Dan Wariapun Berdemonstrasi
Belum lagi isyu santer mengenai tukang bajak CD di kampung
kami terselesaikan, sudah muncul permasalahan baru yang mesti
ditangani oleh Pak RT. Kali ini salah satu warga kampung kami
menggugat Pak RT untuk meminta maaf pada dirinya. Pasalnya, Pak
RT disinyalir telah mendegradasikan status dirinya dan
orang-orang segolongannya.
Warga kampung yang menjadi pusat masalah baru ini bernama
Teddy. Setidaknya, nama itulah yang masih tercatat di KTP-nya
hari ini. Namun, apabila ada orang yang menanyakan namanya, dia
akan menjawab, “Tetty … Mbak
Tetty nama saya.”
“Mungkin itu
efek sampingannya. Begitu orang ganti kelamin langsung tingkat
sensitivitasnya naik sepuluh kali lipat”, kata Trisno
tetanggaku mengemukakan hipotesanya.
“Wah No, kamu
mesti cepet-cepet sekolah kedokteran. Siapa tahu teori kamu itu
bener, ada hubungannya antara penis dan sensitivitas manusia”
sahutku yang menyebabkan kami berdua tertawa.
“Sebenarnya
masalahnya apa toh, No, kok sampai si betet rewel?” tanyaku
pada Trisno setelah kami puas tertawa. Betet adalah panggilan
baru buat si Teddy. Nama panggilan ini menjadi populer di antara
kami supaya kami tidak terjebak memanggilnya
‘mas Teddy’ yang kemudian hanya akan memperkeruh
hubungan kami dengannya.
“Pung, rewel
sama edan itu dua hal yang berbeda”, jawab Trisno menimpali
pertanyaanku. Ia baru saja datang ke rumahku untuk meminjam VCD
film silat yang kubeli minggu lalu. “Kalau si betet itu sudah
bisa dikategorikan edan.”
“Orang protes
kan hak asasi manusia, bukan tindakannya orang gila”, ujarku
sambil menyerahkan sepasang kotak yang berisikan VCD film silat.
“Iya, tapi
orang waras mana yang demonstrasi sendirian bawa poster dan
teriak-teriak supaya Pak RT turun”, bantah Trisno,
“Masalahnya padahal sepele. Inget nggak waktu rapat RT
terakhir? Si betet kan muncul juga.”
“Hmmm, dia kan
memang salah satu pengurus RT. Bagian kesenian kan?”, aku
balik bertanya.
“Ya”, jawab
Trisno membenarkan perkataanku, “Nah, di rapat itu Pak RT
nyeletuk,’Kita harus berani melakukan segala sesuatunya
menurut jalan yang benar. Jangan menjadi banci.’”
“Serius ini
yang menyebabkan si betet sampai demonstrasi?” tanyaku
setengah tidak percaya. Trsino menganggukkan kepalanya dengan
penuh kepastian. Aku kemudian menyambung, “Kan konteks
pembicaraannya sama sekali tidak dimaksudkan untuk
menjelek-jelekkan para banci?”
“Biarkan saja
toh, sudah saatnya mereka diemansipasi” tiba-tiba terdengar
suara istriku. Kami berdua langsung menoleh ke arah datangnya
suara itu.
“Eh, selamat
sore, Mei” sapa Trisno dengan sopan. Mei Hwa, istriku,
tersenyum ke arahnya dan kemudian menyapanya balik, “Sore juga
Pak Tris. Sorry ya tiba-tiba motong pembicaraan. Abisnya kasihan
juga melihat si Tetty diledekin sama banyak orang.”
“Bagaimana
nggak diledekin toh, Mei, wong dia sendiri yang aneh-aneh pakai
demonstrasi sendirian segala”, kata Trisno, “Untuk masalah
sepele kayak gini kan bisa dibicarakan baik-baik dengan Pak
RT.”
Aku langsung mencium bau argumentasi sedang melayang
mengitari kami. Istriku adalah lulusan sekolah hukum dari salah
satu perguruan tinggi swasta terkenal di Jakarta. Semenjak
pertama kali kenal dengan Mei Hwa, atau Meilisa, tiga tahun yang
lalu, telah tumbuh indra keenamku yang mampu mendeteksi hadirnya
suasana argumentatif dimana istriku adalah kontributor aktifnya.
“Yang menilai
satu masalah sepele itu siapa Pak Tris?” tanya Mei Hwa. Dia
mengucapkannya dengan senyuman, namun aku tahu bahwa di antara
kata-katanya terselip bom waktu yang siap meledak setiap saat.
Aku melirik ke arah Trisno, berteriak dari dalam hatiku supaya
dirinya jangan memberikan jawaban konyol yang hanya akan
menyebabkan bom waktu meledak.
Namun, saat kulihat Trisno membuka mulutnya, seketika itu
pula aku tahu bahwa teriakanku tak terdengar. “Lho, kan
pernyataan Pak RT itu sama sekali tidak bermaksud menghina
banci, apalagi menghina si betet.”
“Begini ya Pak
Tris”, jawab Mei Hwa memulai argumentasinya, ”Apabila si
betet cuma diam-diam saja mengangkat masalah ini, maka semua
orang nggak bakalan tahu apa yang menjadi masalah utamanya.
Bahkan ketika si betet sudah turun ke jalan orang-orang masih
saja tidak bisa melihat masalah sebenarnya. Mereka hanya melihat
ada orang yang berpenampilan lain sedang demo kayak orang gila.
Kita yang seharusnya adalah masyarakat yang menjunjung tinggi
nilai kemanusiaan, selayaknya mengerti posisi si betet dan
melihat kenyataan di sekitar kita. Lihat, sudah berapa lama
banci atau waria menjadi bulan-bulanan dan bahan tertawaan di
masyarakat kita. Si betet cuma ingin mempertahankan hak asasinya
sebagai manusia, sebelum hal itu hilang dan dirinya tidak akan
lebih dari makhluk hidup lainnya. Namun, kasihannya, orang-orang
malah menilai dia orang edan.”
Duar!! Bom waktu telah meledak.
Kulihat mulut Trisno menganga. Matanya melihat istriku tanpa
berkedip dengan pandangan bloon.
Belum sempat Trisno bereaksi untuk menutup mulutnya,
Chun-Chun lari berteriak memanggilku, “Ko, ada waria satu truk
datang ke rumahnya Pak RT!”
Kami terperanjat. Aku tidak perlu menanyakan kebenaran
informasi dari Chun-Chun begitu aku melihat Aan, hansip kampung
kami, sedang berlari melintasi rumahku sambil memegang
pentungannya. Tanpa berpikir panjang lagi aku, Trisno, dan
Chun-Chun langsung lari keluar rumah mengikuti Aan. Sejenak aku
sempat menoleh kembali ke arah rumahku dan berteriak kepada
istriku, “Jangan ikut!”
Terlihat oleh kami belasan orang sedang turun dari pick-up
truk di depan rumah Pak RT sambil membawa berbagai poster dan
spanduk. Salah satu spanduk yang mereka bawa memberikan
informasi pada kami bahwa mereka berasal dari Gabungan Komunitas
Waria Jakarta Raya (Gak-Wa-Jar). Kemungkinan mereka datang
karena solidaritas mereka dengan si betet.
Massa langsung membikin formasi tersendiri dan meneriakkan
yel-yel. Suara riuh ini tentu saja mengundang perhatian dari
banyak orang.
“Wah, jangan sampai nih para remaja pendukung Pak RT
datang”, ujar Aan di tengah-tengah demonstrasi waria ini. Aku
mengerti maksudnya. Anak-anak remaja itu pasti bakalan terjebak
dalam emosi dan situasi bakalan susah untuk dikendalikan setelah
itu.
Ketakutan Aan ini semakin nyata ketika kulihat dari salah
satu ujung gang di kampungku sekelompok anak remaja mulai
berlari-lari kecil ke arah demonstrasi ini. Lengan Aan langsung
kutarik sambil berkata, “An, cepat panggil si betet. Suruh dia
untuk mengendalikan massanya.”
Aan menuruti perintahku. Dia kemudian berteriak memanggil si
betet, “Ted… Teddy… Mas Teddy!!”
Seketika itu pula demonstrasi kehilangan suara mereka.
Situasi tiba-tiba menjadi sunyi. Massa waria itu kemudian
menoleh ke arah Aan. Beberapa di antara mereka saling berbisik.
Si Aan baru saja melakukan kesalahan terbesar ketika
berhadapan dengan waria. Ia baru saja memanggil nama ‘lama’
dari si betet. Aku yakin si Aan sadar akan kesalahannya karena
terlihat dia menjadi salah tingkah.
Sayang, belum sempat Aan mengkoreksi kesalahannya, sepasang
bakiak telah melayang ke jidatnya. Plak! Plak!
Dan pingsanlah petugas keamanan kampung kami.
|