|

Berita Lain:
Lagu
Plesetan Garuda Pancasila
Atrium Senen di Bom
Kebijakan Moneter BI
Longgar
70ribu ilegal Indo di AS
Agus
Wirahadi-kusumah tutup usia
Pemerintah Tidak Empati pada
Minoritas
Tionghoa ja-ngan diidentik-kan dengan kafir
Museum Laksamana Zheng He
|
|

Tionghoa Jangan Diidentikkan Kafir
SEMARANG - Ketua PBNU KH Ahmad Bagja menyatakan, sampai
sekarang masih ada yang menganggap etnis Tionghoa identik dengan
kafir. Etnis Tionghoa itu juga sering diidentikkan dengan babi,
mabuk, dan sebagainya.
Implikasi anggapan seperti itu, lanjutnya, mencuri, memerkosa,
bahkan membunuh mereka sering dianggap halal. ''Pemahaman atau
anggapan itu jelas salah dan sama sekali tidak diajarkan dalam
Islam. Islam tidak membedakan ketakwaan seseorang berdasarkan
etnis,'' kata KH Ahmad Bagja pada seminar sehari ''Islam dan
Komunitas Tionghoa'' di aula RS
Roemani Semarang, kemarin. Pembicara lain Ir JIP Hengky Jana
Prasetya MBA, anggota FAN DPRD Jateng.
Menurut pendapatnya, sangat sulit menghapus kesalahan
tersebut dari masyarakat Jawa abangan, meskipun sebenarnya sejak
dulu sudah banyak orang Tionghoa yang memeluk dan masuk Islam (muslim)
bahkan menjadi mubalig dan ulama.
Ia menambahkan, anggapan lain di dalam sebagian kecil
masyarakat Jawa abangan adalah bahwa orang Tionghoa bisa kaya
karena memiliki pesugihan. Mereka dibantu demit. Karena itu,
mencuri harta orang-orang Tionghoa adalah halal. ''Ini sesuatu
yang salah dan
bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad saw,'' tuturnya.
Tak Bedakan
Nabi Muhammad, kata KH Ahmad Bagja, sangat menghargai manusia
tanpa membedakan etnis. Bahkan, secara khusus Nabi memberikan
penghargaan yang tinggi terhadap kemajuan orang-orang Tionghoa.
Hal itu tercermin dalam sebuah hadis yang artinya, ''Tuntutlah
ilmu sampai ke negeri Tiongkok.''
''Hadis tersebut memberikan pelajaran kepada kaum muslim
tentang perlunya belajar dari mereka (orang-orang Tionghoa-Red).
Orang-orang Tionghoa bisa kaya karena hemat dan memiliki etos
kerja tinggi,'' tandasnya.
KH Ahmad BAgja yang juga dosen Fakultas Tarbiyah IAIN
Walisongo menambahkan, Islam adalah agama rahmatan lil alamin.
Islam tidak membedakan seseorang berdasarkan etnisnya. Perbedaan
suku dan ras adalah sunnatullah. Tidak ada muslim Jawa, muslim
Tionghoa, muslim Arab, dan sebagainya. Yang ada dalam Islam
adalah muslim, mukmin,
mutaqin, tanpa atribut etnis dan ras.
Pada kesempatan itu Ir JIP Hengky Jana Prasetya MBA (aktivis
PITI Jateng dan anggota FAN DPRD Jateng) yang etnis Tionghoa
mengungkapkan, ia dan keluarganya masuk Islam setelah melalui
pengalaman rohani yang indah. Orang tuanya masuk Islam karena
merasa tersentuh hatinya saat mendengar azan, yang kemudian
mendorong dirinya lebih jauh mempelajari diinul haq dan kemudian
masuk Islam.
Berkaitan dengan anggapan sebagian kecil masyarakat Jawa
abangan tersebut, ia menjelaskan bahwa banyak orang Tionghoa
bisa kaya karena mau bekerja keras. ''Ibaratnya malam dibuat
siang dan siang dibuat malam,'' ujarnya.
Namun, lanjut dia, tidak semua orang Tionghoa kaya. Harus
diakui banyak orang Tionghoa miskin. Hanya, mereka
menutup-nutupi diri sehingga keberadaannya tidak banyak
diketahui masyarakat luas. (SM/IM) |
|
|