Amburadil
Ada kado kecil di perayaan HUT kemerdekaan Indonesia tahun
ini bagi kampungku dan terutama bagi Aan, hansip kampungku.
Masih ingat kasus Suzuki Carry yang nyelonong ke warungnya Pak
Slamet? Akhirnya para pelaku yang terlibat kasus itu mengaku dan
bersedia untuk menanggung kerugian dari peristiwa tragis
tersebut.
“Siapa saja pelakunya, An?” tanyaku pada Aan. Seperti biasa
kami mangkal di warung Pak Slamet. Sore itu ada si Aan, Trisno
sohibku, Pak Jajang, dan diriku di samping tentunya Pak Slamet
sendiri.
“Pelaku utamanya sih si Eric dari kampung tetangga,” jawab si
Aan.
“Eric?” sahut Trisno, “Eric anaknya Pak Cokro?”
“Iya, beberapa hari yang lalu dia akhirnya ngaku,” jawab Aan,
“Kemudian dia dan keluarganya beserta Pak Slamet urun rembug di
rumahnya Pak Haji Taufik. Mereka setuju untuk memberikan ganti
rugi yang sepantasnya pada Pak Slamet.”
“Kok saya nggak tahu?” ujar Trisno. Aku juga mempertanyakan
hal yang sama pada Aan.
“Yah, kita kan mau menyelesaikan masalah ini secara
kekeluargaan, secara baik-baiklah,” jawab Aan diplomatis, “Bener
begitu kan Pak Jajang?”
Pak Jajang mengangguk, mengiyakan ucapan si Aan. “Saya cuma
memberikan tempat yang netral supaya masalah yang sudah lama ini
bisa diselesaikan secara baik-baik.”
“Kenapa mereka baru sekarang ngakunya?” tanyaku, “Kenapa
nggak tahun lalu waktu kejadiannya masih belum lama berlalu?”
“Alasannya sih mereka ingin agar suasananya reda dulu,” jawab
Aan, “Mereka takut kalau dekat-dekat hari sudah mengaku, massa
malah bakalan main hakim sendiri nggebugi mereka.”
“Lha, bukannya mengamankan mereka ini jadi bagian dari
tugasmu, An?” tanyaku lagi.
“Iya, bener Mas Pung,” jawab Aan, “Tapi kalo massanya seratus
orang dan saya sendirian yang mengamankannya ya mana mampu saya.”
“Lho, denger-denger kan kamu sudah terlatih menanggulangi
massa yang rusuh,” sahut si Trisno, “Bukannya kamu sering
berhadapan dengan si Betet dan kawan-kawannya?”
Kami semua tertawa mendengar ucapan Trisno itu mengingat
konflik-konflik yang pernah terjadi antara si Aan dan para waria.
“Yah, bencong lagi, bencong lagi yang jadi bahan sindiran,
capek dah!” gerutu si Aan.
“Masak sih orang-orang kampung kita barbar kayak gitu?” aku
bertanya pada semua orang yang hadir disana kemudian.
“Yah, kalau orang-orang kampung kita sendiri sih nggak
bakalan kayak gitu,” sahut Trisno, “Tapi takutnya itu kalau ada
intervensi pihak-pihak asing. Nah, kalau sudah begitu jadi
berabe semua.”
Aku menoleh melihat si Trisno dengan perasaan sedikit tidak
percaya dengan apa yang barusan kudengar. “Intervensi pihak
asing? Memangnya di sekitar kampung kita sudah kayak Poso atau
Ambon?”
“Mungkin bukan pihak asing yang ditakutkan di sekitar kampung
kita sekarang ini, Mas Pung,” kata Pak Jajang, “Tapi kesadaran
masyarakatnya sendiri terhadap hukum dan norma-norma yang ada.”
“Iya Pung,” sambung si Trisno, “Masak nggak inget kejadian
tempo hari di kampung yang nggak seberapa jauh dari sini. Itu
tuh yang ada maling ketangkep terus hampir mati dibakar massa.”
Aku mengangguk, teringat akan kejadian tragis itu. Aku jadi
bisa mengerti tindakan yang diambil si Eric dan keluarganya.
“Oke, mungkin menunggu situasi menjadi tenang memang langkah
yang baik,” kataku, “Tapi mengapa sampai menunggu setahunan?
Untung warga kampung kita lumayan baik-baik semua jadi bisa
gotong royong bangunin kembali warungnya Pak Slamet. Lha kalo
baru setahun kemudian ngakunya, selama setahun Pak Slamet gigit
jari dong”
Tiba-tiba Pak Slamet nyeletuk dari dapurnya, “Wah, kalau
sampai kayak gitu ya jarinya Aan yang saya gigit!” Kami semua
tertawa mendengar perkataan Pak Slamet itu. Jarang-jarang pria
setengah baya ini bisa ikut bercanda kala sedang sibuk masak.
“Yah sudahlah, yang penting sekarang masalahnya sudah
terselesaikan secara adil,” kata Pak Jajang.
“Maaf Pak Jajang, tapi kalau dibilang adil ya nggak
bener-bener adil. Yang bersalah bisa sembunyi sampai setahun dan
bahkan mungkin juga bisa sembunyi selamanya kalau dia mau. Yang
jadi korban kalau nggak dibantu dengan orang banyak nggak
bakalan bisa balik lagi ke kondisinya yang normal,” kataku.
“Kata adil nggak begitu pas buat hal ini.”
“Jadi kata apa dong yang pas?” tanya si Aan.
“Amburadil!” sahut Trisno, “AMBUR-ADIL … adil tapi nggak
bener-bener adil.”
“Bahasa apaan tuh?” Aan bertanya.
“Nggak perlu pusingin bahasa apaan,” ujarku, “Yang penting
kita mesti biasain diri dengan kata itu berhubung banyak hal
yang amburadil di negara kita ini.” (ROW/IM) |