Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

Diasuh Oleh:
Ridwan Ongkowidagdo

Semua nama, tempat, tokoh, dan cerita adalah fiktif. Kesamaan yang terjadi hanyalah kebetulan belaka.

Serial:

1. Resah Mencari Pak RT

2. Dan Wariapun Berdemonstrasi

3. Nasi Goreng 'MY BABY'

4. Jalan Baru

5. Kalkulasi Teori Perjodohan

7. Sinar Rembulan Di Siang Hari

8. Pelajaran dari Mbah Redjo

9. Tragedi Suzuki Carry

10. Bingung Tentang Pahlawan

11. Sang Atheist dan Gajah

12. Konsultasi Hukum Pojok Kampung

13. Kasih Sayang 2000 Perak

14. Hari Nasional Bapak?

15. Doraemon Emosi

16. Lilin-Lilin Kecil

17. Piala Dunia Buat Jeng Sri

18. Dicari:  Pemimpin Gak Wajar

19. Amburadil

20. Pecatlah Daku, Kau Kudemo

21. Kembalikan Baliku

22. Cacat

 

 

Sekali Lagi, Merdeka Cuk!

Sore itu mood-ku sedang jelek. Bukan gara-gara masalah kantor atau rumah tangga, tapi gara-gara kutemukan kotoran binatang sedang mangkal di atas kap mobilku sepulang dari kantor. Yang bikin jengkel, mobil ini barusan kucuci dan ku-wax minggu lalu. Dan yang lebih menjengkelkan lagi, aku tidak tahu dari binatang apa asal kotoran itu. Cukup sekian saja penjelasan asal-usul mood jelekku ini.

Di tengah-tengah situasi ini, di saat aku mencoba memarkirkan mobilku ke dalam garasi, datang si Doraemon. Bukan karakter kartun Jepang yang tiba-tiba jadi hidup di kampungku, tapi seorang remaja kurus bertampang wajah seperti orang Jepang. Nama aslinya Chun-Chun. Doraemon adalah nama julukannya berhubung orang-orang kampungku tidak tahu karakter cowok Jepang lainnya lagi yang bisa dijadikan nama olok-olokan.

Si Chun-Chun berjalan ke arahku dengan senyum tersungging di bibirnya. Aku membalas tersenyum ke arahnya. Terlihat tangan kanannya bersembunyi di balik badannya.

“Nyembunyiin apaan kamu?” tanyaku singkat.

“Masih inget Ko Lung-Lung?” tanya si Chun-Chun balik.

“Masih dong. Ada apa dia?”

“Nih, ada surat dari Ko Lung-Lung buat Koko”, kata Chun-Chun seraya menyerahkan sepucuk surat yang disembunyikannya tadi.

Aku benar-benar kaget menerima surat dari si Lung-Lung. Hampir setahunan aku tidak mendengar kabar tentang dirinya semenjak ia merantau ke Amerika. Cepat-cepat kuraih sepucuk surat itu dari tangan si Chun-Chun dan kubuka. Isinya hanyalah selembar kertas yang biasa dipakai di tempat fotokopi dan coretan tulisan dengan tinta biru.

Aku mulai membacanya,

Halo Ko Pung, bagaimana kabarnya?

Sorry kalau baru sekarang bisa kasih kabar. Sekarang aku ada di kota namanya Salt Lake City.

Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia langsung arti namanya kota danau garam. Tapi selama beberapa bulan tinggal disini masih belum ketemu danau yang bikin garam. Mungkin sebulan dua bulan lagi bisa aku temukan kalau udah ada duit cukup untuk keliling kota.

Sebelum datang kemari, aku terlebih dahulu nyasar ke Los Angeles. Cukup susah hidup disana karena aku baru pertama kali datang, nggak tahu mau kerja apaan, duit pas-pasan dan nggak kenal sapa-sapa. Untung ketemu dengan beberapa anak Indonesia dan kemudian diajak ikut aktif di gereja mereka. Yah, walaupun di Jakarta aku bukan orang Kristen, tapi aku rasa nggak ada salahnya untuk ikut berdoa kepada Tuhan bersama-sama dengan mereka. Toh pada akhirnya Tuhan itu cuma satu.

Berhubung kondisiku yang serba pas-pasan , aku sempat ditampung di salah satu umat gereja mereka. Tapi aku merasa nggak enak untuk jadi parasit. Oleh karenanya setelah dapat kerjaan di restaurant masakan Tionghoa di Chinatown, aku pindah ke apartment dan tinggal barengan dengan tiga orang anak Indonesia lainnya. Situasi mereka juga tidak terlalu lebih baik dari diriku. Semuanya merantau ke Indonesia gara-gara peristiwa Mei dan semuanya saat ini adalah pekerja gelap.

Di restaurant masakan Tionghoa ini aku kerja lumayan berat. Tugas utamaku adalah tukang bersih-bersih meja setelah para pengunjung makan. Gajinya kecil dan Cuma bisa berharap dari kumpulan tip yang dibagikan setelah restaurant tutup. Tapi tip juga dapetnya kecil karena yang dapet bagian paling gede adalah para pelayan, bukan tukang bersih meja.

Aku satu-satunya orang Tionghoa yang jadi tukang bersih meja. Sebenarnya aku bisa dijadikan pelayan berhubung aku juga orang Tionghoa, tapi aku nggak bisa bahasa Mandarin.

Para pelayan sering ngeledekin aku ‘Ching Hua Ren’ atau manusia pisang. Kata mereka, aku kulitnya kuning, tapi isinya putih kayak orang bule yang nggak bisa ngomong Mandarin.

Biaya hidup di Los Angeles yang lumayan tinggi memaksaku untuk mencari tempat lain dimana aku bisa kerja dan bisa menabung lebih banyak. Dengan bantuan koneksi para pekerja ilegal Indonesia lainnya di berbagai kota, aku pindah dari satu kota ke kota lain hingga akhirnya aku sampai di Salt Lake City ini. Orangnya ramah-ramah dan jumlah orang Asianya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Los Angeles. Karenanya, aku bisa segera menjadi pelayan salah satu restaurant Tionghoa disini dan gajiku pun lebih besar.

Yah, begitu saja dulu ya Ko, cuma mau berbagi sedikit keberuntungan hidupku semenjak merantau ke Amerika ini.

Tertanda,

Surya Tanuwidjaja

Aku kemudian melipat kembali surat itu. Dalam hatiku ada sesuatu yang berkecamuk. Di satu pihak aku merasa bersyukur kalau si Lung-Lung sudah bisa hidup yang lumayan baik di tanah perantauan. Di pihak lain ada rasa frustrasi yang mendalam melihat kenyataan seorang sarjana dari universitas yang elite di Jakarta harus bekerja sebagai jongos di tanah perantauan.

“Bakalan lain acara tujuh-belasan tahun ini tanpa Ko Lung-Lung”, kata Chun-Chun menghentikan lamunanku, “Biasanya dia tuh jagoan bulu tangkis kampung kita melawan kampung-kampung lain. Sepuluh tahun berturut-turut juara bertahan.”

“Masak kita nggak bisa menang tanpa si Lung Lung?” tanyaku.

“Menggantikan mantan calon pemain PON? Mana mungkin Ko?” seloroh Chun-Chun menjawab pertanyaanku, “Sekarang orang yang bener-bener serius main bulu tangkis cuma saya dan si Mokhtar.”

Sewaktu Lung-Lung masih ada di kampung kami, Chun-Chun dan Mokhtar adalah pemain ganda putra tim bulu tangkis kampung kami. Pasangan ini lumayan bagus mainnya walaupun masih belum konsisten. Kalau sedang bagus, mainnya bagus sekali. Kalau sedang jelek, mending jangan ditonton daripada emosi melihat permainan ogah-ogahan dua orang yang masih bersifat kekanak-kanakan.

Orang-orang banyak berteori mengenai inkonsistensi permainan pasangan ganda kampung kami ini. Sebagian bilang mungkin karena usia mereka yang masih remaja sehingga mental mereka masih labil. Sebagian bilang mungkin karena mereka latihannya kurang. Dan sebagian lagi bilang mungkin karena yang satu keturunan Tionghoa dan yang satu blasteran Jawa-Arab.

“Kamu jangan salah Chun”, kataku kemudian, “Dulu si Lung-Lung juga nggak jago kayak sekarang. Malah ada kejadian dulu waktu dia smash, yang terbang bukan kok-nya, tapi raket dia sendiri.”

“Oh ya? Kok saya nggak pernah tahu?” tanya Chun-Chun.

“Ya, karena banyak orang sudah lupa mengenai hal itu”, jawabku, “Orang-orang sekarang hanya ingat si Lung-Lung waktu ngalahin semua jagoan dari kampung-kampung lain dan waktu dia terpilih masuk seleksi PON.”

Si Chun-Chun mengangguk sambil mengerutkan bibirnya.

Aku kemudian meneruskan omonganku, “Dulu ada penduduk kampung sini namanya Mbah Redjo. Orangnya hidup dalam empat jaman. Dia pernah bilang kalau tiap jaman itu mesti ada tokohnya, mesti ada jagoannya. Jagoan ini yang akan diingat orang. Siapa yang bakalan jadi jagoannya, cuma Tuhan yang tahu. Tapi satu hal yang pasti, yang hanya akan diingat orang hanyalah mereka yang melakukan sesuatu, bukan mereka yang takut melakukan sesuatu.”

“Ini sekarang jamanmu, Chun, sebagai pemain bulu tangkis untuk menjadi jagoan berikutnya. Negara kita memang sudah mereka, tapi masih banyak aspek hidup kita yang masih terjajah. Salah satunya ya kepercayaan kita kalo jagoan itu turun dari khayangan dan bukan dari latihan dan kerja keras. Kamu mesti bisa memerdekakan hal yang satu ini sendiri”

Chun-Chun tersenyum. Ia kemudian mengepalkan tangan kanannya ke udara seraya berkata, “Merdeka Ko!”

Aku tertawa kecil melihat tingkah polah si Doraemon. Namun tawaku terhenti ketika Chun-Chun bertanya, “Kap mobilnya kenapa Ko?”

Seketika itu pula rasa jengkel-ku bangkit dari kubur, dan tak terasa aku mengumpat, “Jancuk.”

0107_101C

 

     

 


FastCounter by bCentral