Lewat tulisan sebelumnya kita telah menelusuri tahap
pertumbuhan pertama dari anak usia lahir sampai sekitar
satu tahun. Anak mengalami krisis antara mendapatkan
kepercayaan diriatau kehilangan kepercayaandiri.
Menurut Erikson, anak yang sehat akan melewati tahap pertama
dengan memiliki pengharapan untuk hidup. Memasuki usia yang
kedua, anak mengalami krisis pertumbuhan kedua, yaitu
krisis antara: berani mandiri atau menjadi peragu dan pemalu.
Pertumbuhan yang sehat akan membekali anak dengan kemampuan
untuk berkehendak. Sekitar tahun ketiga sampai keenam anak
memasuki krisis pertumbuhan ketiga dimana ia bergumul untuk
menjadi seorang pemberani atau menjadi penakut
karena dihantui perasaan salah.
Pada akhir tahun ketiga, kemampuan gerak anak menjadi lebih
canggih. Ia sudah bisa berlari, melompat, jongkok dan memegang
benda yang lebih kecil. Kemampuan bahasa juga bertumbuh dengan
lebih baik. Ia sudah mampu menghubungkan arti kata “kursi”
dengan benda yang sebenarnya. Mendengar kata “permen” dan
“coklat” sudah mampu menggelitik air liurnya. Meski masih
sederhana, ia sudah mampu memanipulasi obyek dalam mentalnya.
Dalam persepsinya, semua orang melihat, merasakan dan berpikir
seperti yang ia lihat, pikirkan, dan rasakan. Namun demikian, ia
belum begitu mampu untuk melihat dari sisi orang lain.
Kalau tahap sebelumnya anak tahu bahwa ia adalah seorang
manusia, sekarang ia belajar bahwa manusia itu bermacam-macam.
Ada yang laki, ada yang perempuan. Ada yang gemuk ada yang
langsing. Ada yang tinggi ada yang pendek. Ada yang baik, ada
yang jahat. Pada tahap ini anak sangat intrusive dan kata
favoritnya adalah “Mengapa” ganti daripada “Apa.” Keinginan
tahunya luar biasa. Apa saja dicobanya. Ia ingin belajar apa
saja. Semua batasan coba dilanggar. Ia mau tahu, mana yang
boleh dan mana yang tidak. Disamping bermain dan berfantasi
dengan boneka dan mobil-mobilannya, anak suka meniru, mencoba
pelbagai peran, atau menjadi binatang dan permainan fantasi
lainnya. Dengan kata lain, meski masih sederhana, ia sudah punya
idea sendiri, berfantasi, berperan dan mengambil inisiatif dan
rencana sendiri.
Lewat permainan fantasi dan pelbagai permainan pura-pura,
anak belajar mengeksplorasi antara dunia nyata dan dunia fantasi,
antara dunia luar dan dunia batin. Bila dalam tahap ini anak
terlalu diumbar tanpa kendali, maka anak akan bertumbuh semaunya
sendiri. Ia tidak punya rasa salah. Puncaknya ia jadi penjahat
atau sociopath. Bila orangtua banyak menyalahkan dan melarang
tindakan dan fantasi anak, maka anak akan jadi penakut dan
kurang initiatif. Ia dihantui rasa bersalah dan tidak punya
kepercayaan diri. Orang Jawa bilang anak yang “pahpoh” dan
melempem. Tidak punya initiative sendiri. Hidup hanya dibawah
bayangan orangtua.
Bila anak tidak banyak ditekan atau disuruh memainkan
peran-peran atau tingkah laku yang disukai orangtuanya saja,
maka anak akan bertumbuh dengan kepribadian yang unik dan
authentik . Bila anak terpaksa harus memainkan peran-peran yang
tidak sesuai dengan keinginannya, maka ia akan hidup dalam peran
yang diminta oleh orang disekitarnya saja. Peran akan menjadi
kepribadian anak ganti daripada menjadi sebagian dari
kepribadian anak. Anak menjadi tidak punya pendirian dan penakut.
Ia kurang bisa menerima diri, hidup dalam kepalsuan dan berusaha
menyenangkan kehendak orang lain saja. Hidupnya tidak unik dan
autentik tetapi hidup dalam dunia sandiwara. Kepribadiannya
sering berubah sesuai dengan peran yang diminta oleh orang yang
ada disekitarnya. Ia kurang transparan. Bila kelak ia menjadi
orangtua, ia pun akan menciptakan pelbagai panggung sandiwara
dan peran buat anak-anaknya
Bila kesempatan untuk berinisiatif dan rasa beraninya lebih
besar dari rasa bersalahnya, maka anak akan melewati tahap ini
dengan rasa bahwa hidup itu ada tujuannya (purpose).
Dalam batinnya anak berani berkata, bahwa meskipun banyak aral
melintang dalam hidup ini, namun aku tidak gentar. Aku berani
ambil initiative dan resiko. Meski aku dihantui rasa takut salah
dan takut dihukum, namun aku berani berencana dan mencoba
mencapai goal yang sudah aku gariskan. Aku punya tujuan dalam
hidup ini, dan aku berani membayar harganya. Aku akan bertumbuh
menjadi manusia yang berani mengambil initiative dan bertanggung
jawab.
Bila pada tahap pertama anak yang sehat berkata, “It is OK,”
dan pada tahap kedua berkata, “I can do it,” maka tahap ketiga
ini anak yang sehat akan berkata, “I have a plan.” Seperti tahap
sebelumnya, kata kunci dalam hal ini adalah keseimbangan.
Orangtua hendaknya menjaga keseimbangan antara melarang dan
memperbolehkan. Mendisiplin dan mengasihi. Hal-hal yang
membahayakan anak perlu dicegah. Hal-hal yang mendorong
pertumbuhan anak perlu di kembangkan. PAPA, BOLEHKAH AKU
BERINISIATIF?