Sinar Rembulan di Siang Hari
Mei Hwa menyerahkan secarik kertas kepadaku
begitu aku masuk ke rumahku sepulang dari kantor.
“Surat apa?”, tanyaku singkat.
“Surat dari Trisno, istrimu tercinta,”
jawab Mei Hwa dengan cuek, “Biasa, undangan rapat bagi para
anggota organisasi suami homoseksual.”
Aku tersenyum. Mei Hwa memang paling pintar
untuk menyindir orang dalam konteks lelucon konyol. Dengan
begitu, orang yang disindirnya tidak merasa ada pisau tajam
sedang dirajam ke jantungnya.
Aku tahu apa yang dimaksud oleh sindiran
istriku ini. Surat tersebut pastilah berisi undangan rapat
pengurus RT dan para aktivisnya. Mei Hwa adalah orang yang
paling keberatan dengan proposi kepengurusan RT ini. Ia sangat
menyayangkan, atau lebih pas-nya ‘mengecam’ menurut penilaianku
dari hasil pembicaraanku dengan Mei Hwa, terhadap penunjukan
para pengurus RT di kampungku. Wanita, katanya, paling-paling
dari tahun ke tahun cuma kebagian urusan konsumsi, dekorasi, dan
frustrasi.
Sekilas kubaca surat itu. Mataku berhenti
membaca pada bagian topik pertemuan: ‘Penggantian Ketua RT’. Aku
mengerutkan keningku mencoba mengingat-ingat sesuatu. Tidak
teringat olehku bahwa akan ada rencana penggantian ketua RT
hingga akhir tahun ini.
“Hmm, kudeta?”, aku menggumam.
Tiba-tiba terdengar suara yang familiar
memanggil namaku.
“Lho, Mas Pung nggak pergi ke rapat?”,
tanya Aan, hansip kampungku, dari luar.
Aku menoleh ke arahnya dan balik bertanya,
“Rapatnya hari ini?”
“Iya. Rasanya sudah mulai dari setengah jam
yang lalu”, jawab Aan.
Aku langsung merapikan bajuku dan berjalan
bersama Aan ke rumah si Trisno yang dijadikan tempat rapat.
Sesampainya disana, aku langsung disambut dengan senyuman dan
ledekan dari para tetanggaku gara-gara keterlambatanku ini.
Basa-basi ini kusambut dengan senyuman dan ledekan balik pula.
Aku kemudian mengambil tempat duduk di
sebelah Trisno. Seperti yang aku terka, Trisno langsung
meng-update-ku dengan semua informasi tentang hal-hal yang telah
dibicarakan dalam rapat sebelum aku hadir.
“Rapat ini atas inisiatif dari Pak Sitorus
dan si A Liong. Ceritanya, si A Liong beberapa waktu yang lalu
pernah minta surat keterangan RT untuk mengurus paspor dan visa
buat keluarganya. Nah, surat keterangan RT ini harus
ditandatangani dan di-stempel oleh Pak RT. Masalahnya si A Liong
butuh surat ini dalam waktu yang singkat, dan kebetulan Pak RT
saat itu sedang berada di luar negeri untuk berobat. Si A Liong
jadi kelabakan. Ia kemudian menyampaikan unek-uneknya ini kepada
Pak Sitorus. Di rapat ini pula beberapa orang juga akhirnya
mengangkat suara bahwa beberapa hal menjadi terhambat gara-gara
Pak RT yang sering sulit diketemui.”
Aku membenahkan posisi dudukku ketika
Trisno meminum air sirupnya. Selesai minum, ia meneruskan
ceritanya lagi, “Hari ini orang-orang sudah memutuskan untuk
mencari pejabat RT sementara sehingga tugas dan haknya sebagai
RT bisa langsung disetujui oleh kelurahan awal minggu depan.”
“Pak RT sekarang mana, dan siapa saja
calonnya?” tanyaku.
“Pak RT sedang di rumah istirahat. Beliau
sudah kasih lampu hijau mengenai hal ini. Masalah calon-calonnya,
ya masih sama saja kayak pemilihan RT terakhir, belum ada calon
yang bisa kompromi dengan semua pihak di kampung kita kayak Pak
RT dulu.”, jawab Trisno.
Tiba-tiba terdengar kemudian suara palu
diketukkan di meja. Seketika itu pula tempat rapat menjadi sunyi
dan semua mata memandang ke arah seorang pria setengah baya
berkulit hitam legam.
“Bapak-bapak semua, berhubung semua
undangan telah hadir, sekarang kita langsung saja ke pokok
masalah kita. Siapa yang paling layak untuk menjadi pejabat RT
sementara kampung kita?” katanya dengan suara yang berat.
Pertanyaan klasik di kampung kami ini
membikin semua yang hadir saling melirik satu dengan yang lain,
sepertinya ingin menjadi orang pertama yang tahu siapa yang
bakal mampu menjawab pertanyaan tersebut.
Sesaat kemudian seorang pria berkumis tipis
berdiri dan berkata, “Pak Sitorus, untuk menjawab hal itu
mestinya kita bisa memberikan kriteria utamanya sehingga
permasalahan dengan Pak RT kita saat ini tidak akan terulang
kembali.”
Pria hitam legam yang dipanggil Pak Sitorus
ini tersenyum kecil, hampir menyeringai, mendengar pendapat pria
berkumis tipis ini. Pak Sitorus pun langsung memberikan
reaksinya, “Pak Jajang, saya kira semua yang hadir sudah
mengerti inti permasalahannya, yakni ketidak mampuan Pak RT kita
saat ini untuk menyediakan waktu yang cukup bagi permasalahan
warga kampung kita. Jadi seyogyanya mereka yang bisa
mengalokasikan waktunya bagi urusan semua warga kita ini menjadi
calon pejabat RT sementara.”
Para hadirin lainnya tersenyum melihat
aksi-reaksi dari Pak Jajang dan Pak Sitorus ini. Keduanya sering
berada di posisi yang berhadapan dalam berbagai isyu, termasuk
dalam pemilihan RT yang terakhir, Terlihat seperti manuver
pertahanan dalam catur, Pak Jajang kemudian berseloroh, “Wah,
kalau begitu kita-kita semua para suami yang bekerja siang malam
harus di-diskualifikasi dong.”
Ucapan Pak Jajang ini secara tidak langsung
memberikan dilema kepada Pak Sitorus. Di satu pihak dirinya
ingin menjadi ketua RT, di lain pihak dirinya juga tidak mau
dicap sebagai suami yang tidak bekerja keras apabila dirinya
mengajukan diri sebagai Pak RT. Untuk menampik pandangan ini,
Pak Sitorus berkata, “Kita kan bisa mengatur jadwal kita dengan
lebih baik lagi. Apabila ada kemauan, pasti ada jalan. Kalau
bukan kita-kita, siapa lagi?”
“Bagaimana kalau Ibu Budi?” tiba-tiba
Trisno berkata.
Semua mata kini memandang dirinya.
Orang-orang menjadi tertegun. Mereka sepertinya menjadi teringat
kembali kepada figur istri dari almarhum Pak Budi, mantan Pak RT
kami beberapa tahun yang lalu.
“Kan Bu Budi sudah terbiasa tuh ngurusin
warga sewaktu Pak Budi masih ada. Lagian, dengan bisnis
menjahitnya di belakang rumahnya yang sudah lumayan lancar,
sebagian besar waktunya pasti ada di rumah” sambung Trisno
mencoba meyakinkan warga lainnya. Dan terlihat usahanya berhasil.
Akupun kemudian mengamini ide si Trisno,
“Bener kata Pak Trisno. Kan kita tadi cari orang yang punya
banyak waktu luang di rumah untuk mengurusi warga. Nah sekarang
Bu Budi ada, hampir 100% waktunya di rumah. Kalau nggak ketemu
paling jauh juga hanya mesti manggil Bu Budi di belakang
rumahnya.”
Tidak lama kemudian semua yang hadir setuju
dengan ide si Trisno.
Keesokan harinya dewi fortuna ternyata
masih menyertai kami semua. Bu Budi langsung menyatakan
kesediaannya untuk menjadi pejabat RT sementara. Mei Hwa istriku
menyambut berita ini dengan gembira. “Memang sudah saatnya”,
ujar Mei Hwa singkat tanpa mau menjelaskan perkataannya tersebut.
Dan tidak hanya sampai disitu saja.
Sore harinya si Aan kembali lagi ke rumahku
mengantar sepucuk surat. ‘Dari Bu RT”, katanya singkat seraya
menyerahkan surat itu.
Aku membacanya. Di dalamnya tertulis
keputusan Bu Budi selaku pejabat sementara RT kampungku untuk
membubarkan kepengurusan RT saat ini dan membekukan semua
aktivitas yang ada hingga kepengurusan yang baru dibentuk.
“Lho, saya kan bukan anggota pengurus RT?”
komentarku selesai membaca surat tersebut.
“Iya, tapi Mas Pung adalah seorang aktivis”,
jawab Aan.
“Maksudnya apa?”
“Maksudnya Bu RT me-non-aktifkan semua
aktivitas termasuk yang dibantu oleh para aktivis hingga
kepengurusan RT yang baru aktif dan semua aktivitas disetujui
untuk diaktifkan kembali.”
Aku tercengang mendengar jawaban si Aan.
“Memang di sekolah Hansip kamu diajarin
ngomong kayak gitu?” celetukku, “Memang edan.” |