Iklan Disini!

  Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

Diasuh Oleh:
Ridwan Ongkowidagdo

Semua nama, tempat, tokoh, dan cerita adalah fiktif. Kesamaan yang terjadi hanyalah kebetulan belaka.

Serial:

1. Resah Mencari Pak RT

2. Dan Wariapun Berdemonstrasi

3. Nasi Goreng 'MY BABY'

4. Jalan Baru

5. Kalkulasi Teori Perjodohan

6. Sekali Lagi, Merdeka Cuk!

7. Sinar Rembulan di Siang Hari

8. Pelajaran dari Mbah Redjo

9. Tragedi Suzuki Carrie

10. Bingung Tentang Pahlawan

11. Sang Atheist dan Gajah

12. Konsultasi Hukum Pojok Kampung

14. Hari Nasional Bapak?

15. Doraemon Emosi

16. Lilin-Lilin Kecil

17. Piala Dunia Buat Jeng Sri

18. Dicari:  Pemimpin Gak Wajar

19. Amburadil

20. Pecatlah Daku, Kau Kudemo

21. Kembalikan Baliku

22. Cacat

 

Kasih Sayang 2000 Perak

Mei Hwa, istriku, bukanlah seorang yang suka ikut-ikutan acara-acara yang sok Amerika atau yang sok imut, apalagi melihat situasi kota yang masih amburadul akibat banjir. Tapi beberapa hari sebelum tanggal 14 tiba, ia sepertinya berubah menjadi sedikit lebih kalem dari hari-hari biasanya. Aku tak tahu apa sebabnya. Apapun alasannya, aku tidak berani mengambil resiko untuk merusak suasana yang sudah adem ayem ini.  

Dari sikapnya yang kalem ini, ditambah boneka beruang putih dengan hati warna merah di dadanya yang dibeli istriku, aku menjadi merasa bersalah apabila aku tidak nge-date dengan istriku di hari Valentine tahun ini.

Sore itu aku dan Mei Hwa telah berada di dalam mobilku berangkat menuju ke restaurant di salah satu mall besar di Jakarta. Hujan rintik-rintik masih menghiasi langit Jakarta. Terlihat luapan air campuran dari air hujan dan air comberan bergenang di jalan kampungku saat kami melintasinya. Dibandingkan wilayah sekitar sugai Ciliwung, genagan air di kampungku bisa dikatakan bagai di padang pasir.

Aku menyetir mobil sedanku secara perlahan agar imbas dari lajunya mobilku terhadap genangan air tadi tidak membikin parah rumah-rumah tetanggaku yang tengah kebanjiran. Beberapa meter sebelum aku keluar dari jalan kampungku, Aan sang hansip melambaikan tangannya menyapaku.

“Halo, Mas Pung,” sapanya sambil memberi hormat saat mobilku berhenti di dekatnya. Celana hijau hansipnya sudah digulung setinggi lutut.

“Banjir-banjir kok masih bisa cengar-cengir?” tanyaku.

Aan langsung tersenyum lebar. Ia menjawab, “Yah, terkadang musibah bisa mendatangkan berkah juga.”

“Kamu barusan menang taruhan?” tanyaku balik sekilas.

“Bukan Mas Pung,” Aan menjawab sambil menggelengkan kepalanya, “Tapi kan dengan banjir gini urusan Tragedi Suzuki Carry jadi nggak ada yang inget lagi. Jadi saya bisa lebih tenang dikit lah.”

Mulutku membentuk huruf O menerima jawabannya. Aan kemudian menyambung ocehannya, “Mas Pung mau ke Mall ya?”

“Kok tahu kita mau ke Mall?” tanyaku balik.

“Cuma nebak,“ jawabnya, “Kalau ke Mall hari ini jangan lewat jalan gede. Lewat jalan belakang aja Mas, soalnya jalan gedenya macet total.”

“Oke, ma kasih An!” ujarku seraya meluncurkan mobilku lagi menuju ke Mall.

“Kita jadi nih lewat jalan belakang?” tanya Mei Hwa. Aku menjadi tersadar bahwa aku otomatis menyetir mobilku menuju ke jalan belakang menuju ke Mall dan tidak menggunakan jalan besar seperti biasanya.

“Iya,” jawabku, “Denger-denger jalan gede semua memang lagi pada macet.”

“Kamu sadar kan kalau banjir di jalan belakang itu besar kemungkinannya lebih parah dari kampung kita?” tanya Mei Hwa.

Pas Mei Hwa selesai dengan pertanyaannya mobilku masuk ke rute jalan belakang tersebut. Sejenak kulihat sebuah Toyota Kijang dan sebuah Mitsubishi Kuda melintas di jalan itu. Dugaan Mei Hwa benar bahwa banjir di jalan ini lebih parah dari banjir di kampungku. Tapi instinct maskulinku mengatakan bahwa mobil sedanku pasti bisa lewat.

“Asalkan jangan berhenti di tengah-tengah jalan,” aku mencoba menjelaskan argumenku pada Mei Hwa. Istriku mengerutkan keningnya sambil menatapku. Ia kemudian memeluk tas yang berada di pangkuannya. Lagaknya mengesankan ia tahu bahwa aku telah berada dalam mood ‘maju tak gentar’. Tidak ada hal lagi yang bisa merubahku untuk tidak mengemudikan mobilku melewati jalan yang sedang kebanjiran ini.

Dari mobilku kulihat jalan ini sangat lengang ke depan. Lampu belakang Toyota Kijang yang tadi berpapasan dengan mobilku sudah semakin menjauh. Aktivitas yang ada di sekitar jalan ini hanyalah beberapa anak remaja belia bertelanjang dada sedang bermain-main dengan air coklat yang menggenangi jalan ini. Seorang anak dengan rambut dicukur ala Indian Mohawk terlihat sedang memamerkan keberaniannya dengan meloncat salto dari bibir tempat sampah salah satu rumah penghuni jalan ini.

Seketika mobilku mulai masuk ke jalan ini, anak-anak tadi langsung melemparkan pandangannya ke mobilku. Anak yang berpotongan rambut ala Mohawk tadi langsung membisikkan sesuatu pada seorang anak lainnya yang lebih kecil daripada dirinya.

Perasaanku menjadi was-was melihat aktivitas anak-anak tadi. Dugaanku tidak meleset. Anak kecil yang dibisiki oleh si Mohawk tadi berjalan perlahan dalam air yang hampir setinggi dadanya itu. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, ia berhenti pas beberapa meter di depan mobilku. Satu-satunya manuver yang bisa dilakukan oleh mobilku hanyalah berhenti.

Segera kupindahkan gigi persenelingku ke netral. Pedal gas mobilku tetap kuinjak dan kulepas secara konstan. Kulihat air mulai merembes masuk lewat bagian bawah pintu mobilku. Aku kemudian berteriak, “Minggir… minggir!!” seraya tanganku mengisyaratkan anak kecil tersebut hal yang sama. Namun anak kecil itu justru senyumnya melebar melihat aksiku.

Tanpa aku sadar, istriku pun mulai beraksi. Ia segera membuka tasnya dan jendela pintu mobil. Ia kemudian mengeluarkan secarik uang seribuan dan mengibar-kibarkannya ke arah anak kecil tadi. Bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya, anak kecil itu langsung berlari dalam air ke arah istriku. Ketiga anak lainnya pun langsung meloncat dalam air ke arah yang sama.

Beberapa detik kemudian aku baru sadar bahwa aku barusan ditodong oleh empat anak ingusan. Todongannya: kasih duit atau mobil mogok.

Ketika anak kecil tadi mendekati mobilku, istriku langsung berkata, “Ini dua ribu buat kalian tapi dikasihnya di ujung jalan!”

Anak kecil tadi mengangguk kegirangan tanpa dosa. Ia kemudian memberi tahu ketiga kawannya tentang janji istriku tadi. Bak tukang parkir, keempat anak tadi langsung memandu mobilku ke ujung jalan. Uang dua ribu perak diberikan oleh istriku ke anak-anak tadi. Syukurlah, setelah jalan tadi tidak ada jalan lain lagi yang banjirnya parah sehingga kami bisa sampai ke restaurant tujuan kami tepat pada waktunya.

Di hari Valentine ini istriku hanya memberiku satu kecupan di kening. Tapi, sesampainya di restaurant, aku sadar bahwa istriku memberikan hadiah yang lebih besar: uang dua ribu rupiah. Dengan dua ribu rupiah, istriku bisa menghindarkan aku untuk mendorong mobil mogok, terjebak di kemacetan lau lintas yang parah, dan kehilangan kesempatan untuk merayakan hari kasih sayang dengan istriku. (RO/IM)

0107_101C

 

     

 


FastCounter by bCentral