Sang Atheist dan Gajah
Di tengah-tengah bulan
Ramadhan dan masa Advent ini, aku cukup bersyukur karena aku
diberkahi oleh Tuhan untuk dapat hidup di suatu kampung yang
damai dan tenteram di antara orang-orang dari berbagai aliran
agama dan kepercayaan. Semua agama ‘negara’ memiliki
perwakilannya di kampungku, di samping beberapa aliran
kepercayaan.
Saat ini hampir semua keluarga
di kampungku sedang bersiap-siap untuk menghadapi hari-hari
besar religius ini. Ada yang berencana untuk mudik, ada juga
yang sedang membenahi rumahnya karena bakalan kedatangan tamu
dari jauh.
Dalam suasana dan semangat
religius yang tinggi ini, cukuplah mengagetkan buatku ketika
teman kerjaku bersaksi bahwa dirinya tidak percaya akan adanya
Tuhan. Bahwa dirinya adalah seorang atheist.
“Ya, saya tidak percaya Tuhan,”
demikian tegasnya.
Sembari keningku berkerut, aku
bertanya pada temanku ini, “Pak Darmo, boleh tahu kenapa
sebabnya?”
Lelaki berkulit sawo matang
temanku ini yang kupanggil Pak Darmo menjawabnya dengan senyuman
tersungging di bibirnya, “Sebabnya? Ya karena saya percaya
memang Tuhan itu nggak ada.”
Argumen Pak Darmo memang
secara lantang bertentangan dengan pandangan 99.99% semua orang
yang aku kenal.
“Maaf ya Pak, kalau boleh
nanya apa Pak Darmo ini seorang komunis? Nggak usah takut kok
Pak, nggak bakalan saya laporin.”
Pak Darmo tertawa sambil
menggelengkan kepalanya, “Saya belum gila Pung. Masak saya kerja
keras terus duitnya dibagi-bagi ke orang lain supaya sama rata
sama rasa? Kan gila itu namanya!”
Aku jadi tersenyum mendengar
ucapannya.
“Kalau memang Tuhan itu Pak
Darmo percaya nggak ada,“ aku menyambung pertanyaanku, “apa
dasar dari kepercayaan itu?”
“Tuhan itu ciptaan manusia,”
jawab pria setengah baya ini dengan lugas, “Tuhan itu diciptakan
manusia untuk menjelaskan segala sesuatu di dunia ini yang tidak
dapat dijelaskan. Contohnya, sebelum manusia mengerti mengenai
proses meletusnya gunung berapi, manusia percaya bahwa letusan
gunung tersebut merupakan pertanda bahwa Tuhan lagi marah.
Sekarang, Tuhan yang dipercaya dulu marah lewat gunung berapi
sudah nggak ada yang mempercayainya lagi, alias Tuhan tersebut
sudah mati.”
“Wah, Pak Darmo, teori
beginian kan nggak bisa dipakai untuk menjelaskan Tuhan-nya
semua agama-agama besar di dunia saat ini?” ujarku.
“Memang Tuhan ada berapa Pung?”
tanya Pak Darmo balik.
“Ya, menurut kepercayaan saya
sih cuma satu” jawabku.
“Apakah Tuhan itu kebenaran
yang sejati?”
“Ya.”
“Apakah kebenaran sejati itu
hanya satu tunggal ataukah ada kebenaran lainnya?”
“Ya cuma satu, tapi itu
menurut kepercayaan saya saja.”
“Apakah agama itu refleksi
dari kebenaran sejati Tuhan?”
Aku langsung tahu kemana arah
pembicaraan ini. Tanpa menjawab pertanyaannya, aku segera
mengambil posisi untuk mencoba menjelaskan posisiku tentang
Tuhan dan agama.
“Pak Darmo, dalam pengertian
saya mengenai toleransi antar-agama, tiap-tiap agama itu seperti
seorang buta yang disuruh memegang seekor gajah. Yang memegang
belalai percaya kalau gajah itu seperti selang air. Yang
memegang kaki percaya gajah itu seperti tiang listrik. Sedangkan
yang memegang badan gajah percaya kalau gajah itu seperti tembok.
Semuanya memberikan deskripsi tentang gajah yang mereka pegang
dan mereka percaya, tapi tidak ada satupun yang mampu
menjelaskan apa gajah itu secara menyeluruh karena tidak ada
satupun dari mereka yang mampu untuk melihatnya.”
“Jadi dari analogi kamu tadi
itu Tuhan adalah gajah dan agama adalah orang buta ya?” Tanya
Pak Darmo.
Aku mengangguk membenarkan
pernyataannya.
“Jadi maksudnya cerita tadi
tiap-tiap agama itu hanya bisa menggambarkan Tuhan dari sebagian
sisi, seperti orang buta yang memegang hanya satu bagian dari
gajah itu?”
“Iya,” jawabku mengiyakan
pemahaman Pak Darmo sekali lagi.
“Lha, kalau begitu sampeyan
juga atheist sama seperti saya!”
Aku kaget mendengar konklusi
dari Pak Darmo itu.
“Kok bisa, Pak?” tanyaku balik
dengan nada setengah tidak percaya, ”Kan saya percaya dengan
Tuhan, nggak seperti Bapak.”
“Benar, saya memang nggak
percaya Tuhan,”jawab Pak Darmo, “Tapi saya percaya pada gajah
dalam analogi kamu tadi.”
“Hah?”
“Kok hah?”
“Iya, tadi kan ceritanya gajah
itu Tuhan.”
“Bukan cuma Tuhan,” kata Pak
Darmo menjelaskan argumennya, “Tapi gajah itu Tuhan Yang Maha
Esa.”
“Kok jadi Pancasila?” tanyaku.
Pak Darmo tertawa. Ia kemudian
menepuk-nepuk pundakku sambil berkata, “Pung, saya ini sudah
hidup cukup lama untuk menyaksikan dan mengalami sendiri kalau
semua agama itu baik. Kebaikan itu cuma ada satu dan saya
percaya kebaikan itu asalnya hanya dari Tuhan Yang Maha Esa.”
“Lho, kalau begitu Pak Darmo
nggak bisa disebut sebagai Atheist dong!” ujarku, “Atheist kan
artinya orang yang tidak percaya akan Tuhan. Pak Darmo kan masih
mempercayai Tuhan.”
“Terserah,” kata Pak Darmo
mendengar ucapanku, “Tapi saya lebih senang dianggap atheist
karena saya memang nggak percaya dengan Tuhan. Saya cuma percaya
dengan gajah-nya kamu tadi itu, Pung!”
Kepada para pembaca Muslim,
penulis mengucapkan Selamat Idul Fitri 1422 H, Minal’Aidin Wal
Faizin’,Mohon Maaf Lahir dan Batin. Kepada para pembaca Nasrani,
penulis mengucapkan Selamat Hari Natal, Semoga Damai Kristus
Menyertai Semua Manusia. Kepada semuanya, Selamat Tahun Baru
2002. |