Hubungan AS – Indonesia & Kesan-Kesan dari Pemilihan
Presiden Amerika Serikat
Bagian 1 dari 2
Kolom IBRAHIM ISA untuk Indonesia Media
Mungkin tidak sedikit orang yang mempertanyakan apa hubungan
kita bangsa Indonesia, dengan pemilihan presiden yang
berlangsung di Amerika yang begitu jauh letaknya. Kita sudah
cukup banyak masalah sendiri yang masih menggantung.Meskipun
banyak segi yang interesan dan ada gunanya untuk dipelajari
sebagai suatu negeri yang selama lebih dari 200 tahun sejak
Declaration of Independece mempraktekkan prinsip demokrasi. Ada
yang mengemukakan, kita tidak ada urusan dengan pemilihan
presiden di AS. Apa urgensinya untuk merepotkan fikiran sendiri
dengan perkembangan politik di Amerika. Gitu aja kok
repot-repot!.
Tetapi, sesungguhnya sudah sejak lama, yaitu sejak bangsa
kita memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, negeri dan bangsa
ini telah mengalami lika-likunya, melalui satu atau lain cara,
dalam hubungannya dengan Amerika. Bisa juga dikatakan hubungan
antara Indonesia dengan Amerika itu adalah _love and hate
relation_, suatu hubungan _suka dan benci_, silih berganti.
<Kawanku disebelah nyeletuk: _Kalau mengenai film-film
Hollywood sih, kita suka terus. Nyatanya memang tidak sedikit
yang bermutu_>
Masih ingatkah tentang Komisi Tiga Negara (KTN), yang terdiri
dari Belgia, Australia dan Amerika serikat? Dalam KTN tsb lewat
suatu diplomasi yang cukup lihay, dilaksanakan oleh utusannya
M.Cochran, Amerika telah memainkan peranan yang krusial dalam
proses penyelesaian konflik Republik Indonesia dengan Kerajaan
Belanda? Masih ingatkah apa yang ditulis oleh seorang pakar
sejarah Amerika yang terkenal, George T. Kahin, mengenai _Red
drive proposals_ AS kepada Indonesia. Dalam proposal itu Amerika
mengajukan _usul_ kepada Republik Indonesia, agar membersihkan
politik dan militer Indonesia dari pengaruh Komunis, sebagai
imbalan untuk membantu Republik Indonesia, mengakhiri
kolonialisme Belanda di Indonesia? Tidak lama setelah
diajukannya _red drive proposal_ tsb terajdi _tragedi Madiun_.
Masih ingatkah persetujuan Mutual Security Act (MSA) antara
pemerintah Sukiman dengan AS pada awal tahun limapuluhan, yang
hendak melibatkan Indonesia menjadi sebagai salah satu pion AS
dalam perang dinginnya melawan Blok Sovyet & RRT?
CIA & Pemberontakan PRRI dan PERMESTA
Ketika masih hebat-hebat berkecamuknya perang dingan, Amerika
Serikat amat memperhatikan Indonesia. Ini disebabkan karena
posisi Indonesia yang strategis di Asia dan Asia Tenggara , dan
AS menganut faham _teori domino_ dalam percaturan politik
internasional. Menurut teori Amerika tsb, bila satu negeri
_jatuh_ dibawah pengaruh blok Sovyet/Tiongkok, atau bila negeri
itu betul-betul dikuasai oleh Komunis, seperti Vietnam Utara
ketika itu, maka negeri-negeri tetangganya akan menyusul nasib
yang sama. Yang dimaksudkan dengan negeri tetangga itu, ketika
itu, a.l. adalah Indonesia. Untuk mencegah jatuhnya Indonesia
dibawah Komunisme, apapun harus dilakukan oleh AS. Ini adalah
politik Amerika terhadap Indonesia dalam waktu panjang di era
sesudah Perang Dunia dan dimulainya perang dingin.
Pemberontakan PRRI dan Permesta, tak terpisahkan dari _teori
domino_ Amerika itu. Pemberontakan PRRI dan Permesta itu
ditujukan terhadap pemerintah Republik Indonesia dibawah mantan
presiden Sukarno. Karena Sukarno, yang melaksanakan konsep
politik luar negeri yang bebas dan aktif, tegas-tegas menolak
masuk SEATO (Southeast Asian Treaty Organization, suatu
persekutuan militer AS dengan sementara negeri-negeri Asia
Tenggara untuk melawan Komunisme). Inisiatif presiden Sukarno
bersama PM Nehru dari India, PM Ali Khan dari Pakistan , PM John
Kotelawala dari Ceylon, dan PM U Nu dari Birma, untuk
menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika yang sukses, dan
memperkuat kedudukan negeri-negeri Dunia Ketiga melawan
kolonialisme dan imperialismne, 1955, sangat ditentang oleh AS
dan Barat umumnya. Juga karena Amerika menganggap presiden
Sukarno terlalu memberikan peluang untuk berkembang dan
membesarnya PKI. Sedang di bidang internasional pemerintah
Sukarno menjalin hubungan persahabatan yang normal dengan blok
Komunis, khususnya Sovyet dan RRT. Salah satu fikiran strategis
Amerika dalam perang dingin, adalah SIAPA YANG BERSAHBAT DENGAN
MUSUH SAYA , ADALAH MUSUH SAYA JUGA.
Maka, Sukarno perlu digulingkan. By all means.Untuk itu yg
terpenting a.l. CIA membiayai, mempersenjatai pemberontakan PRRI
dan Permesta serta secara langsung melakukan intervensi militer
dengan pendropan senjata-senjata di Riau untuk kaum pemberontak
serta pemboman oleh penerbang CIA/AS Allan Pope terhadap wilayah
Indonesia bagian Timur. Tapi, celaka bagi kaum separatis dan AS,
pemberontakan PRRI dan Permesta berhasil dikalahkan oleh
pemerintah; dan presiden Sukarno bertambah kokoh kedudukannya.
Kampanye pembebasan Irian Barat dari penjajahan Belanda
<notabene dengan solidaritas dari blok Timur, terutama dari
Uni Sovyet dan RRT > mencapai hasil gemilang. Selanjutnya
presiden Sukarno melancarkan politik konfrontasi terhadap
_proyek neo-kolonial Malaysia_. Ditambah lagi dengan
diserukannya persatuan Dunia Ketiga, the New Emerging Forces
dalam perjuangan melawan politik dominasi dari Barat yang
dipimpin oleh Amerika Serikat. Maka tibalah saatnya bagi AS dan
Barat ketika itu, untuk benar-benar membuat perhitungan terakhir
dengan presiden Sukarno.
Apa yang menyusul kemudian sudah menjadi sejarah. Pecahnya
peristiwa G30S, pembantaian masal terhadap lebih sejuta rakyat
Indonesia, PKI dihancurkan, presiden Sukarno disingkirkan secara
formal dan definitif oleh jendral Suharto, dan lahirlah Orba.
Strategi dan politik Amerika dan Barat terhadap Indonesia
berhasil. Indonesia memasuki periode _love_ dalam _love and hate
relation_-nya dengan Amerika, sesudah suatu hubungan _hate_
terhadap Amerika, ketika Indonesia dipimpin oleh presiden
Sukarno.
Anehnya, politik jantan presiden Sukarno dalam mengemballikan
Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi, dalam menghancurkan
pemberontakan separatis PRRI dan Permesta yang dibiayai oleh
CIA, dalam menggalang persatuan Asia-Afrika dan semua kekuatan
yang sedang tumbuh yang prgresif di dunia melawan politik campur
tangan dan dominasi dari Amerika dan Barat, itu semua , justru
oleh sementara orang, dianggap sebagai penyebab datangnya
bencana pada Indonesia. Perjuangan bangsa Indonesia di bawah
presiden Su-karo, yang berani melawan usaha dominasi Amerika dan
Barat terhadap Republik Indonesia, sikap presiden Sukarno yang
berani dengan lantang menyerukan _Go to hell with your aid_,
dalam melawan pemberian bantuan yang mengorbankan kebebasan
politik Indonesia, malah dianggap menjadi penyebab terjadinya
bencana pembunuhan masal dan merajalelanya rezim Orba. Ini
adalah logika pengecut yang bertolak dari fikiran, kalau ada
rampok masuk rumah kita, sebaiknya menyerah saja. Sebab, kata
logika ini, kalau kita lawan rampok itu, akan menyebabkan
kemarahan rampok tsb. Kalau rampok marah , maka kita akan
celaka, sebab rampok tsb kuat dan kuasa.
Lahir dan perkembangan serta menjadi kokohnya rezim militer
yang otoriter di bawah jendral Suharto selama 32 tahun y.l.,
tidak terbayangkan tanpa bantuan langsung Amerika Serikat. Juga
invasi, pendudukan dan aneksasi Timor Timur oleh Orba, tidak
terlepas dari persetujuan dan bantuan Amerika.
‘Love and Hate Relation Antara RI-AS Masih Akan Terus
Kini perang dingin sudah berakhir. Pada era globalisasi
sekarang ini, apakah masih penting hubungan Indonesia dan
Amerika. Di lihat dari segi finansil dan ekonomi <IMF dan
World Bank untuk Indonesia, AS masih merupakan negeri yang
penting, yang punya pengaruh besar dan langsung terhadap politik
dan ekonomi Indonesia.. Maka seyogianya perhatian terhadap apa
yang terjadi di Amerika tetaplah harus dipelihara. Jangan
diremehkan pula bahwa tidak sedikit kaum terpelajar kita yang
dalam banyak bidang masih berorientasi ke Amerika Serikat.
Namun, perlu dicatat, tidak peduli apakah seorang Republiken
atau Demokrat yang jadi presiden , perbedaan politiknya tidak
fundamentil. Amerika akan selalu mengutamakan kepentingan
modalnya di Indonesia dan dunia. Amerika akan selalu
mengutamakan politik globalisasinya. Kita tidak lupa bahwa
ketika CIA intervensi sehubungan dengan pemberontakan separatis
PRRI dan Permesta, yang menjadi presiden ketika itu adalah dari
Partai Republik kemudian dari Partai Demokrat. Ketika memulai
campur tangan militer di Vietnam, presidennya juga seorang
Demokrat.
Presiden Demokrat dan Republiken silih berganti, semuanya
telah memberikan dukungan penuh kepada pemerintah Orba yang
represif. Hanya sesudah ternyata Suharto telah menjadi bobrok
dan yang menentangnya di kalangan rakyat Indonesia sudah
demikian besarnya, barulah Amerika menarik dukungannya pada
Suharto. Dan itu Amerika lakukan demi kepentingan modalnya di
Indonesia.
Bukan berarti sikap berorientasi ke Amerika itu mesti
keseluruhannya salah. Tetapi yang penting harus tahu betul ,
siapa dan apa Amerika itu. Amerika Serikat adalah sebuah negara
super power, negara adikuasa yang berambisi mendominasi dunia
serta menjadi polisi dunia, yang berhak menentukan apa yang
harus disokong dan apa yang harus ditentang di dunia ini.
Amerika juga belakangan tammpil sebagai pembela pelaksanaan HAM
di dunia ini, tetapi secara kongkrt Amerika menggunakan dua
macam ukuran mengenai HAM, sedangkan di dalam negerinya sendiri
pelanggaran HAM juga tidak kecil dilakukannya.
Kalau pelanggaran HAM itu terjadi di negeri sosialis Eropah
Timur dulu, di Uni Sovjet, di Tiongkok ataupun di Kuba, maka
hebat sekali Amerika menentangnya. Tapi kalau itu rezim kanan di
Chili, Taiwan, Singapore, ataupun Orbanya Suharto, maka tidak
ada atau lemah sekali kritik Amerika terhadap rezim kanan itu.
Tidak ada pengenalan yang cukupan terhadap Amerika, akan
menganggap apa yang datang dari Amerika serba baik semua. Orang
bisa juga mengambil sikap serba menolak apa yang datang dari
Amerik. Semua apa yang datang dari Amerika dianggap mesti
jeleknya. Nyatanya, hal-hal yang positif yang dari Amerika
bisa dipelajari dan dimanfaatkan. Kita tidak saja mengenal
Amerikanya Mc Carthy, tetapi juga mengenal Amerikanya Paul
Robeson, aktivis perdamaian. Kita tidak hanya kenal CIA, tetapi
juga kenal Martin Luther King, pejuang melawan rasialisme
terhadap Orang Hitam di Amerika. Kita tidak hanya kenal Alan
Pope, pilot CIA yang ngebom wilayah Indonesia Timur, tetapi juga
kenal Benedict Anderson, seorang pakar sejarah Amerika yang
berjuang untuk membongkar kebiadaban rezim Orba.
Selain itu, di bidang pengetahuan teknologi, ilmu dan
managementnya, hal-hal itu pasti baik untuk dipelajari dari AS.
Untuk diambil manfaatnya. Kalau syarat-syaratnya sesuai
Indone-sia bisa mengambil pinjaman modal dari AS.
Atau mengundang modal AS untuk berbisnis di Indonesia, untuk
memanfaatkannya bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Modal AS yang tertanam Indonesia, khususnya di bidang
perminyakan cukup besar Di bidang finans, sampai detik ini kita
mengukur naik turunnya nilai rupiah dengan mengambil
perbandingan dengan dolar AS. Begitu juga di bidang pendidikan
tinggi, banyak sudah mahasiswa Indonesia yang belajar di AS,
apalagi yang hendak mengambil M.Sc atau Ph.D, kecuali ke
Australia, kemana lagi kalau bukan ke Amerika Serikat. Yang
mecari ilmu ke Eropah , khususnya Belanda, jumlahnya masih
kecil. Jadi, sesungguhnya, apa yang terjadi di Amerika Serikat,
seyogianya mendapat perhatian cukup dari kita.
Eropah Terhadap Amerika
Di Eropah sini, khususnya di Belanda, perhatian pemerintah,
pers dan masyarakat cukup besat terhadap pemilihan di AS.
Mungkin karena Eropah Barat, ada didalam persekutuan militer
NATO (North Atlantic Treaty Organization) dengan Amerika
Serikat. Panglima tentara NATO pada pokoknya seorang jendral AS.
Dan memang Eropah telah diselamatkan oleh AS dalam dua kali
pernang dunia, yaitu Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia
II (1030-1945). Tetapi masalah lainnnya yang menyebabkan Eropah
punya perhatian besar terhadap AS, ialah karena hubungan dagang
dan hubungan kebudayaan antara Eropah dan Amerika. Yang tidak
kalah penting juga ialah karena di Eeropah <Barat> telah
ditanam sejumlah besar modal AS, sebaliknya juga, di Amerika
Serikat juga telah ditanam sejumlah besar modal Eropah Barat. Di
bidang finansial dan ekonomi, Eropah dan Amerika sudah saling
menyusup. (bersambung)