Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

Diasuh Oleh:
Ridwan Ongkowidagdo

Semua nama, tempat, tokoh, dan cerita adalah fiktif. Kesamaan yang terjadi hanyalah kebetulan belaka.

Serial:

1. Resah Mencari Pak RT

2. Dan Wariapun Berdemonstrasi

3. Nasi Goreng 'MY BABY'

4. Jalan Baru

5. Kalkulasi Teori Perjodohan

6. Sekali Lagi, Merdeka Cuk!

7. Sinar Rembulan di Siang Hari

9. Tragedi Suzuki Carrie

10. Bingung Tentang Pahlawan

11. Sang Atheist dan Gajah

12. Konsultasi Hukum Pojok Kampung

13. Kasih Sayang 2000 Perak

14. Hari Nasional Bapak?

15. Doraemon Emosi

16. Lilin-Lilin Kecil

17. Piala Dunia Buat Jeng Sri

18. Dicari:  Pemimpin Gak Wajar

19. Amburadil

20. Pecatlah Daku, Kau Kudemo

21. Kembalikan Baliku

22. Cacat

 

 

Pelajaran dari Mbah Redjo

Mbah Redjo adalah penduduk terlama di kampung kami. Tidak ada yang tahu pasti kapan tepatnya ia mulai tinggal disini. Konon, ia telah menempati rumahnya semenjak rumput ilalang dan petak-petak sawah masih menjadi tetangganya. Ia adalah cikal bakal kampung kami. Bahasa kerennya, ia adalah Pithecantropus Erectus-nya kampung kami.

Semua orang di kampungku sedikit banyak tahu mengenai cerita hidup Mbah Redjo. Manusia Empat Jaman, begitulah orang-orang menjulukinya. Julukan ini muncul sebab masa hidupnya melewati empat jaman di Indonesia: jaman Belanda, jaman Jepang, jaman Orde Lama dan jaman Orde Baru.

Mbah Redjo adalah panggilan akrabnya. Aku sudah lupa siapa nama asli lelaki tua renta yang memelihara kumis dan jenggot ini. Namun, aku masih ingat jelas semua cerita yang pernah aku dengar dari dirinya.

Cerita Mbah Redjo seringkali dimulai dengan pengalaman masa remajanya bermain sepak bola. Dengan bangganya ia sering menyinggung kalau seandainya tidak ada agresi militer Belanda dan perang revolusi, dirinya pasti terpilih untuk menjadi pemain tim nasional sepak bola Indonesia di piala dunia.

“Kita memang nggak punya kompetisi liga sepak bola seperti sekarang,” katanya beberapa tahun silam, “Tapi kalau diadu melawan klub-klub sepak bola Indonesia sekarang, pasti tim saya yang menang.”

“Mana mungkin,” aku menyela omongan Mbah Redjo, “Kan tipe latihan dan penerapan strategi pertandingan masih kuno waktu itu.”

Mbah Redjo menggerakkan bola matanya ke arah diriku. Sejenak terasa ada setrum jinak menyengat belakang kepalaku yang menyebabkan keningku terkerut ke atas. Rambut di tengkuk kepalaku terasa mulai menggeliat. Sepertinya efek psikologis lirikan Mbah Redjo tadi memaksa diriku untuk berpikir kalau aku baru saja berbuat sesuatu yang salah.

 Namun, saat pria tua ini tersenyum, aku tahu bahwa aku hanya berpikir ngawur.

“Sejak kapan sepak bola itu hanya adu fisik dan strategi?” tanyanya.

“Lho, kalau bukan cuma dua hal itu, apa lagi yang dimainkan dalam sepak bola?” aku bertanya balik.

Mbah Redjo terkekeh. Ia kemudian memandang diriku seraya menepuk-nepuk dadanya dan berkata, “Ini nih, mentalitas dan semangat perjuangan.”

Aku terdiam. Aku tahu bahwa Mbah Redjo tidak hanya akan berbicara satu kalimat itu saja. Bagaikan nonton film di bioskop, kalimat Mbah Redjo tadi itu cuma sebagai bagian extra film baru.

“Orang-orang jaman sekarang mentalitasnya wis kayak tahu,” Mbah Redjo memulai kotbahnya, “Dipenyet sedikit wis hancur. Dibandingkan dengan orang-orang jaman saya masih muda dulu, bedanya kayak bumi dan langit. Itu Belanda dan Inggris yang senjatanya lebih hebat dari kita bisa dilawan dengan bambu runcing. Sekarang coba, mana berani?”

“Wah, hal beginian kan susah dibuktikan,” ujarku, “Kan sekarang sudah nggak ada lagi tentara Inggris dan Belanda.”

Mbah Redjo tertawa renyah. Ia kemudian mendekatkan dirinya sambil berkata, “Tentara Inggris dan Belanda itu cuma nama. Yang namanya tentara penjajah itu masih ada sampai sekarang.”

Aku mengerutkan keningku.

Belum sempat aku bertanya, Mbah Redjo sudah meneruskan kata-katanya lagi, “Mau tahu nama lain tentara penjajah jaman sekarang? Suharto. Suka Harta Tok! Orang-orang yang cuma terobsesi dengan harta dan kekayaan duniawi. Mereka ini sudah nggak mikir lagi mengenai nasib orang lain dan sesamanya. Bahkan bila perlu keluarganya dikorbanin demi ngumpulin harta benda yang nggak bisa dibawa ke akhirat.”

Aku manggut-manggut menunjukkan persetujuanku dengan pernyataan pria tua ini.

“Lihat sekarang di sekeliling kita ini. Semuanya sudah serba materialistis. Dari atas sampai ke bawah semua orang terkena demam Suharto. Segala sesuatu mesti dihitung ada keuntungan material buat dirinya atau nggak,” sambung Mbah Redjo.

“Wah, ya tapi Mbah nggak bisa sama ratakan semua orang,” kataku mencoba meletakkan kembali pernyataan Mbah Redjo ke realita, “Masih ada kok orang-orang baik di bumi Indonesia ini, yang nggak terkena demam Suharto.”

“Bener, Pung,” Mbah Redjo mengiyakan perkataanku, “Tapi perang melawan penjajah itu bukan perorangan, tapi satu bangsa melawan para penjajah. Lha orang-orang Indonesia jaman sekarang ini sudah kalah total dari para penjajah, dari demam Suharto. Dan yang lebih menyedihkan lagi, rasanya sudah nggak ada usaha perlawanan lagi untuk mengalahkan penjajah ini.”

“Kalah total?” sahutku dengan nada tidak percaya akan omongan Mbah Redjo, “Jangan terlalu dibesar-besarkan gitu dong, Mbah, kan bangsa kita tetap terus berjuang melawan penjajahan mental ini.”

“Pung, orang yang kalah total itu biasanya mengadopsi cara hidup penjajahnya. Kalau penjajahnya adalah demam Suharto, maka apabila kalah rakyat kita hidup secara Suharto. Tata cara hidup rakyat ini bisa dilihat dari tata bahasa mereka sendiri. Coba, Bantu Mbah ya, tolong carikan persamaan katanya buat ‘korupsi’ dan hitung ada berapa banyak!” kata Mbah Redjo.

Aku mulai mengingat-ingat semua kata-kata yang bisa diartikan korupsi dalam bahasa Indonesia. Sogokan, main belakang, main sabun, uang pelicin, uang rokok, amplop putih, main bawah meja, uang damai, …

Di antara usahaku untuk mencari kata-kata ini, diriku merasa seperti baru dibangunkan secara paksa dari tidur yang pulas. Mbah Redjo sedikit banyak berbicara hal yang benar mengenai bangsaku. Dan hal itu menyebabkan aku tersenyum kecut.

Tiba-tiba Mbah Redjo beranjak dari tempat duduknya.

“Kemana Mbah?” tanyaku.

“Wis capek, mau tidur sekarang. Besok mau ke gereja,” jawabnya.

“Ke gereja?” tanyaku tercengang sebab aku tahu Mbah Redjo bukanlah seorang Nasrani, “Lho, apa Mbah sudah …”

“Saya cuma bilang saya mau pergi ke gereja!” kata Mbah Redjo memotong omonganku, “Saya nggak bilang saya pindah agama!”

Pria tua itu kemudian masuk ke dalam rumahnya meninggalkan aku sendiri di luar. 

DEDICATED TO PIUS CHAN – A MENTOR, A FRIEND, A FIGHTER.

0107_101C

 

     

 


FastCounter by bCentral