Doraemon Emosi
Aku baru saja turun dari mobilku pulang kerja ketika kulihat
seorang remaja berparas orang Jepang berjalan ke arah rumahku.
Senyuman langsung tersungging di bibirku melihat remaja yang
cukup akrab dengan keluargaku ini.
Namanya Chun-Chun. Orang-orang di kampungku memanggilnya
Doraemon. Secara fisik dan tampang tidak ada satu hal pun yang
bisa dihubungkan dengan karakter kartun Jepang itu. Tapi nama
olok-olokan inilah yang melekat pada dirinya karena satu-dua hal
yang nggak bisa dijelaskan.
Wajahnya terlihat gusar sehingga menyebabkan senyumanku
berubah menjadi kerut di kening kepala.
“Ada apa Mon?” tanyaku sebelum ia sempat menyapaku. Terlihat
kelopak matanya sedikit berwarna merah, sepertinya tanda bagi
orang yang baru saja menangis atau emosi besar.
“Cik Mei Hwa ada?” tanyanya balik. Kujawab kalau aku tidak
tahu karena aku belum masuk rumah.
Kebetulan kemudian ada abang penjual es kelapa lewat. Aku
langsung berpikir bahwa ngobrol dengan Doraemon sambil makan es
kelapa adalah suatu ide yang bagus.
Lima menit kemudian aku dan Doraemon duduk di teras rumahku
sambil memegang segelas es kelapa di tangan kami masing-masing.
“Mon, ada urusan apa dengan Cik Mei Hwa?” tanyaku, “Ada yang
bisa dibantu?”
Mata Doraemon menatapku sambil mulutnya mengunyah kelapa.
“Mungkin,” jawabnya, “Tergantung sih. Sebenarnya mau ngobrol
sama Cik Mei Hwa soalnya saya tahu kalau Cicik masih sering ke
gereja.”
Aku tersenyum. Secara implisit Doraemon menganggapku sudah
jauh dari gereja, atau bahkan bukan orang Nasrani lagi.
“Tapi rasanya Koko bisa juga lah, kan Koko lulus dari sekolah
Katolik?” lanjut si Dorameon.
“Apa masalahnya, Mon?” tanyaku semakin ingin tahu.
Doraemon mengambil nafas dalam, kemudian ia menjawab,
“Begini, Ko. Beberapa hari lalu saya dapat email tentang skandal
di Gereja Katolik di Amerika. Katanya ada pastor yang menghamili
umatnya sendiri. Ada juga pastor yang memaksakan hal-hal yang
berbau seksual pada anak-anak.”
“Orang-orang ada yang bilang kalau skandal ini terjadi
gara-gara para Romo-nya selibat, nggak boleh kawin. Jadinya
nafsu seks mereka tertahan dan meledak tidak pada tempatnya.
Bahkan ada orang-orang di gereja saya sendiri yang bilang memang
sudah waktunya ada perubahan di gereja tentang masalah pastor
nggak boleh kawin.”
Aku menggigit bibir bawahku sembari keningku terus berkerut.
Aku kemudian bertanya, “Lha, terus ada hubungannya apa dengan
kamu serba marah dan emosi?”
“Koko sih jarang pergi ke gereja sekarang!” jawab Chun-Chun
seketika.
Alis mataku terangkat. Aku tersadar, di lain waktu dan
situasi pernyataan Doraemon ini bisa menyebabkan diskusi yang
berkepanjangan. Tapi tidak untuk sore ini.
“Maksudnya apa?” tanyaku dengan nada bicara yang mencoba
menenangkan remaja satu ini.
“Iya, kan sebagai orang Katolik kita mesti percaya bahwa para
Romo ini sudah dipanggil dan ditahbiskan oleh Tuhan, oleh Roh
Kudus. Lha, kalau Romonya serba brengsek sampai menghamili orang
kan berarti acara-acara pentahbisan itu bohong semua,” jawabnya.
Aku tercengang mendengar penjelasan si Doraemon. Belum pernah
aku mendengar remaja ini berbicara secara emosi untuk hal-hal
yang sangat sensitive ini.
“Mon, kamu hati-hati kalau menarik analisa dan konklusi
sendiri dari suatu masalah,” kataku, “Kedengarannya kamu
mencampur-adukkan beberapa masalah menjadi satu kemudian mencoba
menemukan satu jawaban untuk semuanya.”
Tampang Chun-Chun langsung terlihat kebingungan. Aku sendiri
sedikit merasa kaget bisa memberikan komentar semacam itu.
Mungkin ini akibatnya memiliki istri yang lulus sekolah hukum.
“Pertama, masalah pelecehan seksual,” aku menyambung
kata-kataku, “Yang namanya pelecehan seksual itu nggak
disebabkan oleh selibat atau nggak kawin. Sebaliknya juga
perkawinan tidak akan menjamin bakalan tidak ada lagi pelecehan
seksual.”
“Kedua, tentang Tuhan mentahbiskan para Romo. Tuhan itu nggak
pernah salah. Namun perlu disadari oleh semua orang bahwa para
Romo yang dipilih Tuhan itu juga seorang manusia, yang juga
lemah dan berbuat salah. Jadi, yang menghamili wanita dan
melakukan pelecehan seksual itu adalah manusianya dari para Romo,
bukan karya suci Tuhan dalam diri Romo.”
Wajah si Chun-Chun semakin menunjukkan tampang yang
kebingungan. Ia pun akhirnya mengakuinya, “Saya bingung, Ko.”
Aku tersenyum. “Untuk ngerti omongan saya tadi kamu mesti
kawin dulu sama cewek yang sekolah untuk jadi hakim!” ujarku
untuk menyejukkan suasana.
Kutepuk pundak Chun-Chun sembari berkata, “Mon, jangan pernah
mencampur adukkan agama dengan manusia. Lebih bahaya lagi kalau
memakai manusia sebagai simbol dari satu agama, karena pada
akhirnya hanya kekecewaan yang menjadi hasilnya. Tentang skandal
di gereja kamu ini, yang penting kamu ambil pelajarannya. Anggap
saja hal ini merupakan karya misterius Tuhan untuk mendewasakan
umat gereja kamu.”
Doraemon tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya,
“Udah ah, Ko, capek dengerin omongannya yang mbulet kemana-mana!”
Aku hanya nyengir mendengar tanggapan si Doraemon. Setelah
meletakkan gelas es kelapanya, ia kemudian berpamitan padaku dan
pulang ke rumahnya. Entah kenapa aku kemudian ingin langsung
kumur mulutku dan menggosok gigiku. Benar kata si Chun-Chun,
kataku dalam hati, ngomong dengan gaya yang formal memang bikin
capek. (RO/IM) |