Sekali Lagi, Merdeka Cuk!
Sore itu mood-ku sedang jelek. Bukan gara-gara masalah kantor
atau rumah tangga, tapi gara-gara kutemukan kotoran binatang
sedang mangkal di atas kap mobilku sepulang dari kantor. Yang
bikin jengkel, mobil ini barusan kucuci dan ku-wax minggu lalu.
Dan yang lebih menjengkelkan lagi, aku tidak tahu dari binatang
apa asal kotoran itu. Cukup sekian saja penjelasan asal-usul
mood jelekku ini.
Di tengah-tengah situasi ini, di saat aku mencoba memarkirkan
mobilku ke dalam garasi, datang si Doraemon. Bukan karakter
kartun Jepang yang tiba-tiba jadi hidup di kampungku, tapi
seorang remaja kurus bertampang wajah seperti orang Jepang. Nama
aslinya Chun-Chun. Doraemon adalah nama julukannya berhubung
orang-orang kampungku tidak tahu karakter cowok Jepang lainnya
lagi yang bisa dijadikan nama olok-olokan.
Si Chun-Chun berjalan ke arahku dengan senyum tersungging di
bibirnya. Aku membalas tersenyum ke arahnya. Terlihat tangan
kanannya bersembunyi di balik badannya.
“Nyembunyiin apaan kamu?” tanyaku singkat.
“Masih inget Ko Lung-Lung?” tanya si Chun-Chun balik.
“Masih dong. Ada apa dia?”
“Nih, ada surat dari Ko Lung-Lung buat Koko”, kata Chun-Chun
seraya menyerahkan sepucuk surat yang disembunyikannya tadi.
Aku benar-benar kaget menerima surat dari si Lung-Lung.
Hampir setahunan aku tidak mendengar kabar tentang dirinya
semenjak ia merantau ke Amerika. Cepat-cepat kuraih sepucuk
surat itu dari tangan si Chun-Chun dan kubuka. Isinya hanyalah
selembar kertas yang biasa dipakai di tempat fotokopi dan
coretan tulisan dengan tinta biru.
Aku mulai membacanya,
Halo Ko Pung, bagaimana kabarnya?
Sorry kalau baru sekarang bisa kasih kabar. Sekarang aku
ada di kota namanya Salt Lake City.
Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia langsung arti
namanya kota danau garam. Tapi selama beberapa bulan tinggal
disini masih belum ketemu danau yang bikin garam. Mungkin
sebulan dua bulan lagi bisa aku temukan kalau udah ada duit
cukup untuk keliling kota.
Sebelum datang kemari, aku terlebih dahulu nyasar ke Los
Angeles. Cukup susah hidup disana karena aku baru pertama kali
datang, nggak tahu mau kerja apaan, duit pas-pasan dan nggak
kenal sapa-sapa. Untung ketemu dengan beberapa anak Indonesia
dan kemudian diajak ikut aktif di gereja mereka. Yah, walaupun
di Jakarta aku bukan orang Kristen, tapi aku rasa nggak ada
salahnya untuk ikut berdoa kepada Tuhan bersama-sama dengan
mereka. Toh pada akhirnya Tuhan itu cuma satu.
Berhubung kondisiku yang serba pas-pasan , aku sempat
ditampung di salah satu umat gereja mereka. Tapi aku merasa
nggak enak untuk jadi parasit. Oleh karenanya setelah dapat
kerjaan di restaurant masakan Tionghoa di Chinatown, aku pindah
ke apartment dan tinggal barengan dengan tiga orang anak
Indonesia lainnya. Situasi mereka juga tidak terlalu lebih baik
dari diriku. Semuanya merantau ke Indonesia gara-gara peristiwa
Mei dan semuanya saat ini adalah pekerja gelap.
Di restaurant masakan Tionghoa ini aku kerja lumayan berat.
Tugas utamaku adalah tukang bersih-bersih meja setelah para
pengunjung makan. Gajinya kecil dan Cuma bisa berharap dari
kumpulan tip yang dibagikan setelah restaurant tutup. Tapi tip
juga dapetnya kecil karena yang dapet bagian paling gede adalah
para pelayan, bukan tukang bersih meja.
Aku satu-satunya orang Tionghoa yang jadi tukang bersih
meja. Sebenarnya aku bisa dijadikan pelayan berhubung aku juga
orang Tionghoa, tapi aku nggak bisa bahasa Mandarin.
Para pelayan sering ngeledekin aku ‘Ching Hua Ren’ atau
manusia pisang. Kata mereka, aku kulitnya kuning, tapi isinya
putih kayak orang bule yang nggak bisa ngomong Mandarin.
Biaya hidup di Los Angeles yang lumayan tinggi memaksaku
untuk mencari tempat lain dimana aku bisa kerja dan bisa
menabung lebih banyak. Dengan bantuan koneksi para pekerja
ilegal Indonesia lainnya di berbagai kota, aku pindah dari satu
kota ke kota lain hingga akhirnya aku sampai di Salt Lake City
ini. Orangnya ramah-ramah dan jumlah orang Asianya jauh lebih
sedikit dibandingkan dengan Los Angeles. Karenanya, aku bisa
segera menjadi pelayan salah satu restaurant Tionghoa disini dan
gajiku pun lebih besar.
Yah, begitu saja dulu ya Ko, cuma mau berbagi sedikit
keberuntungan hidupku semenjak merantau ke Amerika ini.
Tertanda,
Surya Tanuwidjaja
Aku kemudian melipat kembali surat itu. Dalam hatiku ada
sesuatu yang berkecamuk. Di satu pihak aku merasa bersyukur
kalau si Lung-Lung sudah bisa hidup yang lumayan baik di tanah
perantauan. Di pihak lain ada rasa frustrasi yang mendalam
melihat kenyataan seorang sarjana dari universitas yang elite di
Jakarta harus bekerja sebagai jongos di tanah perantauan.
“Bakalan lain acara tujuh-belasan tahun ini tanpa Ko
Lung-Lung”, kata Chun-Chun menghentikan lamunanku, “Biasanya dia
tuh jagoan bulu tangkis kampung kita melawan kampung-kampung
lain. Sepuluh tahun berturut-turut juara bertahan.”
“Masak kita nggak bisa menang tanpa si Lung Lung?” tanyaku.
“Menggantikan mantan calon pemain PON? Mana mungkin Ko?”
seloroh Chun-Chun menjawab pertanyaanku, “Sekarang orang yang
bener-bener serius main bulu tangkis cuma saya dan si Mokhtar.”
Sewaktu Lung-Lung masih ada di kampung kami, Chun-Chun dan
Mokhtar adalah pemain ganda putra tim bulu tangkis kampung kami.
Pasangan ini lumayan bagus mainnya walaupun masih belum
konsisten. Kalau sedang bagus, mainnya bagus sekali. Kalau
sedang jelek, mending jangan ditonton daripada emosi melihat
permainan ogah-ogahan dua orang yang masih bersifat
kekanak-kanakan.
Orang-orang banyak berteori mengenai inkonsistensi permainan
pasangan ganda kampung kami ini. Sebagian bilang mungkin karena
usia mereka yang masih remaja sehingga mental mereka masih labil.
Sebagian bilang mungkin karena mereka latihannya kurang. Dan
sebagian lagi bilang mungkin karena yang satu keturunan Tionghoa
dan yang satu blasteran Jawa-Arab.
“Kamu jangan salah Chun”, kataku kemudian, “Dulu si Lung-Lung
juga nggak jago kayak sekarang. Malah ada kejadian dulu waktu
dia smash, yang terbang bukan kok-nya, tapi raket dia sendiri.”
“Oh ya? Kok saya nggak pernah tahu?” tanya Chun-Chun.
“Ya, karena banyak orang sudah lupa mengenai hal itu”,
jawabku, “Orang-orang sekarang hanya ingat si Lung-Lung waktu
ngalahin semua jagoan dari kampung-kampung lain dan waktu dia
terpilih masuk seleksi PON.”
Si Chun-Chun mengangguk sambil mengerutkan bibirnya.
Aku kemudian meneruskan omonganku, “Dulu ada penduduk kampung
sini namanya Mbah Redjo. Orangnya hidup dalam empat jaman. Dia
pernah bilang kalau tiap jaman itu mesti ada tokohnya, mesti ada
jagoannya. Jagoan ini yang akan diingat orang. Siapa yang
bakalan jadi jagoannya, cuma Tuhan yang tahu. Tapi satu hal yang
pasti, yang hanya akan diingat orang hanyalah mereka yang
melakukan sesuatu, bukan mereka yang takut melakukan sesuatu.”
“Ini sekarang jamanmu, Chun, sebagai pemain bulu tangkis
untuk menjadi jagoan berikutnya. Negara kita memang sudah mereka,
tapi masih banyak aspek hidup kita yang masih terjajah. Salah
satunya ya kepercayaan kita kalo jagoan itu turun dari khayangan
dan bukan dari latihan dan kerja keras. Kamu mesti bisa
memerdekakan hal yang satu ini sendiri”
Chun-Chun tersenyum. Ia kemudian mengepalkan tangan kanannya
ke udara seraya berkata, “Merdeka Ko!”
Aku tertawa kecil melihat tingkah polah si Doraemon. Namun
tawaku terhenti ketika Chun-Chun bertanya, “Kap mobilnya kenapa
Ko?”
Seketika itu pula rasa jengkel-ku bangkit dari kubur, dan tak
terasa aku mengumpat, “Jancuk.” |