Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

Diasuh Oleh:
Ridwan Ongkowidagdo

Semua nama, tempat, tokoh, dan cerita adalah fiktif. Kesamaan yang terjadi hanyalah kebetulan belaka.

Serial:

1. Resah Mencari Pak RT

2. Dan Wariapun Berdemonstrasi

4. Jalan Baru

5. Kalkulasi Teori Perjodohan

6. Sekali Lagi, Merdeka Cuk!

7. Sinar Rembulan Di Siang Hari

8. Pelajaran dari Mbah Redjo

9. Tragedi Suzuki Carry

10. Bingung Tentang Pahlawan

11. Sang Atheist dan Gajah

12. Konsultasi Hukum Pojok Kampung

13. Kasih Sayang 2000 Perak

14. Hari Nasional Bapak?

15. Doraemon Emosi

16. Lilin-Lilin Kecil

17. Piala Dunia Buat Jeng Sri

18. Dicari:  Pemimpin Gak Wajar

19. Amburadil

20. Pecatlah Daku, Kau Kudemo

21. Kembalikan Baliku

22. Cacat

 

 

Nasi Goreng ‘MY BABY’

Terkadang manusia tidak bisa menilai apakah satu peristiwa itu musibah atau berkah. Seperti kejadian minggu lalu di kampungku ketika para waria berdemonstrasi di depan rumah Pak RT. Musibah sudah terang-terangan terjadi ketika si Aan, petugas keamanan kampung kami, pingsan disambar sepasang bakiak. Namun sebagian besar dari kami melihatnya sebagai berkah karena gara-gara si Aan pingsan, emosi orang-orang menjadi reda dan massa bisa dibubarkan tanpa keributan. Bahkan banyak di antara massa yang mesem-mesem ketika meninggalkan tempat kejadian.

“Saya masih belum bisa nerima Mas Pung”, ujar Aan dari tempat tidur di rumahnya saat aku datang membesuk. “Masak saya yang sudah berusaha untuk mencegah keributan malah menjadi bahan tertawaan sekarang.” Wajahnya menampakkan betapa kesalnya dia menjadi bahan tertawaan orang-orang di kampung kami. Aku menjadi iba melihatnya, namun ingatan akan peristiwa bakiak nyasar tersebut selalu menggelitikku untuk tertawa.

 “Mana nih pahlawan bakiak kita?” suara Trisno terdengar memasuki rumah si Aan. Sesaat kemudian terlihat wajah Trisno dengan senyumnya yang lebar menunjukkan beberapa bungkusan dalam dua kantong plastik.

“Sudah An, jangan sedih”, ujar Trisno sambil membagi-bagikan bungkusan yang dibawanya kepada kami, “Ayo kita makan nasi gorengnya Pak Slamet saja. Dijamin pasti bisa menghilangkan hal-hal yang nggak enak.”

Kami langsung membuka bungkusan yang kami terima. Kepulan asap hangat dan aroma sedap nasi goreng Pak Slamet langsung memenuhi ruangan dimana kami berada.

“Wuek.. yak!!” Trisno memuntahkan suapan pertama nasi gorengnya yang membuat aku dan Aan kaget. “Jangan dimakan”, ujar Trisno, “Ini bukan nasi goreng namanya. Ini garam goreng dikasih nasi!”

Aku mencicipinya sedikit nasi goreng punyaku, dan memang benar kata Trisno. Nasi goreng yang kami dapat luar biasa asinnya. Sangat tidak normal buat Pak Slamet untuk menggoreng makanan ‘sederhana’ ini dengan salah. “Ayo No, kita ke warungnya Pak Slamet sekarang!”

Trisno langsung mengiyakan ajakanku. Dan dalam waktu kurang dari lima menit, kami berdua sudah berhadapan dengan Pak Slamet.

Dari ekspresi muka Pak Slamet, aku langsung tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya. Kami yang semula ingin mengadukan nasi goreng-nya yang kualitasnya parah menjadi khawatir akan kondisi Pak Slamet. Aku langsung bertanya kepada Pak Slamet apa gerangan yang terjadi sehingga dirinya terlihat kalut.

Pak Slamet mendesah. Lelaki berusia sekitar 55-tahunan ini melepas kopiahnya dan menghempaskan diri pada salah satu bangku di warungnya. Dengan matanya yang sayu ia melihat kami berdua seakan-akan bertanya apakah ia perlu menjawab pertanyaanku.

Pak Slamet kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengibas-kibaskan kopiahnya sambil mulai berbicara, “Saya ini bakal masuk neraka.”

Aku dan Trisno langsung saling memandang kebingungan. Sebelum Pak Slamet meneruskan ucapannya, Trisno menyeletuk, “Kalau nasi gorengnya Pak Slamet asin terus kayak gini ya Pak Slamet pasti masuk neraka.” Sebelum Trisno berceloteh yang macam-macam lagi, aku langsung menginjak kakinya.

Pak Slamet terkekeh mendengar ucapan ngawur si Trisno. Ia kemudian mengambil sebungkus rokok Gudang Garam yang telah kempos dari kantongnya. Ia mengambil sebatang rokok, menyulutnya, dan kemudian melanjutkan omongannya, “Kemarin si A Liong mampir ke warung saya. Saya kira dia hanya datang untuk pesan makanan seperti pembeli lainnya. Ternyata dia datang bukan cuma untuk pesan makanan, tapi juga untuk ngasih bukti kalau saya ini bakalan masuk ke neraka.”

Mendengar nama A Liong aku langsung membayangkan seorang pria bertubuh kecil, berusia sekitar 35 tahunan yang menjadi penghuni baru kampung kami. Ia tinggal di rumah berwarna merah muda bekas tempat anak kost. Ia datang bersama istri dan dua anaknya untuk menempati rumah yang sempat menjadi skandal di kampung kami beberapa waktu yang lalu.

“Bukti apaan Pak Slamet?” tanyaku singkat.

Pak Slamet menghembuskan rokoknya. Ia kemudian bercerita, “Begini, A Liong kemarin datang bukan saja bawa uang recehan untuk membayar makanan pesanannya, tapi juga membawa Alkitab. Kebetulan sore itu cuma A Liong yang antri di warung saya. Ia kemudian menanyakan saya apakah saya bahagia dengan hidup ini. Dengan jujur saya jawab kalau saya ini nerimo apa yang Gusti Allah berikan pada hidup saya. Saya ini nggak neko-neko.  A Liong kemudian nanya kepada saya apakah pernah saya dan keluarga saya menerima bencana. Saya jawab kalau ada macam-macam bencana yang pernah dialami oleh saya, wong saya sudah makan umur. Terus saya ceritakan mengenai bagaimana kakak saya meninggal gara-gara kecelakaan, ayah saya mati muda gara-gara TBC, istri saya keguguran bayi, dan bagaimana saya kehilangan harta benda saya di desa gara-gara mencoba bisnis di kota. Itu semua saya bilang sebagai bencana.”

Pak Slamet membenahkan posisi duduknya sebelum meneruskan ceritanya, “A Liong kemudian berkata kalau semua bencana itu merupakan kebaikan Tuhan memperingatkan saya untuk kembali ke jalan yang benar. Ia mengutip cerita jaman Nabi Musa dimana Tuhan mengutuk Paraoh dan bangsa Mesir gara-gara tidak mau menuruti perintah Tuhan dengan mengirimkan berbagai bencana. Kata A Liong saya harusnya bersyukur sekarang kalau Tuhan masih memberi kesempatan bagi saya untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Katanya kalau saya masih sombong tidak mau kembali ke jalan yang benar, Tuhan akan mengirimkan peringatan lagi atau saya akan masuk ke neraka.”

Terlihat tangan Pak Slamet sedikit gemetar ketika menempatkan rokoknya di bibirnya.

Aku tahu apa yang dimaksud A Liong sebagai jalan yang benar. Sebelum Trisno menanyakan apa maksudnya, aku mengkonfirmasikan pengertianku ini kepada Pak Slamet, “Jalan yang benar maksudnya harus pergi ke gereja?”

Pak Slamet mengangguk.

Wajah Trisno berubah menjadi merah. Emosinya terlihat sudah mencapai ubun-ubunnya saat dia berkata, “Mana si A Liong. Sini, biar tak gebugin orang yang nggak tahu diri itu!”

“Sabar, sabar”, kataku mencoba menenangkan Trisno dan mendamaikan situasi. Trisno menatap mataku ketika aku memegang tangannya. Perlahan kepalan tangannya menjadi melunak. Saat matanya berkedip, seketika itu pula aku tahu bahwa Trisno sudah mampu mengendalikan dirinya.

Setelah melepaskan tangan Trisno, aku mengambil bangku yang terdekat denganku. Aku duduk berhadapan dengan Pak Slamet dan mencoba untuk tersenyum.

“Pak Slamet”, kataku, “Sampeyan ini bukan Paraoh. Paraoh mana yang bisa bikin nasi goreng paling enak se-Jakarta? Bener nggak?” Senyum kecil terlihat tersungging di bibir Pak Slamet dan Trisno.

“Tuhan yang saya tahu itu menghukum Paraoh dan orang Mesir gara-gara mereka memperbudak bangsa Yahudi, bukan karena orang Mesir beragama lain. Tuhan yang saya tahu juga ingin umat-Nya bahagia seperti bangsa Yahudi yang dibebaskan dari Mesir. Lha masak Pak Slamet yang sudah bikin bahagia orang lain dari agama apapun dengan sajian nasi gorengnya yang sedap Tuhan tega menghukum? Dan satu lagi, Tuhan yang saya tahu itu otaknya nggak sedangkal si A Liong.”

Terlihat Pak Slamet dan Trisno tersenyum sambil manggut-manggut mengiyakan perkataanku.

“Jadi enaknya diapain si A Liong, Pung?” tanya si Trisno.

“Ya biarkan sajalah. Ini kan negara bebas. Dia yang punya mulut ya dia berhak ngomong. Dan kita yang punya telinga ya berhak untuk cuekin omongannya dia. Yang penting kita semua sadar kalau yang namanya Tuhan itu otaknya nggak sedangkal orang-orang yang propaganda agama, baik itu Islam, Kristen, Hindu atau Buddha”, jawabku, “Jangan lupa, kita selalu punya senjata untuk menghadapi para provokator ini. Bilang saja ‘Yo Wis’.”

“Saya setuju, Mas Pung”, sahut Pak Trisno.

“Akur!” sambung Trisno, “Nah kalau gitu mulai besok Pak Slamet pasang spanduk di depan warung ‘Nasi Goreng Pak Slamet – Nasi Goreng MY BABY’.”

“’MY BABY’ apaan No?” tanyaku.

“Ya maksudnya nasi gorengnya Pak Slamet itu untuk para pengikutnya Muhammad, Yesus, Brahma, atau Buddha”, jawab Trisno.

“Lha terus ‘Y’-nya?”

“Yo wis!”

0107_101C

 

     

 


FastCounter by bCentral