Dr.Frans Tshai ditengah Peringatan Tragedi Mei '98
Dilaporkan oleh: Dr.Irawan
Duarte, May 31, 2003/Indonesia Media
Dalam rangka memperingati Tragedi Mei 98 ini Dr. Frans
Tshai khusus datang dari Indonesia memenuhi undangan dari
Committee for Human Rights in Indonesia - Los Angeles (30-31
Mei), ICANet - San Francisco (1 Juni), dan CCEVI - Toronto
Canada (6-7Juni). Acara yang di moderatori oleh Utomo Lukman
pada tanggal 30 Mei, dan Ridwan Ongkowidagdo pada tanggal 31
Mei 2003 ini, dimulai dengan "Pengheningan Cipta" bagi para
korban Tragedi Mei '98.
Acara memang sengaja dilakukan secara berturut turut 2
malam untuk melayani interaksi dengan masyarakat. Selingan
orasi pada pagi harinya tanggal 31 Mei di Food Court "Pondok
Kaki Lima"di pandu oleh Ibu Dewi Sakri. Dalam kesempatan itu
turut meliput jalannya acara adalah Ramadhan Pohan, wartawan
Jawa Pos,Koran terbesar terbitan Surabaya, yang sengaja datang
dari Washington D.C. Acara ini disponsori antara lain oleh:
Imigration Specialist, Duarte Inn, IS Express, Indonesia Media
dan Pondok Kaki Lima dari ICAA.
Grand Master dari Tragedi Mei '98
Pak
Frans Tshai yang menjabat sebagai Ketua Umum PPBTI (Partai
Perjuangan Bhineka Tunggal Ika Indonesia) menyatakan bahwa
Tragedi Mei '98 yang terjadi 5 tahun lalu itu jelas sudah
diatur dan direncanakan.Namun memang sulit di cari pelaku
utamanya walaupun sudah 3 kali pergantian pimpinan negara,
"Ada grand master-nya yang masih gentayangan bagaikan
gendruwo" ujarnya. Namun pernyataan Frans Tshai langsung
disanggah oleh salah seorang yang hadir yaitu Bpk. Agus
Djayaputra yang dengan lantang menyatakan bahwa; "Pak Frans
Tshai salah, dalam hal ini pelaku utamanya dari balik Tragedi
Mei '98 sudah jelas adalah Prabowo mantu Suharto, dan Sjafrie
Syamsudin yang sekarang menjabat Kapuspen TNI, merekalah yang
pernah mendapat pendidikan anti-teror". Agaknya sosok yang
sehari harinya bekerja sebagai investigator yang melanglang
buana ke manca negara,` dan mengaku sering keluar masuk
MPR/DPR ini menyimpan rahasia yang sulit di tembus orang awam.
"Indonesia sekarang perlu revolusi" imbuh Agus Djayaputra yang
berambut putih tapi mengaku masih muda itu.
Frans Tshai segera menepis opini dari Agus, karena beliau
berpendapat bahwab sebelum badan judikatif yang resmi
menyelidiki secara hokum dan membeberkan segala faktanya,kita
tidak bisa mengatakan siapa biang keladinya hanya berdasarkan
dugaan saja.
Menurut mantan Gubernur Distrik Lions Clubs Indonesia ini,
Peringatan Tragedi Mei '98 memang harus terus dilakukan sampai
pelaku yang bertanggung-jawab diungkap dan diadili.Kita tak
pernah boleh melupakan itu. Jangan mensia-siakan pengorbanan
dari saudara saudara kita. Kalau kita tidak berbuat apa-apa,
kita berdosa, karena tidak memanfaatkan pengorbanan itu untuk
menciptakan suatu perbaikan agar tidak terjadi lagi seperti
itu. Jangan menangisi masa lalu begitu saja.Tidak boleh ! Yang
penting kita harus berbuat sesuatu yang konkrit. Tidak ada
jaminan bahwa peristiwa Mei'98 tidak akan terulang
lagi.Rekonsiliasi boleh dilakukan setelah kebenarannnya
terungap.Mana mungkin rekonsiliasi kalau yang bersalah saja
tidak diketahui.Hukum harus ditegakkan dengan adil.
Situasi di Indonesia Sekarang
Masalah utama yang ada sekarang di Indonesia adalah
ketidakadilan. Semua permasalahan yang dapat kita saksikan
sekarang bersumber pada ketidakadilan ini seperti KKN yang
terus menjamur,konflik Aceh,Papua,Poso,diskriminasi,dsb.Yang
kita butuh secara urgen adalah kepemimpinan yang bijaksana
,tegas dan adil. Ketidakadilan menimbulkan pelbagai macam
masalah keamanan pula.Kalau masalah keamanan di Indonesia
tidak dipelihara maka jangan harapkan investor mau masuk
menanamkan modalnya. Sejumlah pabrik PMA sudah hengkang
kenegeri jiran akibat kekuatiran demikian.Kalau mereka pindah
ke Vietnam mungkin masih bisa dimengerti karena upah buruh
yang murah, tapi ini pindahnya ke Malaysia yang upahnya lebih
tinggi, dan ironisnya di Malaysia sebagian pekerjanya adalah
TKI kita dari Indonesia.
Masalah keamanan tentunya sangat terkait dengan penegakan
hukum, karena selama ini kita lihat penegakan hukum masih
lemah, walaupun selama ini Indonesia mengaku sebagai negara
hukum.Ada hukum tapi tidak ditegakkan.
Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia menjadi hambatan
yang sangat besar dalam menghasilkan human resources atau
sumber daya manusia yang handal dan dapat bersaing dalam pasar
global yang makin kompetitif ini.Sebagai contoh disampaikannya
hasil survai di 107 negara terhadap kemampuan anak kelas 4 SD
membaca.Hasil survai ini disampaikan oleh seorang ahli dari
LIPI dalam suatu seminar mengenai pendidikan kita.Indonesia
menduduki peringkat kedua dari bawah, menyedihkan.
Karena itu janganlah kita heran kalau saat ini tenaga yang
sanggup kita “eksport” praktis tenaga kasar,terutama sebagai
TKW. Sebagai catatan rata-rata 500 TKW kita per tahun mendapat
perlakuan tidak manusiawi berupa penyiksaan dan pelecehan
seksual di Arab Saudi.
Tidak terdengar ada usaha yang serius untuk mencegah
terjadinya perlakuan demikian, sementara pemerintah tidak bisa
berbuat banyak.
Anggaran pendidikan di Indonesia baru dinaikan menjadi 5%
dari APBN, padahal porsi pendidikan dinegara lainnya rata rata
20%. Keadaan ini diperkeruh lagi dengan masalah RUU Sisdiknas
(System Pendidikan Nasional) yang jelas-jelas mengandung
unsur-unsur yang membahayakan persatuan bangsa. Dengan dalih
untuk meningkatkan moral bangsa perlu pendidikan agama yang
lebih banyak di sekolah.Tidak pernah terbukti dari negara
manapun sejauh ini menambah pelajaran agama di sekolah moral
bangsa itu menjadi lebih baik. Tetapi kalau kita melihat dari
segi politik, itu hanya merupakan alasan saja, dimana
kelompok-kelompok tertentu ingin mencoba jauh lebih menguasai
kehidupan bangsa dengan mengorbankan prinsip Bhinneka Tunggal
Ika.
Retorika yang dibawakan oleh pemerintah saat ini mengenai
laju pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan 4%, dalam
kenyatannya,menurut sumber Bank Dunia, tidak akan lebih dari
3,3%. Pertumbuhan serendah itu tidak akan sanggup menyerap
angkatan kerja baru yang masuk ke pasaran.Berarti akan
memperburuk angka pengangguran lagi yang sekarang tercatat
pada 40 juta orang.
Sektor pertambangan yang dulunya banyak menghasilkan devisa
,dalam 10 tahun kedepan akan mengalami krisis yang sangat
serius karena tidak ada pencarian tambang baru. Suatu sumber
tambang emas umpamanya rata rata hanya bisa berproduksi antara
5 sampai 10 tahun, kemudian akan ditinggalkan karena sudah
tidak ekonomis lagi.Akibat kondisi keamanan dan perburuhan
yang ada, saat ini hampir tidak ada investor yang mau
menanamkan modal untuk eksplorasi mencari sumber tambang
baru,baik emas,batubara maupun lainnya.Jadi bisa dibayangkan
10 tahun kedepan apa kontribusi pertambangan bagi perekenomian
Belum lagi penjarahan hutan secara besar-besaran, kemana
moralnya?, keluh anggota Dewan pengurus kamar dagang
Indonesia-Canada ini.

Partai berjamuran
Saat ini tercatat ada 237 partai dengan berbagai ragam nama
yang membuat orang tersenyum membacanya, diantarnya ada yang
namanya Partai Perempuan, Partai Putus Sekolah dan
Pengangguran. Namun akan banyak partai yang nantinya
berguguran, karena persyaratan partai yang berhak ikut pemilu
tidaklah semudah yang dibayangkan. Pada penyaringan untuk bisa
ikut Pemilu ,sebuah partai harus mempunyai kepengurusan di
lebih dari 2/3 propinsi yang ada (30), di lebih dari 2/3
kabupaten dan kodya, dan di lebih dari 25% kecamatannya. Belum
lagi harus mempunyai 1000 anggota yang mempunyai KTA (kartu
tanda anggota) di tiap kabupaten dan kota madya.
Money Politics
Partai di haruskan sedikitnya mempunyai anggota 1 permil
(1/1000) dari populasi yang ada di suatu kabupaten. Ini tidak
mudah, dan akan memicu money politik lagi, karena untuk
membuat KTA harus ada KTP, dan ini tidak mudah karena tidak
semua orang punya KTP,Sekarang saja sudah ada orang yang
melihat peluang mencari duit. Pemilu tahun depan masih saja
dibayang bayangi Money politics. Dalam pemilu yang lalu banyak
ditemukan pelanggaran,Para pemantau berdatangan dari luar
negeri, bahkan saat itu mantan Presiden Carter turut datang
menyaksikan, Tapi temuan itu tidak ada tindak lanjutnya,
seloroh pria yang menguasai 6 macam bahasa ini.
PPBTI
Bukan kita tidak tahu bahwa belum saatnya berkampanye, tapi
di Indonesia semua panji-panji telah berkibaran, karena memang
tidak adanya penegakan hukum dan sangsi, kata pria kelahiran
Singkawang ini. Frans Tshai yang rumahnya pernah menjadi pusat
kampanye untuk PDIP Kodya dan Kabupaten Bogor ini dan berhasil
membuat Bogor manjadi merah saat itu, dan juga pernah diutus
berkampanye kedaerah lain mengakui bahwasanya beliau tidak ada
menaruh dendam apa-apa karena disingkirkan namanya setelah
terpilih sebagai anggota DPR-RI dari daerah pemilihan Kodya
Bogor. Menurutnya masih banyak cara untuk mencapai tujuan,
ibaratnya kalau mau ke San Francisco bisa terbang dengan
United, atau bisa naik Grey hound. Ketika ditanya apakah tidak
jadi didudukannya beliau sebagai anggota DPR-RI dari PDIP
wilayah Kota Madya Bogor dikarenakan dia adalah etnis
Tionghoa? Beliau menjawab hal itu bukan masalah baginya karena
beliau melihat dari sudut nasionalis dan semangat kebangsaan
Indonesia. Etnis Tionghoa adalah bagian yang tak terpisahkan
dari bangsa Indonesia. Ibarat kuping tidak mungkin dipisahkan
dari badan kalau ingin badan itu sehat.
Dari 12 susut jadi 3 Shio
Isu pribumi non pribumi, mayoritas dan minoritas itu 'kan
ciptaan ORBA-nya Suharto. Si Aliong yang nenek moyangnya sudah
sejak 300 tahun lebih datang ke Kalimantan dibanding dengan
Wagimin dari Wonogiri yang baru menetap 20 tahun di
Kalimantan, siapa yang lebih pribumi ? Istilah itu semua tidak
ada di UUD '45. Memang Suharto mengkondisikan etnis Tionghoa
sedemikan rupa sehingga hanya disuruh dagang saja, sambil
menyusutkan Shio orang Tionghoa dari 12 sampai tinggal 3,
yakni; Sapi (perahan), Kelinci (percobaan), dan Kambing
(hitam). Warga tidak bisa dilindungi, Tionghoa dipaksa membeli
keamanan, sehingga mereka harus mencadangkan suatu kemampuan
ekonomi untuk mencari survival bila keadaan mendesak.
Diakuinya pula bahwa banyak etnis Tionghoa (95%) yang turut
mensukseskan PDIP pada pemilu yang lalu namun tidak ada
satupun anggota PDIP dari etnis Tionghoa yang akhirnya duduk
sebagai anggota DPRD DKI.. Selama ini Tionghoa dikatakan
sebagai minoritas untuk tujuan politik tertentu, padahal
populasi Tionghoa adalah ke-3 terbesar setelah Jawa dan Sunda,
jadi bukan hanya 3% , Ibu Mega memakai angka 17 juta, cetus
ketua yayasan Bumi Khatulistiwa ini, (menurut survey Dr. Teng
dari LKSI lebih dari 10%....red)

Bukan hanya Tionghoa
Ketika ditanya apakah beliau mendeklarasikan PPBTI ini pada
15 Januari 2003 di Jakarta bermaksud mendirikan partai
berbasis Tionghoa? Beliau menjawab dengan mantap,"Jelas tidak,
karena PPBTI ini adalah partai kepunyaan semua orang yang mau
melihat Indonesia menjadi lebih baik dengan memperjuangkan
keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat". Orang yang
pernah diminta oleh suku Tionghoa, Melayu, dan Dayak untuk
mencalonkan diri sebagai walikota Singkawang ini langsung
membaca Visinya PPBTI yang berbunyi sebagai berikut:"
Terciptanya kesetaraan hak dan kewajiban dalam segala bidang
kehidupan yang berarti keadilan bagi seluruh rakyat, sesuai
dengan yang diamanatkan dalam UUD 1945, tanpa membedakan suku,
agama dan ras sehingga semua komponen bangsa dapat
mengembangkan kemampuan serta potensi masing masing dalam
usaha membangun bersama suatu kehidupan berbangsa dan
bernegara yang sejahtera, bebas dari ketakutan dan
kemiskinan", kata peneliti lingkungan hidup itu.
Bukti PPBTI bukan hanya untuk etnis Tionghoa saja, tapi
semua komponen Bhineka Tunggal Ika adalah dukungan yang
diperoleh dari para Kyai pemimpin Pondok Pesantren di Jawa
Timur dan Lampung, Bahkan dibanyak daerah pengurusnya dipegang
oleh orang non Tionghoa,seperti DPD Kalimantan Tengah yang
pengurusnya 90% adalah dari etnis Dayak.Juga sekitar 70000
orang NTT di Bali, papar ahli Chikung ini.
Pada saat selesai menyampaikan pidato deklarasi PPBTI
Januari yang lalu banyak tokoh politik yang kagum atas
semangat kebangsaan yang begitu tebal dari Frans Tshai
sehingga beliau mengaku dipeluk oleh Sri Bintang Pamungkas
yang mengatakan; "Pak Frans Inilah yang harus kita
perjuangkan" , bahkan Bambang Sulistomo, ketua PUDI meminta
izin untuk menyebar luas isi pidato yang sangat bermutu itu.
Sementara itu nama Frans Tshai sudah tidak asing lagi di media
massa,baik media cetak maupun elektronik seperti radio dan tv.
Namun disisi lain ada juga kelompok fundamentalis yang membuat
maneuver untuk menghadang seperti yang terjadi baru-baru ini
di Bogor.Ada spanduk merah bersifat menghasut yang dipasang,
Sementara itu DR. Frits Hong, Ketua dari Committee for
Human Rights in Indonesia menyatakan dukungan penuh untuk
PPBTI ini, bahkan gembira mendengar sudah ada perwakilan PPBTI
di Los Angeles yang diurus oleh Sdr. Achmad Fadillah.
Bhineka Yang Mana
PPBTI (Partai Perjuangan Bhineka Tunggal Ika Indonesia)
didirikan memang mempunyai tujuan menyertakan semua komponen
bangsa dalam partisipasinya terhadap pembangunan berbangsa dan
bernegara yang benar-benar serius, sebab selama ini kita
menggantungkan suara kita ke partai besar yang ada, tetapi
hasilnya nihil tidak ada perubahan. Sementara itu Partai
Bhineka Tunggal Ika sendiri masih mempunyai 2 versi, yaitu
Nurdin Purnomo, dan LT Susanto, yang sulit berkualifikasi
untuk terus ikut di pemilihan 2004 nanti. Drs. LT. Susanto
yang sekarang duduk di MPR/DPR-RI dan de facto menguasai
mayoritas dukungan PBI telah menghimbau kepada semua
pendukungnya agar berkiblat ke PPBTI. Dengan adanya PPBTI yang
semakin hari semakin marak pengikut dan pendukungnya maka
PPBTI inilah yang diyakini akan masuk dalam pesta demokrasi
2004 nanti, jelas mantan sekretaris Perhimpunan Pelajar
Indonesia di Swiss dan sangat aktif di forum Eropa ini.
Menjawab pertanyaan mengenai apakah beliau bisa menjamin
kalau nanti terpilih sebagai wakil rakyat akan sanggup
menempatkan orang orang yang bersih disekitarnya? Frans Tshai
menanggapi secara diplomatis bahwa tidak selalu orang yang
bersih dapat menjalankan tugas dengan baik, yang terpenting
adalah orang yang qualified dan tegas yang mau berpolitik
dengan moral yang tinggi. Tentunya dengan Partai Perjuangan
Bhineka Tunggal Ika Indonesia kita ingin memperjuangkan
terbentuknya Bhineka Tunggal Ika yang benar sesuai dengan apa
yang diidamkan oleh para pendiri bangsa. "Pokoknya saya sudah
siap jiwa dan raga untuk kepentingan bangsa", cetusnya dengan
semangat patriot.
Istilah Cina dan Tionghoa
Dokter lulusan Swiss ini juga berpendapat bahwa istilah
"Cina" adalah berkonotasi menghina. Hal ini tidak terlepas
dari sejarah setelah G-30-S,pada tahun 1967 dalam seminar
Angkatan Darat 1967 di Bandung diputuskan penggantian istilah
Tionghoa menjadi Cina yang jelas ada maksud tertentu, yaitu
untuk lebih memarginalkan kaum Tionghoa yang dikait-kaitkan
dengan komunis, padahal belum tentu ada skenario itu.
Pemerintah RRT sebenarnya pernah meminta RI untuk merubah
kembali sebutan RRC (Republic Rakyat Cina) kembali menjadi RRT
( Republik rakyat Tiongkok) beberapa saat setelah hubungan
RI-RRT di buka kembali, namun pemerintah Indonesia masih
menolak untuk merubahnya.
Frans Hendra Winata pernah menjadi kaget disuruh berhenti
sewaktu seminar di Pontianak ketika ia terpeleset mengucapkan
istilah Cina.
Pada suatu pertemuan , Arief Budiman yang sebelumnya selalu
membiarkan istilah Cina dengan alasan kalau dibiarkan maka
lama kelamaan menjadi tidak terasa. Setelah dikatakan kepada
Bung Arief bahwa, "Kalau setiap kali anda tidak menyebut Cina
lalu menjadi rugi Rp.1 juta, maka saya setuju anda bilang
Cina", setelah itu Bung Arief tidak lagi mengatakan itu, tukas
Presdir PT. ALS. Indonesia itu.
Sebagai catatan: Dari kedua hari acara ini di LA umumnya
hadirin menginginkan penggunaan istilah Tionghoa, hanya ada
satu orang saja yang pro istilah Cina (1%). Sementara dari
statistic polling Indonesia Media selama satu bulan lebih di
dapat posisi statistic pada garis plateu selama lebih dari 3
minggu sbb: Tionghoa 55% , Cina 17%, Sama saja 25% , dan Tidak
tahu 3%. Sumber
www.indonesiamedia.com.
Jangan Ber-Golput
Menanggapi sikap apatis dari masyarakat, jangan karena
tidak ada perubahan selama ini, lalu menjadi hopeless, dan
ber- Golput. Tidak ada peraturan yang mengatakan apabila
peserta Pemilu kurang dari 50% dari jumlah pemilih yang berhak
pilih, maka hasil pemilu tidak sah.Kalau ada peraturan
tersebut maka Golput boleh jadi ada gunanya.
Kebijakan ditentukan di DPR atau DPRD, tapi perlu orang
untuk memperjuangkan di DPR dan DPRD.Untuk itu perlunya kita
memasukan orang-orang yang mempunyai moral tinggi disana.
Esther Jusuf dan kawan-kawan lainnya telah mengajukan RUU anti
diskriminasi ke DPR-RI, namun sudah 3 tahun tidak ada tanda
tanda untuk ditindak lanjuti. (Menurut Esther Jusuf ada 59
perundangan yang masih diskriminatif, namun Frans Tshai
menekankan 35 perundangan yang mengandung diskriminasi
terhadap Tionghoa) Saat ini yang paling menyolok adalah
masalah SBKRI yang sangat rancu, disatu pihak Yusril Izha
Mahendra bilang sudah dicabut, tapi dilapangan bilang
juklaknya belum turun. Apakah masih mau percayakan orang lain
yang memperjuangkan itu? PPBTI adalah perahu yang
memperjuangkan kepentingan bangsa yang tidak kurang
nasionalisnya.
Suara yang dari luarnegeri akan masuk ke Jakarta pusat.
Ditargetkan sebanyak mungkin di DPR-RI, karena PPBTI sudah
bulat didukung banyak LSM Tionghoa,termasuk yang besar-besar.
Marilah bersama kita bangun Politik yang bermoral. Yang bisa
menentukan perubahan peraturan yang menentukan tatanan
kehidupan bangsa adalah lembaga Legislatif.
Tidak mau berpolitik berarti menggantungkan nasib kita dan
anak cucu kita kepada belas kasihan orang lain. (DI/IM)