Hari Bapak Nasional?
Hari ini tanggal kalenderku berwarna merah. Satu hari lagi
kesempatan untuk beristirahat dari kepenatan suasana kerja
karena adanya peringatan 1 Muharram.
Ada teori yang mengatakan kalau orang dikasih waktu kosong
sendirian, ia bakal mendapatkan ide-ide yang aneh-aneh. Bila
orang sendirian saja bisa punya ide aneh-aneh, maka tak
mengherankan apabila sekumpulan orang yang punya waktu kosong
akan melakukan hal yang aneh-aneh.
Contohnya di kampungku hari ini. Sore hari yang teduh sudah
merupakan panggilan tersendiri bagi beberapa orang untuk ngumpul.
Beberapa warga kampungku mengambil kesempatan ini untuk
beristirahat setelah membenahi satu-dua hal di rumahnya
masing-masing akibat banjir terakhir. Hari ini giliran rumahku
menjadi pangkalan mereka.
“Nasib menjadi bapak, hari libur pun tetap bekerja”, celoteh
Trisno. Suaranya agak dikumandangkan seperti lagu dangdut. Lalu
ia mengusap keringat di dahinya dengan lengan kaosnya.
“Ini bukan nasib, tapi memang resiko menjadi kepala keluarga,”
sahut Pak Jajang sambil tersenyum, “Mau jadi bapak kek, masih
bujangan kek, kalau punya rumah dan rumahnya rusak ya mesti
diperbaiki walaupun kerjanya di hari libur.”
Baru saja Pak Jajang menyelesaikan kalimatnya, muncul lagi
satu orang tetanggaku. Yang datang adalah seorang lelaki berusia
sekitar 50 tahunan berkulit kuning langsat. Aku biasa
memanggilnya Ko A-Wen, tapi orang-orang kampungku lebih
mengenalnya sebagai Pak John.
Setelah saling menyapa, Pak John bertanya, “Lagi ngobrolin
apa nih?”
“Ini, si Trisno sedang berkeluh tentang jadi bapak yang terus
kerja walaupun liburan,” jawabku sembari menawarkan es teh manis
padanya. Pak John dengan sopan menerimanya.
“Ya begitu nasib jadi bapak di Indonesia,” kata Pak John,
“Coba di Australia, paling tidak ada satu hari dalam kalender
yang menjadi hari bapak nasional.”
Pak John dulu pernah dikirim pemerintah untuk menuntut ilmu
strata dua di Australia. Dua tahun lamanya ia tinggal dan
berkuliah di Melbourne.
“Oh ya?” ujar Trisno, “Kok di Indonesia nggak ada ya?”
“Sebabnya nggak pernah ada yang inisiatif,” sahut Pak Jajang.
“Bener, Pak Jajang,” sambung Pak John, ”Coba ada yang punya
inisiatif pasti hari bapak nasional akan bisa jadi hari
peringatan nasional. Setidaknya, bapak-bapak kayak kita bisa
mersakan dirinya dihargai setahun sekali.”
Kulihat mata Trisno membesar.
“Kenapa nggak kita-kita saja yang inisiatif?” tanya Trisno.
Kami bertiga saling berpandangan.
“Iya kan?” sambung Trisno lagi, “Kalau ibu-ibu ada hari ibu
nasional, kenapa bapak-bapak nggak punya hari bapak nasional?”
“Masalahnya, No,” sela Pak John, “Inisiatif untuk punya hari
bapak nasional itu bukan cuma datang dari kalangan bapak-bapak
saja. Ibu-ibu juga harus mendukung hal ini.”
Perkataan Pak John ini yang terakhir kuingat dari pembicaraan
kami tentang hari bapak nasional ini. Ide berinisiatif
mengadakan hari bapak nasional di kampung kami memang kedengaran
setengah gila. Tapi logikaku berargumen setengah gila bukan
berarti tidak boleh ada. Sehingga malam itu, entah dari mana
asalnya, topik ini muncul di tengah-tengah obrolanku dengan Mei
Hwa, istriku.
“Apa tujuannya lagi?” tanya istriku. Sepertinya ia ingin
menyakinkan dirinya sendiri tentang apa yang barusan didengarnya.
“Ya, tujuannya supaya para bapak dan ibu sama-sama memiliki
satu hari dalam setahun dimana dirinya dihargai,” jawabku.
Mei Hwa mencoba menahan senyumnya. Sumpah mati wajahnya
justru tambah ayu ketika senyumannya tertahan. Namun aku tahu di
balik senyumannya itu akan ada counter-attack yang seringkali
menyudutkanku.
“Para bapak mau minta dihargai apa lagi dari istrinya?” tanya
Mei Hwa.
“Bukan mau minta penghargaan lagi dari istrinya,” jawabku,
“Tapi adanya satu hari dalam setahun dimana para bapak bisa
merasa dirinya dihargai.”
“Jadi pada dasarnya para bapak minta haknya untuk dihargai di
hari bapak nasional?” tanya istriku lagi.
“Kurang lebih begitu.”
“Tapi tahu kan kalau ada hak mesti ada kewajiban?”
“Ya,” aku mengangguk.
“Kalau begitu analogi kenapa tidak adanya hari bapak nasional
di Indonesia itu seperti ini: tidak ada hari bapak nasional
karena mayoritas belum berpikir para bapak berhak memiliki hari
bapak nasional,” kata Mei Hwa, “ Dan mayoritas berpikir para
bapak belum memiliki hari bapak nasional karena mayoritas
berpikir para bapak pada umumnya belum melakukan kewajibannya
dengan baik.”
Aku melongo. Alis mataku masih tertarik ke atas ketika
tiba-tiba teleponku berdering.
“Halo,” sapaku.
“Pung, ini Trisno,” terdengar suara dari ujung telepon.
“Kenapa, No?” tanyaku, “Kok bisik-bisik?”
“Nggak apa-apa,” jawab Trisno, “Cuma nanti kalau bojoku nanya
tentang hari bapak nasional, kamu jangan cerita apa-apa terutama
tentang ajakanku untuk berinisiatif.”
“Lho, memangnya istrimu kenapa, No?”
“Bojoku ngomel besar-besaran waktu dikasih ide tentang hari
bapak nasional, “ jawab Trisno, “Sekarang aku lagi di-skors,
nggak dapet jatah sampai minggu depan. Jadi jangan cerita-cerita
ya?”
“Jatah apaan, No?”
Trisno tidak menjawab pertanyaanku. Hanya suara ‘klik’ di
ujung telepon yang aku dengar.(RO/IM) |