“Kasihilah Sesamamu Seperti Dirimu Sendiri"
Virgo Handojo, Ph.D.
Sewaktu pacaran dengan Santi, bagi Santo kasih artinya timbal
balik. Dia hanya bisa mengasihi Santi kalau Santi membalas
cintanya. Kasih pada masa remaja dan young adult adalah kasih
yang sepadan. Meski banyak ucapan muluk dikeluarkan pada waktu
mereka pacaran, namun kenyataannya kasih remaja perlu balasan.
Bila yang satu menolak maka yang lain tak mampu lagi memberikan
“cinta sejati”nya. Kasih pada tahap ini sangatlah personal dan
egois.
Berbeda dengan sekarang. Santo sekarang memiliki empat anak.
Ia sudah jauh lebih dewasa. Ia belajar bahwa kasih yang
sesungguhnya itu tanpa pamrih dan imbalan. Anak perlu kasih
orangtua. Kasih yang tidak menuntut dan meminta balasan. Yang ia
pikirkan adalah bagaimana ia bisa membahagiakan anaknya. Tidak
peduli berapa harganya dan apa pahalanya. Ia mengasihi demi
untuk kebaikan orang yang dikasihinya. Erikson menyebutnya
sebagai generativity, rasa prihatin dan concern bagi
generasi yang akan datang.
Santo dan Santi telah memasuki wisata jiwa yang ketujuh. Masa
dewasa. Masa dewasa merupakan masa produktip bagi kesejahteraan
generasi berikutnya. Masa ini dialami ketika kita masuk usia
25-64 tahun. Pada masa ini kejiwaan kita sudah dianggap mantap
dan matang. Orang yang dewasa dan sehat biasanya memiliki citra
diri yang positip, hidupnya mantap, produktip dan bahagia. Pada
masa ini kita mulai memikirkan untuk menyalurkan berkat-berkat
dan pengalaman hidup bukan hanya untuk masa sekarang, namun juga
untuk generasi yang akan datang. Menjadi mentor yang baik
merupakan pergumulan yang penting pada tahap ini. Mentor bukan
hanya untuk anak kandung sendiri, tetapi juga mentor bagi
generasi muda yang lain. Mentor dalam segala bidang. Lewat
tulisan, seni, relasi, maupun kegiatan-kegiatan manusiawi.
Kegagalan pada tahap ini biasanya ditandai dengan ketidak
mampuan untuk memperhatikan kepentingan orang lain atau orang
banyak.
Bagaimana kalau kita tidak memiliki anak atau keluarga?
Hubungan guru dengan murid, mentor dengan mentee, ataupun
pelatih dan anak didik merupakan konteks yang sama dengan
keluarga. Dalam konteks tersebut kita dipanggil untuk
mengekpresikan dan menyalurkan care dan kasih kita bagi generasi
yang akan datang. Kegiatan menulis, aktivitas sosial, riset dan
penemuan-penemuan, dan kegiatan-kegiatan humanis lainnya
merupakan ekspresi dan aspirasi jiwa dewasa untuk kesejahteraan
generasi yang akan datang.
Tidak demikian dengan Johnny. Masa kanak-kanak yang sulit
membuat ia sulit memberikan kasih orang tua yang semestinya. Ia
banyak menuntut anak. Tingkah laku dan prestasi anak menjadi
sarana untuk menambal sulam kekurangan jiwanya. Buat dia nilai
jelek di kelas berarti satu tamparan buat mukanya. Erikson
menyebut keadaan Johnny sebagai Stagnasi.
Orang yang mengalami stagnasi berpusat hanya diri sendiri.
Sulit untuk mengasihi atau memperhatikan kebutuhan dan
kepentingan orang lain. Apalagi diluar keluarga, ras atau
agamanya. Orang yang demikian amat eksklusif dan sektarian. Yang
penting adalah kelompok dan kepentingan saendiri. Pada dasarnya
keadaan stagnasi adalah kemacetan jiwa pada tahap yang
sebelumnya. Tubuh dewasa namun jiwa masih kanak-kanak. Pada
tahap yang ekstreem ia menjadi sociopath atau kriminal. Sama
sekali tidak care dengan hak dan kepentingan orang lain.
Semua manusia harus melewati pergumulan wisata jiwa ini.
Antara generativity dan stagnasi. Bila generativity lebih besar
dari stagnasi, maka kita akan meninggalkan wisata jiwa tahap ini
dengan kekuatan dan kemampuan batin untuk care kepada
sesama. Orang yang demikian mampu memperhatikan dan memelihara
bukan hanya keluarga atau kelompoknya sendiri, tetapi mampu
mengasihi orang lain diluar kelompok dan keluarga sendiri.
Bahkan bagi generasi dan masyarakat yang akan datang.
Bila pada tahap sebelumnya orang yang sehat berkata, ”I have
something,” maka pada tahap ini ia berkata, “I care.” Di
tengah-tengah segala ketidaklengkapan dan ketidak sempurnaan
dalam masyarakat, orang yang dewasa bukan hanya berkarya untuk
keluarga dan masyarakat, namun ia menyediakan waktu dan tenaga
bagi generasi berikutnya. Tanpa pandang bulu, pamrih dan pahala.
Seperti tahap-tahap sebelumnya, wilayah jiwa ini tak dapat
digapai tanpa dukungan dari tahap-tahap sebelumnya. Ingat pesan
papa untuk tahap ini, “KASIHILAH SESAMAMU SEPERTI DIRIMU
SENDIRI.” (VH/IM)