Memperingati Hari Lahirnya Raden Dewi Sartika Tanggal 4
Desember 2000
LAHIRNYA PAHLAWAN NASIONAL R. DEWI SARTIKA (1884-1947)
Sekelumit sejarah perjuangan
Pahlawan Nasional R.Dewi Sartika dipetik oleh Ariono Suriawinata
dari Buku “Sang Perintis - R. Dewi Sartika” karangan Yan
Dayono
Latar Belakang Keluarga Dewi Sartika
Dewi Sartika yang lahir dari keluarga “Menak” di Bandung
yang dilingkungan keluarganya lebih akrab dipanggil Uwi, adalah
putri dari perkawinan Raden Rangga Somanagara dengan Raden Ayu
Rajapermas.
Dewi Sartika lahir di Bandung pada tanggal 4 Desember 1884,
ketika ayahnya menjabat sebagai Patih Afdeling Mangunreja. Tujuh
tahun kemudian ayahnya dilantik menjadi Patih Bandung. Raden
Rangga Somanegara adalah salah seorang putra dari perkawinan
Raden Demang Suria Dipraja dengan Raden Ayu Komalanegara.
Kakeknya dari garis ayah dikenal sebagai Hoofd Djaksa (Jaksa
Kepala) di Bandung. Selain itu Dewi Sartika masih keturunan
Keluarga Dalem Timbanganten yang menjadi cikal bakal pendiri
kabupaten Bandung. Ibunya Raden Ayu Rajapermas merupakan salah
seorang putri dari Raden Aria Adipati Wiranatakusumah VI yang
pernah menjabat sebagai Bupati Bandung (1846-1874) dan lebih
dikenal dengan sebutan Dalem Bintang yang dikenal sebagai Bupati
yang arif dan dekat dengan rakyat. Nama Dalem Bintang tetap
mengakar di masyarakat Bandung hingga kini.
Saat di Bandung Dewi Sartika tinggal bersama orang tua dan
saudara-saudaranya disebuah rumah besar yang terletak di
Kepatihan Straat. Rumah besar itu terbuat semi permanen
berhalaman sangat luas terletak persis dipinggir jalan raya.
Diberanda terlihat pot-pot bunga besar berisi berisi tanaman
suflir dan kuping gajah yang ditata dengan rapih. Sedangkan di
halamannya yang cukup luas ditumbuhi berbagai tanaman serta
bunga yang asri, termasuk diantaranya bunga hanjuang merah yang
menjadi ciri khas orang Sunda.
Karena ayahnya menjabat sebagai Patih Bandung, maka Dewi
Sartika dan saudara-saudaranya diperbolehkan mengikuti sekolah
di Eerste Klasse School yakni sekolah setingkat sekolah dasar,
yang sebetulnya diperuntukkan bagi anak-anak Belanda dan
peranakan. Disitu mereka mendapat kesempatan belajar bahasa
belanda dan bahasa Inggris. Sehari-harinya Dewi Sartika
berpembawaan agak berbeda dari anak wanita umumnya. Gerak
geriknya lincah, sigap dan berani. Bicaranya pun lugas dengan
tutur kata yang tegas dan terkadang bernada keras. Kendati
sehari-hari ia mengenakan kebaya dan kain panjang. Boleh
dibilang Dewi Sartika berpembawaan agak tom-boy. Kehidupan
sehari-hari diurus dan dilayani oleh para abdi dalem yang setia,
patuh dan hormat. Mereka menerima segala perintah tanpa berani
menolak. Pendek kata Dewi Sartika bersama saudara-saudaranya
jauh dari kesusahan dan kesengsaraan. Untuk acara tertentu yang
cukup penting. Patih Somanagara akan menyertakan anak-anaknya.
Misalnya menonton acara oacuan kuda di Tegallega, pagelaran
hiburan rakyat dan sebagainya. Dari kegiatan demikian Dewi
Sartika menyerap banyak pengetahuan yang memperkaya wawasan
dirinya.
Lahirnya Sakola Istri
Di masa penjajahan belanda, nasib wanita pribumi dari
golongan "Menak" maupun dari masyarakat kebanyakan
sungguh sangat memprihatinkan. Mereka tidak diberi kesempatan
untuk berkembang, hidup terkurung didalam rumah bertugas
malayani kebutuhan suami. Sangat menyedihkan
bahwa jika suaminya meninggal, sang istri tidak dapat
berbuat banyak. Kaum wanita pada waktu itu sangat tergantung
kepada kaum pria. Semua ini menyadarkan Dewi Sartika
bahwa selayaknya kaum pribumi mampu mandiri dan trampil supaya
menjadi tiang keluarga yang kokoh. Untuk itu perlu adanya
pendidikan bagi kaum wanita dan dibina sesuai dengan fitrahnya,
sehingga dikemudian hari mereka menjadi Ibu yang baik dan
sanggup melindungi keluarganya. Dewi Sartika percaya bahwa dari
Ibu yang baik akan lahir generasi
yang baik. Itulah yang menjadi landasan Dewi Sartika mencetuskan
gagasan mendirikan sekolah wanita pribumi yang pertama di
Indonesia. Seperti yang diungkapnya disalah satu karangan nya
sebagai berikut:
“Menurut pendapat saya, barangkali dalam hal ini bagi
wanita tidak akan sangat banyak berbeda dengan pria. Disamping
pendidikan yang baik, ia harus dibekali pelajaran dengan sekolah
yang bermutu. Perluasan pengetahuan akan berpengaruh kepada
moral wanita pribumi. Pengatahuan tersebut hanya diperolehnya
dari sekolah”
Pada tahun 1902 Dewi Sartika melakukan kegiatan pendidikan
dengan memberikan
pendidikan kepada sanak keluarganya yang wanita. Diantaranya
mendidik mereka merenda, memasak, jahit menjahit, membaca, menulis dan
sebagainya. Kegiatan ini dilakukan di sebuah ruangan kecil
dibelakang rumah ibunya di Bandung. Sebagai imbalan atas
pelajarannya yang diberikan Dewi Sartika, mereka yang mengikuti
proses belajar membawakan Dewi Sartika dan ibunya makanan,
beras, garam buah-buahan dan sebagainya.
Kegiatan Dewi Sartika tersebut lambat laun tecium oleh C. Den
Hammer yang menjabat sebagai Inspektur Pengajaran Hindia Belanda
di Bandung. Pada awalnya Den Hammer menilai kegiatan Dewi
Sartika sebagai suatu kegiatan liar yang membahayakan dan patut
dicurigai. Namun demikian pada akhirnya setelah dilihat dari
dekat C. Den Hammer beranggapan bahwa kegiatan Dewi Sartika
tersebut tidak membahayakan dan bahkan dinilai positip. Den
Hammer sangat terkesan dengan pemikiran dan obsesi Dewi Sartika
yang sangat berhasrat mendirikan sekolah wanita
untuk kaum pribumi.
Namun demikian pendirian sekolah tersebut tidak dilakukannya
dengan mudah, karena masih ada pihak-pihak yang menentang
gagasan tersebut dengan alasan bertentang dengan adat istiadat
seperti yang diungkap oleh Dewi Sartika dalam salah satu
artikelnya “Sayang masih banyak diantara orang-orang setanah
air saya yang rupanya selalu berusaha
untuk lebih
dahulu menentang segala yang baru”.
Dengan adanya kejadian tersebut Den Hammer sangat
prihatin dan mengusulkan kepada Dewi Sartika
untuk meminta bantuan dari Bupati Bandung R.A.
Martanegara.
Awalnya Dewi Sartika merasa ragu untuk mengikuti usul C. Den
Hammer. Karena Dewi Sartika belum bisa melupakan pengalaman
pahit yang menimpa keluarganya sembilan tahun silam yaitu ketika
ayahnya-Raden Rangga Somanegara harus melaksanakan hukuman buang
ke Ternate hingga wafat disana. Ayahnya dihukum buang oleh
Pemerintah Hindia Belanda karena menentang pelantikan R.A.
Martanegara sebagai Bupati Bandung. Dewi Sartika sudah bisa
membayangkan bahwa ia akan kena marah ibunya dan mungkin akan
dimusuhi oleh saudara-saudaranya Tapi setelah ditimbang baik
buruknya akhirnya Dewi Sartika memberanikan diri menghadap
Bupati Bandung.
R. A. Martanegara sangat terkejut ketika mengetahui Dewi
Sartika putri mantan Patih Bandung bermaksud menghadapnya. Ia
menjadi lebih terkejut lagi, manakala mendengar uraian gagasan
Dewi Sartika yang sangat ingin mendirikan sekolah bagi kaum
wanita pribumi. Namun rasa haru dan kagumnya disembunyikan di
dasar lubuk hatinya. R.A. Martanegara tidak langsung menyanggupi
akan menolong Dewi Sartika, karena ia perlu waktu untuk
merundingkan gagasan tersebut dengan sejumlah sahabat serta
kerabat dekatnya.
Tak lama setelah itu Dewi Sartika dipanggil agar menghadap
Bupati Bandung di Pendopo Dalem. Dengan hati berdebar dan
was-was Dewi Sartika memenuhi panggilan tersebut. Pada saat
inilah R.A. Martanegara mengatakan kepada Dewi Sartika :
“Nya atuh Uwi, ari Uwi panting jeung kekeuh haying mah,
mugi-mugi bae dimakbul ku Allah nu ngawasa sekuliah alam, urang
nyoba-nyoba nyien sakola sakumaha kahayang Uwi. Pikeun nyegah
bisi aya ka teu ngeunah di akhir, sekolah the hade lamun di
pendopo wae heula. Lamun katanyaan henteu aya naon-naon, pek bae
pindah ka tempat sejen”
Ucapan Bupati Bandung tersebut menandakan dukungan dan
perlindungan atas rencananya mendirikan sekolah untuk wanita
pribumi. Maka pada tanggal 16 Januari 1904, Sakola Istri
berhasil dibentuk. Tenaga pengajarnya 3 orang yakni Dewi Sartika
sendiri dibantu oleh dua orang saudara misannya Ny. Poerwa dan
Nyi. Oewid. Untuk sementara waktu tempat belajar diperoleh
dengan meminjam ruangan di Paseban Barat di halaman depan rumah
Bupati Bandung. Murid yang diterima untuk pertama kalinya adalah
sebanyak 60 siswi yang sebagian besar berasal dari masyarakat
kebanyakan. Pada tahun 1905 karena ruangan tidak mampu lagi
menampung jumlah siswi yang terus bertambah, sekolah tersebut
dipindah ke jalan Ciguriang-Kebun Cau. Lokasi yang baru ini
dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya ditambah
sedikit bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung.
Perkawinannya dengan
Agah Suriawinata
Kegiatan Dewi Sartika sebagai kepala sekolah memang cukup
banyak menyita waktu. Ia berangkat pagi pagi sekali dan pulang
tengah hari. Begitu berlangsung setiap harinya sehingga
menimbulkan keibaan bagi ibunya Rajapermas. Ia tak ingin melihat
putrinya bertambah usia dan tak kunjung juga menentukan suami
yang mendampinginya. Dewi Sartika pada mulanya pernah dilamar
oleh keluarga Pangeran Djajadiningrat dari Banten untuk nikah
dengan salah satu putra dari keluarga Pangeran Djajadiningrat.
Namun lamarannya ditolak dengan alasan belum pernah mengenalnya.
Meskipun demikian ibunya sangat berkenan dengan pria tersebut.
Pada satu hari ketika Dewi Sartika sedang membantu menyediakan
hidangan dirumah Bupati, Dewi Sartika bertemu dengan seorang pria gagah yang telah menggugah hatinya. Pria
tersebut bernama Raden Kanduruan Agah Suriawinata, salah
seoarang guru di Erste Klasse School di daerah Karang Pamulang.
Pertemuan di rumah Bupati tersebut terus berlanjut menjadi
hubungan yang lebih akrab. Pada mulanya R.A. Rajapermas
menyatakan keberatannya jika Dewi Sartika menikah dengan Raden
Agah. Menurutnya Raden Agah dianggap tidak setara untuk menjadi
suami Dewi Sartika, sedangkan_Dewi Sartika adalah putri seorang
Patih Bandung yang sangat disegani oleh banyak pihak. Dewi
Sartika kecewa dan menganggap bahwa ibunya berpandangan kolot
dan tidak realistis. Dewi Sartika merasa lebih baik menikah
dengan Raden Agah yang cuma seorang guru tapi justru sangat
dicintai dan dikaguminya. Dibandingkan apabila menikah dengan
seorang keluarga Pangeran Banten yang tidak dikenal dan tidak
dicintainya. Meskipun ditentang oleh ibunya, Dewi Sartika tetap
saja menjalin hubungan dengan Raden Agah. Dan tidak peduli pada
penilaian sebagian Menak yang mempersoalkan hubungannya dengan
guru Eerste Klasse School di Karang Pamulang itu.
Raden Agah merasa prihatin terhadap sikap keluarga Dewi
Sartika yang tidak menyukainya hanya karena derajat
kebangsawanan yang berbeda. Kemudian Raden Agah memutuskan untuk
melakukan samadi di makam R.A.A. Wiranatakusumah IV. Karena
almarhum adalah kakek Dewi Sartika dari garis Ibu, yang semasa
hidupnya pernah menjabat sebagai bupati arif dan bijaksana.
Dalam samadi yang khusuk, Raden Agah memohon kepada Yang Maha
Kuasa agar hatinya dipertemukan dengan ruh almarhum untuk
memohon restu jika ia ingin menikahi Dewi Sartika. Ternyata Yang
Maha Kuasa mengabulkan doanya. Bila semula R.A.Rajapermas tidak
merestui dan mengizinkan Raden Agah untuk menikahi Dewi Sartika,
kini malah berbalik menyetujui dan mengizinkannya. Pada tahun
1906, resmilah Raden Kanduruan Agah Suriawinata menjadi suami
Dewi Sartika. Pernikahan dilangsungkan secara sederhana namun
banyak yang hadir untuk memberikan restu. Dewi Sartika dan Raden
Agah mengalami perkawinan yang sangat bahagia. Namun pada
tanggal 25 Juli 1939 raden Agah yang sangat dicintai Dewi
Sartika meninggal dunia. Meskipun demikian perasaan sedih
ditinggal oleh suaminya tidaklah mematahkan semangat Dewi
Sartika karena tugas untuk memajukan sekolah wanita belum
selesai. Seperti biasa pula sebelum waktu belajar dimulai Dewi
Sartika akan berdiri didepan ruangan sekolahnya membunyikan
lonceng kuningan yang nyaring sebagi tanda dimulainya waktu
belajar.
Pengembangan Sekolah Kautamaan Istri
Tanggal 5 Nopember 1910. Persisnya hari Minggu pukul 19.00
WIB, Perkumpulan Kautamaan Istri dibentuk oleh Residen Periangan
W.F.L. Boissevain dikediamannya (sekarang dikenal dengan dengan
nama Gedung Pakuan). Hadir dalam peresmian itu antara lain
Inspektur Pengajaran J.C.J. Van Bemmel, Bupati Bandung R.A.A.
Martanegara dan 2 orang Raden Ayu, Dewi Sartika dan Raden Agah
serta sejumlah pejabat Belanda dan para istrinya. Tujuan
Perkumpulan Keutaman Istri itu ialah untuk mendukung
pengembangan dan pembangunan sekolah wanita pribumi yang
dipimpin Dewi Sartika. Tugas perkumpulan tersebut adalah
berusaha menghimpun dana dari para dermawan Belanda maupun
pribumi agar dapat membantu usaha pembinaan pendidikan disekolah
wanita pribumi yang dipimpin Dewi Sartika. Perkumpulan Keutamaan
Istri yang dipimpin oleh istri Residen Periangan dalam waktu
singkat telah membuahkan hasil. Sehingga dari dana yang
dihimpun, mereka dapat mendirikan cabang Sakola Kautamaan Istri
di daerah Sumedang, Cianjur, Sukabumi, Tasikmalaya, Garut,
Purwakarta dan berbagai kota lainnya di Jawa Barat. Untuk
meningkatkan kualitas pendidikan, Sakola Kautamaan Istri
menyesuaikan kurikulumnya dengan kurikulum Tweede Klasse School.
Namun bidang studi ketrampilan wanita masih tetap menjadi acuan
utama.
Perkawinannya dengan
Agah Suriawinata
Kegiatan Dewi Sartika sebagai kepala sekolah memang cukup
banyak menyita waktu. Ia berangkat pagi pagi sekali dan pulang
tengah hari. Begitu berlangsung setiap harinya sehingga
menimbulkan keibaan bagi ibunya Rajapermas. Ia tak ingin melihat
putrinya bertambah usia dan tak kunjung juga menentukan suami
yang mendampinginya. Dewi Sartika pada mulanya pernah dilamar
oleh keluarga Pangeran Djajadiningrat dari Banten untuk nikah
dengan salah satu putra dari keluarga Pangeran Djajadiningrat.
Namun lamarannya ditolak dengan alasan belum pernah mengenalnya.
Meskipun demikian ibunya sangat berkenan dengan pria tersebut.
Pada satu hari ketika Dewi Sartika sedang membantu menyediakan
hidangan dirumah Bupati, Dewi Sartika bertemu dengan
seorang pria gagah yang telah menggugah hatinya. Pria
tersebut bernama Raden Kanduruan Agah Suriawinata, salah
seoarang guru di Erste Klasse School di daerah Karang Pamulang.
Pertemuan di rumah Bupati tersebut terus berlanjut menjadi
hubungan yang lebih akrab. Pada mulanya R.A. Rajapermas
menyatakan keberatannya jika Dewi Sartika menikah dengan Raden
Agah. Menurutnya Raden Agah dianggap tidak setara untuk menjadi
suami Dewi Sartika, sedangkan_Dewi Sartika adalah putri seorang
Patih Bandung yang sangat disegani oleh banyak pihak. Dewi
Sartika kecewa dan menganggap bahwa ibunya berpandangan kolot
dan tidak realistis. Dewi Sartika merasa lebih baik menikah
dengan Raden Agah yang cuma seorang guru tapi justru sangat
dicintai dan dikaguminya. Dibandingkan apabila menikah dengan
seorang keluarga Pangeran Banten yang tidak dikenal dan tidak
dicintainya. Meskipun ditentang oleh ibunya, Dewi Sartika tetap
saja menjalin hubungan dengan Raden Agah. Dan tidak peduli pada
penilaian sebagian Menak yang mempersoalkan hubungannya dengan
guru Eerste Klasse School di Karang Pamulang itu.
Raden Agah merasa prihatin terhadap sikap keluarga Dewi
Sartika yang tidak menyukainya hanya karena derajat
kebangsawanan yang berbeda. Kemudian Raden Agah memutuskan untuk
melakukan samadi di makam R.A.A. Wiranatakusumah IV. Karena
almarhum adalah kakek Dewi Sartika dari garis Ibu, yang semasa
hidupnya pernah menjabat sebagai bupati arif dan bijaksana.
Dalam samadi yang khusuk, Raden Agah memohon kepada Yang Maha
Kuasa agar hatinya dipertemukan dengan ruh almarhum untuk
memohon restu jika ia ingin menikahi Dewi Sartika. Ternyata Yang
Maha Kuasa mengabulkan doanya. Bila semula R.A.Rajapermas tidak
merestui dan mengizinkan Raden Agah untuk menikahi Dewi Sartika,
kini malah berbalik menyetujui dan mengizinkannya. Pada tahun
1906, resmilah Raden Kanduruan Agah Suriawinata menjadi suami
Dewi Sartika. Pernikahan dilangsungkan secara sederhana namun
banyak yang hadir untuk memberikan restu. Dewi Sartika dan Raden
Agah mengalami perkawinan yang sangat bahagia. Namun pada
tanggal 25 Juli 1939 raden Agah yang sangat dicintai Dewi
Sartika meninggal dunia. Meskipun demikian perasaan sedih
ditinggal oleh suaminya tidaklah mematahkan semangat Dewi
Sartika karena tugas untuk memajukan sekolah wanita belum
selesai. Seperti biasa pula sebelum waktu belajar dimulai Dewi
Sartika akan berdiri didepan ruangan sekolahnya membunyikan
lonceng kuningan yang nyaring sebagi tanda dimulainya waktu
belajar.
Tanda Penghargaan
Pada peringatan 35 tahun berdirinya Sekolah Raden Dewi itu
persisnya pada tanggal 16 Januari 1939, Dewi Sartika mendapat
bintang emas dari Pemerintah Belanda sebagai penghargaan atas
jasa-jasanya bagi masyarakat. Sebelumnya Dewi Sartika juga
memperoleh bintang perak dari Pemerintah Belanda sebagai
penghargaan atas jasa-jasanya. Dengan demikian Dewi Sartika
tidak cuma dihargai bangsa sendiri tapi juga oleh bangsa yang
menjajahnya. Selanjutnya pada tanggal 1 Desember 1966 Presiden
Soekarno menetapkan Dewi Sartika sebagai
Pahlawan Kemerdekaan Nasional karena jasa-jasanya sebagai
pemimpin Indonesia dimasa silam yang semasa hidupnya karena
terdorong oleh rasa cinta tanah air dan bangsa, memimpin suatu
kegiatan yang teratur menentang penjajahan di bumi Indonesia.
Pemakaman R. Dewi Sartika.
Dewi Sartika meninggal pada tanggal 11 September 1947 dan
dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana dipemakaman
Cigagadon-Desa Rahayu, Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian
dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan
Karang Anyar Bandung.
Catatan: Tulisan ini dipetik
dari buku Sang Perintis - R. Dewi Sartika yang dikarang oleh Yan
Daryono terbitan Yayasan Awika & PT. Grafitri Budi Utami.
|