|

RI Diam-diam Bayar Ganti Rugi
600 Juta Gulden ke Belanda
Sejarah Keturunan
Tionghoa di Asia Tenggara Tak Dikenal
Pernikahan Nurcholish - Ang
Mei Yong Tuai Kontroversi |
|

Pasang Surut Aceh
Oleh: Aboeprijadi Santoso
Aceh mengenal dinamika pasang surut tersendiri. Gigih melawan
kolonialisme dan menyumbang kepada perjuangan bangsa Indonesia,
sekarang, pertama kali, Aceh bergolak untuk meraih kemerdekaan.
Tapi pergolakan itu terjadi justru karena salah kaprah dan
kekejaman di Aceh semasa Orde Baru. Aceh menjadi Sri Langka
ataukah Irlandia Utara baru?
Takengon, awalnya
Awalnya dari Takengon, Aceh Tengah. Meski pun ketika upaya
damai RI-GAM pertama kali diteken, Mei 2000, Wakil RI Hassan
Wirayuda berharap "ini awal perjalanan 100 langkah" dan kemudian
tercapai pakta yang lebih mantap (CoHA Desember 2002), namun
belum lagi "100 langkah", awal Maret 2003, ratusan milisi sudah
digerakkan dari Takengon.
Sejak itu, tim monitor internasional hengkang dan proses
damai merosot hebat. Setiap jeda dan gencatan, kedua pihak
melanggarnya. Tetapi, kali ini, persiapan perang dan ultimatum
Jakarta membuat babak final di Tokio sia sia, sementara pihak
GAM mau meninggalkan perjuangan bersenjata, tapi tak mau
eksplisit menerima otonomi. Yang terakhir inilah yang menjadi
break point di Tokio. Maka pembicaraan final di Tokio pada 17 &
18 Mei 2003 itu cuma menjadi panggung saja untuk berbasa-basi
unjuk itikad damai di muka para donor ketika proses damai itu
sendiri, di lapangan, sudah buyar.
Walhasil, pada 19 Mei 2003 pukul 00.00, di Jakarta
diumumkanlah Darurat Militer, berdasarkan Keppres No. 28, Tahun
2003, yang mengawali perang yang justru tak akan membawa solusi.
Fait
accompli militer memblokir solusi damai. Amerika juga begitu
dalam soal Irak. Dan dalam kasus Timor Timur itu juga terjadi.
Ketika Menlu Adam Malik, kepada J. Ramos-Horta, pada pertengahan
1974, mengakui hak penentuan nasib sendiri Timtim, Opsus-nya
Jenderal Ali Moertopo sudah menyiapkan agresi. Ujung-ujungnya,
kita terjebak rawa-rawa Timtim selama 24 tahun.
Kisah Aceh
Aceh adalah kisah panjang yang pasang surut dengan tiga
kecenderungan: loyal, diam atau tiarap, dan berontak. Ketika
kawasan guncang atau dominasi pusat redup, Aceh akan berontak
demi Aceh.
Akhir abad ke XIX, ketika Inggris dan Belanda berebut Selat
Malaka, Aceh bergolak. Atjeh Oorlog (Perang Aceh 1873-1913) yang
memerangi Kesultanan Aceh menjadi perang terpanjang Belanda,
yang resminya tak berkesudahan karena Aceh menggabung ke dalam
perjuangan RI. Belanda bertekad menguasai Aceh dalam rangka
mengukuhkan posisi Belanda sebagai adikuasa kawasan abad XIX.
Belakangan, Snouck Hourgronje, pakar Islam yang menjadi
penasehat Gubernur Jenderal Belanda, mencap pemberontak Aceh
sebagai "fanatik" dan "gila". Ketika Jepang kalah, Belanda ogah
menguasai Aceh.
Saat Republik Indonesia masih muda dan lemah, Aceh kembali
berontak di bawah Daud Beureueh. Pemberontakan Darul Islam,
dengan Tentara Islam Indonesia (DI/TII) ini masih bertolak dari
kebangsaan Indonesia, namun mengedepankan warna Islam.
Kemudian, di puncak kejayaan Orde Baru, 1980an, Aceh kembali
loyal, GAM yang lahir 1976, tiarap, dan Gubernur Ibrahim Hasan
mengundang Operasi Jaring Merah TNI, yang biasa disebut sebagai
"DOM" (Daerah Operasi Militer), 1989-1998.
James Siegel dalam "The Rope of God" (1969) melukiskan Aceh
sepanjang 1950-1960an sebagai dinamika kaum ulama ketika "Tali
Ilahi" menjadi panutan umat. Tetapi tiga dasawarsa Orde Baru -
peluang pendidikan yang meningkat, minyak, gas bumi dan ganja
yang memikat, terutama tragedi perang kotor DOM - mengubah
hampir segalanya. Walhasil, ketika Soeharto mundur dan momentum
baru bergulir di Aceh, para korban DOM jadi gerilyawan dan Inong
Balee (gerilyawati) dan kader-kader GAM jebolan Libia pulang.
Berkat DOM-nya tentara Indonesia, maka reformasi dan
eksodus-mudik kedua (yang pertama tahun 1989) itu menggoyang
bandul Aceh dan GAM malah maju pesat, terutama semasa 1997-2000.

Titik balik bagi GAM
Sejak 2001, Aceh merupakan daerah konflik paling mencemaskan
Jakarta. Kemelut Aceh bermula tepat dengan krisis regional dan
jatuhnya Soeharto 1998. Pemberontakan GAM sempat tiarap sampai
akhir 1980an. Kembalinya kader-kader GAM dari pelatihan militer
pada 1989 mengawali kebangkitan GAM, yang kemudian dihajar
dengan kekejaman tak terperikan selama "Operasi Jaring Merah"
yang disebut DOM (Daerah Operasi Militer), dari 1989 sampai
1998.
Sekitar 10 sampai 12 ribu korban tewas di masa itu. Berkat
operasi inilah, GAM yang semula dibenci rakyat mengalami titik
balik, dan menjadi populer terutama di pedesaan dan di Pidie dan
umumnya sepanjang pantai Timur.
Kasus Aceh membuktikan bahwa TNI yang berpretensi sebagai
kekuatan pemersatu Indonesia, telah berhasil menjadi sumber
disintegasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Berkat
ulah TNI, GAM maju pesat. Ini muncul di permukaan saat momentum
reformasi 1998 bergulir ke Aceh. Peluang pendidikan yang
meningkat, perluasan industri minyak dan gas bumi serta
meningkatnya perdagangan ganja, semasa Orde Baru - semua itu
membuat Aceh menjadi daerah konflik yang paling memikat
kepentingan kepentingan elite politik di Jakarta dan Aceh.
Gelombang kedua eksodus mudik para kader GAM dari Libia lewat
Malaysia sejak 1997 memanfaatkan momentum reformasi, diperkuat
oleh bebasnya kader-kader GAM dari tahanan semasa pemerintahan
Habibie. DOM dihentikan, namun sakit hati dan dendam, terutama
terhadap TNI, telah mendalam dan meluas di Aceh.
Pola Orde Baru diteruskan
Salah kaprah Orde Baru diwarisi dan diteruskan oleh
rezim-rezim penggantinya dengan pemerasan, korupsi dan kekerasan
militer di tingkat lokal. Senjata diselundupkan dari Jakarta dan
kabarnya dijual oleh oknum oknum TNI sendiri kepada GAM.
Pemerasan lokal meluas, baik oleh oknum TNI maupun GAM, di
tingkat bawah, terhadap rakyat dan terhadap bus-bus di jalanan
dan di tingkat atas, terhadap instansi- instansi pemerintah,
bank dsb di Banda Aceh. Semua itu, ditambah dengan bisnis ganja,
sejak reformasi membentuk pola yang melanggengkan kekerasan.
Akibatnya, yang terjadi bukan "sustainable development",
melainkan "sustainable violence". GAM berpretensi berhak menarik
"pajak perjuangan" (pajak Nanggroe) dengan "mengutip"
penghasilan rakyat, dan unsur unsur aparat melakukan yang sama
"demi survival". Semua itu terlindung karena Jakarta juga
berkepentingan menjaga Aceh dengan industri Exxon-Mobile dan gas
Arun yang merupakan kepentingan nasional sekaligus sumber
pendapatan tambahan bagi aparat yang bertugas. Dengan demikian,
konflik dan perang di Aceh berkepanjangan berkat pihak-pihak
yang bertikai sendiri.
CoHA
Akhirnya, konflik Aceh mengancam Jakarta sendiri.
Pemerintahan Megawati menempatkan Aceh pada prioritas utama.
Keppres April 2001 di bawah Presiden Abdurrahman Wahid membuka
pintu pertama bagi operasi militer. Upaya "Jeda Kemanusiaan"
sejak Mei 2000 macet di lapangan, dan Gus Dur terlanjur
melibatkan sebuah LSM asing, HDC, Henry Dunant Center. Awal 2002
Jakarta bemaksud melibas GAM, tapi kemudian menempuh strategi
politik dan diplomasi. Bank Dunia, Amerika Serikat dan Jepang
dilibatkan melalui persiapan konferensi donor Tokyo. Pertama
kali tercapai suatu kesepakatan yang mantap dan rinci:
Persetujuan Penghentian Permusuhan atau CoHA (Cessation of
Hostility Agreement), yang ditandatangani RI dan GAM pada 9
Desember 2003 di Jenewa.
Menurut rencana CoHA, dua bulan pertama merupakan sosialisasi
CoHA yang harus membangun saling percaya, disusul demilitarisasi
mulai Februari sampai Juli 2003, dan kemudian proses dialog
menyeluruh tentang otonomi NAD, disusul dengan pemilu Aceh. Dua
bulan pertama CoHA, yaitu Desember dan Januari merupakan sebuah
sukses yang disambut hangat rakyat Aceh, tetapi sukses itu
pendek saja.
Kedua pihak melakukan pelanggaran gencatan. TNI tidak
merelokasi pasukan, Brimob tidak mengubah posisi, singkatnya
aparat RI tidak berubah dari kekuatan ofensif menjadi defensif,
sedangkan GAM juga belum memulai peletakan senjata. Selain itu,
GAM berkampanye "kemerdekaan tinggal sebatang rokok lagi" dan
Jakarta gagal menghentikan sumber penghasilan "pajak" GAM.
Garis keras TNI tak sabar lagi: Perang Aceh
Akhir Februari, 50an jenderal Angkatan Darat, termasuk seluruh
Panglima Kodam, dipimpin KSAD Jenderal Ryamirzad Ryacudu,
menggelar rapat Angkatan Darat di Lhokseumawe, Aceh Utara. Suatu
provokasi yang mengisyaratkan ketidaksabaran garis keras TNI.
Awal Maret ratusan milisi bergerak dari Takengon, Aceh Tengah,
membakar gedung tim monitor asing yang memantau gencatan,
sehingga mereka akhirnya hengkang. Sejak itu, proses damai CoHA
merosot hebat. Jakarta minta sidang 25 April di Jenewa, tapi GAM
menolak tanggal tsb.
Sementara itu persiapan perang ditingkatkan dan pemerintah
Jakarta datang ke pembicaraan final di Tokyo dengan ultimatum:
GAM harus menerima NKRI, meletakkan senjata dan menerima otonomi
khusus. GAM bersedia meletakkan senjata, tetapi tak mau secara
ekplisit menerima otonomi dan NKRI. Eskalasi persiapan perang
sudah amat meluas dan menjadi fait accompli yang memaksa
pembicaraan Tokyo, mau tak mau, gagal.
"Take the guns out of politics" adalah inti konsensus antara
RI, GAM, empat tokoh Bijak Bestari di balik Henry Dunant Center
dan para donor internasional yang melandasi Perjanjian CoHA.
Pesan itu masih dan hanya berharga sebagai kunci solusi damai
jika TNI bersedia menghentikan perang, GAM mau menjadi partai
politik dan ada sanksi di tangan mediator yang berwibawa.
Kekerasan militer tak akan membawa solusi.
Perang di Serambi Mekkah telah mencatat sejumlah musibah:
musibah kemanusiaan, musibah HAM dan ancaman terhadap hak-hak
sipil warga Aceh.
Kejahatan HAM terhadap sipil
Sampai awal minggu ketiga perang ini, menurut badan PBB untuk
dana kanak-kanak UNICEF, sebanyak 437 gedung sekolah musnah
dibakar orang orang tak dikenal. Diduga sekitar 60 ribuan anak
didik terlantar. Tak kurang dari 17 ribu jiwa telah mengungsi
menurut angka resmi Departemen Sosial di Jakarta. Angka tsb
hanya mencakup para pengungsi di dalam wilayah NAD (Nanggroe
Aceh Darussalam). Di sejumlah tempat, terutama di Bieureun, tapi
juga di kabupaten-kabupaten lain, terjadi kejahatan HAM terhadap
penduduk sipil. Pihak TNI mengklaim lebih dari 100 anggota
Gerakan Aceh Merdeka GAM tewas dan puluhan ditangkap. Tetapi, di
dalamnya termasuk belasan pemuda, juga yang berusia 11 dan 13
tahun tewas yang diklaim sebagai anggota GAM.

Menyusul semua itu, sekitar 60an aktivis dinyatakan sebagai
tersangka oleh PDMD (Penguasa Darurat Militer Daerah); sejumlah
organisasi LSM, seperti SIRA (Sentral Informasi Referendum Aceh)
dan SMUR, sedangkan kantor Kontras di Banda Aceh ditutup. Bekas
aktivis LBH Banda Aceh diburu, demikian juga aktivis FPDRAA,
sementara aktivis perempuan dari LSM Srikandi Aceh, Cut Nur
Asikin, ditahan seperti juga lima wakil dan perunding GAM.
Aceh = konsolidasi Orde Baru II
Akhirnya, penguasa Darurat Militer Aceh dan Menko Kesra Yusuf
Kalla mengumumkan LSM LSM asing dilarang giat di Aceh dan
bantuan-bantuan diminta disalurkan melalui PMI (Palang Merah
Indonesia). LSM-LSM asing, termasuk LSM bantuan, tidak lagi
diinginkan. Yang juga mencemaskan, warga Aceh di luar wilayah
Aceh diintai dan dicurigai, di Jakarta, mereka dicatat
seolah-olah dianggap semua terjangkit virus GAM.
Tampaknya, seperti tragedi 1965-1966 mengawali Orde Baru
Soeharto, kemelut Aceh sebenarnya berfungsi mengkonsolidasi Orde
Baru II tanpa Soeharto. Merosotnya bintang ABRI sejak jatuhnya
Soeharto pada 1998, telah dikoreksi semasa pemerintahan
Megawati; penambahan, pemulihan dan penguatan struktur
teritorial (komando militer sampai desa) telah dikonsolidasi.
Sekarang, perlunya dan faedahnya semua itu hendak dibuktikan
melalui upaya memerangi separatisme di Aceh.
Aceh bisa jadi rawa-rawa baru Jakarta
Perang Aceh akan menjadi kuda bagi TNI untuk memulihkan
pamornya, karena opini publik dan elite Jakarta hampir
seluruhnya mendukung operasi militer di Aceh. Megawati dan
PDI-Pnya juga akan beruntung dan siap memasuki pemilu 2004
dengan kemenangan Aceh di kantong, meskipun sekaligus berarti
Megawati disandera elite TNI.
Tetapi pengalaman di Timor Timur menunjukkan aparat TNI tak
mampu menjalankan perang yang profesional, dan konflik Aceh tak
akan terselesaikan melalui jalan militer. Bukannya menjadi
bintang baru, Megawati dan TNI, akibat perang yang akan
berkepanjangan di Aceh, malah akan berhutang makin besar
terhadap Indonesia, kalau pun tidak terjebak sebuah rawa-rawa
baru semacam Timtim dahulu. |
|
|