Banner 120X90

Dr. Frans Tshai ditengah Peringatan Tragedi Mei '98

Ramah Tamah di KJRI-LA

 

Norman Hsu Kalah

Tapi, Tak Ada Wali Kota di Hacienda Heights

Courtesy of Jawa Pos

LOS ANGELES - Sempat memimpin perolehan suara di awal perhitungan, Norman Hsu, arek Suroboyo itu, akhirnya harus menerima kenyataan kalah dalam pemilihan untuk mengisi lima kursi Dewan Kota (City Council) Hacienda Heights, Los Angeles County, California.

Wartawan koran ini Ramadhan Pohan, yang mengikuti proses kampanye hingga pemilihan di sana, melaporkan tadi malam, Norman berada di urutan ketujuh dari total 17 kandidat. Meski kalah dan ambisi merengkuhi kursi wali kota sirna, Norman layak tidak larut dalam kecewa.

Sebab, selain pemilihan untuk dewan kota, voters (para pemilih) juga melakukan pilihan yang tidak kalah penting. Yakni, mereka tetap lebih suka Hacienda Heights berada di bawah kendali administrasi Los Angeles (LA) County. Bukan sebagai kota otonom. Maka, peraih suara terbanyak dari lima kandidat terpilih di dewan kota itu juga tidak punya hak menjadi wali kota.

Suara mayoritas, yakni 63,13 persen, pemilih condong Hacienda Heights tidak menjadi kota dan tetap bersama LA County. Pemilih yang pro-Hacienda Heights menjadi kota otonom hanya 36,87 persen.

Kepada koran ini, Norman menyatakan berjiwa besar menerima kekalahan ini. Para supporter Norman, terutama kalangan Tionghoa Indonesia dan Tionghoa Amerika, memang tampak langsung lesu mendengar kekalahan Norman dan suara pro-kota otonom. Aula di Hacienda Boulevard 2020F, markas pendukung Norman berkumpul, yang sebelumnya riuh mendadak senyap. Botol-botol sampanye yang sudah disiapkan merayakan kemenangan akhirnya tidak tersentuh.

Memang sangat mengejutkan. Kalangan pendukung Norman, termasuk tokoh-tokoh politik dan masyarakat setempat, seperti tidak percaya atas hasil tragis itu. Staf Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di LA bersama masyarakat Indonesia yang siap bergadang memberi dorongan moral Norman akhirnya pasrah.

Norman menyampaikan statemen politik pertama pascakekalahan itu kepada koran ini. "Hasilnya kita sudah gagal. Jadi rakyat Hacienda Heights tetap tidak mau menjadi satu kota (terpisah dari LA County, red), dan mereka terus ingin berada di bawah pengawasan county. Apa boleh buat. Ini adalah demokrasi, kita harus mendengar suara rakyat. Kalau rakyat menentukan tidak mau pisah, ya kita harus menghormati. Inilah prinsip demokrasi," paparnya.

Ditanya pelajaran yang bisa dipetik dari pemilihan, Norman menyoroti strategi tertentu para penentangnya. Selama kampanye hingga jelang pencoblosan, suara penentangan atas pro- kota sama kencangnya dengan suara mengkritisi Norman. Arek Suroboyo ini dianggap salah satu kandidat berambisi menancapkan pengaruh Asia di daerah yang didominasi ras kulit putih itu.

"Yang penting dari pemilihan kali ini, oposisi memakai taktik-taktik menakuti rakyat. Juga di antara kandidat menggunakan taktik bahwa orang Asia akan mengontrol Hacienda Heights. Dengan isu rasial ini, mereka sedikit menakuti masyarakat asli (yang sudah sejak lama bermukim, Red.)," katanya.

Kelompok paling kencang menentang pro-kota dan Norman adalah No Cityhood Committee, menggalang kekuatan bersama kandidat yang menggunakan strategi licik, terutama Henry Pedregon dan Rudy Almeida.

"Mereka mengatakan jika Hacienda Heights menjadi kota (otonom) maka pajak akan dinaikkan. Orang-orang penduduk asli yang kebanyakan usia tua tidak mau pajak dinaikkan," jelas Norman.

Pemilihan di daerah berpopulasi 53 ribu di Negara Bagian California ini diikuti pemilih terdaftar 26.709 orang. Norman hanya mampu meraup 6,49 persen. Lima besar dari 17 kandidat adalah Ken Manning (10,01%), Charles House (9,50%), Scarlet Treu (7,51%), Felicia Minardi (7,42%), dan David Fang (7,05%).

Yang menarik adalah pro-kota dan Norman sempat sama-sama leading (unggul) pada jam-jam pertama penghitungan suara. Memang kelihatan ketat, namun secara konsisten pro-kota dan Norman tetap teratas. Ketika pro-kota merangsek 50,37% suara atas anti-kota 49,63%, Norman juga seperti di atas angin. Di mana saat-saat penghitungan awal itu Norman teratas dengan 12,31%, disusul David Fang 11,70%. Sedangkan kandidat-kandidat lainnya masih keteteran.

Ketika menyaksikan perpacuan suara di mana pro-kota dan Norman unggul, semua menduga Norman bakal lempang jadi wali kota. Suara ceria dan optimistis pendukung Norman terdengar di mana-mana. Namun ketika waktu perhitungan kian melaju cepat, pro-kota dan Norman mulai disusul. Selanjutnya, seperti yang dikhawatirkan para pendukung, akhirnya pro-kota dan Norman sama-sama takluk.

Asosiasi Komunitas Tionghoa Indonesia-Amerika (ICAA-Indonesian Chinese American Association) yang meng-endorse (mendukung) pencalonan Norman berusaha tegar. Ini kali pertama upaya ICAA menggolkan kandidat orang Indonesia memegang kendali politik lokal Amerika.

Presiden ICAA Frits Hong Ph.D dan wakilnya, Dr. Ibrahim Irawan, cukup arif menyikapi gagalnya Norman. Frits menjanjikan pihaknya tetap berupaya mengorbitkan orang-orang Indonesia (yang sudah jadi warga negara Amerika) agar mampu menduduki jabatan-jabatan politik prestisius di Negeri Paman Sam ini untuk masa mendatang. Kekalahan Norman bukan berarti segalanya kiamat.

"Kita jangan cepat berputus asa. Kita akan tetap menyiapkan kader-kader terbaik kita," papar Frits dengan vokal mantap.

Apa makna khusus dari kekalahan pemilihan Norman? Menurut Frits, tidak lain adalah korban dari negative campaign (kampanye negatif). "Ini suatu pelajaran bagi kita di sini dan di tempat lain. Jadi, sebenarnya masih ada soal ras, di mana orang ditakut-takuti bahwa orang Asia akan menguasai. Nah lalu kita bagaimana? Ya, harus berjuang terus," pungkas pemimpin komunitas Asia di California yang asal Sulawesi Utara itu. (JP/IM)

 

     

 


FastCounter by bCentral