Kalkulasi Teori Perjodohan
Hari Minggu sore ini suasana di rumahku dan kampungku cukup
tenang. Tidak ada ribut-ribut entah masalah banci, pendeta sesat,
atau urusan rumah tangga tetangga. Aku sedang duduk-duduk di
teras rumahku bersama istriku. Aku sesekali melirik Mei Hwa
istriku ini dan tak dapat dihindarkan setiap kali aku melihatnya,
aku selalu ingat akan Oom Kam Lai, pamanku. Ia adalah seorang
yang cukup dekat dengan diriku secara pribadi karena, selain ia
adalah kakak ayahku, ia sering berkunjung ke rumah orang tuaku
semenjak aku masih kecil.
Oom Kam Lai dulunya adalah seorang pelaut. Dua puluh tahun
lamanya ia berlayar dari satu pelabuhan ke pleabuhan lainnya
seantero nusantara. Oleh karenanya ia dianggap oleh banyak orang
sebagai yang paling pintar, paling berpengalaman, dan paling
bijaksana. Maka tak mengherankan apabila wejangannya harus
selalu mendapatkan tempat dalam suatu pertemuan, dari acara
kumpul-kumpul keluarga sampai ke pemilihan RT di kampungnya.
Di bibir Oom Kam Lai selalu bertengger sebatang rokok Djarum
76. Perawakannya mirip dengan tokoh Brutus di film kartun
Popeye, berbadan besar dan berberewok lebat. Walaupun telah
berlayar ke manapun, ia tetap setia dengan istrinya, Tante Lily.
Gosip sering menyebar tentang pamanku ini bahwa dirinya punya
wanita simpanan di setiap pelabuhan yang disinggahinya. Atau
setidaknya, sebagai pendangan umum orang banyak, seorang pelaut
itu nggak ada yang monogami. Pelaut dan berkencan dengan banyak
wanita adalah dua hal yang saling melengkapi.
Dari semua gambaran pamanku ini, hanya ada satu hal yang
sangat kuingat dari dirnya, yakni wejangannya tentang wanita
mana yang paling cocok untuk menjadi istriku. Wejangan ini
diberikannya beberapa tahun sebelum aku bertemu dengan Mei Hwa.
“Gimana Pung, sudah ketemu si dia?” tanyanya sambil
menyerahkan segelas Fanta padaku. Hari itu adalah hari ulang
tahun ayahku. Ibuku mengadakan pesta ala kadarnya di rumah
mereka di Surabaya. Aku baru saja lulus kuliah tahun itu dan
memulai pekerjaan tetap pertamaku.
“Belum Oom,” jawabku sambil nyengir, “Wong saya masih mlarat.
Mana berani ngawini anak orang.”
“Lho, ketemu si dia sekarang kan belum tentu mesti kawin
sekarang juga”, kata Oom Kam Lai, “Masak udah dapet gelar
sarjana dan kerja masih nggak bisa dapet cewek? Temen-temen
kuliah kamu dulu gimana?”
“Ada sih dulu yang saya suka, anak Sidoarjo,” ujarku, “Tapi
setelah kenal lebih dekat kok malah terasa nggak cocoknya.”
Oom Kam Lai terkekeh dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Bagaikan seorang guru yang menyembunyikan jawaban soal-soal
ulangan dari muridnya, ia mengelus-elus jenggotnya sebelum
memberikan komentar singkatnya, “Ya jelas saja.”
Aku agak kebingungan mendengar komentar singkatnya itu. Aku
kemudian bertanya, “Apa maksudnya Oom?”
“Kamu kan orang Cina Surabaya, ya yang paling cocok buat kamu
mestinya cewek Cina Surabaya juga,” jawab Oom Kam Lai.
Aku mengerutkan keningku mendengar jawaban Oom-ku ini.
“Lho, Sidoarjo dan Surabaya kan deket sekali. Memangnya apa
bedanya antara cewek Surabaya dan cewek Sidoarjo?”
“Cewek Sidoarjo itu terlalu ndeso buat orang Surabaya. Kurang
modern, makanya komunikasi jadi sering nggak nyambung.”
“Kalau cewek Jakarta?”
“Wah, cewek-cewek Jakarta itu materialistis semua. Bisa
bangkrut kamu pacaran sama cewek Jakarta.”
“Cewek Cinanya juga gitu?”
“Apalagi cewek Cinanya.”
Aku kemudian jadi teringat dengan semua cewek teman kuliahku
dulu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dan
satu-satu dari mereka kutanyakan pada pamanku ini.
“Bagaimana cewek dari Bali?”
“Wah, kalau mereka besar di Bali itu biasanya udah niru orang
bule sikapnya. Samen Laven dan kumpul kebo udah biasa bagi
mereka. Bagaimana dengan nilai-nilai keluarga nantinya?”
“Kalau cewek Manado?”
“Hampir sama kayak cewek Bali, cuma yang ini juga suka judi
dan dansa sampai pagi.”
“Cewek Semarang?”
“Pelitnya setengah mati. Sandal jepit dari kecil sampai tua
bangka bakalan sama terus.”
“Lha kalau cewek Medan?”
Pria bertubuh besar dan berewokan ini menepuk-nepuk pundakku
sambil berkata, “Pung, apapun yang kamu dengar tentang Cina
Medan itu benar semua.”
“Jadi saya cocoknya ya cuma sama cewek Surabaya?”
“Lho, itu terserah kamu. Percaya apa nggak. Tapi pengalaman
Oom memang bilang gitu.”
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Mengingat persahabatanku
teman-teman kuliahku dulu, aku tidak setuju dengan generalisasi
pamanku ini terhadap orang dari kota tertentu. Seharusnya aku
tidak perlu memikirkan lagi hal yang tidak logis ini. Namun
entah kenapa otak bagian kiriku segera bekerja menganalisa
seberapa besar kemungkinan diriku bertemu dengan gadis idaman
yang berasal dari Surabaya.
Populasi kota Surabaya kurang lebih 3 juta orang. Populasi
keturunan Tionghoa sekitar 3-4% dari jumlah seluruh penduduk
Indonesia. Kebanyakan dari mereka tinggal di kota-kota besar,
sehingga persentase keturunan Tionghoa di kota-kota besar bisa
berlipat dua-tiga kali. Jadi sangat masuk akal kalau secara
kasar diperkirakan ada 300,000 keturunan Tionghoa tinggal di
Surabaya.
Dari jumlah tersebut pukul rata separuhnya adalah wanita dan
separuhnya adalah pria. Berdasarkan usia nenekku yang telah
mangkat beberapa waktu yang lalu, maka bisa diasumsikan bahwa
life-expectancy dari para wanita modern kini adalah 75 tahun.
Karena aku mencari pasangan hidup yang kurang-lebih seusia
dengan diriku, maka aku membagi life-expectancy tersebut menjadi
15 age-group dengan tiap-tiap group memiliki interval 5 tahun.
Jadi, dari 150,000 wanita Tionghoa Surabaya, kini hanya tinggal
10,000 cewek yang masuk ke dalam age-group-ku.
Semua cewek dalam age-group-ku ini tentunya tidak semuanya
masih single. Pengalaman di kampus semasa kuliah membuktikan
bahwa 4 dari 5 cewek sudah memiliki cowok, atau monyet
istilahnya para cewek modern. Hal ini menyebabkan hanya tinggal
2000 cewek single dalam age-group-ku.
Kemudian, kalau di dunia ini secara jujur hanya ada siang dan
malam, hitam dan putih, hidup dan mati, maka seseorang hanya
melihat lawan jenisnya sebagai cakep atau jelek. Walaupun
penilaian tiap orang berbeda, setiap cowok atau cewek yang
normal pasti mencari lawan jenis yang cakep. Maka 50% dari 2000
cewek ini harus dianulir.
Tidak semua dari 1000 cewek terakhir ini akan menilai hal
yang sama terhadap diriku. Sekali lagi menggunakan teori luguku
tersebut, maka jumlah cewek cakep yang menganggap diriku juga
cakep tinggal 500. Juga, walaupun tercatat sebagai penduduk
Surabaya, sebagian dari mereka mungkin sedang berada di luar
kota, entah karena karier, edukasi, ataupun alasan lainnya.
Jangan lupa juga kemungkinan tidak pernah ketemu di berbagai
acara yang aku hadiri, baik yang berhubungan dengan keluarga,
kuliah, maupun tempat kerja. Sepuluh persen dari angka 500
tersebut rasanya merupakan angka prediksi terakhir yang paling
logis mengenai kemungkinan diriku bertemu dengan cewek Tionghoa
idaman yang berasal dari Surabaya.
50 dari 230,000,000 penduduk Indonesia. 1 banding 4,600,000.
Sekilas teringat aku mengenai probabilitas orang Amerika
tersambar petir: 1 banding 1,666,666.67. Ini berarti kemungkinan
aku mendapatkan cewek Tionghoa idaman dari Surabaya jauh lebih
kecil daripada apabila aku pindah ke Amerika dan kesambar petir!
Aku tersenyum melihat Mei Hwa istriku. Ia sedang
membolak-balik majalah speertinya berusaha mencari sesuatu di
dalamnya. Mungkin karena merasa dilihat oleh diriku, ia kemudian
mendongakkan kepalanya dan menatapku balik sambil tersenyum.
Dalam teori perjodohan Oom Kam Lai, istriku ini bukanlah
pasangan idamanku. Ia lahir dan dibesarkan di Medan. Namun aku
lega karena ia kini adalah wanita idamanku.
|