Banyak orang sudah mengenal
Pak Ricky Lee yang mengajar bahasa Mandarin di TCC (Tionghoa
Cultural Center). Tentunya kami semua sangat berterimakasih
atas sumbangsihnya kepada masyarakat di kawasan Los Angeles
ini dalam pendidikan bahasa Mandarin yang disajikan untuk
mayarakat Indonesia, namun mungkin banyak orang juga yang
belum mengenal siapa Pak Guru kita yang sering disapa dengan
Lee Lauw Zhe ini. Untuk itu kami ingin mengenal lebih dalam
lagi siapa Pak Ricky ini sebenarnya. Guru yang volunteer
di TCC ini sebenarnya adalah typical dari orang Tionghoa
Indonesia yang penuh dengan perjuangan. Justru petualangan
perjuangannya inilah patut kami hargai dan mungkin bisa
meneladani anak anak muda Indonesia yang datang ke Amerika.
Pak Ricky kelahiran Sukabumi
Jawa Barat,1947, beliau menamatkan SMA nya di sekolah Tionghoa,
Pah Cung, Jakarta dibilangan Kebon Kalapa. Sosok yang berpenampilan
sederhana ini mengaku terpaksa meninggalkan Indonesia, tanah
kelahirannya karena sekolahnya dibakar, saat itu beliau
di Fakultas Tehnik Mesin Universitas Res Publica (Baperki).
Pada terbitan bulan lalu Indonesia Media pernah memaparkan
nasib naas dari para mahasiswa Universitas Res Publica yang
dibakar oleh kaki tangan Orde Baru saat itu, 1965. Nah salah
satu mahasiswa yang bernasib naas itu adalah Pak Ricky Lee
ini.
Berangkat ke RRT
Karena berbekal pendidikan
sekolah Tionghoa Ricky Lee muda itu tidak menyerahkan nasib
begitu saja, hanya satu harapan dari orang yang berstatus
WNA saat itu, yaitu berangkat ke RRT untuk melanjutkan studinya.
Tabungan keluarga harus direlakan demi Ricky muda ini yang
dianggap masih mempunyai harapan masa depan keluarga. Maka
berangkatlah Ricky muda ini dengan semangat baru ke RRT,
yang sering dinamakan sebagai tanah leluhurnya. Namun malang
tak dapat ditolak, belum sempat Ricky melanjutkan studinya,
pecah Revolusi Budaya di Tiongkok, 1967. Anak sekolah dan
mahasiswa diperintahkan turba menjadi petani, dan pegang
senjata sebagai manifesto komunis di zaman itu.
Pindah ke Hongkong.
Sebagaimana lazimnya orang
(WNA) yang sudah kembali ke RRT, tidak dengan mudah begitu
saja bisa seenaknya keluar dari negeri Tirai Bambu itu,
segala perjuangan ditempuh dalam waktu yang tidak sebentar
hanya untuk mencari udara kebebasan. Akhirnya Ricky baru
berhasil menjejakkan kakinya di Hongkong pada tahun 1972.
Hidupnya di Hongkong dimulai dengan bekerja sebagai buruh
pabrik konveksi menjadi tukang potong kain, selama 2 tahun.
Disana Ricky mengawini gadis asal sekampungnya (Sukabumi)
dan dikaruniai 2 orang anak. Kemudian pekerjaanya menanjak
sebagai pegawai Bank, dan terakhir bekerja di kantor import
eksport kepunyaan orang Indonesia di Hongkong.
Pindah lagi ke Amerika
Sampai satu saat perusahaan
tersebut membuka kantor cabang di Amerika Serikat pada tahun
1980, maka dengan jembatan inilah Pak Ricky hijrah ke Amerika.
Tentunya tidak semudah yang diperkirakan kebanyakan orang,
bahwa kalau sudah sampai di Amerika maka segalanya menjadi
serba enak. Pak Ricky dengan isteri juga mengalami masa
masa penuh perjuangan dan penderitaan. Kendati banyaknya
cobaan dihadapi , tak menyurutkan semangat mereka, maka
akhirnya hari kebahagian itu datang juga.
Jadi Boss Krupuk
1985 Pak Ricky mengambil
oper pabrik Kerupuk yang dinamakan “Krupuk Marcopolo”, di
Chino. Pada tahun 1986 ikut amnesty yang diperuntukan bagi
imigran gelap, dan tahun berikutnya boss Marcopolo ini mendapatkan
Green Card, sejak itu Pak Ricky sekeluarga merasakan kebebasan
yang diidamkan oleh para imigran gelap di Amerika ini.
Pak Ricky mempunyai aktivitas
bisnis yang cukup sibuk, pemasaran kerupuknya cukup meluas
untuk seluruh Amerika. Bahan mentahnya berasal dari Indonesia,
Sidoarjo. Produk kerupuk Marcopolonya dalam berbagai cita
rasa dijual hampir diseluruh supermarket oriental di Amerika.
Disamping itu beliau juga menjalankan usaha impor ekspor
produk komponen industri lainnya.
Menguasai Bahasa
Bahasa Mandarin dan Cantonese
sangat berguna bagi kegiatan perdagangan sehari hari, seperti
dalam pendistribusian produk kerupuknya. Bahasa Mandarin
(Cung Wen) kalah dengan bahasa Cantonese (Kwong Tung Wah)
, terutama dalam bisnis yang berurusan dengan produk makanan.
Dalam kesempatan ini Pak Ricky sempat menguraikan sejarah
penyebaran bahasa Cantonese didunia. Memang sewaktu mengajar
bahasa di TCC beliau senantiasa menggabungkan juga dengan
pengetahuan sejarah dan budaya.
Sekarang mungkin bahasa Cantonese
didapati lebih popular ketimbang bahasa Mandarin (Pu Thung
Hwa) sendiri, hal ini dikarenakan orang Cantonese memang
lebih banyak jumlahnya dibanding dengan suku lainnya macam
Hakka, Hokian, dan Tio Ciu. Disamping itu orang Cantonese
lebih tersebar di pesisir, ketika diabad pertengahan orang
Barat dan Portugal mendarat di pesisir, itulah sebabnya
tercipta koloni seperti Hongkong, dan Macao. Para pendatang
mencari tenaga pekerja untuk dibawa ketempat asalnya, disinilah
dimulai penyebaran dari suku Cantonese ke mancanegara. Namun
dengan perkembangan RRT yang demikian pesatnya saat ini,
ditambah sudah kembalinya Hongkong ketangan Tiongkok, maka
tidak tertutup kemungkinan nantinya kepopuleran bahasa nasional
(Kuo Yu) akan melampaui bahasa Cantonese (Kong Hu), ujar
Lee Lauw Zhe ini.
Patriotisme
Ricky Lee adalah sosok umumnya
orang kelahiran Indonesia, dari keturunan Tionghoa yang
tak sempat diakui sebagai anak Ibu Pertiwi. Kepergiannya
dari tanah kelahirannya Indonesia bukan semata karena kemauannya
sendiri, demikian pula hengkangnya beliau dari tanah leluhurnya
ke Amerika Serikat, bukan karena ketidak setiaannya kepada
leluhurnya, namun lebih dikarenakan sekedar “a sense of
survival”. Kepatriotannya sebagai orang Indonesia tidak
bisa hanya di lihat dari paspor apa yang disandangnya, tapi
harus dilihat dari sumbangsihnya pada masyarakat, dan aktivitas
perdagangannya yang menyerap produk ekspor dari Indonesia,
belum lagi penyerapan tenaga kerja asal Indonesia. Untuk
menjadi patriot tidak perlu hanya jadi figure pahlawan bamboo
runcing, dengan membantu pergerakan roda ekonomi Indonesia
juga bisa disebut patriot sejati. Berhubung ditanah kelahirannya
pada umumnya golongannya tidak berkesempatan untuk berpartisipasi
dalam pengelola kenegaraan, maka Pak Ricky menghimbau kepada
anaknya untuk memilih kariernya sesuai dengan kemauannya
sendiri, dan jangan terpekur melulu sebagai pedagang, hal
ini dibuktikan dengan ilmu yang sedang dituntut anaknya
di perguruan tinggi sekarang yaitu dalam bidang Politic
Science. (DI/IM)