0100_102A.gif

  Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

Diasuh Oleh:
Ridwan Ongkowidagdo

Semua nama, tempat, tokoh, dan cerita adalah fiktif. Kesamaan yang terjadi hanyalah kebetulan belaka.

Serial:

1. Resah Mencari Pak RT

2. Dan Wariapun Berdemonstrasi

3. Nasi Goreng 'MY BABY'

4. Jalan Baru

5. Kalkulasi Teori Perjodohan

6. Sekali Lagi, Merdeka Cuk!

7. Sinar Rembulan di Siang Hari

8. Pelajaran dari Mbah Redjo

9. Tragedi Suzuki Carry

10. Bingung Tentang Pahlawan

12. Konsultasi Hukum Pojok Kampung

13. Kasih Sayang 2000 Perak

14. Hari Nasional Bapak?

15. Doraemon Emosi

16. Lilin-Lilin Kecil

17. Piala Dunia Buat Jeng Sri

18. Dicari:  Pemimpin Gak Wajar

19. Amburadil

20. Pecatlah Daku, Kau Kudemo

21. Kembalikan Baliku

22. Cacat

 

Sang Atheist dan Gajah

Di tengah-tengah bulan Ramadhan dan masa Advent ini, aku cukup bersyukur karena aku diberkahi oleh Tuhan untuk dapat hidup di suatu kampung yang damai dan tenteram di antara orang-orang dari berbagai aliran agama dan kepercayaan. Semua agama ‘negara’ memiliki perwakilannya di kampungku, di samping beberapa aliran kepercayaan.

Saat ini hampir semua keluarga di kampungku sedang bersiap-siap untuk menghadapi hari-hari besar religius ini. Ada yang berencana untuk mudik, ada juga yang sedang membenahi rumahnya karena bakalan kedatangan tamu dari jauh.

Dalam suasana dan semangat religius yang tinggi ini, cukuplah mengagetkan buatku ketika teman kerjaku bersaksi bahwa dirinya tidak percaya akan adanya Tuhan. Bahwa dirinya adalah seorang atheist.

“Ya, saya tidak percaya Tuhan,” demikian tegasnya.

Sembari keningku berkerut, aku bertanya pada temanku ini, “Pak Darmo, boleh tahu kenapa sebabnya?”

Lelaki berkulit sawo matang temanku ini yang kupanggil Pak Darmo menjawabnya dengan senyuman tersungging di bibirnya, “Sebabnya? Ya karena saya percaya memang Tuhan itu nggak ada.”

Argumen Pak Darmo memang secara lantang bertentangan dengan pandangan 99.99% semua orang yang aku kenal.

“Maaf ya Pak, kalau boleh nanya apa Pak Darmo ini seorang komunis? Nggak usah takut kok Pak, nggak bakalan saya laporin.”

Pak Darmo tertawa sambil menggelengkan kepalanya, “Saya belum gila Pung. Masak saya kerja keras terus duitnya dibagi-bagi ke orang lain supaya sama rata sama rasa? Kan gila itu namanya!”

Aku jadi tersenyum mendengar ucapannya.

“Kalau memang Tuhan itu Pak Darmo percaya nggak ada,“ aku menyambung pertanyaanku, “apa dasar dari kepercayaan itu?”

“Tuhan itu ciptaan manusia,” jawab pria setengah baya ini dengan lugas, “Tuhan itu diciptakan manusia untuk menjelaskan segala sesuatu di dunia ini yang tidak dapat dijelaskan. Contohnya, sebelum manusia mengerti mengenai proses meletusnya gunung berapi, manusia percaya bahwa letusan gunung tersebut merupakan pertanda bahwa Tuhan lagi marah. Sekarang, Tuhan yang dipercaya dulu marah lewat gunung berapi sudah nggak ada yang mempercayainya lagi, alias Tuhan tersebut sudah mati.”

“Wah, Pak Darmo, teori beginian kan nggak bisa dipakai untuk menjelaskan Tuhan-nya semua agama-agama besar di dunia saat ini?” ujarku.

“Memang Tuhan ada berapa Pung?” tanya Pak Darmo balik.

“Ya, menurut kepercayaan saya sih cuma satu” jawabku.

“Apakah Tuhan itu kebenaran yang sejati?”

“Ya.”

“Apakah kebenaran sejati itu hanya satu tunggal ataukah ada kebenaran lainnya?”

“Ya cuma satu, tapi itu menurut kepercayaan saya saja.”

“Apakah agama itu refleksi dari kebenaran sejati Tuhan?”

Aku langsung tahu kemana arah pembicaraan ini. Tanpa menjawab pertanyaannya, aku segera mengambil posisi untuk mencoba menjelaskan posisiku tentang Tuhan dan agama.

“Pak Darmo, dalam pengertian saya mengenai toleransi antar-agama, tiap-tiap agama itu seperti seorang buta yang disuruh memegang seekor gajah. Yang memegang belalai percaya kalau gajah itu seperti selang air. Yang memegang kaki percaya gajah itu seperti tiang listrik. Sedangkan yang memegang badan gajah percaya kalau gajah itu seperti tembok. Semuanya memberikan deskripsi tentang gajah yang mereka pegang dan mereka percaya, tapi tidak ada satupun yang mampu menjelaskan apa gajah itu secara menyeluruh karena tidak ada satupun dari mereka yang mampu untuk melihatnya.”

“Jadi dari analogi kamu tadi itu Tuhan adalah gajah dan agama adalah orang buta ya?” Tanya Pak Darmo.

Aku mengangguk membenarkan pernyataannya.

“Jadi maksudnya cerita tadi tiap-tiap agama itu hanya bisa menggambarkan Tuhan dari sebagian sisi, seperti orang buta yang memegang hanya satu bagian dari gajah itu?”

“Iya,” jawabku mengiyakan pemahaman Pak Darmo sekali lagi.

“Lha, kalau begitu sampeyan juga atheist sama seperti saya!”

Aku kaget mendengar konklusi dari Pak Darmo itu.

“Kok bisa, Pak?” tanyaku balik dengan nada setengah tidak percaya, ”Kan saya percaya dengan Tuhan, nggak seperti Bapak.”

“Benar, saya memang nggak percaya Tuhan,”jawab Pak Darmo, “Tapi saya percaya pada gajah dalam analogi kamu tadi.”

“Hah?”

“Kok hah?”

“Iya, tadi kan ceritanya gajah itu Tuhan.”

“Bukan cuma Tuhan,” kata Pak Darmo menjelaskan argumennya, “Tapi gajah itu Tuhan Yang Maha Esa.”

“Kok jadi Pancasila?” tanyaku.

Pak Darmo tertawa. Ia kemudian menepuk-nepuk pundakku sambil berkata, “Pung, saya ini sudah hidup cukup lama untuk menyaksikan dan mengalami sendiri kalau semua agama itu baik. Kebaikan itu cuma ada satu dan saya percaya kebaikan itu asalnya hanya dari Tuhan Yang Maha Esa.”

“Lho, kalau begitu Pak Darmo nggak bisa disebut sebagai Atheist dong!” ujarku, “Atheist kan artinya orang yang tidak percaya akan Tuhan. Pak Darmo kan masih mempercayai Tuhan.”

“Terserah,” kata Pak Darmo mendengar ucapanku, “Tapi saya lebih senang dianggap atheist karena saya memang nggak percaya dengan Tuhan. Saya cuma percaya dengan gajah-nya kamu tadi itu, Pung!”

Kepada para pembaca Muslim, penulis mengucapkan Selamat Idul Fitri 1422 H, Minal’Aidin Wal Faizin’,Mohon Maaf Lahir dan Batin. Kepada para pembaca Nasrani, penulis mengucapkan Selamat Hari Natal, Semoga Damai Kristus Menyertai Semua Manusia. Kepada semuanya, Selamat Tahun Baru 2002.

0107_101C

 

     

 


FastCounter by bCentral