Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

Papa, Bolehkan Aku Berinisiatif?

Virgo Handojo, Ph.D.

Lewat tulisan sebelumnya kita telah menelusuri tahap pertumbuhan pertama dari anak usia lahir sampai sekitar satu tahun. Anak mengalami krisis antara mendapatkan kepercayaan diri atau kehilangan kepercayaan diri. Menurut Erikson, anak yang sehat akan melewati tahap pertama dengan memiliki pengharapan untuk hidup. Memasuki usia yang kedua, anak mengalami krisis pertumbuhan kedua, yaitu krisis antara: berani mandiri atau menjadi peragu dan pemalu. Pertumbuhan yang sehat akan membekali anak dengan kemampuan untuk berkehendak. Sekitar tahun ketiga sampai keenam anak memasuki krisis pertumbuhan ketiga dimana ia bergumul untuk menjadi seorang pemberani atau menjadi penakut karena dihantui perasaan salah.

 

Pada akhir tahun ketiga, kemampuan gerak anak menjadi lebih canggih. Ia sudah bisa berlari, melompat, jongkok dan memegang benda yang lebih kecil. Kemampuan bahasa juga bertumbuh dengan lebih baik. Ia sudah mampu menghubungkan arti kata “kursi” dengan benda yang sebenarnya. Mendengar kata “permen” dan “coklat”  sudah mampu menggelitik air liurnya. Meski masih sederhana, ia sudah mampu memanipulasi obyek dalam mentalnya. Dalam persepsinya, semua orang melihat, merasakan dan berpikir seperti yang ia lihat, pikirkan, dan rasakan. Namun demikian, ia belum begitu mampu untuk melihat dari sisi orang lain.

 

Kalau tahap sebelumnya anak tahu bahwa ia adalah seorang manusia, sekarang ia belajar bahwa manusia itu bermacam-macam. Ada yang laki, ada yang perempuan. Ada yang gemuk ada yang langsing. Ada yang tinggi ada yang pendek. Ada yang baik, ada yang jahat. Pada tahap ini anak sangat intrusive dan kata favoritnya adalah “Mengapa” ganti daripada “Apa.”   Keinginan tahunya luar biasa. Apa saja dicobanya. Ia ingin belajar apa saja.  Semua batasan coba dilanggar. Ia mau tahu, mana yang boleh dan mana yang tidak. Disamping bermain dan berfantasi dengan boneka dan mobil-mobilannya, anak suka meniru, mencoba pelbagai peran, atau menjadi binatang dan permainan fantasi lainnya. Dengan kata lain, meski masih sederhana, ia sudah punya idea sendiri, berfantasi, berperan dan mengambil inisiatif dan rencana sendiri.

 

Lewat permainan fantasi dan pelbagai permainan pura-pura, anak belajar mengeksplorasi antara dunia nyata dan dunia fantasi, antara dunia luar dan dunia batin. Bila dalam tahap ini anak terlalu diumbar tanpa kendali, maka anak akan bertumbuh semaunya sendiri. Ia tidak punya rasa salah. Puncaknya ia jadi penjahat atau sociopath. Bila orangtua banyak menyalahkan dan melarang tindakan dan fantasi anak, maka anak akan jadi penakut dan kurang initiatif. Ia dihantui rasa bersalah dan tidak punya kepercayaan diri. Orang Jawa bilang anak yang “pahpoh” dan melempem. Tidak punya initiative sendiri. Hidup hanya dibawah bayangan orangtua.

 

Bila anak tidak banyak ditekan atau disuruh memainkan peran-peran atau tingkah laku yang disukai orangtuanya saja, maka anak akan bertumbuh dengan kepribadian yang unik dan authentik . Bila anak terpaksa harus memainkan peran-peran yang tidak sesuai dengan keinginannya, maka ia akan hidup dalam peran yang diminta oleh orang disekitarnya saja. Peran akan menjadi kepribadian anak ganti daripada menjadi sebagian dari kepribadian anak. Anak menjadi tidak punya pendirian dan penakut. Ia kurang bisa menerima diri, hidup dalam kepalsuan dan berusaha menyenangkan kehendak orang lain saja. Hidupnya tidak unik dan autentik tetapi hidup dalam dunia sandiwara. Kepribadiannya sering berubah sesuai dengan peran yang diminta oleh orang yang ada disekitarnya. Ia kurang transparan. Bila kelak ia menjadi orangtua, ia pun akan menciptakan pelbagai panggung sandiwara dan peran buat anak-anaknya

 

Bila kesempatan untuk berinisiatif dan rasa beraninya lebih besar dari rasa bersalahnya, maka anak akan melewati tahap ini dengan rasa bahwa hidup itu ada tujuannya (purpose). Dalam batinnya anak berani berkata, bahwa meskipun banyak aral melintang dalam hidup ini, namun aku tidak gentar. Aku berani ambil initiative dan resiko. Meski aku dihantui rasa takut salah dan takut dihukum, namun aku berani berencana dan mencoba mencapai goal yang sudah aku gariskan. Aku punya tujuan dalam hidup ini, dan aku berani membayar harganya. Aku akan bertumbuh menjadi manusia yang berani mengambil initiative dan bertanggung jawab.

 

Bila pada tahap pertama anak yang sehat berkata, “It is OK,” dan pada tahap kedua berkata, “I can do it,” maka tahap ketiga ini anak yang sehat akan berkata, “I have a plan.” Seperti tahap sebelumnya, kata kunci dalam hal ini adalah keseimbangan. Orangtua hendaknya menjaga keseimbangan antara melarang dan memperbolehkan. Mendisiplin dan mengasihi. Hal-hal yang membahayakan anak perlu dicegah. Hal-hal yang mendorong pertumbuhan anak perlu di kembangkan. PAPA, BOLEHKAH AKU BERINISIATIF?

 

 

     

 


FastCounter by bCentral