Kasih Sayang 2000 Perak
Mei Hwa, istriku, bukanlah seorang yang suka ikut-ikutan
acara-acara yang sok Amerika atau yang sok imut, apalagi melihat
situasi kota yang masih amburadul akibat banjir. Tapi beberapa
hari sebelum tanggal 14 tiba, ia sepertinya berubah menjadi
sedikit lebih kalem dari hari-hari biasanya. Aku tak tahu apa
sebabnya. Apapun alasannya, aku tidak berani mengambil resiko
untuk merusak suasana yang sudah adem ayem ini.
Dari sikapnya yang kalem ini, ditambah boneka beruang putih
dengan hati warna merah di dadanya yang dibeli istriku, aku
menjadi merasa bersalah apabila aku tidak nge-date dengan
istriku di hari Valentine tahun ini.
Sore itu aku dan Mei Hwa telah berada di dalam mobilku
berangkat menuju ke restaurant di salah satu mall besar di
Jakarta. Hujan rintik-rintik masih menghiasi langit Jakarta.
Terlihat luapan air campuran dari air hujan dan air comberan
bergenang di jalan kampungku saat kami melintasinya.
Dibandingkan wilayah sekitar sugai Ciliwung, genagan air di
kampungku bisa dikatakan bagai di padang pasir.
Aku menyetir mobil sedanku secara perlahan agar imbas dari
lajunya mobilku terhadap genangan air tadi tidak membikin parah
rumah-rumah tetanggaku yang tengah kebanjiran. Beberapa meter
sebelum aku keluar dari jalan kampungku, Aan sang hansip
melambaikan tangannya menyapaku.
“Halo, Mas Pung,” sapanya sambil memberi hormat saat mobilku
berhenti di dekatnya. Celana hijau hansipnya sudah digulung
setinggi lutut.
“Banjir-banjir kok masih bisa cengar-cengir?” tanyaku.
Aan langsung tersenyum lebar. Ia menjawab, “Yah, terkadang
musibah bisa mendatangkan berkah juga.”
“Kamu barusan menang taruhan?” tanyaku balik sekilas.
“Bukan Mas Pung,” Aan menjawab sambil menggelengkan kepalanya,
“Tapi kan dengan banjir gini urusan Tragedi Suzuki Carry jadi
nggak ada yang inget lagi. Jadi saya bisa lebih tenang dikit lah.”
Mulutku membentuk huruf O menerima jawabannya. Aan kemudian
menyambung ocehannya, “Mas Pung mau ke Mall ya?”
“Kok tahu kita mau ke Mall?” tanyaku balik.
“Cuma nebak,“ jawabnya, “Kalau ke Mall hari ini jangan lewat
jalan gede. Lewat jalan belakang aja Mas, soalnya jalan gedenya
macet total.”
“Oke, ma kasih An!” ujarku seraya meluncurkan mobilku lagi
menuju ke Mall.
“Kita jadi nih lewat jalan belakang?” tanya Mei Hwa. Aku
menjadi tersadar bahwa aku otomatis menyetir mobilku menuju ke
jalan belakang menuju ke Mall dan tidak menggunakan jalan besar
seperti biasanya.
“Iya,” jawabku, “Denger-denger jalan gede semua memang lagi
pada macet.”
“Kamu sadar kan kalau banjir di jalan belakang itu besar
kemungkinannya lebih parah dari kampung kita?” tanya Mei Hwa.
Pas Mei Hwa selesai dengan pertanyaannya mobilku masuk ke
rute jalan belakang tersebut. Sejenak kulihat sebuah Toyota
Kijang dan sebuah Mitsubishi Kuda melintas di jalan itu. Dugaan
Mei Hwa benar bahwa banjir di jalan ini lebih parah dari banjir
di kampungku. Tapi instinct maskulinku mengatakan bahwa mobil
sedanku pasti bisa lewat.
“Asalkan jangan berhenti di tengah-tengah jalan,” aku mencoba
menjelaskan argumenku pada Mei Hwa. Istriku mengerutkan
keningnya sambil menatapku. Ia kemudian memeluk tas yang berada
di pangkuannya. Lagaknya mengesankan ia tahu bahwa aku telah
berada dalam mood ‘maju tak gentar’. Tidak ada hal lagi yang
bisa merubahku untuk tidak mengemudikan mobilku melewati jalan
yang sedang kebanjiran ini.
Dari mobilku kulihat jalan ini sangat lengang ke depan. Lampu
belakang Toyota Kijang yang tadi berpapasan dengan mobilku sudah
semakin menjauh. Aktivitas yang ada di sekitar jalan ini
hanyalah beberapa anak remaja belia bertelanjang dada sedang
bermain-main dengan air coklat yang menggenangi jalan ini.
Seorang anak dengan rambut dicukur ala Indian Mohawk terlihat
sedang memamerkan keberaniannya dengan meloncat salto dari bibir
tempat sampah salah satu rumah penghuni jalan ini.
Seketika mobilku mulai masuk ke jalan ini, anak-anak tadi
langsung melemparkan pandangannya ke mobilku. Anak yang
berpotongan rambut ala Mohawk tadi langsung membisikkan sesuatu
pada seorang anak lainnya yang lebih kecil daripada dirinya.
Perasaanku menjadi was-was melihat aktivitas anak-anak tadi.
Dugaanku tidak meleset. Anak kecil yang dibisiki oleh si Mohawk
tadi berjalan perlahan dalam air yang hampir setinggi dadanya
itu. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, ia berhenti pas
beberapa meter di depan mobilku. Satu-satunya manuver yang bisa
dilakukan oleh mobilku hanyalah berhenti.
Segera kupindahkan gigi persenelingku ke netral. Pedal gas
mobilku tetap kuinjak dan kulepas secara konstan. Kulihat air
mulai merembes masuk lewat bagian bawah pintu mobilku. Aku
kemudian berteriak, “Minggir… minggir!!” seraya tanganku
mengisyaratkan anak kecil tersebut hal yang sama. Namun anak
kecil itu justru senyumnya melebar melihat aksiku.
Tanpa aku sadar, istriku pun mulai beraksi. Ia segera membuka
tasnya dan jendela pintu mobil. Ia kemudian mengeluarkan secarik
uang seribuan dan mengibar-kibarkannya ke arah anak kecil tadi.
Bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya, anak kecil itu langsung
berlari dalam air ke arah istriku. Ketiga anak lainnya pun
langsung meloncat dalam air ke arah yang sama.
Beberapa detik kemudian aku baru sadar bahwa aku barusan
ditodong oleh empat anak ingusan. Todongannya: kasih duit atau
mobil mogok.
Ketika anak kecil tadi mendekati mobilku, istriku langsung
berkata, “Ini dua ribu buat kalian tapi dikasihnya di ujung
jalan!”
Anak kecil tadi mengangguk kegirangan tanpa dosa. Ia kemudian
memberi tahu ketiga kawannya tentang janji istriku tadi. Bak
tukang parkir, keempat anak tadi langsung memandu mobilku ke
ujung jalan. Uang dua ribu perak diberikan oleh istriku ke
anak-anak tadi. Syukurlah, setelah jalan tadi tidak ada jalan
lain lagi yang banjirnya parah sehingga kami bisa sampai ke
restaurant tujuan kami tepat pada waktunya.
Di hari Valentine ini istriku hanya memberiku satu kecupan di
kening. Tapi, sesampainya di restaurant, aku sadar bahwa istriku
memberikan hadiah yang lebih besar: uang dua ribu rupiah. Dengan
dua ribu rupiah, istriku bisa menghindarkan aku untuk mendorong
mobil mogok, terjebak di kemacetan lau lintas yang parah, dan
kehilangan kesempatan untuk merayakan hari kasih sayang dengan
istriku. (RO/IM) |