Pelajaran dari Mbah Redjo
Mbah Redjo adalah penduduk terlama di kampung kami. Tidak ada
yang tahu pasti kapan tepatnya ia mulai tinggal disini. Konon,
ia telah menempati rumahnya semenjak rumput ilalang dan
petak-petak sawah masih menjadi tetangganya. Ia adalah cikal
bakal kampung kami. Bahasa kerennya, ia adalah Pithecantropus
Erectus-nya kampung kami.
Semua orang di kampungku sedikit banyak tahu mengenai cerita
hidup Mbah Redjo. Manusia Empat Jaman, begitulah orang-orang
menjulukinya. Julukan ini muncul sebab masa hidupnya melewati
empat jaman di Indonesia: jaman Belanda, jaman Jepang, jaman
Orde Lama dan jaman Orde Baru.
Mbah Redjo adalah panggilan akrabnya. Aku sudah lupa siapa
nama asli lelaki tua renta yang memelihara kumis dan jenggot ini.
Namun, aku masih ingat jelas semua cerita yang pernah aku dengar
dari dirinya.
Cerita Mbah Redjo seringkali dimulai dengan pengalaman masa
remajanya bermain sepak bola. Dengan bangganya ia sering
menyinggung kalau seandainya tidak ada agresi militer Belanda
dan perang revolusi, dirinya pasti terpilih untuk menjadi pemain
tim nasional sepak bola Indonesia di piala dunia.
“Kita memang nggak punya kompetisi liga sepak bola seperti
sekarang,” katanya beberapa tahun silam, “Tapi kalau diadu
melawan klub-klub sepak bola Indonesia sekarang, pasti tim saya
yang menang.”
“Mana mungkin,” aku menyela omongan Mbah Redjo, “Kan tipe
latihan dan penerapan strategi pertandingan masih kuno waktu itu.”
Mbah Redjo menggerakkan bola matanya ke arah diriku. Sejenak
terasa ada setrum jinak menyengat belakang kepalaku yang
menyebabkan keningku terkerut ke atas. Rambut di tengkuk
kepalaku terasa mulai menggeliat. Sepertinya efek psikologis
lirikan Mbah Redjo tadi memaksa diriku untuk berpikir kalau aku
baru saja berbuat sesuatu yang salah.
Namun, saat pria tua ini tersenyum, aku tahu bahwa aku hanya
berpikir ngawur.
“Sejak kapan sepak bola itu hanya adu fisik dan strategi?”
tanyanya.
“Lho, kalau bukan cuma dua hal itu, apa lagi yang dimainkan
dalam sepak bola?” aku bertanya balik.
Mbah Redjo terkekeh. Ia kemudian memandang diriku seraya
menepuk-nepuk dadanya dan berkata, “Ini nih, mentalitas dan
semangat perjuangan.”
Aku terdiam. Aku tahu bahwa Mbah Redjo tidak hanya akan
berbicara satu kalimat itu saja. Bagaikan nonton film di bioskop,
kalimat Mbah Redjo tadi itu cuma sebagai bagian extra film baru.
“Orang-orang jaman sekarang mentalitasnya wis kayak tahu,”
Mbah Redjo memulai kotbahnya, “Dipenyet sedikit wis hancur.
Dibandingkan dengan orang-orang jaman saya masih muda dulu,
bedanya kayak bumi dan langit. Itu Belanda dan Inggris yang
senjatanya lebih hebat dari kita bisa dilawan dengan bambu
runcing. Sekarang coba, mana berani?”
“Wah, hal beginian kan susah dibuktikan,” ujarku, “Kan
sekarang sudah nggak ada lagi tentara Inggris dan Belanda.”
Mbah Redjo tertawa renyah. Ia kemudian mendekatkan dirinya
sambil berkata, “Tentara Inggris dan Belanda itu cuma nama. Yang
namanya tentara penjajah itu masih ada sampai sekarang.”
Aku mengerutkan keningku.
Belum sempat aku bertanya, Mbah Redjo sudah meneruskan
kata-katanya lagi, “Mau tahu nama lain tentara penjajah jaman
sekarang? Suharto. Suka Harta Tok! Orang-orang yang cuma
terobsesi dengan harta dan kekayaan duniawi. Mereka ini sudah
nggak mikir lagi mengenai nasib orang lain dan sesamanya. Bahkan
bila perlu keluarganya dikorbanin demi ngumpulin harta benda
yang nggak bisa dibawa ke akhirat.”
Aku manggut-manggut menunjukkan persetujuanku dengan
pernyataan pria tua ini.
“Lihat sekarang di sekeliling kita ini. Semuanya sudah serba
materialistis. Dari atas sampai ke bawah semua orang terkena
demam Suharto. Segala sesuatu mesti dihitung ada keuntungan
material buat dirinya atau nggak,” sambung Mbah Redjo.
“Wah, ya tapi Mbah nggak bisa sama ratakan semua orang,”
kataku mencoba meletakkan kembali pernyataan Mbah Redjo ke
realita, “Masih ada kok orang-orang baik di bumi Indonesia ini,
yang nggak terkena demam Suharto.”
“Bener, Pung,” Mbah Redjo mengiyakan perkataanku, “Tapi
perang melawan penjajah itu bukan perorangan, tapi satu bangsa
melawan para penjajah. Lha orang-orang Indonesia jaman sekarang
ini sudah kalah total dari para penjajah, dari demam Suharto.
Dan yang lebih menyedihkan lagi, rasanya sudah nggak ada usaha
perlawanan lagi untuk mengalahkan penjajah ini.”
“Kalah total?” sahutku dengan nada tidak percaya akan omongan
Mbah Redjo, “Jangan terlalu dibesar-besarkan gitu dong, Mbah,
kan bangsa kita tetap terus berjuang melawan penjajahan mental
ini.”
“Pung, orang yang kalah total itu biasanya mengadopsi cara
hidup penjajahnya. Kalau penjajahnya adalah demam Suharto, maka
apabila kalah rakyat kita hidup secara Suharto. Tata cara hidup
rakyat ini bisa dilihat dari tata bahasa mereka sendiri. Coba,
Bantu Mbah ya, tolong carikan persamaan katanya buat ‘korupsi’
dan hitung ada berapa banyak!” kata Mbah Redjo.
Aku mulai mengingat-ingat semua kata-kata yang bisa diartikan
korupsi dalam bahasa Indonesia. Sogokan, main belakang, main
sabun, uang pelicin, uang rokok, amplop putih, main bawah meja,
uang damai, …
Di antara usahaku untuk mencari kata-kata ini, diriku merasa
seperti baru dibangunkan secara paksa dari tidur yang pulas.
Mbah Redjo sedikit banyak berbicara hal yang benar mengenai
bangsaku. Dan hal itu menyebabkan aku tersenyum kecut.
Tiba-tiba Mbah Redjo beranjak dari tempat duduknya.
“Kemana Mbah?” tanyaku.
“Wis capek, mau tidur sekarang. Besok mau ke gereja,”
jawabnya.
“Ke gereja?” tanyaku tercengang sebab aku tahu Mbah Redjo
bukanlah seorang Nasrani, “Lho, apa Mbah sudah …”
“Saya cuma bilang saya mau pergi ke gereja!” kata Mbah Redjo
memotong omonganku, “Saya nggak bilang saya pindah agama!”
Pria tua itu kemudian masuk ke dalam rumahnya meninggalkan
aku sendiri di luar.
DEDICATED TO PIUS CHAN – A MENTOR, A FRIEND, A FIGHTER. |