Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

 

Berita Lain:

Lagu Plesetan Garuda Pancasila

Atrium Senen di Bom

Kebijakan Moneter BI Longgar

70ribu ilegal Indo di AS

Agus Wirahadi-kusumah tutup usia

Pemerintah Tidak Empati pada Minoritas

Tionghoa ja-ngan diidentik-kan dengan kafir

Museum Laksamana Zheng He


Museum Laksamana
Zheng He

Cirebon, Kompas - Kebesaran muslim tionghoa Laksamana Zheng He yang hidup di abad 14-15 akan diabadikan dalam bentuk museum yang segera dibangun di Cirebon oleh ahli ramuan jamu tradisional Prof Dr Hembing Wijayakusuma bekerja sama dengan Keraton Kasepuhan Cirebon. Saat ini sedang dilakukan penelitian di mana persisnya Zheng He mendamparkan perahunya, ketika masuk ke Jawa lewat pelabuhan yang terletak di sekitar kotamadya Cirebon komtemporer.

Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Cirebon, Yanto Subiyanto dalam percakapan dengan Kompas, Selasa (29/5) lalu, menyatakan, pihaknya mendapat kabar ide pembangunan museum itu ketika jajaran Dinas Pariwisata Cirebon bersilaturahmi kepada KPH Maulana Pakuningrat Sultan Kasepuhan Cirebon. Sultan Sepuh-sebutan Maulana
Pakuningrat-sangat mendukung ide pembangunan museum itu, karena erat kaitannya dengan kejayaan Kesunanan Cirebon tempo dulu.

"Jadi bangunan museum nantinya juga berbentuk perahu yang akan dibangun di dekat kapal Zheng He berlabuh waktu itu," kata Janto Subiyanto. Kapal Zheng He diperkirakan berlabuh di daerah Muara Jati atau di seputar Gunung Sembung -- Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon.

Laksamana Zheng He di samping handal sebagai panglima perang, juga pelaku ekspedisi besar-besaran atas nama Pemerintah RRT. Dalam pelayarannya dia membawa 27.000 anak buah, dan 308 perahu besar. Dalam perjalanan laut itu, Zheng He yang taat ibadah mengunjungi 38 negara salah satu di antaranya Pulau Jawa dimana dia bertabligh akbar di beberapa kota. "Misinya tampaknya muhibah untuk menjalin hubungan bilateral dengan negara lain, memperbaiki pamor negeri Tiongkok serta mendakwahkan Islam," kata TD Sudjana, pemerhati sejarah lama Cirebon.

Keberadaan Zheng He, menurut TD Sudjana, diperkirakan cukup lama, karena dia sempat membangun mercusuar di Cirebon. Selama berada di Cirebon, peninggalan Zheng He yang utama adalah berbagai macam keramik tionghoa yang waktu itu terkenal mendunia. Barang-barang itu yang tampaknya akan menjadi koleksi museum. Yang pasti Prof embing
Wijayakusuma maupun Sultan Sepuh memiliki koleksi untuk mengisi Museum Zheng He.

Menurut TD Sudjana, yang terpenting dari Laksamana Zheng He ini adalah catatan perjalanannya ketika berlayar keliling dunia. "Dia juga mencatat tentang Jawa khususnya Pajajaran dan Majapahit. Hanya saja kita memang belum pernah tahu, seperti misalnya bahwa wakilnya Laksamana Wang Jinghong, seorang muslim tionghoa yang juga dikenal
sebagai sang Juru Mudi Dampo Awang, berupa salah seorang kakek dari Penguasa Pajajaran Prabu Silwangi. Akibat dari campur tangan Barat dalam gelanggang politik Indonesia selama lebih dari tiga dasawarsa yang membuat Indonesia berkiblat kepada tamaddun barat, hubungan Indonesia dan Tiongkok berlangsung baik baru akhir-akhir ini saja, sehingga dalam hal karya sastra, atau catatan Sejarah Indonesia yang dilakukan oleh orang tionghoa, cukup banyak di antara kita yang tidak banyak tahu. Makanya dengan hubungan baik ini kita bisa belajar dari catatan orang tionghoa tentang Jawa tempo dulu yang sudah menjalin hubungan erat," tegasnya. (Kom/IM)

 

     

 


FastCounter by bCentral