|

Agus Wirahadikusumah Meninggal Dunia
JAKARTA
- Mantan Pangkostrad, Letjen TNI (Purn) Agus Wirahadikusumah,
meninggal dunia hari Kamis (30/8) sekitar pukul 06.00 WIB, dalam
perjalanan dari kediamannya ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP),
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Jenazah dimakamkan di Taman
Makam Pahlawan Kalibata.
Menurut penuturan istrinya, Tri Rachamaningsih dan diperkuat
oleh kakaknya Husein, AWK (sebutan dari Agus Wirahadikusumah)
sebenarnya tidak menderita sakit apa pun, tidak ada gejala sakit
jantung atau penyakit yang bisa mengakibatkan kematiannya.
Badannya Panas
Hal senada dikatakan oleh kakak kandungnya yang lain, dr
Hidayat. Menurut dr Hidayat, sekitar pukul 04.00 WIB, Kamis
(30/8) dini hari, almarhum sempat mengeluh pada istrinya bahwa
badannya panas. Dengan guyon Agus mengatakan kepada istrinya,
menurut pengalaman nabi kalau badan panas, itu pertanda akan
mendapat wahyu. Istrinya pun menanggapi secara seloroh, "Kamu
kan bukan nabi.'' Agus meminta kepada istrinya untuk membaca
shalawat.
Lalu mereka berdua membaca shalawat dan zikir bersama-sama.
Sekitar pukul 05.30 istri Agus bangun dan pergi ke kamar
mandi, namun kembali dari kamar mandi dia menemukan suaminya
dalam keadaan koma. Lantas dia menelepon dr Hidayat yang
tinggalnya di Bogor untuk memberitahukan bahwa Agus dalam
keadaan koma dan tidak bergerak. Dr Hidayat langsung meluncur ke
rumah Agus. Dalam perjalanan, istri AWK menelepon lagi dan
menyatakan bahwa Agus sudah meninggal dunia.
Kegiatan Keagamaan
Bercerita
soal Agus, dr Hidayat mengatakan selama ini adiknya yang nomor
lima itu tidak pernah mengeluh sakit apapun. Dia selalu sehat.
Pada tanggal 15 Agustus yang lalu, keluarga besar
Wirahadikusumah berkumpul di Bogor termasuk keluarga Agus. Pada
waktu itupun Agus tidak mengeluh apa apa, dan kelihatan segar
segar saja.
Pada 26 Agustus lalu, Agus masih sempat pergi ke Puncak
rekreasi bersama keluarga. Dia masih dalam keadaan sehat dan
segar.
Para petinggi TNI yang kebanyakan dari lingkungan TNI AD,
mengunjungi rumah duka. Hadir ketika itu; Kasad Jenderal TNI
Endriartono Sutarto, Pangkostrad Letjen TNI Ryamizard Ryacudu,
Tampak juga Kaster TNI Letjen Agus Wijoyo, mantan Panglima TNI
Jenderal Fahrul Rozi, Wakil Kasad Letjen Kiki Syahnakri.
Seusai melayat almarhum Kasad Jenderal E Sutarto mengatakan
secara pribadi dia dengan almarhum tidak punya masalah. Selama
hidupnya almarhum sering bertandang kerumahnya. bahwa ada
perbedaan pendapat itu adalah se- suatu yang biasa saja dan
tidak harus membuat perpecahan.
Perbedaan Pendapat
Hal senada dikatakan juga oleh Pangkostrad Letjen Ryamizard
Ryacudu. Ia mengatakan bahwa Almarhum Agus Wirahadikusuma tidak
mempunyai masalah dengan TNI. Bahwa ada perbedaan pendapat di
kalangan TNI itu adalah sesuatu yang biasa saja.
Menteri Perhubungan Agum Gumelar di Istana Negara ditanya
wartawan tentang meninggalnya AWK mengatakan bagaimanapun juga
TNI merasa kehilangan. Beliau adalah perwira yang pemikirannya
konseptual dan strategis, jauh ke depan. "Mungkin sekarang
pemikiran beliau belum bisa diterima, tapi saya menilai
pemikiran Pak Agus adalah konseptual dan strategis," ujar Agum
Gumelar.
Tergolong Vokal
Mantan Panglima Kostrad Letjen TNI Agus Wirahadikusumah (AWK)
semasa hidupnya tergolong vokal di antara para perwira tinggi (Pati)
di lingkungan Markas Besar TNI AD. Bahkan, ketika ia dimutasikan
menjadi Pati di Mabes TNI, jenderal bintang tiga itu selalu
mengatakan bahwa kebenaran harus ditegakkan.
Ungkapan itu dikemukakan almarhum AWK, sehubungan dengan
adanya usulan sejumlah perwira TNI AD agar ia diajukan ke Dewan
Kehormatan Perwira (DKP) atas beberapa pelanggaran yang
dilakukan ketika menjabat sebagai Pangkostrad.
Dalam suatu wawancara dengan Pembaruan, ia mengatakan dirinya
siap diajukan ke Dewan Kehormatan Perwira (DKP) bila terbukti
secara fakta melanggar kode etik perwira TNI AD.
"Kalau ini terlaksana, itu ide bagus dan saya akan memberi
contoh kepada perwira tinggi yang lainnya," ujarnya.
Namun ia meminta, pada sidang DKP itu harus terbuka untuk
umum dan dipublikasikan oleh media cetak dan elektronik.
Ketegasan AWK seperti itulah yang membuat sejumlah perwira
tinggi TNI AD membuat jarak dalam pergaulan sehari-hari seperti
yang sudah terjalin ketika almarhum masih menjabat sebagai
Pangkostrad.

Pelanggaran yang dilakukan AWK, seperti diungkapkan 14
Panglima Daerah Militer (Pangdam) yang menghadiri acara Prasetya
Secapa Perwira TNI AD di Bandung, adalah soal pembeberan
indikasi penyimpangan dana di Yayasan Kostrad, pengiriman
anggota Kostrad ke Bengkulu dalam rangka bhakti sosial serta
kepergian AWK ke Amerika Serika (AS) yang tidak mendapat izin
dari Kepala Staf TNI AD (Kasad) Jenderal TNI Tyasno Sudarto.
Kode Etik
Menurut AWK, penilaian pelanggaran kode etik perwira TNI AD
yang ditujukan kepada dirinya, tidak lain adalah sebagai unsur
rekayasa dari Kasad waktu itu dijabat Jenderal TNI Tyasno
Sudarto.
Dikatakan, sejak ada isu bahwa AWK dicalonkan sebagai Kasad,
pada setiap pertemuan para Pati selalu dicari
tindakan-tindakannya yang dinilai melakukan pelanggaran kode
etik perwira TNI AD, ujarnya.
Upaya mencari kelemahan-kelemahan inilah dilakukan, untuk
menggagalkan saya sebagai calon Kasad.
Di DKP nanti, mantan Panglima Kostrad ini juga minta kepada
14 Pangdam pada pertemuan Bandung, agar berani menunjukkan
tandatangan pengusulan dirinya untuk ditindak.
Pengungkapan adanya indikasi penyimpangan dana di Yayasan
Kostrad, AWK mengatakan, sebelumnya dia sudah melapor kepada
Wakasad Letjen TNI E Sutarto.
Masalah dana di Yayasan Kostrad, sepenuhnya adalah wewenang
Panglima Kostrad bukan Mabes TNI AD, katanya. (SP/IM) |