Iklan Disini!

  Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

Diasuh Oleh:
Ridwan Ongkowidagdo

Semua nama, tempat, tokoh, dan cerita adalah fiktif. Kesamaan yang terjadi hanyalah kebetulan belaka.

Serial:

1. Resah Mencari Pak RT

2. Dan Wariapun Berdemonstrasi

3. Nasi Goreng 'MY BABY'

4. Jalan Baru

5. Kalkulasi Teori Perjodohan

6. Sekali Lagi, Merdeka Cuk!

7. Sinar Rembulan di Siang Hari

8. Pelajaran dari Mbah Redjo

9. Tragedi Suzuki Carrie

10. Bingung Tentang Pahlawan

11. Sang Atheist dan Gajah

12. Konsultasi Hukum Pojok Kampung

13. Kasih Sayang 2000 Perak

15. Doraemon Emosi

16. Lilin-Lilin Kecil

17. Piala Dunia Buat Jeng Sri

18. Dicari:  Pemimpin Gak Wajar

19. Amburadil

20. Pecatlah Daku, Kau Kudemo

21. Kembalikan Baliku

22. Cacat

 

Hari Bapak Nasional?

Hari ini tanggal kalenderku berwarna merah. Satu hari lagi kesempatan untuk beristirahat dari kepenatan suasana kerja karena adanya peringatan 1 Muharram.

Ada teori yang mengatakan kalau orang dikasih waktu kosong sendirian, ia bakal mendapatkan ide-ide yang aneh-aneh. Bila orang sendirian saja bisa punya ide aneh-aneh, maka tak mengherankan apabila sekumpulan orang yang punya waktu kosong akan melakukan hal yang aneh-aneh.

Contohnya di kampungku hari ini. Sore hari yang teduh sudah merupakan panggilan tersendiri bagi beberapa orang untuk ngumpul. Beberapa warga kampungku mengambil kesempatan ini untuk beristirahat setelah membenahi satu-dua hal di rumahnya masing-masing akibat banjir terakhir. Hari ini giliran rumahku menjadi pangkalan mereka.

“Nasib menjadi bapak, hari libur pun tetap bekerja”, celoteh Trisno. Suaranya agak dikumandangkan seperti lagu dangdut. Lalu ia mengusap keringat di dahinya dengan lengan kaosnya.

“Ini bukan nasib, tapi memang resiko menjadi kepala keluarga,” sahut Pak Jajang sambil tersenyum, “Mau jadi bapak kek, masih bujangan kek, kalau punya rumah dan rumahnya rusak ya mesti diperbaiki walaupun kerjanya di hari libur.”

Baru saja Pak Jajang menyelesaikan kalimatnya, muncul lagi satu orang tetanggaku. Yang datang adalah seorang lelaki berusia sekitar 50 tahunan berkulit kuning langsat. Aku biasa memanggilnya Ko A-Wen, tapi orang-orang kampungku lebih mengenalnya sebagai Pak John.

Setelah saling menyapa, Pak John bertanya, “Lagi ngobrolin apa nih?”

“Ini, si Trisno sedang berkeluh tentang jadi bapak yang terus kerja walaupun liburan,” jawabku sembari menawarkan es teh manis padanya. Pak John dengan sopan menerimanya.

“Ya begitu nasib jadi bapak di Indonesia,” kata Pak John, “Coba di Australia, paling tidak ada satu hari dalam kalender yang menjadi hari bapak nasional.”

Pak John dulu pernah dikirim pemerintah untuk menuntut ilmu strata dua di Australia. Dua tahun lamanya ia tinggal dan berkuliah di Melbourne.

“Oh ya?” ujar Trisno, “Kok di Indonesia nggak ada ya?”

“Sebabnya nggak pernah ada yang inisiatif,” sahut Pak Jajang.

“Bener, Pak Jajang,” sambung Pak John, ”Coba ada yang punya inisiatif pasti hari bapak nasional akan bisa jadi hari peringatan nasional. Setidaknya, bapak-bapak kayak kita bisa mersakan dirinya dihargai setahun sekali.”

Kulihat mata Trisno membesar.

“Kenapa nggak kita-kita saja yang inisiatif?” tanya Trisno.

Kami bertiga saling berpandangan.

“Iya kan?” sambung Trisno lagi, “Kalau ibu-ibu ada hari ibu nasional, kenapa bapak-bapak nggak punya hari bapak nasional?”

“Masalahnya, No,” sela Pak John, “Inisiatif untuk punya hari bapak nasional itu bukan cuma datang dari kalangan bapak-bapak saja. Ibu-ibu juga harus mendukung hal ini.”

Perkataan Pak John ini yang terakhir kuingat dari pembicaraan kami tentang hari bapak nasional ini. Ide berinisiatif mengadakan hari bapak nasional di kampung kami memang kedengaran setengah gila. Tapi logikaku berargumen setengah gila bukan berarti tidak boleh ada. Sehingga malam itu, entah dari mana asalnya, topik ini muncul di tengah-tengah obrolanku dengan Mei Hwa, istriku.

“Apa tujuannya lagi?” tanya istriku. Sepertinya ia ingin menyakinkan dirinya sendiri tentang apa yang barusan didengarnya.

“Ya, tujuannya supaya para bapak dan ibu sama-sama memiliki satu hari dalam setahun dimana dirinya dihargai,” jawabku.

Mei Hwa mencoba menahan senyumnya. Sumpah mati wajahnya justru tambah ayu ketika senyumannya tertahan. Namun aku tahu di balik senyumannya itu akan ada counter-attack yang seringkali menyudutkanku.

“Para bapak mau minta dihargai apa lagi dari istrinya?” tanya Mei Hwa.

“Bukan mau minta penghargaan lagi dari istrinya,” jawabku, “Tapi adanya satu hari dalam setahun dimana para bapak bisa merasa dirinya dihargai.”

“Jadi pada dasarnya para bapak minta haknya untuk dihargai di hari bapak nasional?” tanya istriku lagi.

“Kurang lebih begitu.”

“Tapi tahu kan kalau ada hak mesti ada kewajiban?”

“Ya,” aku mengangguk.

“Kalau begitu analogi kenapa tidak adanya hari bapak nasional di Indonesia itu seperti ini: tidak ada hari bapak nasional karena mayoritas belum berpikir para bapak berhak memiliki hari bapak nasional,” kata Mei Hwa, “ Dan mayoritas berpikir para bapak belum memiliki hari bapak nasional karena mayoritas berpikir para bapak pada umumnya belum melakukan kewajibannya dengan baik.”

Aku melongo. Alis mataku masih tertarik ke atas ketika tiba-tiba teleponku berdering.

“Halo,” sapaku.

“Pung, ini Trisno,” terdengar suara dari ujung telepon.

“Kenapa, No?” tanyaku, “Kok bisik-bisik?”

“Nggak apa-apa,” jawab Trisno, “Cuma nanti kalau bojoku nanya tentang hari bapak nasional, kamu jangan cerita apa-apa terutama tentang ajakanku untuk berinisiatif.”

“Lho, memangnya istrimu kenapa, No?”

“Bojoku ngomel besar-besaran waktu dikasih ide tentang hari bapak nasional, “ jawab Trisno, “Sekarang aku lagi di-skors, nggak dapet jatah sampai minggu depan. Jadi jangan cerita-cerita ya?”

“Jatah apaan, No?”

Trisno tidak menjawab pertanyaanku. Hanya suara ‘klik’ di ujung telepon yang aku dengar.(RO/IM)

0107_101C

 

     

 


FastCounter by bCentral