Iklan Disini!

  Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

Diasuh Oleh:
Ridwan Ongkowidagdo

Semua nama, tempat, tokoh, dan cerita adalah fiktif. Kesamaan yang terjadi hanyalah kebetulan belaka.

Serial:

1. Resah Mencari Pak RT

2. Dan Wariapun Berdemonstrasi

3. Nasi Goreng 'MY BABY'

4. Jalan Baru

5. Kalkulasi Teori Perjodohan

6. Sekali Lagi, Merdeka Cuk!

7. Sinar Rembulan di Siang Hari

8. Pelajaran dari Mbah Redjo

10. Bingung Tentang Pahlawan

11. Sang Atheist dan Gajah

12. Konsultasi Hukum Pojok Kampung

13. Kasih Sayang 2000 Perak

14. Hari Bapak Nasional

15. Doraemon Emosi

Sistem Dikibulin Nasional

“Ngapain sih ribut-ribut buat hal yang beginian?” ujar A Liong sambil menyerahkan koran yang dibacanya padaku. Aku yang barusan masuk ke warung Pak Slamet bersama dengan Pak John mengenyitkan dahiku.

“Masih ribut masalah pantatnya si Inul, Liong?” tanyaku balik. A Liong tersenyum kecut mendengar pertanyaanku.

“Bukan, ini masalah RUU Sisdiknas,” jawabnya. A Liong kemudian terlihat baru tersadar kalau ada orang lain yang datang bersamaku. Ia menyapa Pak John dengan ramah.

Pak John menyapa balik, kemudian berkata, “Oh, tentang Sistem Pendidikan Nasional yang baru?” A Liong mengangguk mengiyakannya.

“Iya, ini kan memang fair,” jawab A Liong, “Yang Islam ya dididik oleh orang Islam, yang Kristen ya dididik oleh orang Kristen.”

“Ya itu sudah pastilah, nggak perlu diperdebatkan lagi,” kata Pak John menyetujui pendapat A Liong. Matanya melirik padaku ketika ia menyelesaikan kalimatnya, tanda sepertinya meminta persetujuanku sebelum melakukan sesuatu. Aku hanya menganggukkan kepalaku pada orang yang biasa kupanggil Ko A-Wen ini.

“Tapi begini, Liong,” sambung Pak John, “Tujuan apa yang mesti dicapai dengan diadakannya undang-undang ini kalau nanti sampai disahkan?”

“Ya tujuannya sudah jelas kan?” jawab A Liong langsung, “Supaya anak-anak ini moralnya dapat diperbaiki dan semakin ditingkatkan. Jadi mereka nggak bakal mudah terjerumus dalam godaan duniawi, kayak pornografi misalnya, atau bahkan konflik antar-agama”

Alis mataku terangkat ketika kutangkap pandangan mata si A Liong melirik diriku saat ia mengucapkan kata ‘pornografi’. Kiranya komentarku tentang kasus Inul minggu lalu masih belum terlupakan olehnya.

Pak John mengangguk-anggukkan kepalanya. Aku tahu, kalau ini di film kungfu, Pak John pasti sedang pasang kuda-kuda untuk melakukan serangan balik.

“Ada dua hal yang mesti dilihat lebih jauh lagi tentang konflik-konflik antar-agama yang terjadi di Indonesia belakangan ini,” kata pria setengah baya ini, “Sejauh yang saya tahu, orang-orang yang terlibat dalam konflik dan perang antar-agama itu bukan orang-orang yang kurang pelajaran agamanya. Mereka sebagian besar bahkan sangat taat pada ajaran agamanya. Ada memangnya orang disini yang berani bilang mereka nggak taat akan ajaran agamanya?”

“Kedua, tentang istilah konflik itu sendiri” sambung Pak John, “Saya nggak tahu jelas apa penyebabnya dari konflik-konflik antar-agama itu, tapi konflik itu sendiri adalah hal yang wajar di dunia. Selama ada dua manusia, konflik itu bakalan tetap ada. Jangankan dua manusia yang berbeda, wong kembar siam saja bisa berantem kok, padahal mereka kembar … gantet (saling melekat) lagi!”

Aku tersenyum mendengar perkataan Pak John dengan dialek Jawanya yang kental.

“Maka dari itu, Pak John, kalau konflik sudah jadi takdir manusia, bukankah lebih baik kalau pelajaran agama ditingkatkan sehingga kalau pun terjadi konflik nggak akan separah seperti yang pernah terjadi?” tanya A Liong.

“Saya seperti kamu juga, percaya kalau orang yang taat pada agamanya itu pasti ingin damai. Nggak ada yang suka konflik apalagi perang,” jawab Pak John, “Tapi unsur penting pendidikan agama untuk mencegah konflik antar-agama bukan cuma duduk di dalam kelas dan belajar kitab suci agamanya tok. Yang lebih penting adalah pendidikan untuk bisa berkomunikasi dengan baik antar-pemeluk agama yang beda-beda. Hal ini yang kurang ditekankan di dalam masyarakat.”

“Wah, disini yang berbahaya,” kata A Liong, “Kalau anak-anak langsung diajarkan komunikasi antar-agama tanpa memiliki dasar iman yang kuat, mereka bisa memperoleh iman yang salah.”

“Sorry ya, Liong, saya ini bukan ahli agama,” ujar Pak John, “Tapi setahu saya iman itu pemberian Tuhan, bukan asal ngambil di pinggir jalan.”

Wajah A Liong langsung memerah. Namun, entah karena perasaan sungkan terhadap Pak John atau hal lainnya, ia memaksakan dirinya untuk tersenyum.

“Gampang sih ngomong, tapi saya ini sudah menyaksikan sendiri kenyataan yang pernah terjadi. Banyak orang-orang yang dulunya salah iman karena waktu kecil kena pengaruh atau tekanan lingkungannya. Haleluya sekarang sudah balik ke jalan yang benar,” tukas A Liong di antara senyum paksaannya.

Pak John tersenyum, kemudian ia berkomentar, “Lha itu kan dilihat dari agamamu. Kalau dilihat dari agama orang itu yang dulu, ya orang itu dianggap salah jalan.”

Si A Liong memalingkan mukanya dengan tampang yang kecut. Ia berdiri pas nasi goreng pesanannya diserahkan oleh Pak Slamet. Sambil melangkah keluar, ia berkata, “Pandangan kalian ini yang mesti diluruskan lewat Sisdiknas, biar iman kalian diperdalam dan nggak bikin komentar seenaknya sendiri.”

Ketika A Liong telah berjalan cukup jauh dari tempat kami duduk, aku berkata pada Pak John, “Ko A Wen, itu dia contoh utamanya hasil Sisdiknas.”

Pak John melihatkan sambil mengernyitkan keningnya.

“Iya,” sambungku, “Sistem Dikibulin Nasional!” (RO/IM)

0107_101C

 

     

 


FastCounter by bCentral