unwrap text $9.99 468 X 60

 

Berkelana di Dunia Imlek

Submitted by Beng & Robin

Inilah cerita singkatku berkunjung di dunianya orang Tionghoa. Saya menemukan hal hal yang mengagumkan disana.

Setelah selesai merayakan Lebaran, saya sempat berkendara mobil bersama teman-temanku menuju Jawa Timur. Mudik sambil mengantar teman-teman sepanjang jalan. Ada yang turun di Semarang, Yogya, ada yang di Madiun. Terakhir, baru saya, di ujung timur pulau Jawa.

Ketika saya melewati sebuah kota besar, saya mengajak rekan-rekanku untuk mengunjungi: gereja dan kelenteng, atas bujukan salah seorang temanku (Ia orang Tionghoa). Saya sempat tercengang melihat di salah sebuah bagian rumah pemujaan (kelenteng) itu, ternyata dibacakan Al Fatihah.

Ketika saya tanyakan, ternyata kelenteng itu adalah semacam peringatan bagi tokoh tokoh dari negeri Tiongkok yang meninggal disana. Tokoh itu beragama Islam, sampai kepada beberapa anak buahnya. Apakah ini suatu sinkretisme budaya? Entahlah.

Yapi yang pasti hal itu memberi kesan tertentu pada benak saya. Dan pada hari raya Imlek ini, saya berniat untuk sekali lagi _berjalan-jalan_ di dunianya orang Tionghoa.

Bersama seorang teman yang wartawan (Ia muslim, tapi wajahnya mirip Tionghoa), saya memasuki sebuah kelenteng. 

Dari depan sudah tercium bau dupa. Membuat suasana menjadi mistis. Tapi ramai sesaknya orang membuat suasana meriah seperti di Hongkong.

Mereka terlihat sibuk, tapi di setiap wajah tersirat kegembiraan. Maklum, sudah lama sekali pemerintah melarang kegembiraan yang amat sangat ini. Sekarang pemerintah baru memberi harapan. Mereka mencoba mencicipi kegembiraan pesta. Meskipun dari ngobrol-bgobrol masih terlihat kesan menahan diri untuk tidak mengumbar kegembiraan
tersebut. Alasannya sedang banyak orang susah, jangan berlebihan. Sebuah sikap yang bijaklah, menurut saya. 

Tapi tarian Naga dan Singa sebetulnya hiburan bagi siapa saja. Terutama tarian Singanya. Jelas sekali memainkannya perlu koordinasi yang baik dan kekuatan fisik yang prima. Dari kakinya, Jelas mereka menguasai silat yang dilatih dengan tekun dan konservatif.

Kekuatan fisik sangat dibutuhkan disini. Mengingatkan saya pada permainan Reog Ponorogo. Hanya pada Reog kekuatannya dipadukan dengan unsur magis. Entah kalau ini.

Dengan _membonceng_ teman wartawan yang bawa kamera, rasanya enak kemana mana, meskipun nampaknya tidak harus begitu. Mereka tidak perduli wartawan atau bukan. Saya sempat ngobrol dengan seorang pembimbing, yang mengarahkan prosesi sembahyang orang yang datang.

Diantara kesibukannya, dia memberikan penjelasan tentang nama-nama dewa, tata cara, artinya dsb. Sungguh menarik. Tapi yang paling menarik dan baru bagi saya adalah, selama ini saya menganggap mereka menyembah berhala. Ternyata mereka itu BUKAN menyembah berhala.

Saya tahu hal itu ketika saya bertanya dengan rasa heran dan lucu kepada pembimbing itu, mengapa setelah memegang dupa menyala, mereka justru MEMUNGGUNGI patung yang disembahnya. Jadi saya heran, kok _tidak sopan_begitu kepada _berhala_nya. Lalu saya mendapatkan penjelasan dari pembimbing itu dan merubah banyak persepsi saya tentang kepercayaan orang-orang Tionghoa ini.

Ternyata PERTAMA KALI mereka itu menyembah Allah yang di arahkan kelangit luar bangunan. Istilah untuk Allah adalah Di Kung atau Thi Kong. Baru setelah itu mereka menyembah dewa-dewa yang di simbolkan dalam bentuk patung patung berhala itu.

Lho, terus apa bedanya dengan agama saya?, saya pikir begitu.  Bukankah Islam juga menyembah Allah?, dan mempunyai nabi Muhammad?.

Terus saya teringat dalam agama Katolik. Pengagungan terhadap Maria dengan cara menyalakan lilin dan menancapkan bunga di jambangan. Saya melihat prinsip-prinsip yang sama.

Ternyata kepercayaan yang sering dianggap sebagai berhala (kerap kali dengan rasa jijik), oleh orang Islam, mempunyai hal-hal penting yang tak dipahami. Padahal kalau mau datang, melihat dan berkomunikasi, saya menjadi jelas bahwa yang disembah itu yang SATU itu : Allah.

Lalu saya merefleksikan terhadap pemahaman orang Islam yang keliru tentang Allah Tritunggal Kristen yang sering dimengerti secara salah sebagai bertuhan TIGA. Juga pada Hindu yang dianggap juga bertuhan TIGA.

Saat itu saya makin melek bahwa TIGA dan SATU itu SAMA bila yang dibicarakan adalah ALLAH yang MAHA BESAR (infinit). Bahasan itu pasti menarik bila dikaji dalam lingkup matematika maupun filsafat.

Dihadapan Yang MAHA, manusia menjadi SAMA. Sekecil kerikil, termasuk agamanya, apalagi kalau hanya sekedar tata caranya.

Itu tadi permenunganku pada arah vertikal. Lalu saya mengamati yang pada arah horisontal. Saya sudah menduga, tradisi Tionghoa yang sangat horisontalistik itu tentu tidak usah diragukan akan sangat kental dengan kepedulian terhadap aspek kemanusiaan. Saya tinggal membuka mata dan telinga sedikit, pasti segera kutemukan.

Dan benar, ada yang membuatku terharu dan kagum. Dari informasi yang kuterima, sudah lama kelenteng itu TIDAK MENYAJIKAN BABI pada setiap makanannya. Saya heran, mengapa? Setahu saya babi itu menu penting orang Tionghoa.

Pembimbing yang masih muda itu menjelaskan kepadaku, ini adalah suatu bentuk TOLERANSI. "Mbak tahu", katanya padaku, "Sehabis sembayangan ini, berapa banyak orang yang ngantri menunggu makanan dibagikan. Dan kami tahu bahwa sebagian besar dari mereka adalah muslim". Temanku yang wartawan membenarkan hal itu, ada ratusan penarik bejak yang menunggu makanan dalam acara-acara semacam itu.

Saya tidak habis heran. Budaya sehumanis inilah yang dulu pernah berusaha _dibekukan_. Hayaaaa, cilakaaa, sudah gila kali!.

Menanggapi keherananku, si engkoh pembimbing itu tertawa sampai matanya makin sipit. Melihatnya aku berpikir lagi, mengapa justru sipitnya mata menjadi persoalan? Bukankah dalam kehidupan bersama berbangsa dan bernegara, lebih penting apa yang dilakukan terhadap sesama daripada ukuran mata?.

Si engkoh yang ramah itu meminta diri untuk membantu tamu yang lain. Ia berkata: "Maaf saya harus bantu mereka, kalau bapak dan mbak mau membuktikan ucapan saya, datanglah berkunjung pada bulan Juli nanti. Saat itu adalah Sembahyang Rebutan, dimana lebih banyak makanan disajikan dan lebih banyak orang ngantri mendapatkan makanan daripada di hari raya Imlek ini.

Temanku yang wartawan merasa geli melihatku. Dia menambahkan, di Tuban (Jatim) ada kelenteng yang menyediakan nasi hangat bagi siapapun yang datang. Mau makan sebanyak banyaknya boleh, asal jangan dibawa pulang.

Kesimpulanku: untuk bisa menghargai (apresiasi), kita harus mengamati. Untuk bisa mengamati, kita harus bertemu dan berkomunikasi. Akan muncul sebuah _kemajuan_ dari sikap itu.

Tiba-tiba saya mengerti mengapa mereka menyambut Kyai Islam GusDur seantusias itu.

Khadijah - Islam humanis Padepokan Silat Langkah Suci Ciganjur

 

 

     

 


FastCounter by bCentral