Jalan Baru
Sudah kuduga kalau kasus si A Liong yang blak-blakan
mewartakan jalan kebenarannya secara ngawur bakal ada
kepanjangannya. Kalau si Trisno yang emosian itu masuk dalam
konfrontasi ini, tinggal tambah kamera, stadion, dan para
penontonnya maka situasi pertarungan di film ‘Gladiator’ sudah
bisa ditiru.
Namun yang terjadi bukan arena gebug-gebugan seperti yang
kusangka. Sementara Pak Slamet dan warga kampungku lainnya sudah
bisa tenang dan bisa cuekin kebebasan ngomong ngawurnya si A
Liong, kadar emosi Trisno makin tinggi terhadap A Liong. Emosi
ini nampak di wajahnya yang merah dengan pandangan mata banteng
yang siap menyerang matador.
“Minum teh dulu, No”, kataku kepadanya. Trisno mencoba
tersenyum kepadaku. Sore itu tak diduga ia langsung nongol di
rumahku tanpa memberiku kesempatan untuk mengganti kemeja
kerjaku. Mei Hwa istriku cukup pengertian untuk hal ini,
walaupun terkadang kami secara konyol berargumentasi apakah aku
lebih mencintai Trisno daripada mencintai Mei Hwa. Selesai
meletakkan dua cangkir teh Sari Wangi kesukaanku, Mei Hwa
meninggalkan kami berdua di ruang tamu.
Trisno langsung mengambil secangkir teh dan meminumnya. Aku
kemudian bertanya kepadanya, “Si A Liong nggak bilang kamu
bakalan masuk neraka kan?”
Trisno menggelengkan kepalanya. “Lebih parah dari itu Pung”,
jawabnya.
“Parah?” tanyaku, “Ngapain lagi dia sekarang?”
“Aku nggak tahu”, jawab Trisno. Ia mengurap dahinya sebelum
meneruskan perkataannya, “Entah apa yang A Liong lakukan tapi
yang pasti adikkku kini jadi berubah gara-gara si kunyuk itu.”
“Si Inah?”, aku bertanya memastikan pendengaranku. Si Trisno
mengangguk. Dalam waktu sedetik aku sudah tahu apa kira-kira
yang terjadi. Si Inah sekarang sudah pindah agama mengikuti
jejak si A Liong. Ketika aku mengkonfirmasikannya dengan Trisno,
pria gembul ini menganggukkan kepalanya sekali lagi.
“Sekarang ini aku wis kepingin sekali gebugin si A Liong”,
kata Trisno, “Strategi ‘yo wis’ sampeyan nggak jalan. Sekarang
gara-gara omongan ngawur si A Liong yang nggak terkontrol, si
Inah jadi termakan dengan propaganda murahan tentang jalan
kebenaran.”
Aku menyandarkan punggungku di kursi tamu yang kududuki. Aku
mengerti emosi dari diri si Trisno. Si Inah selalu menjadi adik
kesayangan Trisno. Ia selalu berusaha melindungi dan menjaga
adik perempuannya yang berusaha 15 tahun itu, termasuk dalam
kasus misionaris A Liong ini.
“No, aku bukannya kepingin memihak A Liong. Kalau sore ini
si A Liong muncul bawa teman-temannya mau berantem dengan kamu,
aku bakalan ikut berantem dengan kamu ngelawan mereka”, kataku
mencoba membawa situasi ke suasana yang rasional daripada
emosional, “Tapi dari perkataanmu terakhir kamu nuduh dua orang.
Pertama, kamu nuduh si A Liong yang menebarkan propaganda
murahan pada si Inah. Kedua, kamu nuduh si Inah termakan
propaganda murahan si A Liong. Apa kamu sudah ada bukti untuk
dua-duanya?”
“Mau bukti apa lagi Mas Pung?” timpal Trisno dengan nada
yang meninggi, “Si A Liong mulutnya sudah kemana-mana, dan si
Inah sudah ngomong kepada saya kalau dia sudah menemukan tempat
ibadah baru yang dia percaya paling cocok dan paling benar buat
dirinya.”
Aku tahu bahwa sekarang agak sulit untuk bisa bertukar
pendapat secara rasional dengan Trisno. Karenanya, aku mencoba
untuk mengarahkan pembicaraan kami ke tanya-jawab. Aku bertanya
dengan pertanyaan yang sederhana, dan aku mengharapkan Trisno
menjawabnya dengan sederhana pula.
“Apa kamu sudah nanyakan tentang hal ini ke si Inah kalau
dia memang pindah agama atas ajakan si A Liong?”
“Belum.”
“Apa kamu pernah melihat si Inah ngobrol dengan si A Liong?”
“Nggak pernah.”
“Apa si Inah pernah menyinggung tentang si A Liong atau
jalan kebenarannya?”
“Nggak pernah.”
“Wah, kalau begitu nggak ada bukti yang konkrit dong kalau si
A Liong yang menyebabkan semua ini.”
Trisno terdiam. Terlihat dia mencoba merasionalisasikan semua
pertanyaanku dengan kenyataan yang ada. Aku bisa merasakan
bagaimana emosi dan jalan pikiran Trisno sedang bergulat dengan
seru di dalam tubuhnya.
Tiba-tiba dari belakang rumahku muncul sosok orang yang
membikin mata kami terbelalak. Dengan memakai kaos DKNY dan
celana jeans, si Inah berjalan didampingi oleh Mei Hwa. Ternyata,
si Inah dan istriku telah berada di rumah sebelum aku pulang
dari kantor. Juga, mereka telah mendengarkan percakapan kami
semua dari belakang rumah. Kami berdua langsung berdiri.
“Mas Trisno”, kata Inah setelah berhadapan dengan Trisno,
“Maaf kalau Inah sudah bikin mas kalang kabut. Tapi sebenarnya
nggak ada satu hal pun yang perlu diributkan. Apapun yang
terjadi, Inah masih tetep adiknya mas. Apapun yang terjadi mas
masih tetep kakak Inah yang sering godain Inah dan yang sering
ngasih Inah hadiah.”
Kekuatan kasih memang luar biasa. Dalam sekejap, mata Trisno
yang penuh kebencian berubah menjadi pandangan mata yang lembut.
Inah kemudian meneruskan perkataannya, “Inah menemukan tempat
ibadah baru bukan gara-gara Pak A Liong. Bahkan tempat ibadah
dan ajaran baru yang Inah imani berbeda dangan punyanya Pak A
Liong. Saat ini memang waktu yang kurang baik di kampung ini
untuk mengangkat isyu semacam ini, tapi kenyataan bahwa hati
Inah mendapatkan kedamaian di tempat ibadah yang baru nggak bisa
Inah tutup-tutupi selamanya.”
Emosi melankolis beterbangan di ruangan tamu rumahku. Aku
secara perlahan beranjak ke tempat berdiri istriku untuk
memberikan tempat yang layak buat Trisno dan Inah.
“Inah nggak bisa menipu iman Inah yang mendapatkan
ketentraman dan kedamaian di tempat ibadah yang baru”, sambung
gadis belia ini dengan nada suara yang sedikit bergetar, “Hanya
restu dari mas-lah yang akan melengkapi kedamaian iman Inah dan
hidup mas.”
Air mata terlihat siap mengucur dari mata Trisno. Namun
perasaan harga dirinya sebagai laki-laki berusaha keras
membendung air mata tersebut agar tidak jatuh.
Trisno kemudian mengambil tubuh si Inah dan memeluknya. Dalam
pelukannya, terdengar suara sesenggukan tangis kecil si Inah.
Tanpa mengeluarkan satu katapun, mereka berjalan perlahan keluar
dari rumahku. Trisno sesaat menoleh ke arahku. Sepertinya ia
berusaha untuk pamitan, namun suaranya tidak berkooperasi dengan
otaknya. Aku menaggukkan kepala sambil tersenyum kecil
menunjukkan pengertianku.
Sambil melihat kakak-beradik itu berjalan pulang, aku
memeluk istriku dan kukecup keningnya.
“Cepat mandi, sebelum keburu kemalaman. Nanti kena rematik
lagi”, kata Mei Hwa.
Bukan reaksi yang aku ingin dengar, tapi memang rasional dan
emosi ada tempat dan waktunya. |