Norman Hsu Kalah
Tapi, Tak Ada Wali Kota di Hacienda Heights
Courtesy of Jawa Pos
LOS
ANGELES - Sempat memimpin perolehan suara di awal perhitungan,
Norman Hsu, arek Suroboyo itu, akhirnya harus menerima
kenyataan kalah dalam pemilihan untuk mengisi lima kursi Dewan
Kota (City Council) Hacienda Heights, Los Angeles County,
California.
Wartawan koran ini Ramadhan Pohan, yang mengikuti proses
kampanye hingga pemilihan di sana, melaporkan tadi malam,
Norman berada di urutan ketujuh dari total 17 kandidat. Meski
kalah dan ambisi merengkuhi kursi wali kota sirna, Norman
layak tidak larut dalam kecewa.
Sebab, selain pemilihan untuk dewan kota, voters (para
pemilih) juga melakukan pilihan yang tidak kalah penting.
Yakni, mereka tetap lebih suka Hacienda Heights berada di
bawah kendali administrasi Los Angeles (LA) County. Bukan
sebagai kota otonom. Maka, peraih suara terbanyak dari lima
kandidat terpilih di dewan kota itu juga tidak punya hak
menjadi wali kota.
Suara mayoritas, yakni 63,13 persen, pemilih condong
Hacienda Heights tidak menjadi kota dan tetap bersama LA
County. Pemilih yang pro-Hacienda Heights menjadi kota otonom
hanya 36,87 persen.
Kepada koran ini, Norman menyatakan berjiwa besar menerima
kekalahan ini. Para supporter Norman, terutama kalangan
Tionghoa Indonesia dan Tionghoa Amerika, memang tampak
langsung lesu mendengar kekalahan Norman dan suara pro-kota
otonom. Aula di Hacienda Boulevard 2020F, markas pendukung
Norman berkumpul, yang sebelumnya riuh mendadak senyap.
Botol-botol sampanye yang sudah disiapkan merayakan kemenangan
akhirnya tidak tersentuh.
Memang sangat mengejutkan. Kalangan pendukung Norman,
termasuk tokoh-tokoh politik dan masyarakat setempat, seperti
tidak percaya atas hasil tragis itu. Staf Konsulat Jenderal
Republik Indonesia (KJRI) di LA bersama masyarakat Indonesia
yang siap bergadang memberi dorongan moral Norman akhirnya
pasrah.
Norman menyampaikan statemen politik pertama pascakekalahan
itu kepada koran ini. "Hasilnya kita sudah gagal. Jadi rakyat
Hacienda Heights tetap tidak mau menjadi satu kota (terpisah
dari LA County, red), dan mereka terus ingin berada di bawah
pengawasan county. Apa boleh buat. Ini adalah demokrasi, kita
harus mendengar suara rakyat. Kalau rakyat menentukan tidak
mau pisah, ya kita harus menghormati. Inilah prinsip
demokrasi," paparnya.
Ditanya pelajaran yang bisa dipetik dari pemilihan, Norman
menyoroti strategi tertentu para penentangnya. Selama kampanye
hingga jelang pencoblosan, suara penentangan atas pro- kota
sama kencangnya dengan suara mengkritisi Norman. Arek Suroboyo
ini dianggap salah satu kandidat berambisi menancapkan
pengaruh Asia di daerah yang didominasi ras kulit putih itu.
"Yang penting dari pemilihan kali ini, oposisi memakai
taktik-taktik menakuti rakyat. Juga di antara kandidat
menggunakan taktik bahwa orang Asia akan mengontrol Hacienda
Heights. Dengan isu rasial ini, mereka sedikit menakuti
masyarakat asli (yang sudah sejak lama bermukim, Red.),"
katanya.
Kelompok paling kencang menentang pro-kota dan Norman
adalah No Cityhood Committee, menggalang kekuatan bersama
kandidat yang menggunakan strategi licik, terutama Henry
Pedregon dan Rudy Almeida.
"Mereka mengatakan jika Hacienda Heights menjadi kota
(otonom) maka pajak akan dinaikkan. Orang-orang penduduk asli
yang kebanyakan usia tua tidak mau pajak dinaikkan," jelas
Norman.
Pemilihan di daerah berpopulasi 53 ribu di Negara Bagian
California ini diikuti pemilih terdaftar 26.709 orang. Norman
hanya mampu meraup 6,49 persen. Lima besar dari 17 kandidat
adalah Ken Manning (10,01%), Charles House (9,50%), Scarlet
Treu (7,51%), Felicia Minardi (7,42%), dan David Fang (7,05%).
Yang menarik adalah pro-kota dan Norman sempat sama-sama
leading (unggul) pada jam-jam pertama penghitungan suara.
Memang kelihatan ketat, namun secara konsisten pro-kota dan
Norman tetap teratas. Ketika pro-kota merangsek 50,37% suara
atas anti-kota 49,63%, Norman juga seperti di atas angin. Di
mana saat-saat penghitungan awal itu Norman teratas dengan
12,31%, disusul David Fang 11,70%. Sedangkan kandidat-kandidat
lainnya masih keteteran.
Ketika menyaksikan perpacuan suara di mana pro-kota dan
Norman unggul, semua menduga Norman bakal lempang jadi wali
kota. Suara ceria dan optimistis pendukung Norman terdengar di
mana-mana. Namun ketika waktu perhitungan kian melaju cepat,
pro-kota dan Norman mulai disusul. Selanjutnya, seperti yang
dikhawatirkan para pendukung, akhirnya pro-kota dan Norman
sama-sama takluk.
Asosiasi Komunitas Tionghoa Indonesia-Amerika
(ICAA-Indonesian Chinese American Association) yang
meng-endorse (mendukung) pencalonan Norman berusaha tegar. Ini
kali pertama upaya ICAA menggolkan kandidat orang Indonesia
memegang kendali politik lokal Amerika.
Presiden ICAA Frits Hong Ph.D dan wakilnya, Dr. Ibrahim
Irawan, cukup arif menyikapi gagalnya Norman. Frits
menjanjikan pihaknya tetap berupaya mengorbitkan orang-orang
Indonesia (yang sudah jadi warga negara Amerika) agar mampu
menduduki jabatan-jabatan politik prestisius di Negeri Paman
Sam ini untuk masa mendatang. Kekalahan Norman bukan berarti
segalanya kiamat.
"Kita jangan cepat berputus asa. Kita akan tetap menyiapkan
kader-kader terbaik kita," papar Frits dengan vokal mantap.
Apa makna khusus dari kekalahan pemilihan Norman? Menurut
Frits, tidak lain adalah korban dari negative campaign
(kampanye negatif). "Ini suatu pelajaran bagi kita di sini dan
di tempat lain. Jadi, sebenarnya masih ada soal ras, di mana
orang ditakut-takuti bahwa orang Asia akan menguasai. Nah lalu
kita bagaimana? Ya, harus berjuang terus," pungkas pemimpin
komunitas Asia di California yang asal Sulawesi Utara itu.
(JP/IM)