NextCard Visa

  Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

Diasuh Oleh:
Ridwan Ongkowidagdo

Semua nama, tempat, tokoh, dan cerita adalah fiktif. Kesamaan yang terjadi hanyalah kebetulan belaka.

Serial:

1. Resah Mencari Pak RT

3. Nasi Goreng 'MY BABY'

4. Jalan Baru

5. Kalkulasi Teori Perjodohan

6. Sekali Lagi, Merdeka Cuk!

7. Sinar Rembulan Di Siang Hari

8. Pelajaran dari Mbah Redjo

9. Tragedi Suzuki Carry

10. Bingung Tentang Pahlawan

11. Sang Atheist dan Gajah

12. Konsultasi Hukum Pojok Kampung

13. Kasih Sayang 2000 Perak

14. Hari Nasional Bapak?

15. Doraemon Emosi

16. Lilin-Lilin Kecil

17. Piala Dunia Buat Jeng Sri

18. Dicari:  Pemimpin Gak Wajar

19. Amburadil

20. Pecatlah Daku, Kau Kudemo

21. Kembalikan Baliku

22. Cacat

 

 

Dan Wariapun Berdemonstrasi

Belum lagi isyu santer mengenai tukang bajak CD di kampung kami terselesaikan, sudah muncul permasalahan baru yang mesti ditangani oleh Pak RT. Kali ini salah satu warga kampung kami menggugat Pak RT untuk meminta maaf pada dirinya. Pasalnya, Pak RT disinyalir telah mendegradasikan status dirinya dan orang-orang segolongannya.

Warga kampung yang menjadi pusat masalah baru ini bernama Teddy. Setidaknya, nama itulah yang masih tercatat di KTP-nya hari ini. Namun, apabila ada orang yang menanyakan namanya, dia akan menjawab, “Tetty … Mbak  Tetty nama saya.”

 “Mungkin itu efek sampingannya. Begitu orang ganti kelamin langsung tingkat sensitivitasnya naik sepuluh kali lipat”, kata Trisno tetanggaku mengemukakan hipotesanya.

 “Wah No, kamu mesti cepet-cepet sekolah kedokteran. Siapa tahu teori kamu itu bener, ada hubungannya antara penis dan sensitivitas manusia” sahutku yang menyebabkan kami berdua tertawa.

 “Sebenarnya masalahnya apa toh, No, kok sampai si betet rewel?” tanyaku pada Trisno setelah kami puas tertawa. Betet adalah panggilan baru buat si Teddy. Nama panggilan ini menjadi populer di antara kami supaya kami tidak terjebak memanggilnya  ‘mas Teddy’ yang kemudian hanya akan memperkeruh hubungan kami dengannya.

 “Pung, rewel sama edan itu dua hal yang berbeda”, jawab Trisno menimpali pertanyaanku. Ia baru saja datang ke rumahku untuk meminjam VCD film silat yang kubeli minggu lalu. “Kalau si betet itu sudah bisa dikategorikan edan.”

 “Orang protes kan hak asasi manusia, bukan tindakannya orang gila”, ujarku sambil menyerahkan sepasang kotak yang berisikan VCD film silat.

 “Iya, tapi orang waras mana yang demonstrasi sendirian bawa poster dan teriak-teriak supaya Pak RT turun”, bantah Trisno, “Masalahnya padahal sepele. Inget nggak waktu rapat RT terakhir? Si betet kan muncul juga.”

 “Hmmm, dia kan memang salah satu pengurus RT. Bagian kesenian kan?”, aku balik bertanya.

 “Ya”, jawab Trisno membenarkan perkataanku, “Nah, di rapat itu Pak RT nyeletuk,’Kita harus berani melakukan segala sesuatunya menurut jalan yang benar. Jangan menjadi banci.’”

 “Serius ini yang menyebabkan si betet sampai demonstrasi?” tanyaku setengah tidak percaya. Trsino menganggukkan kepalanya dengan penuh kepastian. Aku kemudian menyambung, “Kan konteks pembicaraannya sama sekali tidak dimaksudkan untuk menjelek-jelekkan para banci?”

 “Biarkan saja toh, sudah saatnya mereka diemansipasi” tiba-tiba terdengar suara istriku. Kami berdua langsung menoleh ke arah datangnya suara itu.

 “Eh, selamat sore, Mei” sapa Trisno dengan sopan. Mei Hwa, istriku, tersenyum ke arahnya dan kemudian menyapanya balik, “Sore juga Pak Tris. Sorry ya tiba-tiba motong pembicaraan. Abisnya kasihan juga melihat si Tetty diledekin sama banyak orang.”

 “Bagaimana nggak diledekin toh, Mei, wong dia sendiri yang aneh-aneh pakai demonstrasi sendirian segala”, kata Trisno, “Untuk masalah sepele kayak gini kan bisa dibicarakan baik-baik dengan Pak RT.”

Aku langsung mencium bau argumentasi sedang melayang mengitari kami. Istriku adalah lulusan sekolah hukum dari salah satu perguruan tinggi swasta terkenal di Jakarta. Semenjak pertama kali kenal dengan Mei Hwa, atau Meilisa, tiga tahun yang lalu, telah tumbuh indra keenamku yang mampu mendeteksi hadirnya suasana argumentatif dimana istriku adalah kontributor aktifnya.

 “Yang menilai satu masalah sepele itu siapa Pak Tris?” tanya Mei Hwa. Dia mengucapkannya dengan senyuman, namun aku tahu bahwa di antara kata-katanya terselip bom waktu yang siap meledak setiap saat. Aku melirik ke arah Trisno, berteriak dari dalam hatiku supaya dirinya jangan memberikan jawaban konyol yang hanya akan menyebabkan bom waktu meledak.

Namun, saat kulihat Trisno membuka mulutnya, seketika itu pula aku tahu bahwa teriakanku tak terdengar. “Lho, kan pernyataan Pak RT itu sama sekali tidak bermaksud menghina banci, apalagi menghina si betet.”

 “Begini ya Pak Tris”, jawab Mei Hwa memulai argumentasinya, ”Apabila si betet cuma diam-diam saja mengangkat masalah ini, maka semua orang nggak bakalan tahu apa yang menjadi masalah utamanya. Bahkan ketika si betet sudah turun ke jalan orang-orang masih saja tidak bisa melihat masalah sebenarnya. Mereka hanya melihat ada orang yang berpenampilan lain sedang demo kayak orang gila. Kita yang seharusnya adalah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, selayaknya mengerti posisi si betet dan melihat kenyataan di sekitar kita. Lihat, sudah berapa lama banci atau waria menjadi bulan-bulanan dan bahan tertawaan di masyarakat kita. Si betet cuma ingin mempertahankan hak asasinya sebagai manusia, sebelum hal itu hilang dan dirinya tidak akan lebih dari makhluk hidup lainnya. Namun, kasihannya, orang-orang malah menilai dia orang edan.”

Duar!! Bom waktu telah meledak.

Kulihat mulut Trisno menganga. Matanya melihat istriku tanpa berkedip dengan pandangan bloon.

Belum sempat Trisno bereaksi untuk menutup mulutnya, Chun-Chun lari berteriak memanggilku, “Ko, ada waria satu truk datang ke rumahnya Pak RT!”

Kami terperanjat. Aku tidak perlu menanyakan kebenaran informasi dari Chun-Chun begitu aku melihat Aan, hansip kampung kami, sedang berlari melintasi rumahku sambil memegang pentungannya. Tanpa berpikir panjang lagi aku, Trisno, dan Chun-Chun langsung lari keluar rumah mengikuti Aan. Sejenak aku sempat menoleh kembali ke arah rumahku dan berteriak kepada istriku, “Jangan ikut!”

Terlihat oleh kami belasan orang sedang turun dari pick-up truk di depan rumah Pak RT sambil membawa berbagai poster dan spanduk. Salah satu spanduk yang mereka bawa memberikan informasi pada kami bahwa mereka berasal dari Gabungan Komunitas Waria Jakarta Raya (Gak-Wa-Jar). Kemungkinan mereka datang karena solidaritas mereka dengan si betet.

Massa langsung membikin formasi tersendiri dan meneriakkan yel-yel. Suara riuh ini tentu saja mengundang perhatian dari banyak orang.

“Wah, jangan sampai nih para remaja pendukung Pak RT datang”, ujar Aan di tengah-tengah demonstrasi waria ini. Aku mengerti maksudnya. Anak-anak remaja itu pasti bakalan terjebak dalam emosi dan situasi bakalan susah untuk dikendalikan setelah itu.

Ketakutan Aan ini semakin nyata ketika kulihat dari salah satu ujung gang di kampungku sekelompok anak remaja mulai berlari-lari kecil ke arah demonstrasi ini. Lengan Aan langsung kutarik sambil berkata, “An, cepat panggil si betet. Suruh dia untuk mengendalikan massanya.”

Aan menuruti perintahku. Dia kemudian berteriak memanggil si betet, “Ted… Teddy… Mas Teddy!!”

Seketika itu pula demonstrasi kehilangan suara mereka. Situasi tiba-tiba menjadi sunyi. Massa waria itu kemudian menoleh ke arah Aan. Beberapa di antara mereka saling berbisik.

Si Aan baru saja melakukan kesalahan terbesar ketika berhadapan dengan waria. Ia baru saja memanggil nama ‘lama’ dari si betet. Aku yakin si Aan sadar akan kesalahannya karena terlihat dia menjadi salah tingkah.

Sayang, belum sempat Aan mengkoreksi kesalahannya, sepasang bakiak telah melayang ke jidatnya. Plak! Plak!

Dan pingsanlah petugas keamanan kampung kami.

 

 

     

 


FastCounter by bCentral