|

Sejarah Keturunan Tionghoa Di Asia Tenggara Yang Tak Dikenal
Khalayak Ramai
Kami kutib dari buku "The 6th overseas Chinese state",
Nanyang Huaren, CSEAS, J.C.Univ. of N-Queensland, Australia
1990, penyunting Sie Hok Tjwan tentang: 1) Palembang 2) Demak,
Banten, Cirebon 3) Kalimantan Barat (babak 7 halaman 65 - 99)
sbb:
Palembang
Pada tahun 1275 Kertanagara Raja Singasari terachir di Jawa
Timur mengirim ekspedisi militer ke Dharmasraya (Sriwijaya,
Sumatera Selatan dengan ibu kota Palembang). Catatan thn 1286
menunjukkan serangan tsb berhasil dan Sriwijaya direbut. Namun
thn. 1292 Kertanagara sendiri terbunuh oleh pemberontakan Kediri
dan Singasari jatuh. Tanah bekas Sriwijaya terlantar, keadaan
kacau.
O.W. Wolters menulis dalam buku "The fall of Srivijaya in
Malay history" hal. 73, bahwa di Palembang tidak ada penguasa
kepada siapa dapat ditujukan peringatan kaisar Tiongkok
T’ai-tsu. Tindakan kaum pedagang Tionghoa mencerminkan bagaimana
besarnya kekacauan pada waktu itu. Mereka telah memilih pimpinan
sendiri. Jalan yang ditempuh Palembang dengan pemerintah
Tionghoa perantauannya (with its overseas Chinese government)
untuk memulihkan keadaan adalah sesuai dengan pandangan bahwa
orang Tionghoa telah menyaksikan suatu keadaan yang tak dapat
dibiarkan dan mereka bertekad tidak boleh berlarut-larut.
Victor Purcell dalam buku "The Chinese in Malaya" hal.14
menyatakan setelah kerajaan Sriwijaya ambruk, Palembang telah
dikuasai orang-orang Tionghoa selama 200 (duaratus) tahun.
Ketika kejayaan Sriwijaya surut sekian ribu orang Tionghoa dari
Fukien dan Canton yang telah menetap disana telah memerintah
diri sendiri.
Lukisan tersebut diatas selaras dengan catatan Dinasty Ming
Tiongkok, bahwa orang Jawa tak mampu menguasai seluruh negara
sesudah San-bo-tsai (Sriwijaya) ditaklukkan. Karena itu,
demikian Ming Dynasty records tsb, orang Tionghoa setempat telah
berdiri sendiri. Seorang dari Nan-Hai (Namhoi) Canton bernama
Liang Tau-ming telah terpilih sebagai pemimpin. Beliau menguasai
sebagian negara dan puteranya ikut dengan utusan kaisar kembali
ke Tiongkok. Pada tahun 1405 kaisar mengutus seorang kurir dari
desa asalnya Liang Tau-ming dengan perintah agar Liang Tau-ming
menghadap ke istana. Liang Tau-ming bersama kawan
seperjuangannya Cheng Po-k’o berangkat membawak produk2 setempat
sebagai upeti. Mereka pulang dengan membawak hadiah yang
berlimpah2. Tahun 1407 atau shortly after that Laksamana Islam
Cheng Ho mendirikan masyarakat Islam Tionghoa di Palembang.
Tahun 1415 Palembang oleh kaisar Tiongkok diakui sebagai berada
dibawah kekuasaan Jawa (Majapahit).
Disini kami menjumpai buku Prof. Dr. Slamet Muljana
"Runtuhnja keradjaan Hindu Djawa dan timbulnja negara2 Islam di
Nusantara". Prof. Muljana bukan etnik Tionghoa seperti
didesas-desuskan, melainkan seorang Priayi bekas anggauta
Tentara Peladjar. Buku ini thn 1971 dilarang oleh Kejaksaan
Agung dan meskipun sumber keterangan Ir. Parlindungan yang
tersebut didalamnya tak dapat ditrasir Dr. H.J. de Graaf dan Dr.
Th.G.Th. Pigeaud dengan panjang lebar telah memperbincangkan
serta mengkomentari data Parlindungen sebagai "The Malay Annals
of Semarang and Cerbon" didalam buku "Chinese Muslims in Java in
the 15th and 16th centuries". Buku Prof. Muljana mengandung
cukup banyak data lain yang sangat menarik perhatian.
Kerajaan Majapahit juga berdiri kurang lebih 200 (duaratus)
tahun. Menurut Prof. Muljana dari 1294 hingga 1478 dan sedari
itu menjadi sub-state dibawah para penguasa Kerajaan Islam Demak
hingga Majapahit tiada lagi, yaitu thn.1527. Prof. Hoesein
Djajadiningrat telah menentukan kehancuran Majapahit sekitar
thn. 1518. Malay Annals yang masih diperselisihkan itu
menyebutkan perkembangan sbb.: thn. 1443 Swan Leong (Arya Damar)
putera alm. Raja Majapahit dengan seorang wanita Tionghoa, oleh
Haji Gan Eng Chou (Arya Teja) telah ditunjuk sebagai kapten
Muslimin Tionghoa di Palembang sekalian menjadi penguasa atas
nama saudara perempuan-tirinya, yaitu Ratu Suhita dari
Majapahit. Gan Eng Chou adalah kapten Tionghoa di Tuban, Jawa
Timur. Beliau oleh Ratu telah dianugerahi gelar Arya sebagai
bukti penghargaan terhadap jasa2nya. Prof. Muljana berkesimpulan
hal tsb menunjukkan suatu sikap yang sangat baik dari pihak
keluarga Raja terhadap orang Tionghoa. Mengenai pemerintahan
Tionghoa Perantauan di Palembang, Amen Budiman juga menunjuk
pada dokumen2 sejarah Dinasti Ryukyu dan pada reset yang
dilakukan oleh Tan Yeok Seong, seorang sinologist yang
berpangkal di South Sea Society Singapura. Hingga belum lama ini
Palembang terkenal sebagai tempat yang tidak anti-Tionghoa. (bersambung) |