Bingung Tentang Pahlawan
Tidak dapat dipungkiri, hari
itu merupakan hari berkabung bagi kampungku. Sesepuh kampung
kami, Mbah Redjo, meninggal dunia sehari sebelumnya. Kondisi
tubuhnya yang terlihat sehat dan langkahnya yang lugas tidak
bisa menghentikan panggilan Allah SWT untuk kembali ke
hadiratNya.
Pagi hari itu aku dan puluhan
warga kampungku mengantarkan jenasahnya ke tempat peristirahatan
terakhirnya. Manusia empat jaman ini telah meninggalkan semua
warga kampungku yang sering dianggap sebagai keluarganya sendiri.
Haji Taufik memimpin prosesi pemakaman sang filsuf dari
kampungku ini.
Entah kebetulan atau memang
sudah takdir, Mbah Redjo menghembuskan nafas terakhirnya tepat
di hari Pahlawan. Selentingan komentar tentang hal ini menjadi
topik yang santer dibicarakan oleh orang-orang kampungku. Dalam
waktu yang singkat telah tersebar legenda baru tentang Mbah
Redjo bahwa dirinya adalah seorang pahlawan besar Indonesia.
Cerita-cerita heroisme
tentang Mbah Redjo yang tidak pernah aku dengar langsung dari
empunya cerita semasa hidupnya semakin sering muncul di
kampungku. Satu cerita menyebutkan bahwa Mbah Redjo yang masih
remaja turut berperan serta menyembunyikan Supriyadi dari
kejaran tentara Jepang setelah pemberontakan PETA di Blitar
meletus. Cerita lainnya menggambarkan bagaimana Mbah Redjo
menyelamatkan satu keluarga di dekat Madiun dari ancaman
pembunuhan antek-antek PKI Muso.
Hari Sabtu sore berikutnya
setelah hari Pahlawan tahun itu aku duduk bersama dengan si
Trisno, Pak Haji Taufik, dan Pak Sitorus di teras rumahku.
“Pak Haji, apa bener ini
semua cerita tentang Mbah Redjo?” aku langsung menembak Pak Haji
Taufik dengan pertanyaan itu. Dari kami semua yang hadir waktu
itu, Haji Taufik memang yang paling senior. Jadi wajar saja
kalau instinct-ku membuatku bertanya kepadanya.
Pak Haji Taufik terkekeh.
Mendengar tawanya yang khas itu kami mau tak mau jadi teringat
kembali pada Mbah Redjo. Ada satu persepsi kalau tawa semacam
itu adalah tawa seorang yang bijak.
“Mas Pung kan harusnya sudah
bisa menarik konklusi sendiri. Saya yakin konklusi kita nggak
bakalan berbeda sekali”, jawabnya.
“Maksudnya apa Pak Haji?”
tanya Trisno, “Apakah semua cerita ini bohong?”
“Terus terang saya sendiri
juga nggak tahu, dan saya yakin semua orang lainnya juga nggak
tahu, “jawab Haji Taufik, “Kan orang yang bisa membenarkan atau
menyalahkan cerita itu sudah tidak disini lagi.”
“Lalu, bagaimana kita bisa
tahu kalau Mbah Redjo itu benar-benar seorang pahlawan, seorang
pejuang nasional?” tanya Pak Sitorus.
Sambil tersenyum, Haji Taufik
kemudian menoleh ke arahku seraya berkata, “Bagaimana Mas Pung
caranya?”
Aku mengerutkan dahiku. Kalau
tadi Haji Taufik adalah yang paling senior di antara kami,
secara umur akulah yang paling junior. Ada perasaan kurang sreg
untuk menjawab satu pertanyaan yang layaknya dijawab oleh
seorang yang paling banyak makan garam.
Kini semua mata mengarah
padaku.
“Apa artinya buat kita kalau
Mbah Redjo itu benar seorang pahlawan atau bukan?” tanyaku.
Pak Sitorus langsung menjawab,
“Supaya semua orang ngerti mana yang benar dan mana yang salah.
Jadi rasa hormat kita pada Mbah Redjo tidak salah kaprah.”
“Saya kira masalah rasa
hormat itu tergantung individunya masing-masing”, ujarku
menanggapi perkataan Pak Sitorus, “Urusan hormat menghormati
sangat relatif. Contohnya, Hitler itu dihormati oleh para
pengikutnya dan Nazi simpatisan. Tapi nama Hitler itu
diinjak-injak oleh orang-orang yang dirinya atau sanak
keluarganya jadi korban kekejaman rezimnya.”
Haji Taufik manggut-manggut
mendengar penjelasanku. Ia kemudian menambahkan, “Kita mestinya
jangan terjebak dengan pengertian kata pahlawan yang salah. Para
pahlawan itu adalah manusia yang sama seperti kita-kita juga.
Sama-sama lemahnya di mata Allah karena terkadang juga berbuat
kesalahan manusiawi.”
“Perbedaan antara kita orang
biasa dan para pahlawan yang terkenal cuma dua hal”, sambung
Haji Taufik, “Pertama, di saat yang menentukan nasib orang
banyak, para pahlawan itu mampu bangkit dan seringkali
mengorbankan dirinya, untuk menyelamatkan mereka. Kedua, sejarah
sempat mencatat tindakan heroik para pahlawan ini.”
“Wah, kalau begitu Mbah Redjo
bukan pahlawan dong,” celetuk Trisno.
“Kenapa begitu No?” tanya
Haji Taufik.
“Iya, sebabnya Mbah Redjo
nggak pernah terbukti menyelamatkan orang banyak dan sejarah
nggak pernah mencatat kepahlawanan Mbah Redjo,” jawab Trisno.
“Belum tentu lho, No,” sela
Pak Sitorus, “Kan katanya Mbah Redjo juga pejuang kemerdekaan.
Itu kan juga sama dengan menyelamatkan orang banyak. Bahkan itu
bisa dikatakan menyelamatan satu negara.”
“Lho, itu kan ‘katanya’, Pak
Sitorus,” kata Trisno, “Kan gelar pahlawan itu cuma untuk orang
yang telah terbukti bertindak heroik untuk orang banyak.”
“Sudah, sudah,” Haji Taufik
mencoba menengahi debat antara Trisno dan Pak Sitorus, “Kan tadi
saya cuma ngasih dua hal yang menjadikan seseorang pahlawan yang
terkenal. Mbah Redjo mungkin bukan seorang pahlawan yang
terkenal. Bahkan mungkin gelar pahlawan pun sulit diberikan
kepadanya secara formal gara-gara masa lalunya yang nggak jelas.”
“Tapi melihat hiruk pikuk
kampung kita tentang Mbah Redjo saya rasa banyak orang yang
menaruh perhatian kepadanya. Saya nggak tahu alasannya apa, tapi
setidaknya Mbah Redjo pasti pernah menyentuh hidup mereka
sehingga mereka ingin memastikan kepahlawanan Mbah Redjo.
Mungkin beliau bukan pahlawan nasional, namun cara hidupnya
patut diteladani bagaikan seorang pahlawan. Cara hidup inilah
yang perlu kita pusingkan, bukan gelar pahlawan.”
“Amin,” sahut kami bertiga
hampir bersamaan.
“Nah, No, kamu mau jadi
pahlawan nggak hari ini?” tanyaku pada Trisno.
“Pahlawan apaan?” tanya
Trisno balik.
“Beliin kita nasi gorengnya
Pak Slamet dong,” ujarku, “Biar kamu menyelamatkan perut orang
banyak dan jadi pahlawan.”
Gelak tawa Pak Sitorus dan
Haji Taufik langsung mengisi ruangan. Di tengah-tengah gelak
tawa itu terdengar Trisno mengomel, “Pahlawan endas-mu!” |