Banner 120X90

Other News:

Geram Budiman Sudjatmiko

Malam Lintas Budaya 4 July

Ditulis oleh : Dr.Irawan

Banyak orang sudah mengenal Pak Ricky Lee yang mengajar bahasa Mandarin di TCC (Tionghoa Cultural Center). Tentunya kami semua sangat berterimakasih atas sumbangsihnya kepada masyarakat di kawasan Los Angeles ini dalam pendidikan bahasa Mandarin yang disajikan untuk mayarakat Indonesia, namun mungkin banyak orang juga yang belum mengenal siapa Pak Guru kita yang sering disapa dengan Lee Lauw Zhe ini. Untuk itu kami ingin mengenal lebih dalam lagi siapa Pak Ricky ini sebenarnya. Guru yang volunteer di TCC ini sebenarnya adalah typical dari orang Tionghoa Indonesia yang penuh dengan perjuangan. Justru petualangan perjuangannya inilah patut kami hargai dan mungkin bisa meneladani anak anak muda Indonesia yang datang ke Amerika.

Pak Ricky kelahiran Sukabumi Jawa Barat,1947, beliau menamatkan SMA nya di sekolah Tionghoa, Pah Cung, Jakarta dibilangan Kebon Kalapa. Sosok yang berpenampilan sederhana ini mengaku terpaksa meninggalkan Indonesia, tanah kelahirannya karena sekolahnya dibakar, saat itu beliau di Fakultas Tehnik Mesin Universitas Res Publica (Baperki). Pada terbitan bulan lalu Indonesia Media pernah memaparkan nasib naas dari para mahasiswa Universitas Res Publica yang dibakar oleh kaki tangan Orde Baru saat itu, 1965. Nah salah satu mahasiswa yang bernasib naas itu adalah Pak Ricky Lee ini.

Berangkat ke RRT

Karena berbekal pendidikan sekolah Tionghoa Ricky Lee muda itu tidak menyerahkan nasib begitu saja, hanya satu harapan dari orang yang berstatus WNA saat itu, yaitu berangkat ke RRT untuk melanjutkan studinya. Tabungan keluarga harus direlakan demi Ricky muda ini yang dianggap masih mempunyai harapan masa depan keluarga. Maka berangkatlah Ricky muda ini dengan semangat baru ke RRT, yang sering dinamakan sebagai tanah leluhurnya. Namun malang tak dapat ditolak, belum sempat Ricky melanjutkan studinya, pecah Revolusi Budaya di Tiongkok, 1967. Anak sekolah dan mahasiswa diperintahkan turba menjadi petani, dan pegang senjata sebagai manifesto komunis di zaman itu.
Pindah ke Hongkong.

Sebagaimana lazimnya orang (WNA) yang sudah kembali ke RRT, tidak dengan mudah begitu saja bisa seenaknya keluar dari negeri Tirai Bambu itu, segala perjuangan ditempuh dalam waktu yang tidak sebentar hanya untuk mencari udara kebebasan. Akhirnya Ricky baru berhasil menjejakkan kakinya di Hongkong pada tahun 1972. Hidupnya di Hongkong dimulai dengan bekerja sebagai buruh pabrik konveksi menjadi tukang potong kain, selama 2 tahun. Disana Ricky mengawini gadis asal sekampungnya (Sukabumi) dan dikaruniai 2 orang anak. Kemudian pekerjaanya menanjak sebagai pegawai Bank, dan terakhir bekerja di kantor import eksport kepunyaan orang Indonesia di Hongkong.

Pindah lagi ke Amerika

Sampai satu saat perusahaan tersebut membuka kantor cabang di Amerika Serikat pada tahun 1980, maka dengan jembatan inilah Pak Ricky hijrah ke Amerika. Tentunya tidak semudah yang diperkirakan kebanyakan orang, bahwa kalau sudah sampai di Amerika maka segalanya menjadi serba enak. Pak Ricky dengan isteri juga mengalami masa masa penuh perjuangan dan penderitaan. Kendati banyaknya cobaan dihadapi , tak menyurutkan semangat mereka, maka akhirnya hari kebahagian itu datang juga.

Jadi Boss Krupuk

1985 Pak Ricky mengambil oper pabrik Kerupuk yang dinamakan “Krupuk Marcopolo”, di Chino. Pada tahun 1986 ikut amnesty yang diperuntukan bagi imigran gelap, dan tahun berikutnya boss Marcopolo ini mendapatkan Green Card, sejak itu Pak Ricky sekeluarga merasakan kebebasan yang diidamkan oleh para imigran gelap di Amerika ini.

Pak Ricky mempunyai aktivitas bisnis yang cukup sibuk, pemasaran kerupuknya cukup meluas untuk seluruh Amerika. Bahan mentahnya berasal dari Indonesia, Sidoarjo. Produk kerupuk Marcopolonya dalam berbagai cita rasa dijual hampir diseluruh supermarket oriental di Amerika. Disamping itu beliau juga menjalankan usaha impor ekspor produk komponen industri lainnya.

Menguasai Bahasa

Bahasa Mandarin dan Cantonese sangat berguna bagi kegiatan perdagangan sehari hari, seperti dalam pendistribusian produk kerupuknya. Bahasa Mandarin (Cung Wen) kalah dengan bahasa Cantonese (Kwong Tung Wah) , terutama dalam bisnis yang berurusan dengan produk makanan. Dalam kesempatan ini Pak Ricky sempat menguraikan sejarah penyebaran bahasa Cantonese didunia. Memang sewaktu mengajar bahasa di TCC beliau senantiasa menggabungkan juga dengan pengetahuan sejarah dan budaya.

Sekarang mungkin bahasa Cantonese didapati lebih popular ketimbang bahasa Mandarin (Pu Thung Hwa) sendiri, hal ini dikarenakan orang Cantonese memang lebih banyak jumlahnya dibanding dengan suku lainnya macam Hakka, Hokian, dan Tio Ciu. Disamping itu orang Cantonese lebih tersebar di pesisir, ketika diabad pertengahan orang Barat dan Portugal mendarat di pesisir, itulah sebabnya tercipta koloni seperti Hongkong, dan Macao. Para pendatang mencari tenaga pekerja untuk dibawa ketempat asalnya, disinilah dimulai penyebaran dari suku Cantonese ke mancanegara. Namun dengan perkembangan RRT yang demikian pesatnya saat ini, ditambah sudah kembalinya Hongkong ketangan Tiongkok, maka tidak tertutup kemungkinan nantinya kepopuleran bahasa nasional (Kuo Yu) akan melampaui bahasa Cantonese (Kong Hu), ujar Lee Lauw Zhe ini.

Patriotisme

Ricky Lee adalah sosok umumnya orang kelahiran Indonesia, dari keturunan Tionghoa yang tak sempat diakui sebagai anak Ibu Pertiwi. Kepergiannya dari tanah kelahirannya Indonesia bukan semata karena kemauannya sendiri, demikian pula hengkangnya beliau dari tanah leluhurnya ke Amerika Serikat, bukan karena ketidak setiaannya kepada leluhurnya, namun lebih dikarenakan sekedar “a sense of survival”. Kepatriotannya sebagai orang Indonesia tidak bisa hanya di lihat dari paspor apa yang disandangnya, tapi harus dilihat dari sumbangsihnya pada masyarakat, dan aktivitas perdagangannya yang menyerap produk ekspor dari Indonesia, belum lagi penyerapan tenaga kerja asal Indonesia. Untuk menjadi patriot tidak perlu hanya jadi figure pahlawan bamboo runcing, dengan membantu pergerakan roda ekonomi Indonesia juga bisa disebut patriot sejati. Berhubung ditanah kelahirannya pada umumnya golongannya tidak berkesempatan untuk berpartisipasi dalam pengelola kenegaraan, maka Pak Ricky menghimbau kepada anaknya untuk memilih kariernya sesuai dengan kemauannya sendiri, dan jangan terpekur melulu sebagai pedagang, hal ini dibuktikan dengan ilmu yang sedang dituntut anaknya di perguruan tinggi sekarang yaitu dalam bidang Politic Science. (DI/IM)

 

     

 


FastCounter by bCentral