Iklan Disini!

  Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

Diasuh Oleh:
Ridwan Ongkowidagdo

Semua nama, tempat, tokoh, dan cerita adalah fiktif. Kesamaan yang terjadi hanyalah kebetulan belaka.

Serial:

1. Resah Mencari Pak RT

2. Dan Wariapun Berdemonstrasi

3. Nasi Goreng 'MY BABY'

4. Jalan Baru

5. Kalkulasi Teori Perjodohan

6. Sekali Lagi, Merdeka Cuk!

7. Sinar Rembulan di Siang Hari

8. Pelajaran dari Mbah Redjo

9. Tragedi Suzuki Carrie

10. Bingung Tentang Pahlawan

11. Sang Atheist dan Gajah

12. Konsultasi Hukum Pojok Kampung

13. Kasih Sayang 2000 Perak

14. Hari Bapak Nasional

15. Doraemon Emosi

17. Piala Dunia Buat Jeng Sri

18. Dicari:  Pemimpin Gak Wajar

19. Amburadil

20. Pecatlah Daku, Kau Kudemo

21. Kembalikan Baliku

22. Cacat

 

Lilin-Lilin Kecil

Bukan suatu hal yang mengagetkan apabila aliran listrik di kampungku tiba-tiba hilang. Hasil kerja konsisten dari PLN ini sebenarnya sudah mulai membaik. Listrik sudah jarang mati, dan kalaupun mati mesti ada pemberitahuan terlebih dahulu. Namun, kelihatannya PLN kangen dengan statusnya yang dulu sore itu.

Salah seorang ibu tetanggaku menyuruh anaknya mencari tahu tetangganya apakah aliran listrik mereka juga mati. Si bocah kebetulan berlari menuju ke rumah si Trinso, sobat karibku di kampung. Beberapa saat kemudian terdengar teriakan si bocah tadi mencoba memberitahu ibunya dari jarak jauh, “Bu!!, Pak Trisno juga mati!!”

Mendengar hal ini tak terbendung niatku untuk melongokkan kepala dan melihat ke arah datangnya suara bocah tadi. Seketika kemudian kulihat si Trisno berjalan keluar dari rumahnya. Sambil mengacung-acungkan jarinya ia berseru, “Dasar bocah guoblok! Yang mati itu listriknya, bukan saya!”

Aku tertawa melihat tingkah polah orang-orang ini. Trisno melihatku dan sedetik kemudian dia tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Denger kabar apa No tentang listrik mati hari ini?” tanyaku pada Trisno.

“Nggak denger apa-apa tuh, “ jawabnya, “Listrik mati kayak ginian ini nih yang menyebabkan pertambahan penduduk semakin cepat.”

Aku tersenyum mendengar perkataan Trisno. “Yah, habis orang-orang mesti ngapain lagi waktu listriknya mati?” kataku.

“Untung di kampung kita ada warung nasi gorengnya Pak Slamet,” ujar Trisno, “Kalau nggak, anak saya mungkin sudah lima!”

Aku langsung mengiyakan teorinya.

“Yuk, ke warungnya Pak Slamet!” ajak Trisno kemudian. Biasanya aku langsung berangakat bersamanya, namun sore itu sisa makanan masakan istriku kemarin masih tersedia. Hukum makan malam ini harus tidak boleh aku langgar semenjak aku menikahi si Mei Hwa. Jangankan melanggar, bertanya untuk minta dispensasi saja bisa memberiku banyak masalah.

Trisno mengerti alasanku. Ia kemudian berjalan sendiri ke warung Pak Slamet. Aku kemudian masuk ke dalam rumahku. Di tengah terangnya cahaya lampu tenaga baterai, kutemui istriku sedang duduk di sofa sambil membuka-buka majalah.

“Lagi baca apaan?” tanyaku.

“Nggak tahu, cuman buka-buka majalah aja,” jawabnya singkat.

Aku menghempaskan diriku duduk di samping istriku. Seketika aku melihat sekilas foto sampul depan majalah yang sedang dipegang oleh Mei Hwa. Ternyata, majalah itu adalah Asiaweek dengan foto Pak Harto sebagai sampulnya.

Aku mendekatkan diriku pada Mei Hwa, berusaha melihat halaman demi halaman yang dibukanya. Beberapa saat kemudian terlihat oleh kami foto-foto yang sangat familiar. Di halaman ini tangan istriku berhenti membuka lembaran berikutnya majalah itu.

Sebuah foto menampakkan sebuah jalan yang lengang dengan api yang masih membara di antara tumpukan ban-ban mobil di tengah jalan itu. Terlihat hanya beberapa sepeda motor melintasi jalan tersebut dimana kaca-kaca ruko di pinggir kiri-kanan jalan tersebut telah hancur berserakan.

Foto berikutnya lebih membikin bulu kuduk kami berdiri. Tumpukan mayat-mayat yang dibungkus dengan kantong plastik hitam terekam dalam foto ini. Penjelasan foto tersebut menyebutkan bahwa mayat-mayat ini adalah para korban yang terjebak dalam department store yang terbakar. Beberapa foto lain dengan tema kerusuhan peristiwa Mei 1998 dipajang di beberapa halaman berikutnya.

Aku mengambil nafas dalam. Kemudian, aku bertanya pada istriku, “Kamu nemuin majalah ini dimana?”

“Tuh, di tumpukan majalah dekat meja kerja kamu,” jawab Mei Hwa.

Aku langsung mengambil tumpukan majalah itu dan meletakkannya di meja sofa dekat tempat istriku duduk. Aku melihat majalah-majalah ini satu per satu secara sekilas, hingga akhirnya aku menemukan satu majalah dengan foto wajah seorang gadis remaja di sampulnya.

Istriku melihat apa yang baru aku temukan. Ia langsung mengambilnya dari tanganku dan terlihat seperti mengamati foto itu. Kepalanya kemudian menggeleng-geleng kecil sambil terus menatap foto sampul depan majalah yang dipegangnya.

“Rasanya baru seperti kemarin kejadiannya,” kata Mei Hwa. Aku mengangguk.

“Mana keadilan buat korban-korban seperti Ita?” tanya Mei Hwa kemudian. Nada suaranya lambat laun mulai dikuasai oleh emosinya sendiri. “Rasanya ngomong keadilan di Indonesia sudah percuma. Isinya ruang pengadilan nggak jauh beda kayak panggung lenong rumpi.”

Aku lumayan kaget mendengar perkataan tersebut dari seseorang yang berprofesi di bidang hukum.

“Yah, memang Indonesia ini masih jauh dari penegakan keadilan yang nyata,” kataku, “Dimana-mana sekarang preman yang berkuasa. Nggak di pasar, di kantor polisi, di ruang pengadilan, di kantor DPR …”

“Dan juga di rumah kita masing-masing,” potong Mei Hwa.

Alis mataku terangkat, seakan-akan berujar ‘Kok bisa?’.

Tanpa perlu mengucapkannya, Mei Hwa langsung menjelaskan point-nya tersebut, “Kita ini berhutang pada Ita Marthadinata dan korban-korban lainnya karena kebanyakan dari kita mau dibungkam dan dibuat percaya kalau segala sesuatu sebelum peristiwa Mei adalah baik. Ternyata yang ada cuma kehidupan sosial ekonomi yang bersumber pada hutang luar negeri dan penjajahan hak-hak asasi manusia. Begitu hal ini roboh, maka jatuhlah korban-korban kayak Ita tadi.”

“Kita harus selalu berusaha agar penderitaan Ita Marthadinata dan korban-korban lainnya tidak terlupakan dan tidak terulang kembali. Tapi melihat kenyataannya sekarang …”

Kata-kata istriku terputus. Ia sepertinya berusaha menekan emosinya agar bisa meneruskan perkataannya.

“Sepertinya sekarang kita sudah mau dibungkam lagi. Bahkan kita pun kalau tidak menemukan majalah ini mungkin kita sudah lupa akan hutang kita pada Ita.”

Aku segera memeluk istriku.

Lampu baterai kami mulai meredup dan gelapnya malam mulai berkuasa. Aku dan Mei Hwa kemudian mengambil sepasang lilin kecil. Kami kemudian menaruh dan menyalakannya di teras rumah kami. Di antara dua lilin itu, kuletakkan majalah dengan foto Marthadinata tersebut. Malam itu kami menangis namun tak meneteskan air mata. (RO/IM)

0107_101C

 

     

 


FastCounter by bCentral