Lilin-Lilin Kecil
Bukan suatu hal yang mengagetkan apabila aliran listrik di
kampungku tiba-tiba hilang. Hasil kerja konsisten dari PLN ini
sebenarnya sudah mulai membaik. Listrik sudah jarang mati, dan
kalaupun mati mesti ada pemberitahuan terlebih dahulu. Namun,
kelihatannya PLN kangen dengan statusnya yang dulu sore itu.
Salah seorang ibu tetanggaku menyuruh anaknya mencari tahu
tetangganya apakah aliran listrik mereka juga mati. Si bocah
kebetulan berlari menuju ke rumah si Trinso, sobat karibku di
kampung. Beberapa saat kemudian terdengar teriakan si bocah tadi
mencoba memberitahu ibunya dari jarak jauh, “Bu!!, Pak Trisno
juga mati!!”
Mendengar hal ini tak terbendung niatku untuk melongokkan
kepala dan melihat ke arah datangnya suara bocah tadi. Seketika
kemudian kulihat si Trisno berjalan keluar dari rumahnya. Sambil
mengacung-acungkan jarinya ia berseru, “Dasar bocah guoblok!
Yang mati itu listriknya, bukan saya!”
Aku tertawa melihat tingkah polah orang-orang ini. Trisno
melihatku dan sedetik kemudian dia tersenyum sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Denger kabar apa No tentang listrik mati hari ini?” tanyaku
pada Trisno.
“Nggak denger apa-apa tuh, “ jawabnya, “Listrik mati kayak
ginian ini nih yang menyebabkan pertambahan penduduk semakin
cepat.”
Aku tersenyum mendengar perkataan Trisno. “Yah, habis
orang-orang mesti ngapain lagi waktu listriknya mati?” kataku.
“Untung di kampung kita ada warung nasi gorengnya Pak Slamet,”
ujar Trisno, “Kalau nggak, anak saya mungkin sudah lima!”
Aku langsung mengiyakan teorinya.
“Yuk, ke warungnya Pak Slamet!” ajak Trisno kemudian.
Biasanya aku langsung berangakat bersamanya, namun sore itu sisa
makanan masakan istriku kemarin masih tersedia. Hukum makan
malam ini harus tidak boleh aku langgar semenjak aku menikahi si
Mei Hwa. Jangankan melanggar, bertanya untuk minta dispensasi
saja bisa memberiku banyak masalah.
Trisno mengerti alasanku. Ia kemudian berjalan sendiri ke
warung Pak Slamet. Aku kemudian masuk ke dalam rumahku. Di
tengah terangnya cahaya lampu tenaga baterai, kutemui istriku
sedang duduk di sofa sambil membuka-buka majalah.
“Lagi baca apaan?” tanyaku.
“Nggak tahu, cuman buka-buka majalah aja,” jawabnya singkat.
Aku menghempaskan diriku duduk di samping istriku. Seketika
aku melihat sekilas foto sampul depan majalah yang sedang
dipegang oleh Mei Hwa. Ternyata, majalah itu adalah Asiaweek
dengan foto Pak Harto sebagai sampulnya.
Aku mendekatkan diriku pada Mei Hwa, berusaha melihat halaman
demi halaman yang dibukanya. Beberapa saat kemudian terlihat
oleh kami foto-foto yang sangat familiar. Di halaman ini tangan
istriku berhenti membuka lembaran berikutnya majalah itu.
Sebuah foto menampakkan sebuah jalan yang lengang dengan api
yang masih membara di antara tumpukan ban-ban mobil di tengah
jalan itu. Terlihat hanya beberapa sepeda motor melintasi jalan
tersebut dimana kaca-kaca ruko di pinggir kiri-kanan jalan
tersebut telah hancur berserakan.
Foto berikutnya lebih membikin bulu kuduk kami berdiri.
Tumpukan mayat-mayat yang dibungkus dengan kantong plastik hitam
terekam dalam foto ini. Penjelasan foto tersebut menyebutkan
bahwa mayat-mayat ini adalah para korban yang terjebak dalam
department store yang terbakar. Beberapa foto lain dengan tema
kerusuhan peristiwa Mei 1998 dipajang di beberapa halaman
berikutnya.
Aku mengambil nafas dalam. Kemudian, aku bertanya pada
istriku, “Kamu nemuin majalah ini dimana?”
“Tuh, di tumpukan majalah dekat meja kerja kamu,” jawab Mei
Hwa.
Aku langsung mengambil tumpukan majalah itu dan meletakkannya
di meja sofa dekat tempat istriku duduk. Aku melihat
majalah-majalah ini satu per satu secara sekilas, hingga
akhirnya aku menemukan satu majalah dengan foto wajah seorang
gadis remaja di sampulnya.
Istriku melihat apa yang baru aku temukan. Ia langsung
mengambilnya dari tanganku dan terlihat seperti mengamati foto
itu. Kepalanya kemudian menggeleng-geleng kecil sambil terus
menatap foto sampul depan majalah yang dipegangnya.
“Rasanya baru seperti kemarin kejadiannya,” kata Mei Hwa. Aku
mengangguk.
“Mana keadilan buat korban-korban seperti Ita?” tanya Mei Hwa
kemudian. Nada suaranya lambat laun mulai dikuasai oleh emosinya
sendiri. “Rasanya ngomong keadilan di Indonesia sudah percuma.
Isinya ruang pengadilan nggak jauh beda kayak panggung lenong
rumpi.”
Aku lumayan kaget mendengar perkataan tersebut dari seseorang
yang berprofesi di bidang hukum.
“Yah, memang Indonesia ini masih jauh dari penegakan keadilan
yang nyata,” kataku, “Dimana-mana sekarang preman yang berkuasa.
Nggak di pasar, di kantor polisi, di ruang pengadilan, di kantor
DPR …”
“Dan juga di rumah kita masing-masing,” potong Mei Hwa.
Alis mataku terangkat, seakan-akan berujar ‘Kok bisa?’.
Tanpa perlu mengucapkannya, Mei Hwa langsung menjelaskan
point-nya tersebut, “Kita ini berhutang pada Ita Marthadinata
dan korban-korban lainnya karena kebanyakan dari kita mau
dibungkam dan dibuat percaya kalau segala sesuatu sebelum
peristiwa Mei adalah baik. Ternyata yang ada cuma kehidupan
sosial ekonomi yang bersumber pada hutang luar negeri dan
penjajahan hak-hak asasi manusia. Begitu hal ini roboh, maka
jatuhlah korban-korban kayak Ita tadi.”
“Kita harus selalu berusaha agar penderitaan Ita Marthadinata
dan korban-korban lainnya tidak terlupakan dan tidak terulang
kembali. Tapi melihat kenyataannya sekarang …”
Kata-kata istriku terputus. Ia sepertinya berusaha menekan
emosinya agar bisa meneruskan perkataannya.
“Sepertinya sekarang kita sudah mau dibungkam lagi. Bahkan
kita pun kalau tidak menemukan majalah ini mungkin kita sudah
lupa akan hutang kita pada Ita.”
Aku segera memeluk istriku.
Lampu baterai kami mulai meredup dan gelapnya malam mulai
berkuasa. Aku dan Mei Hwa kemudian mengambil sepasang lilin
kecil. Kami kemudian menaruh dan menyalakannya di teras rumah
kami. Di antara dua lilin itu, kuletakkan majalah dengan foto
Marthadinata tersebut. Malam itu kami menangis namun tak
meneteskan air mata. (RO/IM) |