|
Jajaran Tamu

Mochtar Pabottinggi

Goenawan Mohammad

Ki Tristutui Rachmadi
Other News:
INS Nabs 62 Illegal Workers
Press Release KJRI Los
Angeles
Pesan Paskah Konjen RI LA
Sejarah GKI Duarte
|
|
Tamu Undangan UCLA
Los Angeles, Sabtu 7 April.
Para pakar yang diundang oleh UCLA selama dua hari (April
6-7) untuk memberikan seminar di Center for Southeast Asian
Studies, tentang “History and Memory in Contemporary
Indonesia” tidak diberi kesempatan untuk tarik nafas. Mereka
langsung digondol Permias Graduated ke gedung KJRI pada malam
hari itu juga.
Mochtar Pabottingi yang tidak berkesempatan bicara banyak di
pertemuan pagi harinya yang diselenggarakan di UCLA, pada saat
temu muka dengan mahasiswa di KJRI ternyata sangat lantang
angkat bicara. Dibawah ini adalah petikan petikan dari
pelampiasannya.
Kesalahan Gus Dur.
Mochtar Pabottingi sempat menyesali mengapa Gus Dur tidak
langsung memecat pejabat-pejabat eselon satu dan eselon dua
warisan regim lama (Orba), setelah beliau diangkat jadi
Presiden. Ini merupakan kesalahan yang sulit untuk dikoreksi
setelah pemerintahan Gus Dur sudah terlanjur berjalan selama
ini. (apakah ini diartikan agar Gus Dur disarankan untuk
menindak keras pejabat-pejabat termaksud diatas?...red).
Kesalahan Soeharto.
Mantan presiden Soeharto sebenarnya pernah merencanakan untuk
melepaskan jabatannya, dan mengembalikan mandatnya kepada
rakyat. Hal ini pernah dimulai dengan memberi tugas kepada LIPI
untuk meriset masalah pemilihan Umum pada tahun 1993. Namun
karena desakan kepentingan keluarga dan anak cucunya, membuat
ide ini tinggal hanya sebagai ide, dan akhirnya hari naasnya
datang juga pada bulan Mei 1998. Andaikata ide ini konsisten
dilaksanakan, nama Soeharto bisa tercatat dengan tinta emas
sebagai bapak Pembangunan, demikian tegas Pabottingi.
Kesalahan Habibie.
Habibie juga berdosa karena kehabisan akal dalam
mempertahankan status quo, sampai menciptakan macam-macam
undang-undang untuk melindungi ORBA, dan kebanyakan
undang-undang tersebut tidak disertai juklaknya. Salah satu
contohnya adalah UU otonomi daerah yang pelaksanaannya sampai
hari ini masih rancu, dan cenderung menjadi bom waktu.
Pemberdayaan masyarakat.
Karena situasi pertarungan elite politik yang menghambat
kinerja pemerintahan pusat, maka
sebaiknya daerah mengambil inisiatif sendiri untuk
membangun komunitas mandiri secara ekonomi dalam skala yang
kecil-kecil dimasing masing desa. Biarlah komunitas ini
berkembang sehingga tercipta suatu surplus ekonomi, yang
nantinya diharapkan bisa terjadi suatu hubungan dengan komunitas
ekonomi yang lain. jalinan ini tidak hanya terbatas dalam bidang
ekonomi saja , lama kelamaan akan tercipta juga hubungan sosial
dan lain sebagainya, pada akhirnya daerah daerah bisa bergabung
menjadi jaringan komunitas yang lebih besar. (Sambung menyambung
menjadi satu, itulah Indonesia...red).
Kasus Perkosaan Mei 1998
Lies Marcoes, dari Insan Hitawacana Sejahtera Social Research
Center , yang membuat speech pada pagi harinya di UCLA tentang,
“Theological Debates over Female Leadership: Afeminist
History”. Beliau mengatakan, mengapa sampai saat ini kita
masih menggantung dosa atas kasus perkosaan masal wanita
Tionghoa pada Mei 1998 ? Sedangkan kasus yang sejenis yang terjadi di Aceh, yaitu
pemerkosaan terhadap wanita Aceh yang dilakukan oleh (oknum?)
ABRI, sudah jelas diselesaikan dan pelakunya dihukum. Ibu Lies
juga secara terang terangan tidak mendukung Megawati ,
karena Mega tidak bisa memasukan kasus Perkosaan Mei 1998
terhadap wanita Tionghoa ini, sebagai agenda utama pemerintah
yang harus diselesaikan.
Konjen RI-LA Bapak Aang Yamani, yang malam itu mentraktir
makan malam mahasiswa-mahasiswa paska sarjana yang berjumlah
kurang lebih 50 orang itu, memberikan kata sambutan kepada
mahasiswa, agar jangan sampai terlibat urusan kriminalitas
ditanah rantau ini. Semua orang Indonesia di LA, akan diusahakan
untuk dibantu oleh KJRI sebatas kemampuan yang ada. Hal ini
dimaklumi karena pak Konjen merasa semua orang Indonesia yang
berjuang di tanah rantau ini, adalah pahlawan bagi bangsa
Indonesia, karena mereka telah banyak mengirim dana untuk
membantu saudaranya di Indonesia yang sedang kesusahan.
Goenawan Mohamad :
Saya orang PAN, tapi saya tidak setuju dengan sepak terjang
Amien Rais yang sangat mendukung primordialisme, salah satunya
adalah kata sambutan yang diberikan oleh Amien Rais kepada
laskar Jihad di Monas, Jakarta. Tapi GM percaya bahwa PAN adalah
partai yang bisa berkembang karena landasan dan anggaran
dasarnya yang kuat, demikian pernyataan dari mantan Pemred Tempo
itu.
Diskusi yang sempat dicatat oleh Indonesia Media pada pagi
harinya tanggal 7 April 2001, diantaranya sebagai berikut:
Transitional Truth-Seeking: A Comparative Perspective on
Indonesia, east Timor and South Africa, yang dibawakan oleh Paul
van Zyl, Columbia University. Intinya adalah study banding atas
paska pergantian pemerintah di Afrika Selatan dan Indonesia.
Menurut Paul, hendaknya Indonesia mengikuti cara Africa Selatan
yang pemerintah barunya bersedia berkompromi dengan penguasa
lama, agar tidak terjadi kesulitan yang berkepanjangan.
“In Search of Memory-How Malay Tales Try to Shape
History” adalah judul yang dibawakan oleh Hendrik Maier, dari
University of Leiden/UCLA. Hendrik berpendapat bahwa adanya
kerancuan dalam penulisan sejarah di Indonesia yang disebabkan
oleh tata bahasanya yang terlalu sederhana yang mana tidak
memiliki kemampuan penyampaian informasi yang akurat, seperti;
“sebelum, sedang, dan sesudah”, sehingga menyebabkan sejarah
Indonesia mudah dipelintir dan di jadikan alat bagi penguasa
yang sedang berjalan untuk membela kepentingannya. Hal ini
adalah salah satu cara dari penguasa untuk mengibuli rakyatnya.
Khusus untuk statement ini mendapat sanggahan sengit dari
Mochtar Pabottingi, yang menyatakan bahwa, untuk mencernakan
suatu informasi dalam bahasa Indonesia harus dibaca secara
keseluruhan, dan dipahami konteksnya.
Pak Dalang yang bernama Ki Tristutui Rachmadi, yang berasal
dari Solo, menceritakan “My Life as a Shadow Master under
Suharto”. Kesaksiannya pada dasarnya mengungkapkan
kehidupannya sebagai dalang sampai di penjara, karena seperti
biasanya dalang yang mempunyai kepribadian,biasanya sering
membuat serempetan serempetan, yang sering juga membuat penguasa
menjadi murka, dan menjebloskannya ke penjara. Walaupun dia di
penjara, tetap saja dia mendalang untuk narapidana dengan
caranya sendiri. Malam harinya Ki T.Rachmadi dengan dibantu oleh
Eko Supriyanto juga mempertunjukan kebolehannya mendalang di
UCLA gamelan Room.
Dalam session “Memory in Performance and Narrative”
Goenawan Mohamad yang sekarang aktif di theater Utan kayu,
membahas sajiannya Kali: A Libretto , sebuah opera modern yang
diilhami dari Barata Yuddha, dibantu oleh Laurie J.Sears dari
University of Washington.
Geoffrey Robinson dan Mary Zurbuchen dari UCLA memberikan
tanggapannya atas hasil diskusi-diskusi tersebut. Acara ditutup
oleh direktur CSEAS/UCLA, Anthony Reid.
Leo Susanto/Indonesia Media
|
|

Geoffrey
Robinson 
Paul
van Zyl 
Mary
Zurbuchen 
Hendrik
Maier
|