Iklan Disini!

  Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

Diasuh Oleh:
Ridwan Ongkowidagdo

Semua nama, tempat, tokoh, dan cerita adalah fiktif. Kesamaan yang terjadi hanyalah kebetulan belaka.

Serial:

1. Resah Mencari Pak RT

2. Dan Wariapun Berdemonstrasi

3. Nasi Goreng 'MY BABY'

4. Jalan Baru

5. Kalkulasi Teori Perjodohan

6. Sekali Lagi, Merdeka Cuk!

7. Sinar Rembulan di Siang Hari

8. Pelajaran dari Mbah Redjo

9. Tragedi Suzuki Carrie

10. Bingung Tentang Pahlawan

11. Sang Atheist dan Gajah

12. Konsultasi Hukum Pojok Kampung

13. Kasih Sayang 2000 Perak

14. Hari Bapak Nasional

15. Doraemon Emosi

16. Lilin-Lilin Kecil

17. Piala Buat Jeng Sri

18. Dicari Pemimpin Gak Wajar

20. Pecatlah Daku, Kau Kudemo

21. Kembalikan Baliku

22. Cacat

Amburadil

Ada kado kecil di perayaan HUT kemerdekaan Indonesia tahun ini bagi kampungku dan terutama bagi Aan, hansip kampungku. Masih ingat kasus Suzuki Carry yang nyelonong ke warungnya Pak Slamet? Akhirnya para pelaku yang terlibat kasus itu mengaku dan bersedia untuk menanggung kerugian dari peristiwa tragis tersebut.

“Siapa saja pelakunya, An?” tanyaku pada Aan. Seperti biasa kami mangkal di warung Pak Slamet. Sore itu ada si Aan, Trisno sohibku, Pak Jajang, dan diriku di samping tentunya Pak Slamet sendiri.

“Pelaku utamanya sih si Eric dari kampung tetangga,” jawab si Aan.

“Eric?” sahut Trisno, “Eric anaknya Pak Cokro?”

“Iya, beberapa hari yang lalu dia akhirnya ngaku,” jawab Aan, “Kemudian dia dan keluarganya beserta Pak Slamet urun rembug di rumahnya Pak Haji Taufik. Mereka setuju untuk memberikan ganti rugi yang sepantasnya pada Pak Slamet.”

“Kok saya nggak tahu?” ujar Trisno. Aku juga mempertanyakan hal yang sama pada Aan.

“Yah, kita kan mau menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan, secara baik-baiklah,” jawab Aan diplomatis, “Bener begitu kan Pak Jajang?”

Pak Jajang mengangguk, mengiyakan ucapan si Aan. “Saya cuma memberikan tempat yang netral supaya masalah yang sudah lama ini bisa diselesaikan secara baik-baik.”

 “Kenapa mereka baru sekarang ngakunya?” tanyaku, “Kenapa nggak tahun lalu waktu kejadiannya masih belum lama berlalu?”

“Alasannya sih mereka ingin agar suasananya reda dulu,” jawab Aan, “Mereka takut kalau dekat-dekat hari sudah mengaku, massa malah bakalan main hakim sendiri nggebugi mereka.”

“Lha, bukannya mengamankan mereka ini jadi bagian dari tugasmu, An?” tanyaku lagi.

“Iya, bener Mas Pung,” jawab Aan, “Tapi kalo massanya seratus orang dan saya sendirian yang mengamankannya ya mana mampu saya.”

 “Lho, denger-denger kan kamu sudah terlatih menanggulangi massa yang rusuh,” sahut si Trisno, “Bukannya kamu sering berhadapan dengan si Betet dan kawan-kawannya?”

Kami semua tertawa mendengar ucapan Trisno itu mengingat konflik-konflik yang pernah terjadi antara si Aan dan para waria.

“Yah, bencong lagi, bencong lagi yang jadi bahan sindiran, capek dah!” gerutu si Aan.

“Masak sih orang-orang kampung kita barbar kayak gitu?” aku bertanya pada semua orang yang hadir disana kemudian.

“Yah, kalau orang-orang kampung kita sendiri sih nggak bakalan kayak gitu,” sahut Trisno, “Tapi takutnya itu kalau ada intervensi pihak-pihak asing. Nah, kalau sudah begitu jadi berabe semua.”

Aku menoleh melihat si Trisno dengan perasaan sedikit tidak percaya dengan apa yang barusan kudengar. “Intervensi pihak asing? Memangnya di sekitar kampung kita sudah kayak Poso atau Ambon?”

“Mungkin bukan pihak asing yang ditakutkan di sekitar kampung kita sekarang ini, Mas Pung,” kata Pak Jajang, “Tapi kesadaran masyarakatnya sendiri terhadap hukum dan norma-norma yang ada.”

“Iya Pung,” sambung si Trisno, “Masak nggak inget kejadian tempo hari di kampung yang nggak seberapa jauh dari sini. Itu tuh yang ada maling ketangkep terus hampir mati dibakar massa.”

Aku mengangguk, teringat akan kejadian tragis itu. Aku jadi bisa mengerti tindakan yang diambil si Eric dan keluarganya.

“Oke, mungkin menunggu situasi menjadi tenang memang langkah yang baik,” kataku, “Tapi mengapa sampai menunggu setahunan? Untung warga kampung kita lumayan baik-baik semua jadi bisa gotong royong bangunin kembali warungnya Pak Slamet. Lha kalo baru setahun kemudian ngakunya, selama setahun Pak Slamet gigit jari dong”

Tiba-tiba Pak Slamet nyeletuk dari dapurnya, “Wah, kalau sampai kayak gitu ya jarinya Aan yang saya gigit!” Kami semua tertawa mendengar perkataan Pak Slamet itu. Jarang-jarang pria setengah baya ini bisa ikut bercanda kala sedang sibuk masak.

“Yah sudahlah, yang penting sekarang masalahnya sudah terselesaikan secara adil,” kata Pak Jajang.

“Maaf Pak Jajang, tapi kalau dibilang adil ya nggak bener-bener adil. Yang bersalah bisa sembunyi sampai setahun dan bahkan mungkin juga bisa sembunyi selamanya kalau dia mau. Yang jadi korban kalau nggak dibantu dengan orang banyak nggak bakalan bisa balik lagi ke kondisinya yang normal,” kataku. “Kata adil nggak begitu pas buat hal ini.”

“Jadi kata apa dong yang pas?” tanya si Aan.

“Amburadil!” sahut Trisno, “AMBUR-ADIL … adil tapi nggak bener-bener adil.”

“Bahasa apaan tuh?” Aan bertanya.

“Nggak perlu pusingin bahasa apaan,” ujarku, “Yang penting kita mesti biasain diri dengan kata itu berhubung banyak hal yang amburadil di negara kita ini.” (ROW/IM)

0107_101C

 

     

 


FastCounter by bCentral