Iklan Disini!

  Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

Diasuh Oleh:
Ridwan Ongkowidagdo

Semua nama, tempat, tokoh, dan cerita adalah fiktif. Kesamaan yang terjadi hanyalah kebetulan belaka.

Serial:

1. Resah Mencari Pak RT

2. Dan Wariapun Berdemonstrasi

3. Nasi Goreng 'MY BABY'

4. Jalan Baru

5. Kalkulasi Teori Perjodohan

6. Sekali Lagi, Merdeka Cuk!

7. Sinar Rembulan di Siang Hari

8. Pelajaran dari Mbah Redjo

9. Tragedi Suzuki Carrie

10. Bingung Tentang Pahlawan

11. Sang Atheist dan Gajah

12. Konsultasi Hukum Pojok Kampung

13. Kasih Sayang 2000 Perak

14. Hari Bapak Nasional

16. Lilin-Lilin Kecil

17. Piala Dunia Buat Jeng Sri

18. Dicari:  Pemimpin Gak Wajar

19. Amburadil

20. Pecatlah Daku, Kau Kudemo

21. Kembalikan Baliku

22. Cacat

 

Doraemon Emosi

Aku baru saja turun dari mobilku pulang kerja  ketika kulihat seorang remaja berparas orang Jepang berjalan ke arah rumahku. Senyuman langsung tersungging di bibirku melihat remaja yang cukup akrab dengan keluargaku ini.

Namanya Chun-Chun. Orang-orang di kampungku memanggilnya Doraemon. Secara fisik dan tampang tidak ada satu hal pun yang bisa dihubungkan dengan karakter kartun Jepang itu. Tapi nama olok-olokan inilah yang melekat pada dirinya karena satu-dua hal yang nggak bisa dijelaskan.

Wajahnya terlihat gusar sehingga menyebabkan senyumanku berubah menjadi kerut di kening kepala.

“Ada apa Mon?” tanyaku sebelum ia sempat menyapaku. Terlihat kelopak matanya sedikit berwarna merah, sepertinya tanda bagi orang yang baru saja menangis atau emosi besar.

“Cik Mei Hwa ada?” tanyanya balik. Kujawab kalau aku tidak tahu karena aku belum masuk rumah.

Kebetulan kemudian ada abang penjual es kelapa lewat. Aku langsung berpikir bahwa ngobrol dengan Doraemon sambil makan es kelapa adalah suatu ide yang bagus.

Lima menit kemudian aku dan Doraemon duduk di teras rumahku sambil memegang segelas es kelapa di tangan kami masing-masing. 

“Mon, ada urusan apa dengan Cik Mei Hwa?” tanyaku, “Ada yang bisa dibantu?”

Mata Doraemon menatapku sambil mulutnya mengunyah kelapa.

“Mungkin,” jawabnya, “Tergantung sih. Sebenarnya mau ngobrol sama Cik Mei Hwa soalnya saya tahu kalau Cicik masih sering ke gereja.”

Aku tersenyum. Secara implisit Doraemon menganggapku sudah jauh dari gereja, atau bahkan bukan orang Nasrani lagi.

“Tapi rasanya Koko bisa juga lah, kan Koko lulus dari sekolah Katolik?” lanjut si Dorameon.

“Apa masalahnya, Mon?” tanyaku semakin ingin tahu.

Doraemon mengambil nafas dalam, kemudian ia menjawab, “Begini, Ko. Beberapa hari lalu saya dapat email tentang skandal di Gereja Katolik di Amerika. Katanya ada pastor yang menghamili umatnya sendiri. Ada juga pastor yang memaksakan hal-hal yang berbau seksual pada anak-anak.”

“Orang-orang ada yang bilang kalau skandal ini terjadi gara-gara para Romo-nya selibat, nggak boleh kawin. Jadinya nafsu seks mereka tertahan dan meledak tidak pada tempatnya. Bahkan ada orang-orang di gereja saya sendiri yang bilang memang sudah waktunya ada perubahan di gereja tentang masalah pastor nggak boleh kawin.”

Aku menggigit bibir bawahku sembari keningku terus berkerut. Aku kemudian bertanya, “Lha, terus ada hubungannya apa dengan kamu serba marah dan emosi?”

“Koko sih jarang pergi ke gereja sekarang!” jawab Chun-Chun seketika.

Alis mataku terangkat. Aku tersadar, di lain waktu dan situasi pernyataan Doraemon ini bisa menyebabkan diskusi yang berkepanjangan. Tapi tidak untuk sore ini.

“Maksudnya apa?” tanyaku dengan nada bicara yang mencoba menenangkan remaja satu ini.

“Iya, kan sebagai orang Katolik kita mesti percaya bahwa para Romo ini sudah dipanggil dan ditahbiskan oleh Tuhan, oleh Roh Kudus. Lha, kalau Romonya serba brengsek sampai menghamili orang kan berarti acara-acara pentahbisan itu bohong semua,” jawabnya. Aku tercengang mendengar penjelasan si Doraemon. Belum pernah aku mendengar remaja ini berbicara secara emosi untuk hal-hal yang sangat sensitive ini.

“Mon, kamu hati-hati kalau menarik analisa dan konklusi sendiri dari suatu masalah,” kataku, “Kedengarannya kamu mencampur-adukkan beberapa masalah menjadi satu kemudian mencoba menemukan satu jawaban untuk semuanya.”

Tampang Chun-Chun langsung terlihat kebingungan. Aku sendiri sedikit merasa kaget bisa memberikan komentar semacam itu. Mungkin ini akibatnya memiliki istri yang lulus sekolah hukum.

“Pertama, masalah pelecehan seksual,” aku menyambung kata-kataku, “Yang namanya pelecehan seksual itu nggak disebabkan oleh selibat atau nggak kawin. Sebaliknya juga perkawinan tidak akan menjamin bakalan tidak ada lagi pelecehan seksual.”

“Kedua, tentang Tuhan mentahbiskan para Romo. Tuhan itu nggak pernah salah. Namun perlu disadari oleh semua orang bahwa para Romo yang dipilih Tuhan itu juga seorang manusia, yang juga lemah dan berbuat salah. Jadi, yang menghamili wanita dan melakukan pelecehan seksual itu adalah manusianya dari para Romo, bukan karya suci Tuhan dalam diri Romo.”

Wajah si Chun-Chun semakin menunjukkan tampang yang kebingungan. Ia pun akhirnya mengakuinya, “Saya bingung, Ko.”

Aku tersenyum. “Untuk ngerti omongan saya tadi kamu mesti kawin dulu sama cewek yang sekolah untuk jadi hakim!” ujarku untuk menyejukkan suasana.

Kutepuk pundak Chun-Chun sembari berkata, “Mon, jangan pernah mencampur adukkan agama dengan manusia. Lebih bahaya lagi kalau memakai manusia sebagai simbol dari satu agama, karena pada akhirnya hanya kekecewaan yang menjadi hasilnya. Tentang skandal di gereja kamu ini, yang penting kamu ambil pelajarannya. Anggap saja hal ini merupakan karya misterius Tuhan untuk mendewasakan umat gereja kamu.”

Doraemon tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Udah ah, Ko, capek dengerin omongannya yang mbulet kemana-mana!”

Aku hanya nyengir mendengar tanggapan si Doraemon. Setelah meletakkan gelas es kelapanya, ia kemudian berpamitan padaku dan pulang ke rumahnya. Entah kenapa aku kemudian ingin langsung kumur mulutku dan menggosok gigiku. Benar kata si Chun-Chun, kataku dalam hati, ngomong dengan gaya yang formal memang bikin capek. (RO/IM)

0107_101C

 

     

 


FastCounter by bCentral