Resah Mencari Pak RT
Namaku Wong Kam Siung, namun orang-orang di kampungku
memanggilku Wong Kam Pung gara-gara namaku yang sangat dekat
dengan bahasa Jawanya ‘orang dari kampung’. Julukan ini
lambat laun aku terima juga karena toh aku juga tinggal di
kampung di salah satu sudut kota Jakarta.
Baru-baru ini kampungku gempar. Gempar bukan gara-gara bom,
tapi gara-gara ada isyu kalau salah satu rumah yang menjadi
tempat kos mahasisiwa adalah rumah tempat bajak CD.
“Wis tak omongi toh,” kata Trisno, salah seorang penghuni
lama kampungku suatu malam, “Sudah aku bilangin toh kalau
rumah itu nggak bener.” Aku bertemu dengannya ketika kami
sama-sama antri membeli nasi gorengnya Pak Slamet yang warungnya
tepat berada di tikungan jalan masuk ke kampung kami.
Rumah yang dimaksud letaknya tidak seberapa jauh dari
rumahku. Rumah berlantai tiga yang berwarna tembok merah muda
ini memang mengundang perhatian semenjak hari pertama rumah ini
selesai dicat dengan warna yang non-konservatif ini.
“Nggak bener gimana?” tanyaku sambil tersenyum,
“Bukannya sudah wajar kalau anak muda pada ngumpul, apalagi
yang namanya mahasiswa.”
“Bukan cuma apel saja Pung,” jawab Trisno cepat, “Kalau
nggak percaya tanya nih si Aan.”
Orang yang dimaksud Trisno adalah seorang hansip, berusia
sekitar awal 30-an, yang sedang berjalan menuju ke arah dimana
kami sedang berada.
Aan kemudian menyapa kami dengan ramah, sedikit dengan logat
Sundanya. Tanpa menunggu lama lagi aku langsung bertanya
kepadanya mengenai rumah yang disinyalir sebagai sarang CD
bajakan oleh Trisno dan kebanyakan orang di kampungku ini.
“Wah, saya nggak bisa bilang begitu,” jawab Aan a la
petugas keamanan yang professional, tapi kemudian buru-buru
disambungnya jawaban itu setelah ia melirik Trisno yang sedang
mengerutkan keningnya dan melotot ke arah dirinya, “Tapi
memang semua indikasi menunjukkan kalau rumah tersebut meragukan
untuk hanya menjadi rumah kos belaka.”
“Buktinya apa?” tanyaku lagi kepada Aan.
“Ya, belakangan ini sering kali banyak orang bukan penduduk
sini yang keluar masuk kampung kita lewat jam sepuluh malam,
bahkan beberapa diantaranya datang ke rumah tersebut setelah
tengah malam sambil ngangkut boks-boks. Bikin warga resah.”
“Nah kan, bukannya sudah bukti itu?” ujar Trisno yang
kini wajahnya telah kembali normal lagi.
“An, kalau
kamu tahu hal ini bikin warga resah, kenapa tidak dilaporkan ke
Pak RT?” aku bertanya pada mereka tanpa menjawab pertanyaan
Trisno.
“Sudah saya coba, Pak Pung, tapi Pak RT jarang di rumah,”
jawab Aan.
“Ini dia Pung yang bikin resah masyarakat. Ada hal beginian
di kampung kita, eh Pak RT-nya malah nggak ada di tempat.
Dengar-dengar dia malah sedang jalan-jalan ke Singapura,”
sambung Trisno.
“Bukan jalan-jalan Pak,” tiba-tiba terdengar satu suara
dari belakang kita beserta suara ban sepeda sedang direm.
“Oh, si Chun-Chun,” Aan menginformasikan kepada kami
semua. Seorang remaja yang bertubuh langsing dan agak jangkung
kemudian menunjukkan wajahnya sambil tersenyum meringis. Semua
orang bilang wajahnya adalah wajah orang Jepang. Beberapa dari
kami menyebutnya wajah Doraemon.
“Pak RT ke Singapura untuk berobat mata,” kata Chun-Chun
setelah dia menyapa kami semua.
“Dari dulu berobat mata kok nggak waras-waras?” celetuk
Trisno.
“Ya kasihan toh Pak RT,” bela Chun-Chun,”Kita kan nggak
mau Pak RT terlibat Sabu-Sabu seperti Gus Dur.”
“Gus Dur terlibat Sabu-Sabu? Bagaimana bisa?” ucapku di
tengah perasaan kaget.
“Tenang Ko,” kata Chun-Chun seraya tersenyum kepadaku,
“Yang dimaksud ya jangan sampai Pak RT terkena ‘SAtu mata
BUta, SAtu mata BUram’, kan kasihan.” Maka meledaklah tawa
kita semua mendengar penjelasan konyol remaja satu ini.
“Yah, bukan salah Pak RT juga sih kalau sekarang jadi
jarang di rumah,” sahutku setelah kami puas tertawa, ”Dari
dulu kan kita memang nggak mencalonkannya sebagai Pak RT.
Berhubung calon-calon Pak RT-nya semua kontroversial, jadilah
beliau Pak RT kita hari ini.”
Semua menganggukkan kepala, sepertinya kami semua teringat
kembali peristiwa ribut-ribut seputar pemilihan Ketua RT di
kampung kami. Hanya tinggal dua calon saja yang layak dan mampu
menjadi Ketua RT kami saat itu: Pak Sitorus dan Pak Jajang.
Namun, kedua pihak ini saling bersaing dan mempertaruhkan nama
baiknya untuk dapat menjadi Pak RT di kampung kami. Parahnya
lagi, kedua pihak ternyata juga memiliki sejumlah simpatisan
tersendiri!
Pak Sitorus bilang bahwa dia dan para simpatisannya tidak
bersedia apabila Pak Jajang menjadi Ketua RT karena Pak Jajang
dianggap terlalu ekstrim dalam menjadi seorang Muslim. Konon
seseorang pernah mendengar ceramah Pak Jajang yang isinya
anti-agama lain. Sementara itu, Pak Jajang dan simpatisannya
menolak keberadaan Pak Sitorus sebagai Ketua RT karena Pak
Sitorus dianggap terlalu ekstrim dalam menjadi kader Partai
Demokrat. Konon, Pak Sitorus disinyalir pernah mengeluarkan
pendapat bahwa hanya para pengikut Partai Demokrat-lah yang
berhak menyebut dirinya nasionalis Indonesia.
Terdengar desah Aan sebelum dia berkata, ”Iya, untung Pak
RT mau maju. Kalau nggak bisa ribut kampung kita.”
Pak RT memang
luar biasa. Selesai dia terpilih sebagai Ketua RT, dia
mengumpulkan semua warga di balai RT untuk memperkenalkan dua
orang wakilnya: Pak Jajang dan Pak Sitorus. Satunya wakil di
bidang keuangan, satu lagi di bidang aktivitas dan urusan
surat-surat resmi. Dua bidang ini tidak bisa bergerak tanpa yang
lain. Dan yang terpenting, Pak RT berhasil mendamaikan mereka
berdua tanpa satu pihak pun kehilangan muka.
“Tapi tetap saja, untuk masalah sarang penyamun ini nggak
ada pihak yang mau maju menyelesaikannya,” ujar Trisno
membuyarkan ketermenunganku, “Semua menunggu Pak RT untuk
mengambil tindakan. Para wakil RT nggak berani maju karena takut
untuk memprovokasi pihak lainnya.”
“Ya, kalau begitu lebih baik memang menunggu Pak RT saja
daripada ada ribut-ribut,” kataku.
“Tapi orang-orang sudah mulai resah melihat gelagat para
tamu markas pembajak tersebut,” Trisno mengemukakan
argumentasinya, “Lingkungan kita bisa rusak gara-gara para
bajingan itu.”
“Bagaimana kalau kita gerebek saja, Pak, terus kita bakar
CD bajakannya dan arak rame-rame orang-orang yang tertangkap,”
sahut Aan tiba-tiba. Terlihat bagaimana wajahnya berubah.
Sepertinya sesuatu sedang membakar hatinya.
“Aan… Aan…,” ucapku seraya menepuk pundak Aan mencoba
menenangkannya, “Tadi pertama kali datang kamu sepertinya
seorang penegak hukum yang professional. Kayak Judge Bao. Tapi
sekarang kamu ngomongnya nggak lebih kayak preman di
pasar-pasar.”
“Jadi bagaimana enaknya Pak Pung?” tanya Aan sedikit
gusar dengan komentarku.
“Yang paling enak?” jawabku, “Yang paling enak ya
menunggu Pak RT balik sambil makan nasi gorengnya Pak Slamet.
Bener nggak Pak Slamet?”
“Nggih!” sahut Pak Slamet sambil menyerahkan nasi goreng
pesananku.
|