0100_102A.gif

  Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

Diasuh Oleh:
Ridwan Ongkowidagdo

Semua nama, tempat, tokoh, dan cerita adalah fiktif. Kesamaan yang terjadi hanyalah kebetulan belaka.

Serial:

1. Resah Mencari Pak RT

2. Dan Wariapun Berdemonstrasi

3. Nasi Goreng 'MY BABY'

4. Jalan Baru

5. Kalkulasi Teori Perjodohan

6. Sekali Lagi, Merdeka Cuk!

7. Sinar Rembulan di Siang Hari

8. Pelajaran dari Mbah Redjo

9. Tragedi Suzuki Carry

10. Bingung Tentang Pahlawan

11. Sang Atheist dan Gajah

13. Kasih Sayang 2000 Perak

14. Hari Nasional Bapak?

15. Doraemon Emosi

16. Lilin-Lilin Kecil

17. Piala Dunia Buat Jeng Sri

18. Dicari:  Pemimpin Gak Wajar

19. Amburadil

20. Pecatlah Daku, Kau Kudemo

21. Kembalikan Baliku

22. Cacat

 

Konsultasi Hukum Pojok Kampung

Peristiwa nyelonongnya Suzuki Carry ke warungnya Pak Slamet beberapa waktu yang lalu kembali menjadi bahan pembicaraan yang seru buat para warga kampungku. Pasalnya, para tersangka penyebab nyelonongnya Suzuki Carry itu berhasil diidentifikasikan oleh beberapa warga kampungku.

Topik ini seketika menjadi buah bibir warga kampungku ketika kami saling bertemu. Kami yang sedang berkumpul di warungnya Pak Slamet malam itu juga tak menjadi perkecualian.

 “Nama-nama tersangkanya Eric, Endro, dan Yoyok,” demikian laporan dari si Aan, hansip kampungku.

 “Yakin kamu  An?” tanya Trisno si gembul, “Saya kok malah dengar yang melakukannya si Eric, Mudji, dan Pangestu.”

 “Lho, si Doraemon ngasih tahunya lain lagi,” kataku, “Dia cerita kalau yang melakukannya si Eric, Hung-Hung, dan si Endro.”

 “Kok pada lain semua informasinya?” tanya Pak Sitorus, “Jadi mana yang paling benar?”

Aan mencoba menjawabnya, “Saya kan petugas keamanan kampung ini, jadi saya yakin informasi saya yang paling benar.”

“Informasi kamu dari mana memangnya, An?” tanya Pak Sitorus balik.

“Saya dapet dari hansip kampung sebelah,” jawab Aan.

“Si Dodi?” Pak Sitorus bereaksi dengan suara yang keras, setengah membentak, terhadap jawaban Aan, “Si Dodi dodol?”

Mendengar nada suara Pak Sitorus tersebut terasa nyali Aan menjadi ciut. Ia hanya menganggukkan kepalanya.

“Aan, Aan,” ujar Pak Sitorus sambil tersenyum. Bagi yang tidak benar-benar mengenalnya, Pak Sitorus mungkin bakalan dianggap menyeringai daripada tersenyum.

“Saya sih mending percaya kalau hujan itu air mata bidadari daripada percaya omongan si Dodi dodol!”

“Menurut saya sih kita mesti melihat trend-nya,” sahut Trisno tiba-tiba. Aku sedikit terkejut dengan gaya bahasanya yang lebih modern dari biasanya. Alis mataku masih terangkat ketika si Trisno melanjutkan kata-katanya, “Yang pasti bersalah disini ya si Eric. Lihat saja, semua orang dengar kalau dia yang bersalah.”

“Walah, nentuin orang bersalah kok lewat trend,” aku menanggapi ucapan si Trisno, “Kita kan mesti pakai azas praduga tak bersalah, kok sekarang pakai azas trend-trend-an. Kalau pakai trend-trend-an, bagaimana jadinya tuh buat si Endro? Kan nggak semua orang yang bilang dia salah.”

Trisno terdiam.

Pak Sitorus kemudian bertanya, “Jadi, bagaimana kita bisa menemukan orang yang bersalah?”

“Menurut istri saya, kita mesti punya bukti atau saksi untuk bisa menentukan satu pihak itu bersalah atau tidak,” jawabku.

“Nah, saksinya kan sudah ada disini,” sahut Aan sambil merujuk ke Trisno.

Kami semua langsung memandang Trisno. Pria gembul ini segera membenahkan posisi duduknya dan kemudian berkata, “Saya ini korban, bukan saksi. Saya waktu itu ada di dalam warung, nggak bisa lihat keluar dengan jelas.”

“Kalau begitu kita nggak punya saksi dong,” kata Aan, “Dan kalau nggak ada saksi berarti kita nggak bakalan menemukan siapa yang bersalah.”

“Wah, masak kasus beginian juga mesti di-peti-es-kan kayak kasusnya bapak-bapak pejabat?” celetuk Pak Sitorus. Kami semua langsung tertawa mendengar celetukan itu.

“Urusan begini kita pakai jalan singkat saja,” kata Aan mencoba menanggapi perihal mencari siapa yang bersalah tanpa saksi, “Kita kumpulkan saja semua tersangka dalam satu urun rembug, terus kita tanyain satu-satu. Kelihatan kok nantinya siap yang bersalah, siapa yang tidak bersalah.”

“Bagaimana melihatnya An?” tanyaku.

“Ya yang bersalah pasti kelihatan grogi dan gelisah,” jawab Aan, “Yang tidak bersalah pasti akan tenang-tenang saja karena memang nggak ada yang disembunyikan.”

“Lho, kalau begitu kamu ada salah apaan An sampai jadi grogi dan gelisah gitu waktu disuruh Bu RT membacakan pengumuman di acara tujuh-belasan tempo hari?” tanyaku lagi pada Aan.

“Ah, Aan sih biasa salahnya,” sahut Trisno, “Dia ngutang melulu ke Pak Slamet tapi nggak pernah bayar-bayar.” Kami semua, kecuali Aan, tertawa mendengarnya. Aan mengepalkan tangannya sambil mengacung-acungkannya ke arah si Trisno sebagai balasan sentilan Trisno tadi.

“Sudahlah, daripada repot-repot, mending diampuni saja siapa pun yang bersalah menyebabkan Suzuki Carry ini nyelonong ke warungnya Pak Slamet,” kata Pak Sitorus dengan suara yang tenang, “Kejadiannya sudah berlalu dan warung Pak Slamet sudah berhasil berdiri lagi dengan bantuan kita semua. Istilah kerennya sekarang, ya di-abolisi sajalah.”

Sementara si Trisno dan si Aan manggut-manggut, aku langsung memberikan komentarku terhadap ajakan Pak Sitorus tersebut, “Pak, sepengetahuan saya, abolisi itu artinya penghapusan tuntutan terhadap tersangka. Lha tersangka saja tidak ada kok abolisi bisa ada, kan nggak bener itu namanya.”

“Saya setuju Pak kalau kita nggak bisa selamanya ngurusi hal-hal yang sudah berlalu,” sambungku, “Tapi kasus-kasus seperti ini kita harus tangani dan selesaikan secara adil dan nyata. Diselesaikan maksudnya kita semua memiliki informasi yang jelas siapa yang dianggap bersalah berdasarkan bukti-bukti dan saksi-saksi yang ada. Dengan demikian warga kampung kita akan hidup tenang karena ada kepastian hukum dan orang luar juga segan untuk berbuat yang aneh-aneh di kampung kita.”

Trisno dan Aan manggut-manggut lagi.

“Tapi bagaimana mau diselesaikan Pung kan saksi dan bukti kita nggak punya,” kata Pak Sitorus.

“Maaf, koreksi sedikit Pak, kita sekarang masih BELUM punya saksi dan bukti, bukan TIDAK punya saksi dan bukti.” jawabku.

Kini semua mata memandang ke arah si Aan.  Aan memandang balik satu per satu ke arah kami seakan-akan bertanya, “Ada apa, kok lihat saya?”

Dengan tatapan yang tajam Pak Sitorus berkata, “An, saya minta kamu mencari bukti dan saksi kasus Suzuki Carry ini. Awas kalau nggak ketemu, saya sendiri yang akan nggantung kamu di pagar rumah!”

Mendengar titah Pak Sitorus pada Aan itu aku langsung bisa merasakan bagaimana sulitnya Aan menelan air ludahnya sendiri.

0107_101C

 

     

 


FastCounter by bCentral