Berkelana di Dunia Imlek
Submitted by Beng & Robin
Inilah cerita singkatku berkunjung di dunianya orang Tionghoa.
Saya menemukan hal hal yang mengagumkan disana.
Setelah selesai merayakan Lebaran, saya sempat berkendara
mobil bersama teman-temanku menuju Jawa Timur. Mudik sambil
mengantar teman-teman sepanjang jalan. Ada yang turun di
Semarang, Yogya, ada yang di Madiun. Terakhir, baru saya, di
ujung timur pulau Jawa.
Ketika saya melewati sebuah kota besar, saya mengajak
rekan-rekanku untuk mengunjungi: gereja dan kelenteng, atas
bujukan salah seorang temanku (Ia orang Tionghoa). Saya sempat
tercengang melihat di salah sebuah bagian rumah pemujaan (kelenteng)
itu, ternyata dibacakan Al Fatihah.
Ketika saya tanyakan, ternyata kelenteng itu adalah semacam
peringatan bagi tokoh tokoh dari negeri Tiongkok yang meninggal
disana. Tokoh itu beragama Islam, sampai kepada beberapa anak
buahnya. Apakah ini suatu sinkretisme budaya? Entahlah.
Yapi yang pasti hal itu memberi kesan tertentu pada benak
saya. Dan pada hari raya Imlek ini, saya berniat untuk sekali
lagi _berjalan-jalan_ di dunianya orang Tionghoa.
Bersama seorang teman yang wartawan (Ia muslim, tapi wajahnya
mirip Tionghoa), saya memasuki sebuah kelenteng.
Dari depan sudah tercium bau dupa. Membuat suasana menjadi
mistis. Tapi ramai sesaknya orang membuat suasana meriah seperti
di Hongkong.
Mereka terlihat sibuk, tapi di setiap wajah tersirat
kegembiraan. Maklum, sudah lama sekali pemerintah melarang
kegembiraan yang amat sangat ini. Sekarang pemerintah baru
memberi harapan. Mereka mencoba mencicipi kegembiraan pesta.
Meskipun dari ngobrol-bgobrol masih terlihat kesan menahan diri
untuk tidak mengumbar kegembiraan
tersebut. Alasannya sedang banyak orang susah, jangan berlebihan.
Sebuah sikap yang bijaklah, menurut saya.
Tapi tarian Naga dan Singa sebetulnya hiburan bagi siapa saja.
Terutama tarian Singanya. Jelas sekali memainkannya perlu
koordinasi yang baik dan kekuatan fisik yang prima. Dari kakinya,
Jelas mereka menguasai silat yang dilatih dengan tekun dan
konservatif.
Kekuatan fisik sangat dibutuhkan disini. Mengingatkan saya
pada permainan Reog Ponorogo. Hanya pada Reog kekuatannya
dipadukan dengan unsur magis. Entah kalau ini.
Dengan _membonceng_ teman wartawan yang bawa kamera, rasanya
enak kemana mana, meskipun nampaknya tidak harus begitu. Mereka
tidak perduli wartawan atau bukan. Saya sempat ngobrol dengan
seorang pembimbing, yang mengarahkan prosesi sembahyang orang
yang datang.
Diantara kesibukannya, dia memberikan penjelasan tentang
nama-nama dewa, tata cara, artinya dsb. Sungguh menarik. Tapi
yang paling menarik dan baru bagi saya adalah, selama ini saya
menganggap mereka menyembah berhala. Ternyata mereka itu BUKAN
menyembah berhala.
Saya tahu hal itu ketika saya bertanya dengan rasa heran dan
lucu kepada pembimbing itu, mengapa setelah memegang dupa
menyala, mereka justru MEMUNGGUNGI patung yang disembahnya. Jadi
saya heran, kok _tidak sopan_begitu kepada _berhala_nya. Lalu
saya mendapatkan penjelasan dari pembimbing itu dan merubah
banyak persepsi saya tentang kepercayaan orang-orang Tionghoa
ini.
Ternyata PERTAMA KALI mereka itu menyembah Allah yang di
arahkan kelangit luar bangunan. Istilah untuk Allah adalah Di
Kung atau Thi Kong. Baru setelah itu mereka menyembah dewa-dewa
yang di simbolkan dalam bentuk patung patung berhala itu.
Lho, terus apa bedanya dengan agama saya?, saya pikir begitu.
Bukankah Islam juga menyembah Allah?, dan mempunyai nabi
Muhammad?.
Terus saya teringat dalam agama Katolik. Pengagungan terhadap
Maria dengan cara menyalakan lilin dan menancapkan bunga di
jambangan. Saya melihat prinsip-prinsip yang sama.
Ternyata kepercayaan yang sering dianggap sebagai berhala (kerap
kali dengan rasa jijik), oleh orang Islam, mempunyai hal-hal
penting yang tak dipahami. Padahal kalau mau datang, melihat dan
berkomunikasi, saya menjadi jelas bahwa yang disembah itu yang
SATU itu : Allah.
Lalu saya merefleksikan terhadap pemahaman orang Islam yang
keliru tentang Allah Tritunggal Kristen yang sering dimengerti
secara salah sebagai bertuhan TIGA. Juga pada Hindu yang
dianggap juga bertuhan TIGA.
Saat itu saya makin melek bahwa TIGA dan SATU itu SAMA bila
yang dibicarakan adalah ALLAH yang MAHA BESAR (infinit). Bahasan
itu pasti menarik bila dikaji dalam lingkup matematika maupun
filsafat.
Dihadapan Yang MAHA, manusia menjadi SAMA. Sekecil kerikil,
termasuk agamanya, apalagi kalau hanya sekedar tata caranya.
Itu tadi permenunganku pada arah vertikal. Lalu saya
mengamati yang pada arah horisontal. Saya sudah menduga, tradisi
Tionghoa yang sangat horisontalistik itu tentu tidak usah
diragukan akan sangat kental dengan kepedulian terhadap aspek
kemanusiaan. Saya tinggal membuka mata dan telinga sedikit,
pasti segera kutemukan.
Dan benar, ada yang membuatku terharu dan kagum. Dari
informasi yang kuterima, sudah lama kelenteng itu TIDAK
MENYAJIKAN BABI pada setiap makanannya. Saya heran, mengapa?
Setahu saya babi itu menu penting orang Tionghoa.
Pembimbing yang masih muda itu menjelaskan kepadaku, ini
adalah suatu bentuk TOLERANSI. "Mbak tahu", katanya padaku, "Sehabis
sembayangan ini, berapa banyak orang yang ngantri menunggu
makanan dibagikan. Dan kami tahu bahwa sebagian besar dari
mereka adalah muslim". Temanku yang wartawan membenarkan hal itu,
ada ratusan penarik bejak yang menunggu makanan dalam
acara-acara semacam itu.
Saya tidak habis heran. Budaya sehumanis inilah yang dulu
pernah berusaha _dibekukan_. Hayaaaa, cilakaaa, sudah gila
kali!.
Menanggapi keherananku, si engkoh pembimbing itu tertawa
sampai matanya makin sipit. Melihatnya aku berpikir lagi,
mengapa justru sipitnya mata menjadi persoalan? Bukankah dalam
kehidupan bersama berbangsa dan bernegara, lebih penting apa
yang dilakukan terhadap sesama daripada ukuran mata?.
Si engkoh yang ramah itu meminta diri untuk membantu tamu
yang lain. Ia berkata: "Maaf saya harus bantu mereka, kalau
bapak dan mbak mau membuktikan ucapan saya, datanglah berkunjung
pada bulan Juli nanti. Saat itu adalah Sembahyang Rebutan,
dimana lebih banyak makanan disajikan dan lebih banyak orang
ngantri mendapatkan makanan daripada di hari raya Imlek ini.
Temanku yang wartawan merasa geli melihatku. Dia menambahkan,
di Tuban (Jatim) ada kelenteng yang menyediakan nasi hangat bagi
siapapun yang datang. Mau makan sebanyak banyaknya boleh, asal
jangan dibawa pulang.
Kesimpulanku: untuk bisa menghargai (apresiasi), kita harus
mengamati. Untuk bisa mengamati, kita harus bertemu dan
berkomunikasi. Akan muncul sebuah _kemajuan_ dari sikap itu.
Tiba-tiba saya mengerti mengapa mereka menyambut Kyai Islam
GusDur seantusias itu.
Khadijah - Islam humanis Padepokan Silat Langkah Suci
Ciganjur |