Ini Bang Jeha


Serba-Serbi Kisah Kunjungan Ke Tanah Air XVII

Prenku masih lumayan banyaknya di Jakarta ini. Kemarin dulu saya bersendiri saja karena isteriku sedang ke rumah ibunya. Lantaran kangen ingin menikmati soto Betawi Bang Husen, kutelepon salah satunya dan muncullah 2 dari antara mereka. Info mereka sangat terkini. Anda yang terus mengikuti dagelan atau lenong pencalonan gubernur DKI tentu maklum. Konon, untuk jadi lurah saat ini dibutuhkan upeti sebesar 1M Rp doang. Setua ini ogut belum pernah melihat cheque atau uang sebesar satu milliar. Itu masih belum apa-apa kata mereka lagi. Untuk bisa menjadi presdir ini presdir itu dari cem-macem BUMN, setorannya sudah M-M-an, harga pasaran sekitar 5M. Tahan terus napasmu. Kalau sebentar lagi ongkos berobat ke dokter di negeri ini sama seperti di Amrik, itu karena ongkos memindahkan penempatan dokter lulusan baru dari Puskesmas di Lembah Baliem ke RSPI (Rumah Sakit Pondok Indah) biayanya 100 juta Rp doang. Kalau kecintaanmu kepada Respublik Indonesial ini masih tetap tak luntur meskipun dikau sudah makan kentang sehari-harinya, menangislah
mengetahui puncak semua kegilaan adalah bisnis alias cem-macem percaloan yang dilakukan anggota DPR RI yang tidak-terhormat. Jadi tidak perlu heran kalau negara masih tetap terpuruk, tiada terang maupun benderang di cakrawala
Indonesia. Kata para prenku di Ustrali, Indonesia terlalu kaya untuk bisa bangkrut. Bukan hanya orang Belanda yang tahu kekayaan Nusantara jadi mereka betul sekhalei. Hapuslah ingusmu sebab kesedihanmu percuma saja, seluruh jin
di mayapada tak dapat menolong nasib bangsa yang terus terjajah ini, sekarang oleh kemarukan manusia.

Kalau saya menyetir di Jakarta, saya selalu menyetel FM 100.9, ya Radio Sonora yang merupakan "metamorfosa" Radio Angkatan Muda yang kudirikan bersama-sama temanku waktu jaman "perjuangan" menegakkan Suharto menjadi diktator. Beberapa hari lalu ada woro-woro yang membuatku menelepon si Jos bos Sonora.
"Apaan tuh Kembara, gua mau lihat," kataku dalam bahasa ibu kami sebab ia pun anak Betawi. Kembara adalah singkatan dari KEMah BERsahabat dengan Alam RAya.
"Ohhh, itu buat anak-anak. Kite (kami dalam bahasa Betawi) bawa ke deket Taman Safari buat 3 ari 2 malem. Kerjasama ama Rudy Badil (Mapala UI) supaya anak-anak itu dari kecil ga ngerusak." "Oh, gua kira buat orang dewasa." Jadi Jos menjelaskan apa-apa yang dilakukan atau dibimbing bagi anak-anak itu agar setelah dewasa, tidak sembarangan mengencingi bendungan beaver seperti Bang Jeha :-). Saya pun mampir ke studionya untuk minta diperlihatkan buktinya.

Ia dan saya dulu suka 'snorkeling' ke Kepulauan Seribu. Ketika kutanya apakah ia masih melakukannya, wajahnya menjadi sedih. Ya, ia juga yang membawaku mulai naik gunung ketika kami masih mahasiswa alias senang dengan alam raya. Katanya, hampir seluruh Kepulauan Seribu, kecuali yang sangat jauh seperti Pulau Putri, sudah hancur karang-karangnya karena "pertambangan ikan" model Kurawa dbp Patih Durna.

"Yos, anginnya kemana ya?," kubertanya kepada Yoshua keponakan Cecilia nomor 16 (dari 17) yang berusia hampir 10 tahun. Saya ingin menaikkan layangan atau mencoba menaikkannya. Ia tidak tahu. Kuberani bertaruh, tidak ada satupun keponakan kami yang pernah mengadu layangan, apalagi membuat benang gelasan maupun sang layangan. Kemarin menunggu tibanya hidangan di restoran Pinisi Cisarua, kulihat 2 anak bocah bermain layangan. Kutegur dan kutanya, "Dik (biar keliatan masih muda :-)) berapa duit beli benang dan layangannya?" "Ada yang 1000 ada yang 1500 dan layangan satunya Rp. 250," jawab salah seorang. "Belikan saya yang 1500 dan dua layangan," kataku sambil memberi mereka 2 lembar ribuan. Tak lama tugas Bang Jeha mereka laksanakan hanya astaga sedikit, benangnya nylon dan layangannya jenis yang buat aduan
alias kecil doang. Dibantu oleh Yoshua yang kuberi kursus kilat melepas layangan, kucoba menaikkannya. Gagal total dengan 3 dalih: "benangnya" keberatan, layangannya kekecilan dan yang paling penting, tiada angin yang
cukup kencang. Selain sedih tidak bisa bermain layangan di Puncak, tidak ada satupun yang bisa membantuku, baik dalam memegang benang (pegang beradu istilahnya) di sisiku maupun bersiul memanggil angin :-). Kasihan ya anak-anak sekarang, hobinya bermain computer game atau nge-chat di Internet, olahraganya jalan di syoping mal :-).

Kemarin saya bolak-balik Cisarua-Gatot Subroto, suatu jarak sekitar 70 km doang tapi kutempuh dalam waktu 1.5 jam perginya, 2 jam lebih pulangnya. Dibutuhkan setengah jam untuk 9 km pertama dari Cisarua ke awal tol Ciawi.
Artinya kalau saja saya bisa naik sepeda, saya akan tiba lebih cepat. Waktu kembali lagi ke Puncak, selepas gerbang tol Ciawi jalanan menjadi macet luar biasa, sekitar 2-3 km/jam alias jalan kaki pun akan lebih cepat. Untuk rakyat Betawi atau yang sering 'naar boven', naik ke atas, apa yang saya alami sudah bagus atau normal sebab terkadang mereka bisa mengalami kemacetan berjam-jam.

"Apa sebabnya?," tanya Anda. Selain semakin padatnya lalulintas, juga banyak yang "aneh-aneh" terjadi seperti iringan kelompok kelab motor-besar yang ber-KKN dengan polantas sehingga mereka harus diberi prioritas jalan. Tadi
siang, saya turun lagi ke Jakarta dari Cisarua. Karena macetnya jalanan, kuhitung jumlah bis yang berlawanan arah. Setelah 1 jam menghitung sampai jumlah 300-an, saya bosan. Itu hanya di jarak sejauh 9 km dan belum yang searah saya. Namun, biang dari segala kemacetan adalah ... kecelakaan lalulintas. Kemarin, setelah istirahat berturat-ria dengan sebagian di antara
Anda, saya duduk-duduk di beranda villa yang letaknya cukup jauh dari jalan raya. Jelegur ....kukira bunyi petasan rakyat. Terlihat asap mengebul dari jauh. Belakangan baru kutahu (ada di Kompas hari ini beritanya), dua mobil Kijang dan Panther nyungsruk masuk ke lembah dan nyebur di kolam renang kepunyaan villa di bawahnya. Karena turunan yang cukup curam dari arah Tugu, Anda tahu sendiri berapa cm jarak antara mobil-mobil di jalan raya Melayu ini,
16 mobil saling menyeruduk mobil di depannya dengan akibat 2 meninggal dan belasan luka-luka. Keluarga Cecilia yang sedang ke Cipanas, membutuhkan waktu 3 jam lebih untuk pulang ke villa kami malamnya. Itulah sebabnya, terkadang
dibutuhkan waktu seharian untuk sampai ke Puncak dari Jakarta.

Di pagi harinya, saya hiking ke bawah untuk ikut "menonton" Panther dan Kijang di dalam kolam renang (yang sudah dikosongkan airnya) bersama belasan bocah sekampung. Bukan cerita mengenai rem blongnya bis yang mengawali
kecelakaan itu yang menarik, tapi muatan Kijang tersebut. Menurut versi "wartawan lokal", ada 10 burung berkicau (song bird) yang akan dibawa ke
perlombaan. Harga seekornya Rp 180 juta (kata Kompas Rp 50 juta yang termahal) dan ada 7 yang lepas, tiga OK. Burung berkicau di Kanada engga jadi duit, disini modal dagang. Saya lalu jadi teringat ketika suatu ketika membaca
artikel di Readers Digest edisi Kanada. Pengamat burung dengan rekor 'sighting' terbesar di dunia adalah warga Kanada. Kulupa namanya dan ia
pensiunan eksekutip perusahaan minyak, seingatku. Karena sugih-arta ia memiliki pesawat jet pribadi yang dikemudikannya sendiri kemana-mana.

Akibatnya, bila ada laporan suatu burung langka diketemukan dimana saja di dunia dan belum ada di buku catatannya, ia akan lakoni untuk pergi ke tempat sang burung. Nah, yang menarik adalah ketika ia melaporkan jumlah burung
langka yang ada di Pantura (pantai utara) Pulau Jawa ketika suatu ketika ia mendarat di tanah air kita. Katanya, jumlah burung langka per hari yang dilihatnya, merupakan rekor seumur hidupnya. Tak pernah ia melihat cem-macem
burung di tempat manapun di dunia per harinya dengan konsentrasi kelangkaan seperti di Pulau Jawa. Mungkin sebagian dari jenis burung yang hilang di Puncak kemarin termasuk langka dan mahal sehingga sang pemilik tidak meratapi
Kijangnya tetapi kehilangan burungnya. Itu cerita "burung" yang beredar di Cisarua.

Ketika belum lama ini saya ke toko buku Gramedia, saya membeli a.l. buku Leila Budiman berjudul Gonjang-Ganjing Perkawinan. Isinya ya itu, segala kemelut dan duka-nestapa yang dialami manusia yang hidup dalam ikatan tali
pernikahan. Namun, yang namanya tali itu bukan saja sudah rapuh seperti di negara-negara Barat, kemungkinan untuk 'temo', istilah Betawi untuk
rapuhnya tali, jauh lebih besar. Tak perlu Anda membeli dan membaca buku Leila, pasang mata telingamu bila hidup di Jakarta dan Anda akan mendapat "suguhan" si Polan sekarang punya WIL, si Sarinem punya PIL. Semakin berkelebihan uang sang isteri atau suami, semakin tinggi posisi sosialnya, semakin besar probabilita terjadinya penyelewengan. Itu juga salah satu yang
disyukuri Cecilia bahwa suaminya cuma eks pegawai biasa dan bukan eksekutip dengan hobi main golep serta ke panti pijat. Hanyalah kalau ototku sudah "encok" banget sehabis mendayung barulah saya meminta Cecilia melaburinya dengan analgesic cream. Karena cuma mampu membeli tenda dan kanu doang, jauhlah kemungkinan saya membelikan gaun Versace bagi cewek lain :-).

Seriusan lagi, itulah suguhan cerita dari waktu ke waktu bila saya berjumpa dengan man-teminku di Betawi, ada saja pren yang sudah punya gacoan ekstra atau kawin lagi alias punya bini muda. Godaan duniawi terlalu besar di Kampung Melayu ini, itulah sebabnya Bang Jeha mantan pengarang stensilan memilih tinggal di Kanada yang jauh lebih sedikit godaannya. Sekian dulu, sampai berjumpa di kisah mendatang. (JeHa/IM)

 

 

     

 


FastCounter by bCentral