Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

Diasuh Oleh:
Ridwan Ongkowidagdo

Semua nama, tempat, tokoh, dan cerita adalah fiktif. Kesamaan yang terjadi hanyalah kebetulan belaka.

Serial:

1. Resah Mencari Pak RT

2. Dan Wariapun Berdemonstrasi

3. Nasi Goreng 'MY BABY'

4. Jalan Baru

6. Sekali Lagi, Merdeka Cuk!

7. Sinar Rembulan Di Siang Hari

8. Pelajaran dari Mbah Redjo

9. Tragedi Suzuki Carry

10. Bingung Tentang Pahlawan

11. Sang Atheist dan Gajah

12. Konsultasi Hukum Pojok Kampung

13. Kasih Sayang 2000 Perak

14. Hari Nasional Bapak?

15. Doraemon Emosi

16. Lilin-Lilin Kecil

17. Piala Dunia Buat Jeng Sri

18. Dicari:  Pemimpin Gak Wajar

19. Amburadil

20. Pecatlah Daku, Kau Kudemo

21. Kembalikan Baliku

22. Cacat

 

 

Kalkulasi Teori Perjodohan

Hari Minggu sore ini suasana di rumahku dan kampungku cukup tenang. Tidak ada ribut-ribut entah masalah banci, pendeta sesat, atau urusan rumah tangga tetangga. Aku sedang duduk-duduk di teras rumahku bersama istriku. Aku sesekali melirik Mei Hwa istriku ini dan tak dapat dihindarkan setiap kali aku melihatnya, aku selalu ingat akan Oom Kam Lai, pamanku. Ia adalah seorang yang cukup dekat dengan diriku secara pribadi karena, selain ia adalah kakak ayahku, ia sering berkunjung ke rumah orang tuaku semenjak aku masih kecil.

Oom Kam Lai dulunya adalah seorang pelaut. Dua puluh tahun lamanya ia berlayar dari satu pelabuhan ke pleabuhan lainnya seantero nusantara. Oleh karenanya ia dianggap oleh banyak orang sebagai yang paling pintar, paling berpengalaman, dan paling bijaksana. Maka tak mengherankan apabila wejangannya harus selalu mendapatkan tempat dalam suatu pertemuan, dari acara kumpul-kumpul keluarga sampai ke pemilihan RT di kampungnya.

Di bibir Oom Kam Lai selalu bertengger sebatang rokok Djarum 76. Perawakannya mirip dengan tokoh Brutus di film kartun Popeye, berbadan besar dan berberewok lebat. Walaupun telah berlayar ke manapun, ia tetap setia dengan istrinya, Tante Lily. Gosip sering menyebar tentang pamanku ini bahwa dirinya punya wanita simpanan di setiap pelabuhan yang disinggahinya. Atau setidaknya, sebagai pendangan umum orang banyak, seorang pelaut itu nggak ada yang monogami. Pelaut dan berkencan dengan banyak wanita  adalah dua hal yang saling melengkapi.

Dari semua gambaran pamanku ini, hanya ada satu hal yang sangat kuingat dari dirnya, yakni wejangannya tentang wanita mana yang paling cocok untuk menjadi istriku. Wejangan ini diberikannya beberapa tahun sebelum aku bertemu dengan Mei Hwa.

“Gimana Pung, sudah ketemu si dia?” tanyanya sambil menyerahkan segelas Fanta padaku. Hari itu adalah hari ulang tahun ayahku. Ibuku mengadakan pesta ala kadarnya di rumah mereka di Surabaya. Aku baru saja lulus kuliah tahun itu dan memulai pekerjaan tetap pertamaku.

“Belum Oom,” jawabku sambil nyengir, “Wong saya masih mlarat. Mana berani ngawini anak orang.”

 “Lho, ketemu si dia sekarang kan belum tentu mesti kawin sekarang juga”, kata Oom Kam Lai, “Masak udah dapet gelar sarjana dan kerja masih nggak bisa dapet cewek? Temen-temen kuliah kamu dulu gimana?”

“Ada sih dulu yang saya suka, anak Sidoarjo,” ujarku, “Tapi setelah kenal lebih dekat kok malah terasa nggak cocoknya.”

Oom Kam Lai terkekeh dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Bagaikan seorang guru yang menyembunyikan jawaban soal-soal ulangan dari muridnya, ia mengelus-elus jenggotnya sebelum memberikan komentar singkatnya, “Ya jelas saja.”

Aku agak kebingungan mendengar komentar singkatnya itu. Aku kemudian bertanya, “Apa maksudnya Oom?”

“Kamu kan orang Cina Surabaya, ya yang paling cocok buat kamu mestinya cewek Cina Surabaya juga,” jawab Oom Kam Lai.

Aku mengerutkan keningku mendengar jawaban Oom-ku ini.

“Lho, Sidoarjo dan Surabaya kan deket sekali. Memangnya apa bedanya antara cewek Surabaya dan cewek Sidoarjo?”

“Cewek Sidoarjo itu terlalu ndeso buat orang Surabaya. Kurang modern, makanya komunikasi jadi sering nggak nyambung.”

“Kalau cewek Jakarta?”

“Wah, cewek-cewek Jakarta itu materialistis semua. Bisa bangkrut kamu pacaran sama cewek Jakarta.”

“Cewek Cinanya juga gitu?”

“Apalagi cewek Cinanya.”

Aku kemudian jadi teringat dengan semua cewek teman kuliahku dulu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dan satu-satu dari mereka kutanyakan pada pamanku ini.

“Bagaimana cewek dari Bali?”

“Wah, kalau mereka besar di Bali itu biasanya udah niru orang bule sikapnya. Samen Laven dan kumpul kebo udah biasa bagi mereka. Bagaimana dengan nilai-nilai keluarga nantinya?”

“Kalau cewek Manado?”

“Hampir sama kayak cewek Bali, cuma yang ini juga suka judi dan dansa sampai pagi.”

“Cewek Semarang?”

“Pelitnya setengah mati. Sandal jepit dari kecil sampai tua bangka bakalan sama terus.”

“Lha kalau cewek Medan?”

Pria bertubuh besar dan berewokan ini menepuk-nepuk pundakku sambil berkata, “Pung, apapun yang kamu dengar tentang Cina Medan itu benar semua.”

“Jadi saya cocoknya ya cuma sama cewek Surabaya?”

“Lho, itu terserah kamu. Percaya apa nggak. Tapi pengalaman Oom memang bilang gitu.”

Aku tersenyum mendengar jawabannya. Mengingat persahabatanku teman-teman kuliahku dulu, aku tidak setuju dengan generalisasi pamanku ini terhadap orang dari kota tertentu. Seharusnya aku tidak perlu memikirkan lagi hal yang tidak logis ini. Namun entah kenapa otak bagian kiriku segera bekerja menganalisa seberapa besar kemungkinan diriku bertemu dengan gadis idaman yang berasal dari Surabaya.

Populasi kota Surabaya kurang lebih 3 juta orang. Populasi keturunan Tionghoa sekitar 3-4% dari jumlah seluruh penduduk Indonesia. Kebanyakan dari mereka tinggal di kota-kota besar, sehingga persentase keturunan Tionghoa di kota-kota besar bisa berlipat dua-tiga kali. Jadi sangat masuk akal kalau secara kasar diperkirakan ada 300,000 keturunan Tionghoa tinggal di Surabaya.

Dari jumlah tersebut pukul rata separuhnya adalah wanita dan separuhnya adalah pria. Berdasarkan usia nenekku yang telah mangkat beberapa waktu yang lalu, maka bisa diasumsikan bahwa life-expectancy dari para wanita modern kini adalah 75 tahun. Karena aku mencari pasangan hidup yang kurang-lebih seusia dengan diriku, maka aku membagi life-expectancy tersebut menjadi 15 age-group dengan tiap-tiap group memiliki interval 5 tahun. Jadi, dari 150,000 wanita Tionghoa Surabaya, kini hanya tinggal 10,000 cewek yang masuk ke dalam age-group-ku.

Semua cewek dalam age-group-ku ini tentunya tidak semuanya masih single. Pengalaman di kampus semasa kuliah membuktikan bahwa 4 dari 5 cewek sudah memiliki cowok, atau monyet istilahnya para cewek modern. Hal ini menyebabkan hanya tinggal 2000 cewek single dalam age-group-ku.

Kemudian, kalau di dunia ini secara jujur hanya ada siang dan malam, hitam dan putih, hidup dan mati, maka seseorang hanya melihat lawan jenisnya sebagai cakep atau jelek. Walaupun penilaian tiap orang berbeda, setiap cowok atau cewek yang normal pasti mencari lawan jenis yang cakep. Maka 50% dari 2000 cewek ini harus dianulir.

Tidak semua dari 1000 cewek terakhir ini akan menilai hal yang sama terhadap diriku. Sekali lagi menggunakan teori luguku tersebut, maka jumlah cewek cakep yang menganggap diriku juga cakep tinggal 500. Juga, walaupun tercatat sebagai penduduk Surabaya, sebagian dari mereka mungkin sedang berada di luar kota, entah karena karier, edukasi, ataupun alasan lainnya. Jangan lupa juga kemungkinan tidak pernah ketemu di berbagai acara yang aku hadiri, baik yang berhubungan dengan keluarga, kuliah, maupun tempat kerja. Sepuluh persen dari angka 500 tersebut rasanya merupakan angka prediksi terakhir yang paling logis mengenai kemungkinan diriku bertemu dengan cewek Tionghoa idaman yang berasal dari Surabaya.

50 dari 230,000,000 penduduk Indonesia. 1 banding 4,600,000.

Sekilas teringat aku mengenai probabilitas orang Amerika tersambar petir: 1 banding 1,666,666.67. Ini berarti kemungkinan aku mendapatkan cewek Tionghoa idaman dari Surabaya jauh lebih kecil daripada apabila aku pindah ke Amerika dan kesambar petir!

Aku tersenyum melihat Mei Hwa istriku. Ia sedang membolak-balik majalah speertinya berusaha mencari sesuatu di dalamnya. Mungkin karena merasa dilihat oleh diriku, ia kemudian mendongakkan kepalanya dan menatapku balik sambil tersenyum. Dalam teori perjodohan Oom Kam Lai, istriku ini bukanlah pasangan idamanku. Ia lahir dan dibesarkan di Medan. Namun aku lega karena ia kini adalah wanita idamanku.

0107_101C

 

     

 


FastCounter by bCentral