolong orang yang lemah jiwanya adalah menguatkan dan menopang bangunan tersebut sehingga ia masih bisa berfungsi dengan baik bagi lingkungan dan masyarakatnya. Bukan membongkarnya. Orang yang sehat adalah orang yang memiliki kekuatan jiwa (ego strength) yang dibangun di atas delapan bangunan bertingkat dari: hope, will, purpose, competence, fidelity, love, care and wisdom. Tiap tingkat dibangun lewat konflik-konflik jiwa tahap sebelumnya. Papa, Adakah integritas ego pada masa tuamu? (VH/IM)

 

 

     

 


FastCounter by bCentral