Nasi Goreng ‘MY BABY’
Terkadang manusia tidak bisa menilai apakah satu peristiwa
itu musibah atau berkah. Seperti kejadian minggu lalu di
kampungku ketika para waria berdemonstrasi di depan rumah Pak
RT. Musibah sudah terang-terangan terjadi ketika si Aan, petugas
keamanan kampung kami, pingsan disambar sepasang bakiak. Namun
sebagian besar dari kami melihatnya sebagai berkah karena
gara-gara si Aan pingsan, emosi orang-orang menjadi reda dan
massa bisa dibubarkan tanpa keributan. Bahkan banyak di antara
massa yang mesem-mesem ketika meninggalkan tempat kejadian.
“Saya masih belum bisa nerima Mas Pung”, ujar Aan dari
tempat tidur di rumahnya saat aku datang membesuk. “Masak saya
yang sudah berusaha untuk mencegah keributan malah menjadi bahan
tertawaan sekarang.” Wajahnya menampakkan betapa kesalnya dia
menjadi bahan tertawaan orang-orang di kampung kami. Aku menjadi
iba melihatnya, namun ingatan akan peristiwa bakiak nyasar
tersebut selalu menggelitikku untuk tertawa.
“Mana nih
pahlawan bakiak kita?” suara Trisno terdengar memasuki rumah
si Aan. Sesaat kemudian terlihat wajah Trisno dengan senyumnya
yang lebar menunjukkan beberapa bungkusan dalam dua kantong
plastik.
“Sudah An, jangan sedih”, ujar Trisno sambil
membagi-bagikan bungkusan yang dibawanya kepada kami, “Ayo
kita makan nasi gorengnya Pak Slamet saja. Dijamin pasti bisa
menghilangkan hal-hal yang nggak enak.”
Kami langsung membuka bungkusan yang kami terima. Kepulan
asap hangat dan aroma sedap nasi goreng Pak Slamet langsung
memenuhi ruangan dimana kami berada.
“Wuek.. yak!!” Trisno memuntahkan suapan pertama nasi
gorengnya yang membuat aku dan Aan kaget. “Jangan dimakan”,
ujar Trisno, “Ini bukan nasi goreng namanya. Ini garam goreng
dikasih nasi!”
Aku mencicipinya sedikit nasi goreng punyaku, dan memang
benar kata Trisno. Nasi goreng yang kami dapat luar biasa
asinnya. Sangat tidak normal buat Pak Slamet untuk menggoreng
makanan ‘sederhana’ ini dengan salah. “Ayo No, kita ke
warungnya Pak Slamet sekarang!”
Trisno langsung mengiyakan ajakanku. Dan dalam waktu kurang
dari lima menit, kami berdua sudah berhadapan dengan Pak Slamet.
Dari ekspresi muka Pak Slamet, aku langsung tahu bahwa ada
sesuatu yang tidak beres yang sedang berkecamuk di dalam
pikirannya. Kami yang semula ingin mengadukan nasi goreng-nya
yang kualitasnya parah menjadi khawatir akan kondisi Pak Slamet.
Aku langsung bertanya kepada Pak Slamet apa gerangan yang
terjadi sehingga dirinya terlihat kalut.
Pak Slamet mendesah. Lelaki berusia sekitar 55-tahunan ini
melepas kopiahnya dan menghempaskan diri pada salah satu bangku
di warungnya. Dengan matanya yang sayu ia melihat kami berdua
seakan-akan bertanya apakah ia perlu menjawab pertanyaanku.
Pak Slamet kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia
mengibas-kibaskan kopiahnya sambil mulai berbicara, “Saya ini
bakal masuk neraka.”
Aku dan Trisno langsung saling memandang kebingungan. Sebelum
Pak Slamet meneruskan ucapannya, Trisno menyeletuk, “Kalau
nasi gorengnya Pak Slamet asin terus kayak gini ya Pak Slamet
pasti masuk neraka.” Sebelum Trisno berceloteh yang
macam-macam lagi, aku langsung menginjak kakinya.
Pak Slamet terkekeh mendengar ucapan ngawur si Trisno. Ia
kemudian mengambil sebungkus rokok Gudang Garam yang telah
kempos dari kantongnya. Ia mengambil sebatang rokok,
menyulutnya, dan kemudian melanjutkan omongannya, “Kemarin si
A Liong mampir ke warung saya. Saya kira dia hanya datang untuk
pesan makanan seperti pembeli lainnya. Ternyata dia datang bukan
cuma untuk pesan makanan, tapi juga untuk ngasih bukti kalau
saya ini bakalan masuk ke neraka.”
Mendengar nama A Liong aku langsung membayangkan seorang pria
bertubuh kecil, berusia sekitar 35 tahunan yang menjadi penghuni
baru kampung kami. Ia tinggal di rumah berwarna merah muda bekas
tempat anak kost. Ia datang bersama istri dan dua anaknya untuk
menempati rumah yang sempat menjadi skandal di kampung kami
beberapa waktu yang lalu.
“Bukti apaan Pak Slamet?” tanyaku singkat.
Pak Slamet menghembuskan rokoknya. Ia kemudian bercerita,
“Begini, A Liong kemarin datang bukan saja bawa uang recehan
untuk membayar makanan pesanannya, tapi juga membawa Alkitab.
Kebetulan sore itu cuma A Liong yang antri di warung saya. Ia
kemudian menanyakan saya apakah saya bahagia dengan hidup ini.
Dengan jujur saya jawab kalau saya ini nerimo apa yang Gusti
Allah berikan pada hidup saya. Saya ini nggak neko-neko.
A Liong kemudian nanya kepada saya apakah pernah saya dan
keluarga saya menerima bencana. Saya jawab kalau ada macam-macam
bencana yang pernah dialami oleh saya, wong saya sudah makan
umur. Terus saya ceritakan mengenai bagaimana kakak saya
meninggal gara-gara kecelakaan, ayah saya mati muda gara-gara
TBC, istri saya keguguran bayi, dan bagaimana saya kehilangan
harta benda saya di desa gara-gara mencoba bisnis di kota. Itu
semua saya bilang sebagai bencana.”
Pak Slamet membenahkan posisi duduknya sebelum meneruskan
ceritanya, “A Liong kemudian berkata kalau semua bencana itu
merupakan kebaikan Tuhan memperingatkan saya untuk kembali ke
jalan yang benar. Ia mengutip cerita jaman Nabi Musa dimana
Tuhan mengutuk Paraoh dan bangsa Mesir gara-gara tidak mau
menuruti perintah Tuhan dengan mengirimkan berbagai bencana.
Kata A Liong saya harusnya bersyukur sekarang kalau Tuhan masih
memberi kesempatan bagi saya untuk bertobat dan kembali ke jalan
yang benar. Katanya kalau saya masih sombong tidak mau kembali
ke jalan yang benar, Tuhan akan mengirimkan peringatan lagi atau
saya akan masuk ke neraka.”
Terlihat tangan Pak Slamet sedikit gemetar ketika menempatkan
rokoknya di bibirnya.
Aku tahu apa yang dimaksud A Liong sebagai jalan yang benar.
Sebelum Trisno menanyakan apa maksudnya, aku mengkonfirmasikan
pengertianku ini kepada Pak Slamet, “Jalan yang benar
maksudnya harus pergi ke gereja?”
Pak Slamet mengangguk.
Wajah Trisno berubah menjadi merah. Emosinya terlihat sudah
mencapai ubun-ubunnya saat dia berkata, “Mana si A Liong.
Sini, biar tak gebugin orang yang nggak tahu diri itu!”
“Sabar, sabar”, kataku mencoba menenangkan Trisno dan
mendamaikan situasi. Trisno menatap mataku ketika aku memegang
tangannya. Perlahan kepalan tangannya menjadi melunak. Saat
matanya berkedip, seketika itu pula aku tahu bahwa Trisno sudah
mampu mengendalikan dirinya.
Setelah melepaskan tangan Trisno, aku mengambil bangku yang
terdekat denganku. Aku duduk berhadapan dengan Pak Slamet dan
mencoba untuk tersenyum.
“Pak Slamet”, kataku, “Sampeyan ini bukan Paraoh.
Paraoh mana yang bisa bikin nasi goreng paling enak se-Jakarta?
Bener nggak?” Senyum kecil terlihat tersungging di bibir Pak
Slamet dan Trisno.
“Tuhan yang saya tahu itu menghukum Paraoh dan orang Mesir
gara-gara mereka memperbudak bangsa Yahudi, bukan karena orang
Mesir beragama lain. Tuhan yang saya tahu juga ingin umat-Nya
bahagia seperti bangsa Yahudi yang dibebaskan dari Mesir. Lha
masak Pak Slamet yang sudah bikin bahagia orang lain dari agama
apapun dengan sajian nasi gorengnya yang sedap Tuhan tega
menghukum? Dan satu lagi, Tuhan yang saya tahu itu otaknya nggak
sedangkal si A Liong.”
Terlihat Pak Slamet dan Trisno tersenyum sambil
manggut-manggut mengiyakan perkataanku.
“Jadi enaknya diapain si A Liong, Pung?” tanya si Trisno.
“Ya biarkan sajalah. Ini kan negara bebas. Dia yang punya
mulut ya dia berhak ngomong. Dan kita yang punya telinga ya
berhak untuk cuekin omongannya dia. Yang penting kita semua
sadar kalau yang namanya Tuhan itu otaknya nggak sedangkal
orang-orang yang propaganda agama, baik itu Islam, Kristen,
Hindu atau Buddha”, jawabku, “Jangan lupa, kita selalu punya
senjata untuk menghadapi para provokator ini. Bilang saja ‘Yo
Wis’.”
“Saya setuju, Mas Pung”, sahut Pak Trisno.
“Akur!” sambung Trisno, “Nah kalau gitu mulai besok Pak
Slamet pasang spanduk di depan warung ‘Nasi Goreng Pak Slamet
– Nasi Goreng MY BABY’.”
“’MY BABY’ apaan No?” tanyaku.
“Ya maksudnya nasi gorengnya Pak Slamet itu untuk para
pengikutnya Muhammad, Yesus, Brahma, atau Buddha”, jawab
Trisno.
“Lha terus ‘Y’-nya?”
“Yo wis!”
|