Ronggowarsito dan Bom
Jakarta
Sepanjang jalan pulang dari
kantorku, telah kudengar dan kulihat berbagai macam reaksi
orang-orang akan ledakan bom di hotel Marriott beberapa jam yang
lalu. Ada yang berkomentar ‘biadab!’, ada juga yang hanya
mengelus-elus dadanya sambil menggelengkan kepala. Namun, dari
semua reaksi itu, ada satu perkataan seseorang yang terus
terngiang-ngiang di telingaku, “Ini jaman edan!”
Almarhum Mbah Redjo pernah
beberapa kali bercerita tentang jaman edan. Tiap kali ia selalu
menyebutkan nama Ronggowarsito. Karenanyalah suatu hari
kusempatkan membeli buku tipis yang memuat puisi terkenal
pujangga Jawa itu yang menyinggung tentang jaman edan.
“Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi …”
Hidup dalam jaman edan menyebabkan
serba repot dalam bertindak. Itulah cuplikan pertama dari
tulisan Ronggowarsito yang kubaca. Langsung pikiranku melanglang
buana menghubungkan tulisan ini dengan bom Jakarta.
Tidak
perlu pemikiran yang susah-susah untuk melihat repotnya tindakan
orang-orang Indonesia sekarang menghadapi situasi seringnya
terjadi ledakan bom. Polisi, detektif, dan badan intelijen kini
diperas tenaga dan pikirannya untuk mencegah agar tindakan
biadab ini tidak terjadi lagi … agar tidak kecolongan lagi.
Bagi
masyarakat, terutama mereka yang bekerja di daerah-daerah yang
rawan ancaman bom, kini kerepotan juga. Sementara hidup telah
cukup susah untuk mencari nafkah, mereka ke tempat kerjapun bak
layaknya seorang tentara: hari itu bisa menjadi hari terakhir
mereka.
Pemerintah dan pengusaha kerepotan juga membawa masuk dan
menjaga investasi di Indonesia. Belum juga ekonomi bisa balik
secara normal sepenuhnya, kini beberapa pabrik yang
mempekerjakan ribuan buruh tutup karena ditinggalkan oleh para
investornya. Alhasil, semakin banyak pengangguran, ekonomi
semakin melemah, dan tingkat keamanan semakin menurun.
“Melu edan ora tahan, yen tan melu anglakoni, boya kaduman melik
kaliren wekasanipun…” Ikut
gila tidak tahan, namun jika tidak ikut berbuat gila, tidak
memperoleh bagian sehingga menjadi kelaparan.
Kalau
tindakan para teroris itu dibilang gila (padahal klasifikasinya
jauh lebih parah dari ‘gila’), siapa sih orang yang bisa tahan
dengan tindakan mereka? Namun, tindakan gila bin biadab ini bisa
dijadikan tunggangan untuk mencapai tujuan-tujuan politik
beberapa pihak. Sehingga, tragedi yang benar-benar hitam bisa
menjadi abu-abu, atau bahkan putih, di mata pengikutnya. Inilah
tindakan yang lebih edan.
Era
demokrasi dan keterbukaan memberikan jaminan bagi tiap orang
untuk berkumpul dan menyuarakan aspirasi politiknya. Sayangnya,
masyarakat masih dalam tahap taman kanak-kanak untuk menanggapi
suara-suara politis tadi. Masyarakat masih secara lugu
beranggapan bahwa suara yang paling keras adalah pendapat yang
paling benar.
Keluguan masyarakat inilah yang kemudian dimanipulasi sehingga
seakan-akan menjadi suara masyarakat. Padahal, suara masyarakat
haruslah berasal dari hati nurani, dan hati nurani berasal dari
Allah. Ini adalah konsep ‘vox populi, vox dei’. Tidak ada tempat
untuk melegitimasi tindakan yang melukai, atau bahkan membunuh,
sesama manusia dalam konsep ini.
Tindakan memanipulasi pandangan masyarakat kiranya telah
menjadi santapan sehari-hari kita. Nggak usah jauh-jauh ke
masalah bom, masalah korupsipun secara tidak sadar sudah menjadi
bagian dari sikap hidup kita. Mau ngurus SIM yang praktis, ya
mesti bayar duit ‘praktis’. Mau diterima masuk sekolah elite, ya
mesti bayar duit ‘elite’. Mau laporan pajak perusahaan aman dan
bersih, ya mesti bayar duit ‘aman dan bersih’.
Mungkin kalau kita ‘jalan lurus’ kita nggak mesti sampai
kelaparan kayak tulisannya Ronggowarsito, tapi apa iya kita
bener-bener mau hidup tanpa ‘praktis’, ‘elite’, ‘aman’ dan
‘bersih’?
Diakui
atau tidak, cara berpikir seperti ini sudah menjadi kebudayaan
kita, orang Indonesia. Kebudayaan cari jalan pintas.
Kebudayaan inilah yang dipakai dan dimanipulasi oleh beberapa
pihak untuk memperoleh dukungan bagi aktivitas biadabnya.
Pihak-pihak ini menawarkan ‘jalan pintas’ untuk memecahkan
masalah kemiskinan, pengangguran, tuna susila, dan
masalah-masalah sosial-religius lainnya. Di tengah-tengah
banyaknya orang yang nganggur dan lapar di Indonesia, ‘jalan
pintas’ ini tentu sangat menarik untuk lebih banyak didengarkan.
Aku
termenung sejenak. Kuambil nafas dalam sambil kupejamkan mataku.
Di pikiranku berkecamuk berbagai pertanyaan: ‘Masih lebih
banyakkah bangsaku yang sadar bahwa pemecahan masalah sosial
tidak bisa lewat jalan pintas?’, ‘Apakah masih ada kesempatan
bagi bangsaku untuk berdiri tegas mengambil langkah pertama,
seberat apapun, untuk memulai memecahan masalah besar ini?’
‘Siapa yang akan memulainya?’, ‘Bagaimana …?’, ‘Kapan…?’
Disaat
pertanyaan-pertanyaan ini berkecamuk dalam pikiranku, aku
kemudian membaca kalimat berikut dari tulisan Ronggowarsito:
“Ndilallah karsa Allah, sakbeja-bejane kang lali, luwih beja
kang eling lan waspada …”
Namun dari kehendak Allah, seuntung-untungnya orang yang lupa
diri, masih lebih bahagia orang yang ingat dan waspada.
Aku
berdoa semoga semua orang masih berkesempatan membaca kalimat
terakhir ini. Amin. (RO/IM) |