Sistem Dikibulin Nasional
“Ngapain sih ribut-ribut buat hal yang beginian?” ujar A
Liong sambil menyerahkan koran yang dibacanya padaku. Aku yang
barusan masuk ke warung Pak Slamet bersama dengan Pak John
mengenyitkan dahiku.
“Masih ribut masalah pantatnya si Inul, Liong?” tanyaku
balik. A Liong tersenyum kecut mendengar pertanyaanku.
“Bukan, ini masalah RUU Sisdiknas,” jawabnya. A Liong
kemudian terlihat baru tersadar kalau ada orang lain yang datang
bersamaku. Ia menyapa Pak John dengan ramah.
Pak John menyapa balik, kemudian berkata, “Oh, tentang Sistem
Pendidikan Nasional yang baru?” A Liong mengangguk
mengiyakannya.
“Iya, ini kan memang fair,” jawab A Liong, “Yang Islam ya
dididik oleh orang Islam, yang Kristen ya dididik oleh orang
Kristen.”
“Ya itu sudah pastilah, nggak perlu diperdebatkan lagi,” kata
Pak John menyetujui pendapat A Liong. Matanya melirik padaku
ketika ia menyelesaikan kalimatnya, tanda sepertinya meminta
persetujuanku sebelum melakukan sesuatu. Aku hanya menganggukkan
kepalaku pada orang yang biasa kupanggil Ko A-Wen ini.
“Tapi begini, Liong,” sambung Pak John, “Tujuan apa yang
mesti dicapai dengan diadakannya undang-undang ini kalau nanti
sampai disahkan?”
“Ya tujuannya sudah jelas kan?” jawab A Liong langsung,
“Supaya anak-anak ini moralnya dapat diperbaiki dan semakin
ditingkatkan. Jadi mereka nggak bakal mudah terjerumus dalam
godaan duniawi, kayak pornografi misalnya, atau bahkan konflik
antar-agama”
Alis mataku terangkat ketika kutangkap pandangan mata si A
Liong melirik diriku saat ia mengucapkan kata ‘pornografi’.
Kiranya komentarku tentang kasus Inul minggu lalu masih belum
terlupakan olehnya.
Pak John mengangguk-anggukkan kepalanya. Aku tahu, kalau ini
di film kungfu, Pak John pasti sedang pasang kuda-kuda untuk
melakukan serangan balik.
“Ada dua hal yang mesti dilihat lebih jauh lagi tentang
konflik-konflik antar-agama yang terjadi di Indonesia belakangan
ini,” kata pria setengah baya ini, “Sejauh yang saya tahu,
orang-orang yang terlibat dalam konflik dan perang antar-agama
itu bukan orang-orang yang kurang pelajaran agamanya. Mereka
sebagian besar bahkan sangat taat pada ajaran agamanya. Ada
memangnya orang disini yang berani bilang mereka nggak taat akan
ajaran agamanya?”
“Kedua, tentang istilah konflik itu sendiri” sambung Pak
John, “Saya nggak tahu jelas apa penyebabnya dari
konflik-konflik antar-agama itu, tapi konflik itu sendiri adalah
hal yang wajar di dunia. Selama ada dua manusia, konflik itu
bakalan tetap ada. Jangankan dua manusia yang berbeda, wong
kembar siam saja bisa berantem kok, padahal mereka kembar …
gantet (saling melekat) lagi!”
Aku tersenyum mendengar perkataan Pak John dengan dialek
Jawanya yang kental.
“Maka dari itu, Pak John, kalau konflik sudah jadi takdir
manusia, bukankah lebih baik kalau pelajaran agama ditingkatkan
sehingga kalau pun terjadi konflik nggak akan separah seperti
yang pernah terjadi?” tanya A Liong.
“Saya seperti kamu juga, percaya kalau orang yang taat pada
agamanya itu pasti ingin damai. Nggak ada yang suka konflik
apalagi perang,” jawab Pak John, “Tapi unsur penting pendidikan
agama untuk mencegah konflik antar-agama bukan cuma duduk di
dalam kelas dan belajar kitab suci agamanya tok. Yang
lebih penting adalah pendidikan untuk bisa berkomunikasi dengan
baik antar-pemeluk agama yang beda-beda. Hal ini yang kurang
ditekankan di dalam masyarakat.”
“Wah, disini yang berbahaya,” kata A Liong, “Kalau anak-anak
langsung diajarkan komunikasi antar-agama tanpa memiliki dasar
iman yang kuat, mereka bisa memperoleh iman yang salah.”
“Sorry ya, Liong, saya ini bukan ahli agama,” ujar Pak John,
“Tapi setahu saya iman itu pemberian Tuhan, bukan asal ngambil
di pinggir jalan.”
Wajah A Liong langsung memerah. Namun, entah karena perasaan
sungkan terhadap Pak John atau hal lainnya, ia memaksakan
dirinya untuk tersenyum.
“Gampang sih ngomong, tapi saya ini sudah menyaksikan sendiri
kenyataan yang pernah terjadi. Banyak orang-orang yang dulunya
salah iman karena waktu kecil kena pengaruh atau tekanan
lingkungannya. Haleluya sekarang sudah balik ke jalan yang
benar,” tukas A Liong di antara senyum paksaannya.
Pak John tersenyum, kemudian ia berkomentar, “Lha itu kan
dilihat dari agamamu. Kalau dilihat dari agama orang itu yang
dulu, ya orang itu dianggap salah jalan.”
Si A Liong memalingkan mukanya dengan tampang yang kecut. Ia
berdiri pas nasi goreng pesanannya diserahkan oleh Pak Slamet.
Sambil melangkah keluar, ia berkata, “Pandangan kalian ini yang
mesti diluruskan lewat Sisdiknas, biar iman kalian diperdalam
dan nggak bikin komentar seenaknya sendiri.”
Ketika A Liong telah berjalan cukup jauh dari tempat kami
duduk, aku berkata pada Pak John, “Ko A Wen, itu dia contoh
utamanya hasil Sisdiknas.”
Pak John melihatkan sambil mengernyitkan keningnya.
“Iya,” sambungku, “Sistem Dikibulin Nasional!” (RO/IM)
|