Obyek wisata di RRT memang memukau. Tembok besar dan
Kota Terlarang tetap jadi andalan utama
Dampak wabah sindrom pernapasan sangat akut (Severe
Acute Respiratory Syndrome/SARS) yang melanda Beijing, RRT
sejak Februari lalu memang luar biasa. Hampir semua sektor
kehidupan di negeri tirai bambu itu terpukul. Industri
pariwisata yang menjadi salah satu tulang punggung
perekonomian RRT nyaris lumpuh. Apalagi setelah badan
kesehatan dunia (WHO) secara resmi mengeluarkan travel
warning. Sedikitnya 150 ribu calon wisatawan batal
melancong Tiongkok.
Menurut China Centre for Economic Research, seperti yang
dikutip kantor berita AFP, Jumat pekan lalu, arus kedatangan
wisatawan manca negara sepanjang April anjlok 78 persen jika
dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Yang
menyedihkan, wabah SARS yang hingga saat ini masih melanda
dunia, menurut Biro Pariwisata Beijing, memaksa 143 dari 167
lokasi wisata utama di Beijing ditutup.
Kondisi menyedihkan akibat wabah SARS yang melanda
Tiongkok, khususnya dunia wisatanya, mengingatkan saya saat
berkunjung ke Beijing beberapa bulan lalu. Ketika itu, wabah
penyakit yang menakutkan dan sudah merengut nyawa ratusan
orang ini, belum bergaung. Tak heran kalau, saya bisa leluasa
mengelilingi Beijing, termasuk mengunjungi The Great Wall,
tembok terbesar dan terpanjang di jazirah Tiongkok.

Kunjungan ke Great Wall alias Tembok Besar Tiongkok saya
lakukan pada hari kedua kedatangan saya di Beijing. Perjalanan
ke salah satu obyek wisata yang masuk ke dalam tujuh keajaiban
dunia itu dimulai pada pagi buta. Kami menggunakan mobil
selama 3,5 jam melewati jalan yang kondisinya tak begitu baik.
Tujuan kami ke Jinshanling terus ke Simatai. Bukan ke Badaling
yang merupakan bagian tembok yang paling banyak dikunjungi
pelancong.
Oya, tembok Tiongkok merupakan salah satu bangunan raksasa
yang pernah dibuat umat manusia. Usianya lebih dari dua ribu
tahun. Tembok sepanjang 7.300 kilometer ini melintang dari
barat ke timur, mulai dari Shanhaiguan Pass dekat Bo Hai di
teluk Bo Hai sampai Jisayuguan Pass yang kini terletak di
provinsi Gansu. Tembok yang tak putus-putus hingga tampak
seperti naga yang sedang tidur di daratan Tiongkok ini
melintasi wilayah Liaoning, Hebei, Tianjin, Beijing, Shanxi,
Inner Mongolia, Shaanxi, Ningxia, dan Gansu.
Uniknya, sampai saat ini tidak ada yang tahu pasti kapan
tembok tersebut pertama kali dibangun. Diperkirakan tembok
yang konon dibangun untuk mempertahankan diri dari serangan
musuh ini mulai dibangun oleh Dinasti Zhou di akhir Spring and
Autumn Period (770 SM - 476 SM). Sedangkan tahap akhir
pembangunan tembok dilakukan di masa Dinasti Ming (1368 -
1644).
Selama periode itu, proses pembangunan tembok sepanjang
sekitar 5.000 kilometer dilakukan dengan desain yang canggih
serta menggunakan bahan batu bata dan granit. Untuk memperkuat
kontrol militer dari arah utara, pihak berwenang Ming membagi
Tembok ke dalam sembilan zona dan menempatkannya di bawah
tanggung jawab Zhen (kepala garnisun). Tentu saja para
pengunjung tak mungkin menyusuri seluruh tembok karena hanya
sekitar 10 kilometer saja yang terbuka untuk umum. Tembok
sepanjang itu bisa dicapai dalam waktu sekitar 4,5 jam.
Untuk menikmati daratan Tiongkok dari atas Tembok, para
pelancong musti mendaki tangga lumayan curam yang memiliki
semacam pagar di tengah. Di situ ada pintu yang lebarnya hanya
cukup untuk seseorang masuk. Di sisi lain pagar, berbaris
sekelompok orang yang menjual suvenir atau air mineral. Dari
sinilah mereka mengikuti perjalanan para wisatawan. Mereka
berharap ada yang membeli minuman atau souvenir.
Saya 'dikawal' oleh seorang bocah lelaki. Awalnya dia tidak
berusaha menawarkan dagangannya. Dia akan stirahat bila saya
istirahat. Tapi, begitu mendekati Simatai, dia mulai berusaha
menjual buku tentang Tembok, T-shirt atau kartu pos. Lantaran
saya hanya memerlukan air mineral yang kebetulan tidak
dijajakannya, si anak jadi sakit hati dan berusaha
menghalang-halangi jalan saya. Dengan mimik sedih dia mulai
mengeluarkan air mata buayanya. 'Aksi'-nya berhenti setelah
dia tahu kalau saya benar-benar tidak berniat membeli suvenir
yang dibawanya. Dengan geram dan bersungut-sungut bocah yang
gigih ini meninggalkan saya.

Rasa lelah langsung meyergap begitu sampai di atas tembok.
Tapi, pemandangan yang membuat banyak orang secara tak sengaja
mengucapkan kata "Wow!", ternyata jadi obat mujarab. Tubuh
yang loyo berangsur-angsur segar kembali. Panorama alam yang
membentang di depan mata benar-benar memukau. Saya terkesima
dengan kejaiban dunia yang satu ini. Sembari menikmati
hembusan angin yang cukup kencang, otak saya terus berputar:
bagaimana proses pembangunan tembok ini berlangsung dari
menara ke menara?
Setelah berkunjung ke Tembok Tiongkok, keesokan harinya
perjalanan wisata berlanjut ke Summer Palace atau Istana Musim
Panas. Letaknya sekitar 15 kilometer dari Beijing. Istana yang
terletak di sekitar danau Kunming ini dulu dipakai sebagai
lahan berburu para raja.
Yang menarik, tempat yang merupakan kebun terluas kedua di
daratan Tiongkok serta istana yang dinamakan Golden Hill
tersebut, dibangun sekitar 800 tahun yang lalu. Pesisnya, pada
awal Dinasti Qing oleh Kaisar Qian Long. Di istana ini
terdapat pula Kebun Abadi seluas 294 hektar, yang dibangun
untuk menghormati ulang tahun ibundanya.
Kawasan Istana yang pernah dua kali diluluhlantakan, tapi
kemudian direnovasi oleh Ratu Cixi itu terbagi menjadi tiga
bagian. Yaitu kantor, tempat tinggal, dan lahan pemandangan.
Bagian penting yang ada di kawasan kantor adalah balairung
kebajikan dan keabadian, tempat Ratu Cixi mengurusi masalah
kenegaraan dan menerima pejabat. Sementara tempat tinggal
terdiri dari balairung agung, Taman keabadian dan Balairung
Kebahagiaan Abadi. Sedangkan tempat memandang alam adalah
Danau Kunming dan Bukit Keabadian.
Salah satu bagian yang wajib dikunjungi di istana ini
adalah Kuil Lautan Kebijaksanaan Budha. Di sini para pelancong
bisa menikmati pemandangan indah danau dan kawasan sekitarnya.
Tapi, kalau berkunjung ke tempat ini jangan lupa meresapi
keindahan koridor panjang yang amat indah. Koridor sepanjang
700 meter dan dilukis itu, letaknya tidak di dalam gedung,
tapi di dekat air dan tanpa tembok. Tiangnya terbuat dari kayu
dengan motif berbeda-beda.
Secara keseluruhan, Istana Musim Panas tidak berbeda dengan
hasil renovasi tahun 1903. Gerbangnya ada dua, yaitu Gerbang
Istana Timur dan Gerbang Istana Barat. Istana ini belakangan
berubah menjadi taman setelah penobatan Kaisar terakhir
Dinasti Qing, Pu Yi, tahun 1924. Taman indah itu kemudian
dibuka untuk umum, namun akibat biaya masuknya mahal tak semua
orang bisa menikmati keindahannya. Saat ini siapapun bisa
menikmati keindahan taman hanya dengan membeli tiket seharga
35 Yuan. Tak heran jika taman istana yang sudah tua umurnya
ini merupakan tempat favorit para warga Beijing yang ingin
tetirah di musim panas.
Setelah berkunjung ke dua ikon wisata Beijing, tempat
terakhir yang saya jadikan sasaran adalah Lapangan Tian'anmen
dan Forbidden City. Lapangan Tiananmen yang pernah menjadi
saksi bisu bentrokan antara mahasiswa dan aparat berwajib
tahun 1989 yang memakan korban nyawa itu sebenarnya tak
terlalu istimewa. Tapi, lapangan seluas 44 hektar ini
merupakan lapangan terluas di dunia. Itu sebabnya, sehari-hari
selalu dikunjungi para wisatawan manca negara.
Di seberang jalan terdapat Gerbang Tian'anmen yang akan
membawa kita menuju Kota Terlarang. Di gerbang yang disebut
Gerbang Kedamaian Surga (Gate of Heavenly Peace) ditempel foto
besar Mao Zedong yang memproklamasikan Republik Rakyat
Tiongkok pada 1 Oktober 1949.
Kota terlarang yang akrab disebut Musium Istana, berdiri di
atas tanah seluas 74 hektar, ini dibangun pada masa
pemerintahan kaisar Ming ketiga, Yung Lo (1403-1423). Uniknya,
tempat yang selama 500 tahun terlarang diinjak oleh orang awam
itu dibangun dengan menggunakan prinsip-prinsip geomantik.
Yang mungkin tak banyak diketahui orang, bangunan Kota
Terlarang ini terletak pada sebuah garis lurus, yang
melambangkan poros alam semesta. Pada poros inilah kaisar
berada tepat di tengah bumi dan menyeimbangkan manusia yang
ada di empat samudera.
Kawasan yang dilengkapi parit dan tembok setinggi sekitar
10 meter itu terbagi dalam dua bagian. Di bagian depan yang
ada di bagian selatan, berisi enam bangunan utama tempat para
kaisar menjalankan kegiatan mengurus kerajaan. Sementara di
belakangnya atau bagian utara merupakan tempat tinggal kaisar
dan keluarganya.
Istana yang pernah dihuni 14 kaisar dari Dinasti Ming dan
10 kaisar dari Dinasti Qing ini terdiri dari 75 aula, istana,
kuil, paviliun, ruang perpusatakaan dan studio, yang
dihubungkan dengan halaman, jalan setapak, taman, gerbang, dan
dinding pagar tinggi. Kalau dijumlahkan, Kota Terlarang
memiliki sekitar 9.999 ruangan. (Rosa
Widyawan/Tempo Interaktif)