|

Berita Lain:
Lagu
Plesetan Garuda Pancasila
Atrium Senen di Bom
Kebijakan Moneter BI Longgar
70ribu ilegal Indo di AS
Agus
Wirahadi-kusumah tutup usia
Pemerintah Tidak Empati pada
Minoritas
Tionghoa ja-ngan
diidentik-kan dengan kafir
Museum Laksamana Zheng He
|
|

Kebijakan Moneter BI Terlalu Longgar
CANBERRA,
Antara - Pengamat ekonomi dari CSIS Mari Pangestu menilai, kurs
rupiah yang tidak stabil dan masih fluktuatif sampai saat ini
akibat faktor kebijaksanaan moneter BI yang terlalu longgar.
Karena itu, sulit mengendalikan fluktuasi tersebut. "Jika kita
ingin kurs rupiah stabil, BI seharusnya memperketat
kebijaksanaan moneternya sekalipun dengan risiko tingkat suku
bunga naik," ungkap Mari di Canberra, Minggu kemarin. Menjawab
soal kurs rupiah yang kembali melemah menyusul terjadinya
penyerangan terorisme di New York dan Washington, dia
mengungkapkan, melemahnya rupiah bukan semata-mata akibat faktor
politik. Melainkan, BI tampaknya tidak bisa mengendalikan itu
dengan kebijaksanaan moneter longgar.
Dia menegaskan, nilai tukar rupiah erat berkaitan dengan base
money (uang yang beredar). Jika jumlah uang yang beredar
meningkat, kurs rupiah akan melemah.
"Jadi, bukan semata-mata akibat faktor politik. Memang
mungkin saja ada dampaknya, tapi kecil sekali. Sebab, rupiah
masih melekat kepada dolar AS," ucap Mari yang kini bermukim di
Shanghai, China. Selain erat berkaitan dengan uang yang beredar,
Mari menyatakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga
berhubungan dengan target tingkat inflasi yang memang merupakan
tugas BI.
"Jadi kalau jumlah uang beredar turun, inflasi juga dengan
sendirinya akan turun. Tapi, suku bunga akan naik dan secara
otomatis kurs rupiah akan menguat."
Dia mengemukakan, dapat memahami persoalan yang dihadapi BI.
Jika suku bunga naik, beban APBN juga semakin berat dan dunia
perbankan akan mengeluh. "Misalnya, asumsi suku bunga APBN tahun
2001 sebesar enam belas persen cukup tinggi. Jika lebih tinggi
lagi, pembayaran bond juga akan lebih besar." katanya seraya
menandaskan, suku bunga yang tinggi akan menimbulkan masalah
bagi perbankan dan anggaran. ''Masalah itu bersifat sementara.
Karena bila tahun ini BI berhasil mengendalikan uang beredar,
inflasi tahun depan akan turun.'' Mari memperkirakan, BI saat
ini ikut membantu pencapaian target lain. Padahal, kebijaksanaan
moneter tidak boleh untuk mengatasi masalah perbankan dan
anggaran. "Kita seharusnya menggunakan kebijaksanaan lain untuk
mengatasi masalah bank dan anggaran. Kebijaksanaan moneter
semestinya semata untuk mencapai target inflasi," jelas Mari
yang juga dosen di Universitas National Australia.
Ujian Berat
Pada bagian lain Mari mengemukakan, tim ekonomi pemerintah
Megawati Soekarnoputri akan menghadapi ujian berat mulai 2002.
Sebab, anggaran (APBN) menjadi masalah serius sejak saat itu. "Kendati
kita punya 'Mega-expectation', kita perlu realistik. Sebab,
masalahnya berat dan pemerintah baru ini seharusnya bisa
meletakkan prioritas yang tepat pada 2002. Dengan demikian,
pembangunan Indonesia berada pada arah yang benar." Ketika
menjawab tentang prospek perekonomian nasional pada masa
mendatang Mari mengungkapkan, tantangan yang berat adalah APBN
yang akan meledak pada 2003/2004, dan menjadi masalah yang
serius ketika pembayaran obligasi mulai jatuh tempo.
Bila Indonesia tidak bisa melakukan penjadwalan utang luar
negeri melalui Paris Club III, hal itu berarti defisit APBN akan
bertambah menjadi 72 triliun pada tahun berikutnya (2003). "Implikasinya
berat. Kita seharusnya menyadari betapa berat keadaan APBN.
Selama ini saya pikir, kita masih bisa menolak masalah budget
yang begitu besar dengan alasan yang dicari-cari." Dalam kaitan
itu, alasan tradisonal yang biasanya diungkapkan akibat
perbankan yang semrawut dan utang-utang yang tidak bisa terbayar.
Namun, sekarang pemerintah seharusnya berpikir lebih keras.
Sebab, sudah telanjur mengambil alih masalah perbankan itu
dengan blanket guarantee, katanya. "Itu berarti masalah bank
juga menjadi tanggungan pemerintah." (ant/IM) |
|
|