Kembali ke Halaman Muka (Back to Main Page)

Banner 120X90

Other News:

Temu Wicara

Lotus Festival

Paradise to Visit

Prodia

 

Indonesia
Still, A Paradise To Visit

“Sektor pariwisata masih memiliki peranan yang penting  dalam perekonomian Indonesia, dan menduduki peringkat ke-5 perolehan devisa negara setelah minyak, gas alam, produk perkayuan, dan tekstil”  kata Konjen Aang Yamani.  Lebih lanjut diungkapkan bahwa setelah adanya resesi, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman)sangat menurun di tahun 1998 sebesar 4,6 juta dibanding tahun 1997 sebesar 5,1 juta. Sedangkan kunjungan wisatawan dari AS ke Indonesia tahun 1999 hanya sebesar  169, 627 atau sekitar  3,21% dari seluruh masyarakat AS yang melakukan perjalanan wisata ke luar negeri, itupun pada umumnya hanya berkunjung ke Bali. Dalam kesempatan ini, Konjen menhimbau kawan-kawan dari media massa untuk benar-benar memperhatikan situasi Indonesia saat ini dan menempatkannya secara proporsionil, meskipun di beberapa daerah di Indonesia terjadi kerusuhan, namun bukan berarti seluruh Indonesia tidak aman untuk dikunjungi, karena Indonesia sangat luas wilayahnya.

Kepada kalangan travel industri, diingatkan pula bahwa Indonesia itu tidak hanya Bali. Indonesia yang kaya akan keanekaragaman budayanya, memposisikan dirinya sebagai tujuan wisata yang bertaraf  “world class” dan tujuan utama wisatawan. Ditegaskan bahwa Indonesia masih sebagai tujuan wisata yang menarik dan menyenangkan,  sedangkan sebagai penutup kata mengajak hadirin dengan menggunakan bahasa Indonesia “Ayo ke Indonesia” Come to Indonesia.  Demikian antara lain sambutan Konjen Aang Yamani dalam acara pembukaan

Seminar Pariwisata Indonesia yang diselenggarakan di Holiday Inn Hotel, Downtown, Los Angeles, pada hari elasa, 10 Juli 2001.  Adapun judul diatas merupakan thema dari kegiatan Seminar dalam rangka Road Show Pariwisata Indonesia, yang disaelenggarakan bersama oleh Departemen Kebudayaan dan Partiwisata R.I  dan dukungan penuh KJRI Los Angeles.

Tujuan Road Show sendiri adalah berupaya untuk menghapus  pandangan masyarakat AS yang selama ini keliru terhadap situasi Indonesia secara keseluruhan. Sedangkan yang lainnya adalah mencoba menggalang pandangan masyarakat dan kalangan media massa  agar dihapuskannya “travel warning” oleh Pemerintah AS, yang pada gilirannya dapat meningkatkan jumlah wisatawan AS ke Indonesia, dengan jalan memberikan informasi yang komprehensif, dan sekaligus juga memperbaiki citra Indonesia yang agak menurun dimata asing.  Hadir sekitar 120 undangan dari kalangan tour operators/ travel agents/cruise operators yang masih dan yang pernah menjual Indonesia sebagai negara tujuan wisata tetapi terhenti sejak terjadinya  krisis</! PRE keamanan; airliners; hoteliers; press/travel writers/presenters televisi dengan program pariwisatanya, dan tokoh masyarakat/[pengurus organisasi perjalanan setempat (PATA).

Acara Seminar dipandu oleh Daisy Hadmoko, Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Majalah “Travel Indonesia”..Menampilkan dua pembicara Drg. Halim Indrakusuma, President Pacto Ltd, dan Gerald (Gerry) E. Picola, Mantan ketua PATA AS dan konsultan pariwisata.

Halim Indrakusuma memebrikan gambaran tentang perkembangan situasi politik di Indonesia, serta dampaknya.  Ditegaskan bahwa meskipun suhu politik memanas saat ini dan sempat menimbulkan kerusuhan di berbagai daerah, akan tetapi tidak semua wilayah Indonesia larut dalam kericuhan tersrebut. Ia mencoba menggunakan common sense dengan membandingkan luasnya wilayah Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau, dimana wilayah yang satu dengan yang lainnya dipipisahkan oleh laut, menyebabkan kerusuhan disuatu tempat tidak dirasakan di tempat yang lain.  Ditunjukkann kepada hadirin daerah tujuan wisata yang masih relatif aman antara lain Bali, Lombok, Jawa.

Sebagai orang Amerika, Gerry menjelaskan murahnya biaya melakukan perjalanan wisata di Indonesia, karena adanya depresiasi rupiah, namun kesempatan tersebut tidak dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memasarkan industri pariwisatanya di pasar internasional dengan baik.  Ia menilai bahwa pemasaran industri pariwisata Indonesia kurang agresif, dengan mengungkapkan adanya perbedaaan strategi yang mengingat perbedaan orientasi masing-masing wilayah (pantai barat dan timur) terhadap daerah tujuan wisata. Dari segi dukungan transportasi sangat lemah karena tidak adanya penerbangan yang langsung dari AS ke Indonesia, dengan ditutupnya penerbangan Garuda. Perihal watak bangsa Indonesia, dilihatnya dari merekapada umumnya tidak ingin menonjolkan dirinya, justru malah lebih banyak menunggu reaksi dari yang lain.

Acara seminar dilanjutkan dengan makan malam berasama dengan menu khas Indonesia, nasi kuning, ayam panggang kalasan, ikan balado, gado-gado dan lain-lainnya. Banyak hadirin merasa puas dengan jenis makan yang dihidangkannya, biarpun dirasakan agak pedas. Dalam acara ramah tamah, para tamu undangan disuguhi pula dengan pagelaran dua buah tarian dari Jawa Barat-Topeng Cirebon, dan tarian Bali-Legong Keraton, yang dibawakan para penari dari Indonesia.  Kemudian diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan/souvenir dari Tim Road Show kepada para undangan, serta penarikan “lucky draw” dengan hadiah yang menarik berupa patung asmat, tenun ikat lombok, kain batik dll. (KJRI LA/IM)

 

     

 


FastCounter by bCentral