|
 -
Wiranto Akan Dipanggil Paksa
- Sejarah
Keturunan Tionghoa Di Asia Tenggara Yang Tak Dikenal Khalayak
Ramai 1
- Tribunal di Timor Leste
- Warga Tionghoa di Medan
Resah Oleh Pungli Parpol |
|

Sejarah Keturunan Tionghoa Di Asia Tenggara Yang Tak Dikenal
Khalayak Ramai
(Bagian 2)
Dikutib dari "The 6th
overseas Chinese state, Nanyang Huaren".
Lanjutan bagian tentang
Palembang (Ku-kang).
Kertanagara, raja Singasari yang
terachir, pada thn.1289 telah menantang wibawa kaisar Monggol
Kublai Khan, yang masa itu berkuasa di Tiongkok. Beliau
memulangkan utusan kaisar dengan muka yang dilukai. Kublai Khan
mengirim tentaranya ke Jawa. Tetapi sebelum kedatangan tentara
tsb Kertanagara pada thn 1292 telah tewas disebabkan
pemberontakan Kediri. Singasari jatuh. Ketika tentara Kublai
Khan tiba, Raden Wijaya, kemenakan dan menantunya Kertanagara,
menyerahkan diri pada pimpinan tentara Monggol dan menyatakan,
bahwa Raja Kediri Jayakatwang telah menggantikan Kertanagara.
Raden Wijaya berhasil membujuk tentara Kublai Khan untuk
menjatuhkan Daha (Kediri). Setelah tentara Kediri hancur, Raden
Wijaya berbalik menyerang tentara Kublai Khan. Beliau minta
diberi 200 pengawal Monggol/Tionghoa yang tak bersenjata untuk
kepergiannya ke kota Majapahit dimana beliau akan menyerah
dengan resmi pada wakil2 Kublai Khan. Ditengah perjalanan para
pengawal dibantai dan sebagian lain tentara Monggol yang tidak
menduganya dapat dikepung. Siasat Raden Wijaya menghasilkan
pihak Monggol kehilangan 3000 orang dan terpaksa meninggalkan
pulau Jawa tanpa hadiah2 yang dijanjikan. Tahun 1293-94 Raden
Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit di Jawa Timur.
Kublai Khan, cucunya Jengiz
Khan, meninggal 18 Pebruari 1294. Antara thn. 1325 dan 1375
hubungan Majapahit dengan Tiongkok telah membaik. Sang
Adityawarman yang dibesarkan di Majapahit dan yang kemudian
menjadi Raja Sumatera-Barat telah mengunjungi istana kaisar
Tiongkok sebagai menteri dan utusan Majapahit pada thn. 1325 dan
sekali lagi pada thn 1332.
Sifat pemancaran kejayaan
Tiongkok jaman lampau berbeda bumi sama langit dengan sifat
kolonialis Eropa. Cuplikan-cuplikan berikut adalah hasil
penyelidikan beberapa pakar sejarah yang menggambarkan perbedaan
tsb.
O.W. Wolters dalam bukunya
"The fall of Srivijaya in Malay history" hal. 50, 52:
Pada tg. 30 oktober 1371 kaisar
T’ai-tsu mengeluarkan pengumuman dengan petunjuk untuk para
pejabatnya: ..... menguasai tanah yang terlalu besar tidak
mendatangkan ketenteraman. Bila rakyat diharuskan bekerja
terlalu berat, keadaan itu menjadi sumber kekacauan .....
pernyataan2 T’ai-tsu kepada penguasa2 asing mengandung banyak
saran kebijaksanaan. Daripada menganjurkan mereka untuk
berdagang dengan Tiongkok, beliau menginginkan mereka berkuasa
dengan baik, memelihara hubungan mesra dengan negara tetangganya
dan saling mengindahkan tapal-batas masing2.....Jika T’ai-tsu
curiga ada penguasa asing berakal bulus serta mengirim utusan
dengan maksud yang tidak jujur, beliau lebih baik menolak upeti
mereka. Misalnya, upeti perampas2 kuasa (usurpers) tidak dapat
diterima olehnya (were unacceptable to him).
Dr. John Crawfurd (bukan
Crawford) mengenai pembayaran2 upeti kepada kaisar Tiongkok:
Hubungan Tiongkok-Siam jaman
lampau mengandung unsur yang di satu pihak berdasarkan "vanity"
(pengumpakan diri) dan di lain pihak berdasar pada "rapacity" (nafsu
menggarong, lebih jelek daripada serakah/greedy). Raja Siam
mengaku dirinya sebagai pembayar upeti terhadap kaisar Tiongkok
bukan karena terpaksa dan bukan karena berada dibawah kekuasaan
kaisar, melainkan demi menghindarkan pembayaran bea bagi kapal2
yang membawak utusan2nya ke Tiongkok. Para utusan tsb
mempersembahkan bunga dari mas sebagai tanda upeti, tetapi
menerima dari kaisar hadiah2 yang jauh lebih berharga sebagai
tanda penghargaan. Negara2 lain yang lemah mengakui kaisar
Tiongkok karena sebagai imbalannya mendapat perlindungan
terhadap gangguan2 dari luar.
Dalam arsip Tiongkok
tercatat bahwa pada thn. 1376 ketika dinasti Yuan (Monggol)
sudah digantikan oleh dinasti Ming (1368-1644) raja Tan-ma-sa-na-ho
wafat. Tidak jelas apa nama aslinya, tetapi kawasan yang
dipersoalkan menyangkut tanah bekas Sriwijaya. Raja yang wafat
digantikan oleh puteranya yang disebut sebagai Ma-la-cha Wu Li.
Menurut Groeneveldt mungkin putera tsb. adalah Maharadja Wuli,
tetapi menurut Slamet Muljana beliau ini Maharadja
Mauliwarmadewa. Tahun berikutnya maharaja mengirim upeti kepada
kaisar Tiongkok berupa barang2 dan binatang2 chas dalam negeri.
Utusan2nya menyampaikan pesanan bahwa putera tsb segan naik
tahta atas wewenang sendiri serta mohon mendapat ijin kaisar (dengan
maksud mendapat perlindungannya). Kaisar memuji perasaan
tanggungjawab maharaja dan memberi perintah untuk menyampaikan
segel (cap, seal) kepadanya disertai pengangkatan beliau sebagai
raja San-bo-tsai (Sriwijaya). Namun pada waktu itu Sriwijaya
sudah dibawah kekuasaan Jawa (Majapahit). Raja Majapahit sangat
murka mendengar kaisar telah menunjuk raja untuk San-bo-tsai dan
mengirim anak buahnya untuk mencegat dan membunuh utusan kaisar.
Kaisar dapat mengerti kemurkaan raja Majapahit dan tidak
mengadakan pembalasan. Setelah kejadian ini lambat-laun San-bo-tsai/Sriwijaya
jatuh miskin dan tidak datang lagi upeti dari kawasan itu.
Catatan tsb sesuai dengan kenyataan bahwa bekas Sriwijaya
terlantar dan kacau. Keguncangan Singasari-Kediri dan belum
terkonsolidasinya Majapahit menyebabkan pihak Jawa tidak mampu
mengurus tanah Sriwijaya yang tadinya ditaklukkan oleh
Kertanagara.
Tentang perang saudara Paregreg
di Majapahit tercatat bahwa dalam thn. 1405 sida-sida (eunuch)
Laksamana Cheng Ho telah diutus ke Majapahit yang dewasa itu
dikuasai oleh dua raja, Raja Timur dan Raja Barat. Tahun
berikutnya kedua raja saling berperang. Raja Timur dikalahkan
dan kerajaannya hancur. Pada itu waktu utusan2 kaisar kebetulan
berada di negara Raja Timur. Ketika prajurit2 Raja Barat masuk
ke tempat pasar, 170 orang dari utusan kaisar terbunuh, hal mana
membuat Raja Barat kuatir serta mengirim utusan minta maaf.
Kaisar mengeluarkan pengumuman sangat mencela Raja Barat dan
menuntut pembayaran enam-puluh ribu tail mas sebagai denda.
Tahun 1408 Cheng Ho sekali lagi diutus ke negara ini dan Raja
Barat memberi sepuluh ribu tail mas. Petugas2 Dewan Tatacara di
Tiongkok melihat jumlah tidak cukup dan bermaksud mempenjara
utusan2 yang membawanya, tetapi kaisar mengatakan: "Yang saya
kehendaki dari orang2 yang hidup dijauhan yalah mereka
menginsyafi kesalahannya. Saya tidak ingin memperkaya diri
dengan masnya." Seluruh denda dikembalikan. Sedari itu mereka
terus-menerus membawa upeti. Terkadang sekali dalam dua tahun,
ada kalanya lebih dari satu kali setahunnya. Para utusan Wu Pin
dan Cheng Ho seringkali mengunjungi Majapahit.
Lit.:
- Morris Rossabi "Khubilai Khan,
his life and times" hal. xi, 220, 227, 228.
- Slamet Muljana "A story of
Majapahit" hal. 10, 34, 35, 43, 49, 50, 71-3, 82, 88, 146, 182,
240.
- W.P. Groeneveldt "Notes on the
Malay Archipelago and Malacca" hal. 36, 37, 69, 123.
- V.Purcell "The Chinese in
Southeast Asia" hal. xxvii, 122.
bersambung |
|
|