Banner 120X90

Sekilas Bio Siauw Tiong Djin

Laporan Liputan Siauw vs Sindhunata

Penghargaan Disampaikan

Tanda Penghargaan

Sekilas Bio Siauw Tiong Djin

Siauw Tiong Djin lahir di Jakarta pada tahun 1956 adalah putera Siauw Giok Tjhan.

Ketika Siauw Giok Tjhan di"amankan" pada bulan November 1965, Tiong Djin baru berumur 9 tahun.  Ketika ia dibebaskan pada tahun 1978, Tiong Djin sudah berada di Australia, menyelesaikan kuliahnya dalam bidang teknik komunikasi.

Di masa remajanya, Tiong Djin kerap berbincang-bincang dengan ayahnya di penjara - seminggu sekali. Pertemuan-pertemuan di penjara inilah yang banyak mendorong Tiong Djin untuk lebih banyak mempelajari apa yang diperjuangkan ayahnya. Hubungan yang cukup unik ini dilanjutkan setelah ayahnya bebas dari penjara melalui surat menyurat.

Siauw Giok Tjhan pergi berobat ke Amsterdam pada tahun 1978. Akan tetapi bukannya berobat dan beristirahat, ia langsung giat dalam berbagai kegiatan. Yang diutamakan adalah memperjuangkan dibebaskannya semua tapol dari penjara dan usaha pengumpulan dana untuk para keluarganya. Ia meninggal di Amsterdam sebagai seorang pelarian politik -- passsport-nya dicabut oleh Kedubes RI di Amsterdam karena kegiatannya.

Sudah lama Tiong Djin ingin menulis biogrpahy politik ayahnya. Akhirnhya atas bantuan Prof Herbert Feith ia berhasil menyelesaikan PhD thesisnya yang bersandar atas biography politik Siauw Giok Tjhan pada tahun 1998. Thesis ini kemudian dibukukan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Tionghoa. 

Siauw Giok Tjhan dan banyak kawan seperjuangannya dibungkam oleh pemerintah Orde Baru.  aspirasi perjuangan dan kebijakan politik, ekonomi dan sosial Baperki di "Komuniskan" oleh pemerintah Orde Baru.  Melalui bukunya ini, Tiong Djin meluruskan sejarah dan mendorong para pembacanya untuk mendukung kesimpulannya, yaitu kebijakan Siauw Giok Tjhan dan Baperki yang berkaitan dengan Nation Building dan dengan upaya menjadikan semua orang Tionghoa di Indonesia Warga Negara Indonesia yang mencintai tanah airnya tanpa menanggalkan ke-Tionghoaannya,  masih sangat relevan di masa kini. 

Pada bulan Juni 1998 bersama beberapa teman Indonesia di kota Melbourne, Tiong Djin mendirikan Committee Against Racism in Indonesia (CARI) dan diangkat sebagai  ketuanya

Tiong Djin yang kerap ke Indonesia masih terus mengikuti perkembangan politik di sana, terutama yang berhubungan dengan komunitas Tionghoa.

(Indonesia Media)

 

     

 


FastCounter by bCentral