Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

Diasuh Oleh:
Ridwan Ongkowidagdo

Semua nama, tempat, tokoh, dan cerita adalah fiktif. Kesamaan yang terjadi hanyalah kebetulan belaka.

Serial:

1. Resah Mencari Pak RT

2. Dan Wariapun Berdemonstrasi

3. Nasi Goreng 'MY BABY'

5. Kalkulasi Teori Perjodohan

6. Sekali Lagi, Merdeka Cuk!

7. Sinar Rembulan Di Siang Hari

8. Pelajaran dari Mbah Redjo

9. Tragedi Suzuki Carry

10. Bingung Tentang Pahlawan

11. Sang Atheist dan Gajah

12. Konsultasi Hukum Pojok Kampung

13. Kasih Sayang 2000 Perak

14. Hari Nasional Bapak?

15. Doraemon Emosi

16. Lilin-Lilin Kecil

17. Piala Dunia Buat Jeng Sri

18. Dicari:  Pemimpin Gak Wajar

19. Amburadil

20. Pecatlah Daku, Kau Kudemo

21. Kembalikan Baliku

22. Cacat

 

 

Jalan Baru

Sudah kuduga kalau kasus si A Liong yang blak-blakan mewartakan jalan kebenarannya secara ngawur bakal ada kepanjangannya. Kalau si Trisno yang emosian itu masuk dalam konfrontasi ini, tinggal tambah kamera, stadion, dan para penontonnya maka situasi pertarungan di film ‘Gladiator’ sudah bisa ditiru.

Namun yang terjadi bukan arena gebug-gebugan seperti yang kusangka. Sementara Pak Slamet dan warga kampungku lainnya sudah bisa tenang dan bisa cuekin kebebasan ngomong ngawurnya si A Liong, kadar emosi Trisno makin tinggi terhadap A Liong. Emosi ini nampak di wajahnya yang merah dengan pandangan mata banteng yang siap menyerang matador.

“Minum teh dulu, No”, kataku kepadanya. Trisno mencoba tersenyum kepadaku. Sore itu tak diduga ia langsung nongol di rumahku tanpa memberiku kesempatan untuk mengganti kemeja kerjaku. Mei Hwa istriku cukup pengertian untuk hal ini, walaupun terkadang kami secara konyol berargumentasi apakah aku lebih mencintai Trisno daripada mencintai Mei Hwa. Selesai meletakkan dua cangkir teh Sari Wangi kesukaanku, Mei Hwa meninggalkan kami berdua di ruang tamu.

Trisno langsung mengambil secangkir teh dan meminumnya. Aku kemudian bertanya kepadanya, “Si A Liong nggak bilang kamu bakalan masuk neraka kan?”

Trisno menggelengkan kepalanya. “Lebih parah dari itu Pung”, jawabnya.

 “Parah?” tanyaku, “Ngapain lagi dia sekarang?”

 “Aku nggak tahu”, jawab Trisno. Ia mengurap dahinya sebelum meneruskan perkataannya, “Entah apa yang A Liong lakukan tapi yang pasti adikkku kini jadi berubah gara-gara si kunyuk itu.”

 “Si Inah?”, aku bertanya memastikan pendengaranku. Si Trisno mengangguk. Dalam waktu sedetik aku sudah tahu apa kira-kira yang terjadi. Si Inah sekarang sudah pindah agama mengikuti jejak si  A Liong. Ketika aku mengkonfirmasikannya dengan Trisno, pria gembul ini menganggukkan kepalanya sekali lagi.

 “Sekarang ini aku wis kepingin sekali gebugin si A Liong”, kata Trisno, “Strategi ‘yo wis’ sampeyan nggak jalan. Sekarang gara-gara omongan ngawur si A Liong yang nggak terkontrol, si Inah jadi termakan dengan propaganda murahan tentang jalan kebenaran.”

Aku menyandarkan punggungku di kursi tamu yang kududuki. Aku mengerti emosi dari diri si Trisno. Si Inah selalu menjadi adik kesayangan Trisno. Ia selalu berusaha melindungi dan menjaga adik perempuannya yang berusaha 15 tahun itu, termasuk dalam kasus misionaris A Liong ini.

 “No, aku bukannya kepingin memihak A Liong. Kalau sore ini si A Liong muncul bawa teman-temannya mau berantem dengan kamu, aku bakalan ikut berantem dengan kamu ngelawan mereka”, kataku mencoba membawa situasi ke suasana yang rasional daripada emosional, “Tapi dari perkataanmu terakhir kamu nuduh dua orang. Pertama, kamu nuduh si A Liong yang menebarkan propaganda murahan pada si Inah. Kedua, kamu nuduh si Inah termakan propaganda murahan si A Liong. Apa kamu sudah ada bukti untuk dua-duanya?”

 “Mau bukti apa lagi Mas Pung?” timpal Trisno dengan nada yang meninggi, “Si A Liong mulutnya sudah kemana-mana, dan si Inah sudah ngomong kepada saya kalau dia sudah menemukan tempat ibadah baru yang dia percaya paling cocok dan paling benar buat dirinya.”

Aku tahu bahwa sekarang agak sulit untuk bisa bertukar pendapat secara rasional dengan Trisno. Karenanya, aku mencoba untuk mengarahkan pembicaraan kami ke tanya-jawab. Aku bertanya dengan pertanyaan yang sederhana, dan aku mengharapkan Trisno menjawabnya dengan sederhana pula.

 “Apa kamu sudah nanyakan tentang hal ini ke si Inah kalau dia memang pindah agama atas ajakan si A Liong?”

 “Belum.”

 “Apa kamu pernah melihat si Inah ngobrol dengan si A Liong?”

 “Nggak pernah.”

 “Apa si Inah pernah menyinggung tentang si A Liong atau jalan kebenarannya?”

“Nggak pernah.”

“Wah, kalau begitu nggak ada bukti yang konkrit dong kalau si A Liong yang menyebabkan semua ini.”

Trisno terdiam. Terlihat dia mencoba merasionalisasikan semua pertanyaanku dengan kenyataan yang ada. Aku bisa merasakan bagaimana emosi dan jalan pikiran Trisno sedang bergulat dengan seru di dalam tubuhnya.

Tiba-tiba dari belakang rumahku muncul sosok orang yang membikin mata kami terbelalak. Dengan memakai kaos DKNY dan celana jeans, si Inah berjalan didampingi oleh Mei Hwa. Ternyata, si Inah dan istriku telah berada di rumah sebelum aku pulang dari kantor. Juga, mereka telah mendengarkan percakapan kami semua dari belakang rumah. Kami berdua langsung berdiri.

“Mas Trisno”, kata Inah setelah berhadapan dengan Trisno, “Maaf kalau Inah sudah bikin mas kalang kabut. Tapi sebenarnya nggak ada satu hal pun yang perlu diributkan. Apapun yang terjadi, Inah masih tetep adiknya mas. Apapun yang terjadi mas masih tetep kakak Inah yang sering godain Inah dan yang sering ngasih Inah hadiah.”

Kekuatan kasih memang luar biasa. Dalam sekejap, mata Trisno yang penuh kebencian berubah menjadi pandangan mata yang lembut.

Inah kemudian meneruskan perkataannya, “Inah menemukan tempat ibadah baru bukan gara-gara Pak A Liong. Bahkan tempat ibadah dan ajaran baru yang Inah imani berbeda dangan punyanya Pak A Liong. Saat ini memang waktu yang kurang baik di kampung ini untuk mengangkat isyu semacam ini, tapi kenyataan bahwa hati Inah mendapatkan kedamaian di tempat ibadah yang baru nggak bisa Inah tutup-tutupi selamanya.”

Emosi melankolis beterbangan di ruangan tamu rumahku. Aku secara perlahan beranjak ke tempat berdiri istriku untuk memberikan tempat yang layak buat Trisno dan Inah. 

“Inah nggak bisa menipu iman Inah yang mendapatkan ketentraman dan kedamaian di tempat ibadah yang baru”, sambung gadis belia ini dengan nada suara yang sedikit bergetar, “Hanya restu dari mas-lah yang akan melengkapi kedamaian iman Inah dan hidup mas.”

Air mata terlihat siap mengucur dari mata Trisno. Namun perasaan harga dirinya sebagai laki-laki berusaha keras membendung air mata tersebut agar tidak jatuh.

Trisno kemudian mengambil tubuh si Inah dan memeluknya. Dalam pelukannya, terdengar suara sesenggukan tangis kecil si Inah. Tanpa mengeluarkan satu katapun, mereka berjalan perlahan keluar dari rumahku. Trisno sesaat menoleh ke arahku. Sepertinya ia berusaha untuk pamitan, namun suaranya tidak berkooperasi dengan otaknya. Aku menaggukkan kepala sambil tersenyum kecil menunjukkan pengertianku.

 Sambil melihat kakak-beradik itu berjalan pulang, aku memeluk istriku dan kukecup keningnya.

“Cepat mandi, sebelum keburu kemalaman. Nanti kena rematik lagi”, kata Mei Hwa.

Bukan reaksi yang aku ingin dengar, tapi memang rasional dan emosi ada tempat dan waktunya.

0107_101C

 

     

 


FastCounter by bCentral