NextCard Visa

  Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

Diasuh Oleh:
Ridwan Ongkowidagdo

Semua nama, tempat, tokoh, dan cerita adalah fiktif. Kesamaan yang terjadi hanyalah kebetulan belaka.

Serial:

2. Dan Wariapun Berdemonstrasi

3. Nasi Goreng 'MY BABY'

4. Jalan Baru

5. Kalkulasi Teori Perjodohan

6. Sekali Lagi, Merdeka Cuk!

7. Sinar Rembulan Di Siang Hari

8. Pelajaran dari Mbah Redjo

9. Tragedi Suzuki Carry

10. Bingung Tentang Pahlawan

11. Sang Atheist dan Gajah

12. Konsultasi Hukum Pojok Kampung

13. Kasih Sayang 2000 Perak

14. Hari Nasional Bapak?

15. Doraemon Emosi

16. Lilin-Lilin Kecil

17. Piala Dunia Buat Jeng Sri

18. Dicari:  Pemimpin Gak Wajar

19. Amburadil

20. Pecatlah Daku, Kau Kudemo

21. Kembalikan Baliku

22. Cacat

 

Resah Mencari Pak RT

Namaku Wong Kam Siung, namun orang-orang di kampungku memanggilku Wong Kam Pung gara-gara namaku yang sangat dekat dengan bahasa Jawanya ‘orang dari kampung’. Julukan ini lambat laun aku terima juga karena toh aku juga tinggal di kampung di salah satu sudut kota Jakarta.

Baru-baru ini kampungku gempar. Gempar bukan gara-gara bom, tapi gara-gara ada isyu kalau salah satu rumah yang menjadi tempat kos mahasisiwa adalah rumah tempat bajak CD.

“Wis tak omongi toh,” kata Trisno, salah seorang penghuni lama kampungku suatu malam, “Sudah aku bilangin toh kalau rumah itu nggak bener.” Aku bertemu dengannya ketika kami sama-sama antri membeli nasi gorengnya Pak Slamet yang warungnya tepat berada di tikungan jalan masuk ke kampung kami.

Rumah yang dimaksud letaknya tidak seberapa jauh dari rumahku. Rumah berlantai tiga yang berwarna tembok merah muda ini memang mengundang perhatian semenjak hari pertama rumah ini selesai dicat dengan warna yang non-konservatif ini.

“Nggak bener gimana?” tanyaku sambil tersenyum, “Bukannya sudah wajar kalau anak muda pada ngumpul, apalagi yang namanya mahasiswa.”

“Bukan cuma apel saja Pung,” jawab Trisno cepat, “Kalau nggak percaya tanya nih si Aan.”

Orang yang dimaksud Trisno adalah seorang hansip, berusia sekitar awal 30-an, yang sedang berjalan menuju ke arah dimana kami sedang berada.

Aan kemudian menyapa kami dengan ramah, sedikit dengan logat Sundanya. Tanpa menunggu lama lagi aku langsung bertanya kepadanya mengenai rumah yang disinyalir sebagai sarang CD bajakan  oleh Trisno dan kebanyakan orang di kampungku ini.

“Wah, saya nggak bisa bilang begitu,” jawab Aan a la petugas keamanan yang professional, tapi kemudian buru-buru disambungnya jawaban itu setelah ia melirik Trisno yang sedang mengerutkan keningnya dan melotot ke arah dirinya, “Tapi memang semua indikasi menunjukkan kalau rumah tersebut meragukan untuk hanya menjadi rumah kos belaka.”

“Buktinya apa?” tanyaku lagi kepada Aan.

“Ya, belakangan ini sering kali banyak orang bukan penduduk sini yang keluar masuk kampung kita lewat jam sepuluh malam, bahkan beberapa diantaranya datang ke rumah tersebut setelah tengah malam sambil ngangkut boks-boks. Bikin warga resah.”

“Nah kan, bukannya sudah bukti itu?” ujar Trisno yang kini wajahnya telah kembali normal lagi.

 “An, kalau kamu tahu hal ini bikin warga resah, kenapa tidak dilaporkan ke Pak RT?” aku bertanya pada mereka tanpa menjawab pertanyaan Trisno.

“Sudah saya coba, Pak Pung, tapi Pak RT jarang di rumah,” jawab Aan.

“Ini dia Pung yang bikin resah masyarakat. Ada hal beginian di kampung kita, eh Pak RT-nya malah nggak ada di tempat. Dengar-dengar dia malah sedang jalan-jalan ke Singapura,” sambung Trisno.

“Bukan jalan-jalan Pak,” tiba-tiba terdengar satu suara dari belakang kita beserta suara ban sepeda sedang direm.

“Oh, si Chun-Chun,” Aan menginformasikan kepada kami semua. Seorang remaja yang bertubuh langsing dan agak jangkung kemudian menunjukkan wajahnya sambil tersenyum meringis. Semua orang bilang wajahnya adalah wajah orang Jepang. Beberapa dari kami menyebutnya wajah Doraemon.

“Pak RT ke Singapura untuk berobat mata,” kata Chun-Chun setelah dia menyapa kami semua.

“Dari dulu berobat mata kok nggak waras-waras?” celetuk Trisno.

“Ya kasihan toh Pak RT,” bela Chun-Chun,”Kita kan nggak mau Pak RT terlibat Sabu-Sabu seperti Gus Dur.”

“Gus Dur terlibat Sabu-Sabu? Bagaimana bisa?” ucapku di tengah perasaan kaget.

“Tenang Ko,” kata Chun-Chun seraya tersenyum kepadaku, “Yang dimaksud ya jangan sampai Pak RT terkena ‘SAtu mata BUta, SAtu mata BUram’, kan kasihan.” Maka meledaklah tawa kita semua mendengar penjelasan konyol remaja satu ini.

“Yah, bukan salah Pak RT juga sih kalau sekarang jadi jarang di rumah,” sahutku setelah kami puas tertawa, ”Dari dulu kan kita memang nggak mencalonkannya sebagai Pak RT. Berhubung calon-calon Pak RT-nya semua kontroversial, jadilah beliau Pak RT kita hari ini.”

Semua menganggukkan kepala, sepertinya kami semua teringat kembali peristiwa ribut-ribut seputar pemilihan Ketua RT di kampung kami. Hanya tinggal dua calon saja yang layak dan mampu menjadi Ketua RT kami saat itu: Pak Sitorus dan Pak Jajang. Namun, kedua pihak ini saling bersaing dan mempertaruhkan nama baiknya untuk dapat menjadi Pak RT di kampung kami. Parahnya lagi, kedua pihak ternyata juga memiliki sejumlah simpatisan tersendiri!

Pak Sitorus bilang bahwa dia dan para simpatisannya tidak bersedia apabila Pak Jajang menjadi Ketua RT karena Pak Jajang dianggap terlalu ekstrim dalam menjadi seorang Muslim. Konon seseorang pernah mendengar ceramah Pak Jajang yang isinya anti-agama lain. Sementara itu, Pak Jajang dan simpatisannya menolak keberadaan Pak Sitorus sebagai Ketua RT karena Pak Sitorus dianggap terlalu ekstrim dalam menjadi kader Partai Demokrat. Konon, Pak Sitorus disinyalir pernah mengeluarkan pendapat bahwa hanya para pengikut Partai Demokrat-lah yang berhak menyebut dirinya nasionalis Indonesia.

Terdengar desah Aan sebelum dia berkata, ”Iya, untung Pak RT mau maju. Kalau nggak bisa ribut kampung kita.”

 Pak RT memang luar biasa. Selesai dia terpilih sebagai Ketua RT, dia mengumpulkan semua warga di balai RT untuk memperkenalkan dua orang wakilnya: Pak Jajang dan Pak Sitorus. Satunya wakil di bidang keuangan, satu lagi di bidang aktivitas dan urusan surat-surat resmi. Dua bidang ini tidak bisa bergerak tanpa yang lain. Dan yang terpenting, Pak RT berhasil mendamaikan mereka berdua tanpa satu pihak pun kehilangan muka.

“Tapi tetap saja, untuk masalah sarang penyamun ini nggak ada pihak yang mau maju menyelesaikannya,” ujar Trisno membuyarkan ketermenunganku, “Semua menunggu Pak RT untuk mengambil tindakan. Para wakil RT nggak berani maju karena takut untuk memprovokasi pihak lainnya.”

“Ya, kalau begitu lebih baik memang menunggu Pak RT saja daripada ada ribut-ribut,” kataku.

“Tapi orang-orang sudah mulai resah melihat gelagat para tamu markas pembajak tersebut,” Trisno mengemukakan argumentasinya, “Lingkungan kita bisa rusak gara-gara para bajingan itu.”

“Bagaimana kalau kita gerebek saja, Pak, terus kita bakar CD bajakannya dan arak rame-rame orang-orang yang tertangkap,” sahut Aan tiba-tiba. Terlihat bagaimana wajahnya berubah. Sepertinya sesuatu sedang membakar hatinya.

“Aan… Aan…,” ucapku seraya menepuk pundak Aan mencoba menenangkannya, “Tadi pertama kali datang kamu sepertinya seorang penegak hukum yang professional. Kayak Judge Bao. Tapi sekarang kamu ngomongnya nggak lebih kayak preman di pasar-pasar.”

“Jadi bagaimana enaknya Pak Pung?” tanya Aan sedikit gusar dengan komentarku.

“Yang paling enak?” jawabku, “Yang paling enak ya menunggu Pak RT balik sambil makan nasi gorengnya Pak Slamet. Bener nggak Pak Slamet?”

“Nggih!” sahut Pak Slamet sambil menyerahkan nasi goreng pesananku.

 

 

     

 


FastCounter by bCentral