Iklan Disini!

  Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

Diasuh Oleh:
Ridwan Ongkowidagdo

Semua nama, tempat, tokoh, dan cerita adalah fiktif. Kesamaan yang terjadi hanyalah kebetulan belaka.

Serial:

1. Resah Mencari Pak RT

2. Dan Wariapun Berdemonstrasi

3. Nasi Goreng 'MY BABY'

4. Jalan Baru

5. Kalkulasi Teori Perjodohan

6. Sekali Lagi, Merdeka Cuk!

7. Sinar Rembulan di Siang Hari

8. Pelajaran dari Mbah Redjo

9. Tragedi Suzuki Carry

11. Sang Atheist dan Gajah

12. Konsultasi Hukum Pojok Kampung

13. Kasih Sayang 2000 Perak

14. Hari Nasional Bapak?

15. Doraemon Emosi

16. Lilin-Lilin Kecil

17. Piala Dunia Buat Jeng Sri

18. Dicari:  Pemimpin Gak Wajar

19. Amburadil

20. Pecatlah Daku, Kau Kudemo

21. Kembalikan Baliku

22. Cacat

 

 

Bingung Tentang Pahlawan

Tidak dapat dipungkiri, hari itu merupakan hari berkabung bagi kampungku. Sesepuh kampung kami, Mbah Redjo, meninggal dunia sehari sebelumnya. Kondisi tubuhnya yang terlihat sehat dan langkahnya yang lugas tidak bisa menghentikan panggilan Allah SWT untuk kembali ke hadiratNya.

Pagi hari itu aku dan puluhan warga kampungku mengantarkan jenasahnya ke tempat peristirahatan terakhirnya. Manusia empat jaman ini telah meninggalkan semua warga kampungku yang sering dianggap sebagai keluarganya sendiri. Haji Taufik memimpin prosesi pemakaman sang filsuf dari kampungku ini.

Entah kebetulan atau memang sudah takdir, Mbah Redjo menghembuskan nafas terakhirnya tepat di hari Pahlawan. Selentingan komentar tentang hal ini menjadi topik yang santer dibicarakan oleh orang-orang kampungku. Dalam waktu yang singkat telah tersebar legenda baru tentang Mbah Redjo bahwa dirinya adalah seorang pahlawan besar Indonesia.

Cerita-cerita heroisme tentang Mbah Redjo yang tidak pernah aku dengar langsung dari empunya cerita semasa hidupnya semakin sering muncul di kampungku. Satu cerita menyebutkan bahwa Mbah Redjo yang masih remaja turut berperan serta menyembunyikan Supriyadi dari kejaran tentara Jepang setelah pemberontakan PETA di Blitar meletus. Cerita lainnya menggambarkan bagaimana Mbah Redjo menyelamatkan satu keluarga di dekat Madiun dari ancaman pembunuhan antek-antek PKI Muso.

Hari Sabtu sore berikutnya setelah hari Pahlawan tahun itu aku duduk bersama dengan si Trisno, Pak Haji Taufik, dan Pak Sitorus di teras rumahku.

“Pak Haji, apa bener ini semua cerita tentang Mbah Redjo?” aku langsung menembak Pak Haji Taufik dengan pertanyaan itu. Dari kami semua yang hadir waktu itu, Haji Taufik memang yang paling senior. Jadi wajar saja kalau instinct-ku membuatku bertanya kepadanya.

Pak Haji Taufik terkekeh. Mendengar tawanya yang khas itu kami mau tak mau jadi teringat kembali pada Mbah Redjo. Ada satu persepsi kalau tawa semacam itu adalah tawa seorang yang bijak.

“Mas Pung kan harusnya sudah bisa menarik konklusi sendiri. Saya yakin konklusi kita nggak bakalan berbeda sekali”, jawabnya.

“Maksudnya apa Pak Haji?” tanya Trisno, “Apakah semua cerita ini bohong?”

 “Terus terang saya sendiri juga nggak tahu, dan saya yakin semua orang lainnya juga nggak tahu, “jawab Haji Taufik, “Kan orang yang bisa membenarkan atau menyalahkan cerita itu sudah tidak disini lagi.”

“Lalu, bagaimana kita bisa tahu kalau Mbah Redjo itu benar-benar seorang pahlawan, seorang pejuang nasional?” tanya Pak Sitorus.

Sambil tersenyum, Haji Taufik kemudian menoleh ke arahku seraya berkata, “Bagaimana Mas Pung caranya?”

Aku mengerutkan dahiku. Kalau tadi Haji Taufik adalah yang paling senior di antara kami, secara umur akulah yang paling junior. Ada perasaan kurang sreg untuk menjawab satu pertanyaan yang layaknya dijawab oleh seorang yang paling banyak makan garam.

Kini semua mata mengarah padaku.

“Apa artinya buat kita kalau Mbah Redjo itu benar seorang pahlawan atau bukan?” tanyaku.

Pak Sitorus langsung menjawab, “Supaya semua orang ngerti mana yang benar  dan mana yang salah. Jadi rasa hormat kita pada Mbah Redjo tidak salah kaprah.”

“Saya kira masalah rasa hormat itu tergantung individunya masing-masing”, ujarku menanggapi perkataan Pak Sitorus, “Urusan hormat menghormati sangat relatif. Contohnya, Hitler itu dihormati oleh para pengikutnya dan Nazi simpatisan. Tapi nama Hitler itu diinjak-injak oleh orang-orang yang dirinya atau sanak keluarganya jadi korban kekejaman rezimnya.”

Haji Taufik manggut-manggut mendengar penjelasanku. Ia kemudian menambahkan, “Kita mestinya jangan terjebak dengan pengertian kata pahlawan yang salah. Para pahlawan itu adalah manusia yang sama seperti kita-kita juga. Sama-sama lemahnya di mata Allah karena terkadang juga berbuat kesalahan manusiawi.”

“Perbedaan antara kita orang biasa dan para pahlawan yang terkenal cuma dua hal”, sambung Haji Taufik, “Pertama, di saat yang menentukan nasib orang banyak, para pahlawan itu mampu bangkit dan seringkali mengorbankan dirinya, untuk menyelamatkan mereka. Kedua, sejarah sempat mencatat tindakan heroik para pahlawan ini.”

“Wah, kalau begitu Mbah Redjo bukan pahlawan dong,” celetuk Trisno.

“Kenapa begitu No?” tanya Haji Taufik.

“Iya, sebabnya Mbah Redjo nggak pernah terbukti menyelamatkan orang banyak dan sejarah nggak pernah mencatat kepahlawanan Mbah Redjo,” jawab Trisno.

“Belum tentu lho, No,” sela Pak Sitorus, “Kan katanya Mbah Redjo juga pejuang kemerdekaan. Itu kan juga sama dengan menyelamatkan orang banyak. Bahkan itu bisa dikatakan menyelamatan satu negara.”

“Lho, itu kan ‘katanya’, Pak Sitorus,” kata Trisno, “Kan gelar pahlawan itu cuma untuk orang yang telah terbukti bertindak heroik untuk orang banyak.”

“Sudah, sudah,” Haji Taufik mencoba menengahi debat antara Trisno dan Pak Sitorus, “Kan tadi saya cuma ngasih dua hal yang menjadikan seseorang pahlawan yang terkenal. Mbah Redjo mungkin bukan seorang pahlawan yang terkenal. Bahkan mungkin gelar pahlawan pun sulit diberikan kepadanya secara formal gara-gara masa lalunya yang nggak jelas.”

“Tapi melihat hiruk pikuk kampung kita tentang Mbah Redjo saya rasa banyak orang yang menaruh perhatian kepadanya. Saya nggak tahu alasannya apa, tapi setidaknya Mbah Redjo pasti pernah menyentuh hidup mereka sehingga mereka ingin memastikan kepahlawanan Mbah Redjo. Mungkin beliau bukan pahlawan nasional, namun cara hidupnya patut diteladani bagaikan seorang pahlawan. Cara hidup inilah yang perlu kita pusingkan, bukan gelar pahlawan.”

“Amin,” sahut kami bertiga hampir bersamaan.

“Nah, No, kamu mau jadi pahlawan nggak hari ini?” tanyaku pada Trisno.

“Pahlawan apaan?” tanya Trisno balik.

“Beliin kita nasi gorengnya Pak Slamet dong,” ujarku, “Biar kamu menyelamatkan perut orang banyak dan jadi pahlawan.”

Gelak tawa Pak Sitorus dan Haji Taufik langsung mengisi ruangan. Di tengah-tengah gelak tawa itu terdengar Trisno mengomel, “Pahlawan endas-mu!”

0107_101C

 

     

 


FastCounter by bCentral